Kamis, 24 Maret 2016

Puisi "Sesaat Fajar" dalam antologi puisi "Sekuntum Melati" Kaifa Publisher

Sesaat Fajar
Oleh : Yustrini


Baru saja kau bangun dari tidurmu
Menggeliat seluruh ragamu
Seketika aku mendekat pada jantung hatiku
Dua butir kristal menggelinding lembut
Serupa bayi yang baru membuka mata
Kau menatapku asing
Sekilas tak ada luka yang tampak di wajahmu
Kau kembali meneruskan mimpi
Tak ada lagi kata-katamu
Dan sayup kau mendendangkan lagu cinta
Kenangan itu takkan pernah lenyap
Meski kau tak tahu siapa aku dirimu
Aku percaya cinta itu ada bagiku
Sesaat fajar menepis datangnya malam
Di sini aku masih menunggumu
Di ruang kesunyian...


Puisi ini masuk dalam buku antologi Kumpulan Puisi, Sekuntum Melati.

Minggu, 20 Maret 2016

Resensiku dimuat di Koran Jakarta, Rabu 16 Maret 2016 Menjadi Wanita Cantik Fisik, juga Jiwa

Ini resensi pertama yang kubuat, dengan membulatkan tekad agar berani mencoba dan berjuang agar resensiku bisa selesai secepatnya. Dan setelah resensiku jadi maka aku memutuskan untuk dikirimkan ke salah satu media. Akhirnya memberanikan diri untuk mengirim ke Koran Jakarta. Surprise, e-mailku cepat mendapat respon dan dalam waktu tiga hari naskahku dimuat.

Di bawah ini, naskah asli yang saya kirimkan.

Menjadi Perempuan Cantik Fisik Juga Jiwa
Judul Buku     : Beauty Inside
Pengarang      : Rieke Indriyanti
Penerbit          : PT. Elex Media Komputindo
Tahun terbit    : 2016
Tebal buku      : 214 halaman
ISBN                : 978-602-02-8016-5

Tuhan menciptakan manusia dengan dua jenis kelamin; laki-laki dan perempuan. Setiap manusia terlahir dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ada yang dikarunia fisik menawan. Ada pula yang dianugerahi dengan otak cemerlang. Orang bijak bilang, manusia sudah ditakdirkan untuk sukses dengan kondisinya masing-masing.

Namun tidak bagi sebagian orang. Mereka merasa bahwa hidup mereka penuh dengan ketidakberuntungan. Semuanya serba kurang. Kurang ini dan kurang itu. Apalagi bagi makhluk berjenis kelamin perempuan -seperti saya- yang diberikan kelebihan perasaan/emosi di atas rata-rata milik laki-laki. Rasa menjadi titik tertinggi dalam kehidupan seorang perempuan. Hal sepele sekalipun bisa menjadi seolah sebesar gunung. Hal yang sangat sederhana pun bisa berubah menjadi masalah paling rumit sedunia (halaman 3).

Kecantikan bukan hanya tentang wajah yang cantik. Tapi tentang cantiknya pikiran, cantiknya hati dan yang paling penting...cantiknya jiwa (halaman 4).

Karena kecantikan bukan melulu hanya penampilan fisik. Jauh lebih penting dari itu adalah kecantikan yang terpancar dari dalam diri, dari hati dan pikirannya, yang terlihat nyata dalam sikap, tindak tanduk dan cara bicaranya (halaman 15).

Perempuan berfisik biasa yang selalu tampil percaya diri, terlihat jauh lebih cantik dibanding perempuan cantik yang tampil biasa-biasa saja (halaman 18).

Makna seksi, bukan melulu fisik. Seksi ternyata lebih kompleks daripada fisik. Seluruh bagian tubuh dan pikiran, ucapan, gerak tubuh serta tindak tanduk berpengaruh terhadap keseksian. Seorang yang cerdas, penuh percaya diri, mandiri dan tidak manja, merupakan perempuan seksi. Anda dengan segala kelebihan dan kekurangan memiliki keseksian tersendiri. Ingat, seksi bukan hanya bentuk tubuh, tapi lebih berharga daripada itu (halaman 27).

