Rabu, 30 Oktober 2019

Sudah 11 Tahun, Ini Kesanku Setelah Setahun Bersama Kompasiana

Makin Sayang dengan Kompasiana Setelah Setahun Bersama


Acara Nobar pertamaku bersama K-Jog (IG K-Jog).

Setahun sudah berlalu, tepat pada tanggal 13 November 2018 saya pertama kali menulis di sebuah platform blog Kompasiana.  Berawal muka dari ketertarikan saya untuk mengikuti lomba blog menulis cerpen tema generasi solutif Kompasiana.


Meski sudah lama membuat akun di sana, tetapi saya tidak tahu apa yang harus ditulis di sana. Parahnya saya bahkan tidak tahu bagaimana membuat artikel di Kompasiana. Mungkin kalau Kompasiana tidak mengadakan lomba itu saya belum menulis sampai sekarang.

Segala sesuatu memang akan indah pada waktunya. Dan saya percaya bahwa setahun yang lalu adalah waktu yang indah perkenalan saya dengan Kompasiana. Bukan karena jadi pemenang dalam lomba, kenyataannya saya kalah dengan peserta lain. Kalah pengalaman, kalah kemampuan menulis. 

Meskipun tidak menang saya justru mendapat kemenangan. Membuat tulisan pertama di sebuah platform blog di mana tempat berkumpulnya para penulis berbobot berkumpul. Dan kini saya bisa memiliki peluang yang sama dengan mereka menjadi penulis berbakat.

Pengalaman menulis pertama itu membuka pintu kesempatan berikutnya. Siapa sangka, saya malah bisa bergabung di dalam sebuah komunitas bernama Kompasiana Jogja (K-Jog). Yang tadinya saya tidak tahu ada komunitas itu di Jogja. Lewat K-Jog saya berpeluang mendapat ilmu lebih banyak lagi.

Melalui K-Jog, saya bisa berkenalan dengan para penulis dalam satu kota dan mengikuti event baru seperti Nobar, Nangkring bareng K-Jog, Download Ilmu K-Jog dll. Di sini saya mendapatkan teman-teman baru, ilmu baru, pengalaman baru dan cara menulis review film yang baik. Lewat K-Jog saya tahu bagaimana cara menulis review film tanpa spoiler.

Lewat event-event K-Jog perlahan saya mulai mengisi artikel di Kompasiana sampai sekarang.

Kompasiana #BeyondBlogging


Ini adalah event K-Jog pertama yang kuikuti, saat itu artikelku baru satu (IG K-Jog).
Menulis di Kompasiana berbeda dengan menulis di blog, sesuai tagline-nya "#BeyondBlogging".

Menulis di Kompasiana bukan sekedar ngeblog. Di sini saya mendapatkan lebih banyak pengalaman dibanding menulis blog biasa.

Contohnya ada kejutan-kejutan manis ketika  tiba-tiba tulisan saya diberi label "Pilihan" oleh Kompasiana. Maka poin yang saya dapatkan akan lebih banyak ketika masuk dalam artikel pilihan.

Saya tidak tahu fungsi poin itu untuk ditukar apa. Setelah bertanya dengan sesama anggota Kompasiana ternyata bisa ditukar dengan uang. Tetapi syaratnya agak berat yaitu harus bisa masuk dalam artikel pilihan dan headline. Total view minimal 3000 untuk semua konten yang ditulis selama 1 bulan periode.

Buat para penulis yang sudah rajin masuk artikel headline tentu tidak berat. Namun bagi saya hal itu adalah bonus. Karena menulis sesungguhnya sarana penyalur hobi, sarana mengasah bakat dan sarana untuk mengukir jejak sejarah pribadi seseorang. Bonus dari ketekunan adalah hasil, maka tetap ada potensi menambah penghasilan dengan menulis artikel di Kompasiana.

Beyond blogging patut disematkan ke Kompasiana karena setiap artikel yang diupload akan diteliti sudahkah memenuhi ketentuan. Jika belum, maka akan dihapus dan diberi peringatan.

