Kamis, 23 Mei 2019

Cerita Mudik Pertamaku


Mudik adalah tradisi yang melekat bagi masyarakat Indonesia. Semua pasti senang ketika musim mudik tiba. Di mana ada liburan paling panjang untuk yang bekerja dan yang bersekolah. Masa di mana anak-anak rantau pulang ke desa asalnya.

Mereka bangga bisa pulang setelah setahun bekerja di kota. Bangga bisa pulang dengan bawa uang segepok buat dibagi-bagikan ke anggota keluarga yang lain. Bangga bisa bercerita tentang kesuksesannya kepada teman-teman, sanak saudara dan tetangga.

Namun apakah semua senang? Buatku yang dulu tak pernah jauh dari orang tua, rasanya seperti mimpi untuk bisa mudik. Baru setahun ini, saya bisa merasakan mudik. Itu pun jaraknya cukup dekat hanya 3 jam dalam perjalanan kereta api. Dan bisa menempuh 7-10 jam perjalanan dengan bus karena macet.

Nggak kebayang deh, orang-orang yang mudik dari Jakarta ke desa-desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Belum lagi biaya perjalanan yang lebih mahal dari hari biasanya. Maklum, semua karyawan yang bekerja di hari raya dan hari libur hitungannya lembur.

Kadang saya juga membayangkan keluarga para anggota kepolisian, dokter,  perawat, petugas keamanan, petugas transportasi yang masih saja sibuk stand by melakukan tugas-tugasnya. Keluarga mereka pasti sedih tidak hadirnya salah satu anggota karena masih harus bekerja.

Saya sendiri tidak merayakan Lebaran. Tetapi ada sebagian anggota keluarga besar suami yang merayakan. Mereka akan datang saat hari lebaran pertama untuk bersilahturahmi. Ya, adik mama mertuaku muslim. Dan beliau akan membawa semua anak cucunya datang ke rumah kami yang tinggal bersama mama mertua. Wuah, kalo sudah kumpul gitu ramai banget suasananya.

Kakak perempuanku yang di Kroya juga merayakan lebaran bersama keluarga besar suami. Tradisi untuk mudik ke rumah orang tua kayaknya nggak perlu, deh! Karena selain masih tinggal dengan keluarga suami, jarak rumah kakakku ke rumah mamaku hanya 1 jam perjalanan naik motor.

Tantanganku untuk mudik tahun ini adalah ketersediaan tiket kereta api. Ya, memang bodoh sih. Kenapa nggak jauh-jauh hari pesan kereta? *tepukjidatsendiri

Nggak semudah itu, Non! Kata suamiku. Aku harus lihat sikon dulu. Karena liburnya itu deketan sama hari rayanya kita juga. Trus si bos kasih liburnya mulai kapan, juga belum tahu. Dan aku cuma manggut-manggut.

Tapi, kan... Tapi...

Kereta apinya tinggal yang mahal, sayang! Paling murah 250 ribu satu orang sekali jalan Jogja-Purwokerto! Itu pun makin hari makin habis aja! So, kita naik apa? Naik bis? GA MAUUU!

Terakhir kali aku naik bus, udah lama, banyak yang mabok lagi! Depan belakang dan sampingku 😭

Udah deh, itu terakhir aja aku naik bus. Nggak njamin juga naik bus AC itu selalu nyaman. Mbok ya kalo mabokan nggak usah naik bus! Kalo mabok kan, aku juga ikut rasanya mabok, hu, hu, hu.

Akhirnya mimpiku naik kereta api tahun ini buyar karena rasanya kok eman mengeluarkan 500 ribu untuk transportasi. Belum lagi uang THR tahun ini belum pasti bisa keluar (malah curhat!). Gaji suami yang nggak seberapa bisa bubar seiring bubarnya libur lebaran, trus hari ke depan mau makan pake apa???

Ya udah akhirnya kami memutuskan naik motor aja ke Purwokerto. Sekalian piknik aja. Di sananya juga bisa dolan ke mana-mana nggak usah ngerusuhi motornya mama. Doakan ya supaya kami selamat dan sehat dalam perjalanan dan bisa kembali  beraktivitas seperti biasanya. Aminnn.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.