Hindari penyakit hati! Ketahuilah bahwa penyakit hati itu dapat mengikis semua kebaikan termasuk kecantikan Anda. So, hindari penyakit hati, agar Anda makin cantik. Lahir dan batin. (Halaman 38). Tebarkan kebaikan dan buang segala penyakit hati. Maka alam semesta akan otomatis mendongkrak kecantikan Anda (halaman 46).

Inner beauty seperti dijelaskan pada bagian lain buku ini sangat dipengaruhi oleh sikap di dalam diri. Berarti komunikasi dengan diri sendiri menjadi sangat penting. Nah, kalau sudah berhasil berkomunikasi dengan diri sendiri, maka akan terlihat bagaimana cara kita berkomunikasi dengan orang lain. Dalam bahasa awam... bagaimana cara kita bicara, akan terlihat jelas dan menjadi bahan penilaian dari orang lain. Artinya kita akan terlihat lebuh camtik, jika cara bicara kita sesuai dengan situasi dan kondisi. Cara bicara yang tepat akan menambah keanggunan dan kecantikan seseorang (halaman 75-77).

Buku ini juga merangkum bagaimana supaya tetap cantik pada masa kehamilan dan setelah melahirkan, cara mengelola keuangan, tips menambah percaya diri, bagaimana menjaga keharmonisan keluarga agar tetap bahagia, terhindar dari perasaan sakit hati dan move on dari masa lalu.

Jalanilah masa sekarang bersama.pasangan Anda, dan tataplah masa depan yang cerah, dengan pasangan. Masa depan tidak bergantung kepada masa lalu, walaupun masa depan tidak pernah ada tanpa masa lalu. Hidup Anda akan lebih nyaman jika menempatkan masa lalu pasangan, pada proporsi yang tepat. Sebaiknya justru kita menguatkan diri pasangan untuk keluar dari masa lalu buruknya, dan menjalani masa sekarang dengan baik serta meraih masa depan bersama (halaman 182).

Sahabat perempuanku, hidup ini bukan hanya dinilai dengan materi, pun demikian kecantikan. Fisik ini tidak akan berarti apapun, jika jiwa kita terlalu kotor dalam menemaninya. Apa yang kita raih dengan kerja keras, keringat sendiri, dan daya juang yang tinggi, akan terasa lebih paripurna. Fisik dan jiwa menyatu dalam napas kebahagiaan (halaman 214).

Beauty Inside layak untuk dibaca karena penulisnya sendiri adalah seorang model profesioanal yang memiliki wawasan luas bukan saja urusan kecantikan namun juga dalam berbagai bidang. Buku ini merupakan buku kedua penulis yang juga sarjana hukum dan penyandang master bidang kenotariatan dari Univeraitas Padjadjaran, yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, setelah Posing Guide, pada tahun 2011 lalu.

Jadi jika anda perempuan, buku ini merupakan panduan yang tepat bagaimana menjadi perempuan cantik luar dalam. Karena semua perempuan itu cantik, tak terkecuali.

Sabtu, 19 Maret 2016

[Mama & Buncis] Percikan dimuat di majalah Gadis, no. 16/11-20 Juni 2013


Mama & Buncis
Oleh : Yustrini

dokpri
Satu kali mama masak buncis, itu biasa. Dua kali nggak masalah. Tapi kalau setiap hari sampai lebih dari 3 kali itu baru aneh bin ajaib namanya. Perutku sudah puas diisi oleh tumis sayur, cah sayuran, telur goreng, asam-asam, balado, sup dari satu macam bahan yaitu buncis.

Aku akui mama memang jago masak. Apa saja yang mama buat pasti nggak kalah sama masakan restoran. Kak Bono dan papa setuju, malah sering protes kalau memakan masakan yang dibuat oleh Bi Sumi, asisten rumah tangga kami.

“Mulai sekarang mama yang harus memasak di rumah ini,” ujar papa menutup aksi protesnya.

“Setuju...!!!” Aku dan kak Bono berseru kompak mendukung aksi protes papa.