Ketentuan ini meliputi gambar ilustrasi yang dicantumkan dalam konten. Sudahkah mencantumkan sumbernya dari mana. Bila dokumen pribadi juga harus diberi keterangan, agar tidak dihapus oleh editor.

Ibarat kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Maka setelah setahun menjadi seorang Kompasianer, walau belum seproduktif para senior saya di platform ini, saya jadi makin sayang dan enggan untuk berhenti belajar menulis. 

Ditambah makin banyak lomba blog dan event yang diadakan oleh Kompasiana. Ada yang mengatakan jika ikut lomba di Kompasiana kemungkinan menang itu lebih besar. Karena tak seperti blog pribadi, yang menampilkan berbagai efek visual, infografis dan video yang wow! Kompasiana lebih cenderung padat tulisan.

Maka jika suka berkompetisi, lomba blog di Kompasiana bisa jadi tempat berjuang menulis sebaik mungkin. Dan dapatkan hadiah-hadiah yang sangat menarik seperti hadiah motor pada event lomba Samber THR kemarin.

Mengapa Menulis di Kompasiana?

Setelah hampir satu tahun ini, total saya telah menulis 14 artikel. Tidak produktif memang dibanding dengan teman-teman kompasianer yang lain.  Saya hanya menulis di saat ada event K-Jog yang mewajibkan menulis review, selebihnya saya kadang membuat artikel sesuai topik pilihan yang menarik. 

Pernah mengalami kesulitan login juga ke Kompasiana yang ternyata juga dialami oleh Kompasianer lain. Untunglah, saya bisa kembali masuk dan menulis lagi di sana. 


SS pribadi 

Salah satu alasan yang paling kuat buat saya adalah karena di Kompasiana tidak perlu repot untuk mengotak-atik tampilan, teknik SEO atau cari kata kunci. Cukup tulis, upload foto yang sesuai dan publish. Tak perlu pusing bagaimana mencari pembaca karena dengan sendirinya tulisan-tulisan di Kompasiana akan dicari.

Akun Kompasianaku bisa diklik di sini.

Adanya tim editor juga membuat tulisan yang ada di Kompasiana menjadi lebih berbobot dan jika ada yang kurang sesuai maka akan mendapat surat peringatan. Bahkan jika kita mendapat komentar yang kurang sesuai bahkan bernada negatif kita bisa melaporkannya. Maka komentar itu akan dihapus.

Kejutan manis ketika artikel yang ditulis ternyata masuk menjadi pilihan editor bahkan menjadi headline. Maka kemungkinan akan menerima reward menjadi lebih besar.

Tidak perlu takut kehabisan ide dan bahan bacaan karena ide itu bertebaran di Kompasiana. Kebanyakan artikel yang ditulis di sini adalah artikel ringan dan berbobot jadi pantas untuk dijadikan bahan bacaan jika sedang kering ide.

Topik pilihan juga bisa menjadi sebuah ide untuk menulis. Saya beberapa kali menulis berdasarkan topik pilihan, salah satunya tulisan "Bisnis Rokok Ibarat Dua Sisi Mata Uang"  

Jadi seandainya mau menulis tiap hari sepertinya tidak akan takut akan kehabisan ide. Salut juga sama para penulis di Kompasiana yang rajin menulis setiap hari.

Harapan untuk #11TahunKompasiana

Tim Kreatif Kompasiana
Di usia ke-sebelas ini, harapan saya adalah Kompasiana bisa terus menjadi media yang ramah bagi para penulis pemula seperti saya. Menjadi ajang tempat belajar menulis, tempat bagi para anggotanya saling memberi apresiasi berupa like, jumlah pembaca dan komentar.

Terus mengadakan event-event menarik dan senantiasa menyaring tulisan-tulisan yang masuk. Agar Kompasiana tetap selaras dengan dasar negara kita yang Bhineka Tunggal Ika, Pancasila dan menjadi media pemersatu bangsa.