Sejak saat itu mama jadi rajin mengkoleksi buku-buku masakan dan menghidangkan masakan lezat yang jarang kami makan seperti masakan Jepang, Perancis atau Italia yang untuk menyebut namanya saja bisa membuat lidahku terkilir. Sehingga kami memberi mama julukan, “Chef mama.”

Tetapi sejak tiga hari terakhir ini, mama lebih suka bereksperimen dengan sayuran hijau mirip kacang panjang tapi lebih gemuk dan pendek bernama latin Phaseolus Vulgaris alias buncis.

“Mungkin prediksi tahun 2013 buncis jadi sayur paling tren seindonesia,” tebak Dede teman sekelasku saat aku ceritakan soal mama.

“Bisa jadi harga buncis sedang mencapai harga terendah di pasar, Ver.” Ujar Siska.

“Atau mamamu ingin jadi chef buncis yang terkenal dan menggebrak dunia kuliner di negeri tercinta ini,” tebak Jessy.

Aku cuma mengangguk-anggukkan kepala mendengar tebakan ketiga temanku. Semua mungkin kecuali yang terakhir itu agak kurang menyakinkan karena setahuku mama bukan tipe orang yang suka menonjolkan diri di lingkungannya.

***

Hari kedelapan, aku, kak Bono, dan papa sepakat untuk melakukan penyelidikan ala detektif Sherlock Holmes. Jujur kami bertiga bosan setengah mati menyantap hidangan serba buncis inovasi chef mama.

Pertama, tugasku menyelidiki persediaan bahan mentah di dapur, ternyata mama selalu membeli buncis segar di pasar jadi tidak ada stok.

Kedua, kak Bono pergi mengorek informasi dari pedagang sayur di pasar. Hasilnya harga buncis tak kalah mahal dengan sayuran yang lain.

Sedangkan papa berselancar di internet untuk mencari apa tren masakan terbaru saat ini. Hasilnya nol besar, kami bertiga seperti detektif yang kehilangan jejak. Tak satupun petunjuk yang menjelaskan keanehan hobi baru mama mengolah buncis. Sementara dari hari ke hari masakan mama makin aneh saja.

Sebatang buncis dijadikan minuman segar di siang hari. Huah! Tak dapat kubayangkan bila buncis dicampur dengan agar-agar menjadi puding.

Bagi kami bertiga sekarang, saat makan adalah saat yang paling menyiksa. Kak Bono jadi sering jajan diluar, papa juga malas pulang waktu jam istirahat kantor. Aku sendiri suka mencari kesempatan untuk terlambat pulang dengan alasan belajar kelompok di rumah teman. Intinya, jam makan bagi keluarga kami bukanlah sesuatu yang istimewa seperti dulu. Semua hancur hanya karena sejenis polong-polongan bernama buncis.

“Say no to buncis!” Itu komentar pertamaku saat sarapan pagi ini. Disambut oleh anggukan kepala tanda setuju dari kak Bono dan papa.

Mama hanya tersenyum sambil menghidangkan nasi goreng ke atas piring kami masing-masing.

“Tanpa buncis?” Tanyaku heran. Kumasukkan sesendok nasi ke mulutku. Hmm, enak.

Selama makan, mama mengumumkan akan ada temannya yang datang nanti untuk makan malam bersama.

“Wah, mama masak enak dong nanti malam,” ujar papa gembira sambil terus melahap nasi gorengnya.

“Kalau begitu, nanti Vera bantu masak, Ma.” ujarku.

“Dan Bono yang belanja,” sambung kak Bono.

“Tidak perlu,” jawab mama dengan senyuman misterius.

“Jangan bilang kalau mama ingin masak buncis lagi malam ini,” ujar kak Bono sambil mengelus perutnya.

“Iya! Bono sudah cukup lega pgi ini perutku tidak diisi buncis.” ujar kak Bono sambil mengelus -elus perutnya.

“Kita lihat saja nanti,” senyuman mama semakin aneh.

Tapi rupanya prediksiku meleset, mama sama sekali tidak menghidangkan menu bertemakan buncis. Makan malam bersama teman mama, tante Desi cukup menyenangkan. Terutama karena aku cuma melihat Sup rolade ayam, Oseng tempe cabai hijau, Ayam bakar sayur hijau, dan Puding susu pisang hijau.

Tanpa buncis.

Selesai makan malam, aku, kak Bono dan papa berterimakasih karena menu hari ini bebas dari buncis.

“Kalian salah, justru resep rahasia masakan mama terletak pada buncis,” kami bertiga bengong mendengar perkataan mama. Tante Desi pun ikut tercengang.

“Mama tahu kalau kak Bono, Vera dan papa sudah bosan melihat bentuk buncis yang hanya seperti itu saja. Jadi mama campur dengan bumbu-bumbu halus sehingga tidak terlihat. Dan rolade yang kalian makan tadi terbuat dari buncis dan daging ayam yang digiling bersama.”

“Hanya satu menu tanpa buncis hari ini,” tebakku.

“Nasi goreng tadi pagi,” sambung kak Bono.

“Salah, nasi goreng juga beerbumbu buncis,” ujar mama.

Tante Desi bertepuk tangan gembira.

dokpri
Teka-teki mulai terjawab. Misteri terbongkar tanpa usaha keras dari para detektif gadungan yaitu aku, kak Bono dan papa.

Awalnya dari keinginan tante Desi yang mau membuka restoran khusus sayur buncis, makanan favoritnya. Namun mama memiliki ide untuk bereksperimen membuat semua masakan serba berbahan buncis.

Hasilnya, malam ini tante Desi dibuat kagum oleh semua masakan mama dan meminta mama untuk jadi chef di restoran barunya.

Kurasa mama sudah berhasil mengubah selera kami yang malas makan buncis jadi suka karena mama bisa mengolahnya menjadi masakan enak, lezat dan kaya manfaat.

Dan hari-hari kami mulai sekarang tidak akan lepas dari sayuran hijau yang mirip kacang panjang itu karena nama restorannya adalah...

“Buncis...” Mama dan tante Desi berseru sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V.

****​​
     

Jumat, 04 Maret 2016

Cerpen dimuat di tamanfiksi.com edisi 09 Januari 2016

Hilang
Oleh: yustrini

Hana namaku, aku baru masuk SMA selama 3 bulan. Kehidupanku sama seperti anak remaja limabelas tahun lainnya sebelum aku kehilangan waktu dalam hidupku. Sebagian bahkan seluruhnya. Tak ada yang dapat kujelaskan dan aku yakin tak ada seorangpun di bumi ini dapat mengerti apa yang sebenarnya kualami. Bahkan aku sendiri.

Semua berawal dari sebuah pertanyaan yang diajukan oleh temanku Karla. Hatiku dipenuhi rasa penasaran sampai akhirnya aku berada di tempat paling asing dan mengerikan yang tak pernah kukunjungi sebelumnya. “Kau tahu kenapa anak senior selalu melarang kita mendekati ruangan di sebelah UKS? Mungkin ada yang mereka sembunyikan,” ucapan ini yang akhirnya membuat aku nekat ingin mengungkap rahasia para senior.

Dan tanpa sepengetahuan siapapun aku pergi menyelinap masuk ke tempat terlarang dekat UKS melalui pintu belakang sekolah. Dingin yang menusuk dan suasana angker yang menyeruak di keheningan tak kuperdulikan. Sayup-sayup aku mulai mendengar suara orang-orang merapalkan mantera aneh seperti sebuah upacara ritual. Dari jendela kaca yang cukup rendah aku melihat sekelompok orang berjubah hitam-hitam di dalam ruangan remang-remang dengan beberapa lilin sebagai sumber cahayanya, mereka seperti akan mengadakan ritual ilmu hitam.

Napasku terhenti ketika ada sebuah tangan menepuk pundakku dari belakang. Aku menahan napas agar tetap tenang.

“Ikut kami,” Aku menoleh ke belakang dan menndapati dua orang yang juga berpakaian hitam telah berdiri mengepungku. Aku dibawa mereka ke tempat di mana semua orang berkumpul. Semua menoleh ke arah kami. Tapi aku tak dapat melihat wajah mereka karena tertutup kerudung hitam.