Selamat Ulang Tahun 
KOMPASIANA
Sukses dan Jayalah Selalu

TERIMA KASIH

Jumat, 25 Oktober 2019

Candi Pawon, Bangunan Bersejarah yang Berada di Permukiman Rumah Penduduk


Berwisata ke kecamatan Borobudur tentu sayang jika tidak mampir ke Candi Pawon ini. Letaknya cukup unik, yaitu berada di antara permukiman rumah penduduk.

Sebelum memasuki halaman pelataran candi, saya melewati beberapa rumah penduduk yang diberi dekorasi bebatuan mirip nuansa Bali. Di atas pagar-pagar rumah juga diberi hiasan replika arca Candi Borobudur.

Candi Pawon jika dilihat secara sekilas bentuknya ramping, namun di bagian puncak ada bentuk stupa-stupa yang bulat, ciri khas dari Candi Budha. Ukurannya lebih kecil jika dibanding dengan Candi Mendut dan letaknya berada cukup dekat dengan rumah penduduk.

Bangunan candi menghadap ke barat dengan pagar besi di sekelilingnya setinggi 1 meter. Memiliki 1 ruangan yang kosong dan memiliki lubang angin. Semula diduga di dalam candi ada arca Bodhisattva, sebagai penghormatan kepada Raja Indra yang telah mencapai tataran Bodhisattva. Terdapat ukiran dan hiasan di dinding luar candi berupa makhluk setengah manusia setengah burung (kinnara-kinnari*1), ukiran motif daun-daunan dan bunga.

Di bagian kanan dari pintu masuk terdapat sebuah makara*2 yang terlihat sudah tidak utuh lagi. Susunan candi terbuat dari batu adesit mirip dengan batu milik Candi Mendut. Di atas pintu masuk terdapat hiasan kala*3.

Diperkirakan didirikan pada pertengahan abad VIII hampir bersamaan dengan Candi Mendut dan Candi Borobudur. Dilihat di dalam peta, candi ini berada di tengah-tengah garis lurus antara Candi Mendut dan Candi Borobudur. Ditemukan pada akhir abad ke-19 dalam keadaan rusak tertimbun semak-semak. Kemudian mulai dipugar pada tahun 1897-1904 dilanjutkan kembali tahun 1908 oleh Van Erp.

PAWON bila dalam bahasa Jawa berarti "dapur". Awalnya saya mengira bahwa ini adalah candi untuk dapur ditambah dengan adanya lubang angin di berbagai sisi candi. Namun setelah mencarai referensi ternyata seorang ahli epigrafi J.G. de Carparis mengartikan "Pawon" sebagai perawuan atau perabuan. Karena tempat ini dimanfaatkan juga sebagai tempat menyimpan abu jenazah Raja Indra (782-812 M) atau Ayah Raja Samaratungga pada masa dinasti Syailendra.

Candi ini juga kerap disebut Candi Brajanalan yang memiliki fungsi untuk menyimpan senjata Dewa Indra, Dewa Petir dan Halilintar, Vajranala" yang berasal dari bahasa Sansekerta, "vajra" yang berarti halilintar dan "anala" yang berarti api. Nama Brajanalan sendiri merupakan nama dusun Brojonalan tempat candi ini berada.

Ada beberapa kios cinderamata yang ada di sebelah kiri candi. Sewaktu masuk ke candi, saya tidak melihat ada petugas atau pengunjung lain. Bahkan baru sadar harus membeli tiket masuk dulu setelah ada wisatawan asing yang datang dan membeli tiket di loket.

Ternyata letak loket ada di sebelah kanan sekitar 20 meter di depan candi. Dan tiket masuknya cukup murah hanya Rp. 3500/orang. Itu pun berlaku sekaligus masuk ke Candi Mendut.

Keterangan:
1. Kinnara-kinnari: Hiasan candi yang berbentuk makhluk kayangan berbadan burung berkepala manusia. Sering ditemukan dalam relief candi dengan posisi mengapit pohon kalipataru.