“Lapor ketua ada mata-mata di sekitar kita,” ujar orang yang menangkapku tadi. Aku meronta-ronta berusaha melepaskan diri namun gagal karena orang itu lebih kuat dariku. Kutangkap gerak-gerik kegelisahan mereka rupanya mereka tak pernah menduga bakal ada orang yang mengetahui kegiatan mereka.

Seorang bertopeng hitam dengan warna hijau di matanya mengarahkan pedang ke arahku, mata pisaunya terasa amat tajam menempel di leherku sehingga aku yakin bila sedikit saja aku bergerak, pedang itu akan dengan mudah melukaiku. Aku diam menahan rasa takut sambil menunggu dengan cemas apa yang kira-kira akan mereka lakukan terhadapku. Beberapa orang berbisik-bisik, seorang berjubah hitam dengan kerah tinggi masuk dalam kerumunan.

“Kamu telah tahu rahasia kami, kini giliran kami untuk mencuci otakmu,” katanya.

Selanjutnya aku dimasukkan ke sebuah ruangan lain, di sana cahayanya jauh lebih terang. Aku didudukkan pada sebuah kursi paling dingin yang pernah kurasakan.

Satu persatu mereka membuka kerudung. Aku mulai melihat Kak Anton, Kak Firman, Kak Soni, Kak Marsya juga Karla!

“Ternyata ini cuma permainan kalian,” ujarku lega. Senyumku mengembang.

“Aku tak menduga kalian bisa membuatku ketakutan.” Kutatap mereka lagi. Semua berdiri mematung diam membalasku dengan sorot mata yang tajam.

“Hei! Ada apa dengan kalian?” tanyaku bergetar. Denyut jantungku berdetak lebih kencang. Hatiku mengatakan mereka tak sedang main-main.

“Karla?” Kutelusuri raut wajah teman sekolahku itu. Kali ini aku kian bertambah takut dua kali lipat dari yang tadi.

“Diam!” Bentak Kak Anton, ia mendorongku lebih dalam lagi ke kursi dingin. Sebuah cahaya menyilaukan menerpaku dari langit-langit atas.

Pelan-pelan tangan, kaki dan tubuhku mulai menghilang. Cahaya terang itu menghancurkanku.

“Karla, toloooong aku...” untuk terakhir kalinya kata-kataku terucap dan tertinggal jauh di belakang.

* * *

“Bangun anak malas!” Satu tendangan keras yang dilayangkan ke kakiku cukup membuatku tersadar. Perlahan kumulai membuka mata mendapati seorang wanita gemuk berpakaian ala gipsi lengkap dengan bando dan bandananya sudah duduk di sebelahku. Sedangkan aku terbaring di atas tempat tidur hangat. Matanya bulat lebar menatap ke arahku lekat-lekat. Tangannya dimainkan berputar-putar di depan wajahku, mulutnya komat-kamit melafalkan huruf-huruf yang aneh dengan mata terpejam.. Sebentar dia membuka mata.

"Sungguh malang nasibmu," gumamnya pelan hampir tak terdengar.

"Apa?"

"Ayo bantu aku melakukan pekerjaan," ia mengajakku ke ruang yang lain. Aku bangkit berdiri berputar-putar melihat tempat asing di sekitarku. Di mana aku? Kenapa aku bisa ada di tempat ini? Aku masih bertanya-tanya dalam hati.

'Heh jangan bengong begitu!" Bentak wanita itu. Ia berdiri di depan sebuah kuali yang amat besar. Tak ada perapian atau api di bawah kuali itu. Ia mencedok isinya dan memasukkan ke dalam gelas.

“Tolong berikan minuman ini kepada semua orang, mereka telah menunggu lama di depan,” ujarnya.
Bagaikan tersihir aku mengikuti semua perintahnya. Mengangkat baki berat dengan gelas-gelas kecil berisi minuman berwarna hijau seperti lumpur. Baunya saja tidak enak bagaimana orang mau meminumnya. Tapi perkiraanku salah mereka sangat menyukai ramuan itu.

"Terimakasih Zepora, anda telah menyelamatkan kami," kata salah seorang dari mereka.

Aku semakin tak mengerti apa maksudnya diselamatkan? Zepora pasti nama wanita gipzi itu. Lalu kenapa aku bisa berada di sini? Oh ya aku ingat! Tadi aku disekap oleh seniorku dan sesuatu telah terjadi padaku.

Cahaya itu...

Iya, cahaya itulah yang membuatku ada di sini.

* * *

Hari-hari berikutnya, aku makin mengenal Zepora. Ia mempunyai dua karakter yang berlawanan, kadang baik kadang sangat jahat sungguh sangat sulit untuk di tebak. Tapi aku banyak belajar menbuat ramuan-ramuan darinya. Setiap hari selalu ada orang yang memintanya untuk obat. Kuakui ramuan buatan Zepora amat manjur, begitu orang meminumnya langsung sembuh.

"Zepora, seandainya aku ingin kembali ke rumah, apa kau ijinkan?" tanyaku padanya di suatu pagi saat kami sibuk membuat ramuan. Ia terdiam. Menatapku sebentar lalu mengaduk lagi. Ia terlihat sedih. Mungkin berat baginya melepaskan aku. Jadi kuurungkan niatku untuk bertanya lagi. Sepanjang hari itu, aku merasa tak enak padanya karena ia tak pernah bicara lagi sampai keesokan harinya.

Satu hal yang membuatku terkejut adalah ketika ia berbicara tentang siapa dia sebenarnya.

"Kamu tidak akan pernah bisa kembali ke dunia asalmu, orang-orang itu juga." katanya lirih.

Ia bercerita panjang lebar. Ternyata ia mengalami hal-hal yang sama denganku. Ditangkap orang-orang berkerudung hitam dan telah berada di sini selama ratusan tahun bila dihitung menurut waktu di dunia asalnya. Selama itu pula ia mencoba melakukan percobaan dengan membuat ramuan-ramuan yang dibacanya dari sebuah buku misterius yang ditemukannya.

"Ini adalah dunia yang hilang dan takkan pernah kembali lagi ke asalmu."

"Tapi ramuan itu bagaimana? Kenapa orang-orang selalu datang memintanya? Aku pernah mendengar dari seseorang tentang ramuan yang bisa memindahkan orang ke tempat lain." tanyaku.
"Ramuan itu hanya membuat mereka seolah-olah kembali ke dunia asalnya namun sebenarnya mereka tak pernah bisa kembali bahkan ke dunia yang hilang ini."

"Jadi?"

Zepora mengangguk, "mereka lenyap atau tersesat di dunia lain."

Bulu kudukku merinding mendengarnya. Tapi bagaimanapun aku harus mencoba untuk kembali ke tempat aku yang seharusnya. Apapun caranya dan resikonya termasuk meminum ramuan hijau itu.
Zepora memandangku ragu. Di tangan kanannya telah ada segelas ramuan yang baru diambil dari kuali.

"Saranku lebih baik kau tidak mencobanya," katanya.

Hatiku mendadak ragu. Bagaimana jika setelah minum ramuan itu aku benar-benar lenyap seperti orang-orang itu? Tidak! Kamu tak boleh ragu. Harus dicoba.

Aku menerima ramuan tadi. Zepora masih memberi isyarat agar aku berpikir lagi masak-masak. Tanpa ragu lagi aku langsung meminumnya. Memasukkan cairan hijau yang menjijikkan ke dalam mulut. Mungkin dengan cara inilah aku akan kembali ke tempat asalku yang sesungguhnya. Tetesan terakhir masuk ke dalam lubang tenggorokanku meninggalkan bau yang sangat menyengat.

"Hueeeks!" Aku hampir memuntahkannya.

Zepora menatapku. Perlahan-lahan aku merasa berputar-putar. Warna-warna benda di sekitarku bercampur baur.

"Semoga berhasil, nak!" ucapan Zepora terdengar jelas di telinga namun aku tak lagi merasakan kakiku berpijak di atas bumi. Duniaku di sekitarku terus berputar bagai sebuah lorong waktu.