2. Makara: Patung hiasan yang terdapat pada kanan dan kiri pintu candi. Bentuknya bisa berupa perpaduan antara gajah, ular, buaya dan naga.

3. Kala: Hiasan candi yang berbentuk kepala manusia, kadang lengkap dengan rambut, rahang bawah dan tangan. Biasa di atas gapura pintu candi.

Referensi:
- https://www.google.com/amp/s/sejarahlengkap.com/bangunan/sejarah-candi-pawon/amp
- https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/candi-pawon/

Alamat: Brojonalan, dusun 1, Wanurejo, Kec. Borobudur, Magelang, Jawa Tengah 56553.

PETA:

Rabu, 23 Oktober 2019

Kuliner Pagi Hari, Menikmati Segarnya Soto Rempah Jogja


Bicara soal kulineran di Jogja seakan nggak ada habisnya ya, teman? Tetapi kalau mau kulineran pagi hari saya suka bingung cari menunya. Apalagi kalau pas dapat jadwal tugas doa pagi di gereja. Duh, jadi nggak keburu bikin sarapan untuk suami.

Bila sudah begitu, solusinya adalah membeli makanan siap santap, he, he.

Di antara sekian banyak soto yang dijual saat pagi hari, Soto Rempah di kawasan Mantrijeron, tepatnya di Jl. DI. Panjaitan No. 98 Yogyakarta sudah menjadi pilihan pas di hati, pas di lidah dan ramah di kantong. Letaknya nggak jauh-jauh banget dari alun-alun kota Jogja (wajib banget pulang dari gereja lewat sini, he, he), lalu melewati perempatan Plengkung Gading ke selatan sebelah kanan jalan.

Fyi nih, suamiku tuh, nggak suka soto. Tetapi sejak diajak sama saya makan di sini, eh, dia langsung cocok. Terutama rasa kuahnya itu mantap dan awet panasnya. Belum lagi tempe gorengnya yang maknyuss pengen dilahap terus sampai kenyang. 

Ciri khas dari Soto Rempah ini adalah penyajiannya di mangkok yang terbuat dari batok/tempurung kelapa. Isinya terdiri dari nasi, soun, kol, taoge, daun bawang, seledri, irisan tomat dan suwiran daging sapi atau ayam. Kuahnya bening khas soto Jogja lainnya. Jangan takut sama judulnya dengan adanya kata-kata rempah di sini, karena sama sekali tidak terasa kayak jamu.

Awalnya saya agak takut mendengar 'Soto Rempah' karena trauma pernah beli soto rempah juga tapi baunya khas bau jamu. Namun Soto Rempah di sini bedaaa. Sampai heran saya, kenapa dikasih nama itu? Kan, nggak berasa rempah-rempahnya? 

Menjadi sensasi tersendiri bila makan soto rempah, selain kuahnya nggak dingin-dingin alias awet panasnya, kita bakalan makan sambil diiringi musik gamelan yang syahdu. Bukan live perform sih, tapi dari mp3 yang diputar.


Buat saya tak lengkap makan soto tanpa asesoris alias makanan pendamping berupa kerupuk atau tempe goreng. Dan makan Soto Rempah itu wajib banget hukumnya harus sama pesan tempe goreng.

Tempe goreng yang dijual oleh Soto Rempah mirip tempe goreng rumahan hanya lebih garing dengan tepung tipis di luarnya. Pantas saja para pembeli soto selalu berebut minta tempe bahkan ketika tempe baru digoreng. Hits banget ya Si Tempe ini, he, he. 

Seporsi Soto Ayam atau Soto Sapi dibanderol harga Rp. 8000 saja. Semua sudah pakai nasi. Minuman mulai harga Rp. 2000 sampai Rp. 2500. Sementara harga tempe goreng cuma seribuan. Wow! Murah banget, kan?