Tak lama aku sudah berdiri di atas hamparan rumput yang hijau. Beberapa remaja sedang bermain sepakbola, mereka memberiku tanda agar aku segera menyingkir dari tempatku berpijak. Cepat-cepat aku pergi. Sepintas aku telah mengenali baju olahraga yang mereka kenakan. Aku yakin itu seragam olahraga sekolahku! Ya tidak salah lagi. Aku pasti telah berada di tempar asalku.

Ada dua anak yang kukenal sedang berjalan-jalan di pinggir lapangan. Kupanggil mereka sambil berlari-lari kecil. Mereka berbalik mengangkat alis, saling berpandangan kemudian mengangkat bahu.

"Hai ini aku, Hana. Teman sekelas kalian," kataku gembira. Kurentangkan tangan hendak memeluk mereka namun mereka malah berbalik meninggalkan aku.

"Hei...!!!" kukejar mereka berjalan di sebelah Desi.

"Kamu dengar ada yang memanggil-manggil kita tadi?! Tanya Desi.

"Iya. Aku juga mendengarnya. Seperti suara Hana," sahut Titin.

"Ini memang aku," seruku gembira.

"Tapi bukannya Hana itu telah meninggal setahun yamg lalu?' ujar Desi.

"Hei apa yang kalian bicarakan? Siapa yang meninggal? Aku Hana teman kalian!" Aku terus bicara tapi mereka tak memerdulikan aku.

"Apa kalian marah sama aku?" tanyaku tak mengerti.

"Sudahlah. Aku tak mau membicarakan lagi," ujar Desi.

Kenapa kalian menganggap aku seperti angin? Apa kalian mengira aku yang meninggal setahun yang lalu? Tidak ini pasti salah.

Aku berjalan terus. Selembar robekan koran terbang ke wajahku. Disitu tertera namaku ditulis sebagai headline dengan huruf yang besar-besar. Pandanganku kabur saat membaca dan menangkap suatu berita tentang anak SMU yang ditemukan tewas dalam gudang sekolah diduga karena overdosis. Dan siswa itu bernama Hana.

Tidak! Ini salah. Aku masih hidup. Akan kubuktikan. Akan kutemui keluargaku di rumah. Ayah, ibu dan adikku David pasti sudah menungguku untuk makan siang. Kuberjalan cepat-cepat. Tak seorangpun yang kukenal menegurku saat mereka berpapasan denganku. Aku tak peduli. Mereka pasti mempermainkanku.

Itu dia rumahku. Kulihat ibu berada di teras. Ia tersenyum begitu melihatku. Melebarkan tangan untuk memelukku. Aku tak menunggu lagi. Aku berlari ke pelukannya. Namun aku malah terjatuh. Dan ibu berada di belakangku. Aku menembus ibu.

"Hana!" Ibu berbalik. Air matanya keluar. Ia menangis.

Apa yang terjadi bu?

Ayah muncul dari dalam diikuti oleh David. Mereka memeluk ibu tanpa menyadari keberadaanku.

"Ayah,David!" teriakku.

"Hana sudah pergi, bu. Kita harus menerima kenyataan itu," hibur ayah.

"Tidaaak!!! Aku di sini..."

"Ibu, kau bisa mendengarku kan?" aku berusaha meraih tangannya namun tak bisa.

"Ibu... Katakan apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku tak bisa menyentuhmu?"

"Ramuan itu hanya bisa membuatmu merasa seolah-olah berada di duniamu kembali namun sebenarnya kau tak pernah bisa kembali..." kata-kata itu terngiang di telinga begitu jelas.

Bersamaan dengan itu kurasakan separuh nyawaku perlahan-lahan menghilang bersama debu. Seluruh tangan, kaki dan tubuhku lenyap tak berbekas.

"Hana!" hanya suara ibu yang terakhir kali kudengar sebelum semuanya menjadi serba putih.

Sejak saat itu aku benar-benar kehilangan semua waktu dalam hidupku. Namaku Hana, sebelum semua itu terjadi. Aku masih mencoba untuk memahami apa yang sesungguhnya kualami.

* * * *