Warung Soto Rempah ini buka pukul 7 pagi sampai pukul 2 siang. Kadang saking larisnya, jam sebelas sudah tutup. Sebaiknya sih, ke sini antara jam 7-9 pagi, biar nggak kehabisan karena selalu banyak pembeli setiap harinya.

Bagi kalian yang ingin mencicipi Soto Rempah ini dan belum tahu tempatnya, bisa melihat di bawah.

Kesimpulan:

Nilai + :
1. Cara penyajiannya unik, yaitu memakai mangkok batok
2. Kuahnya awet panas
3. Kaldunya terasa
4. Tempe goreng yang garing
5. Harganya murah meriah
6. Ada tempat parkir motor
7. Parkir gratis

Nilai - :
1. Tempatnya sempit
2. Tempe gorengnya terlalu cepat habis
3. Tidak ada tempat parkir mobil

SKOR : 4/5 ☆☆☆☆

PETA:

Senin, 21 Oktober 2019

Catatan Wisata ke Candi Borobudur, Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO



Siapa yang tidak tahu dengan Candi Borobudur? Pasti semua sudah tahu tentang keberadaan candi yang telah terdaftar menjadi salah satu situs warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1991. Candi Budha terbesar ini terletak di kabupaten Magelang atau di sebelah barat laut kota Yogyakarta.

Setelah check out dari Balkondes Kembang Limus sayang rasanya jika tidak mampir ke Candi yang memiliki 1460 relief dan 504 stupa ini. Kami memutuskan untuk memarkir motor di depan pertigaan pintu gerbang candi.

Untuk masuk ke dalam area candi lumayan jauh jalannya. Dari depan pintu masuk Candi Borobudur sama sekali tidak kelihatan karena tertutup oleh pepohonan yang ada di sekitarnya.

Begitu masuk ke halaman dekat loket penjualan tiket masuk, kami langsung disambut oleh para penjual topi dan juga pemberi jasa sewa payung. Berada di area candi itu memang panas apalagi pada siang hari. Bisa-bisa sepulang dari candi wajah kita gosong, tetapi tampaknya saat saya ke sana cuaca sedang mendung. Biar cuaca mendung, tetap disarankan pakai topi atau payung agar kesehatan kulit tetap terjaga, ciee!

Setelah mendapat tiket, kami melewati pintu masuk. Bagi yang membawa tas harus bersedia untuk diperiksa, karena tidak boleh membawa makanan. Jika ketahuan membawa makanan maka harus dititipkan ke petugas. 

Harga tiket masuk Candi Borobudur bagi wisatawan domestik Rp.50.000,- (dewasa), anak-anak Rp.25.000,-  sedang untuk wisatawan asing 25 dolar atau sekitar 350 ribu. 

Masuk dari pintu masuk ke pelataran Candi ternyata masih jauh. Karena suami masih terasa pegal kakinya setelah naik sepeda ontel, saya nawarin naik sepeda lagi begitu melihat ada fasilitas penyewaan sepeda. Yang tentu saja ditolak mentah-mentah sama suami. He, he.


Sambil menunggu tanda-tanda alternatif lain agar bisa ke candi, kami duduk di bawah pohon yang rindang. Saya bersiap mengeluarkan senjata eh, peralatan untuk melawan terik sinar matahari yaitu topi, payung dan syal. Tapi syal akhirnya tidak dipakai karena ternyata jadi bikin saya merasa tambah gerah alias sumuk. 

Untuk masuk ke Candi Borobudur, para pengunjung diberi alternatif naik sepeda ontel dengan membayar uang sewa Rp. 15.000,-/sepeda, bisa juga naik kereta mini Rp. 10.000,-/orang, tayo Rp.15.000,-/orang dan kereta golf Rp.20.000,-/orang. Daripada kehabisan tenaga sebelum menaiki lantai candi, kami pun memilih naik kereta mini.

Ternyata kami diajak berputar-putar dulu melewati pepohonan dan taman sebelum akhirnya memasuki lingkungan candi. Sempat terkantuk-kantuk di dalam kereta mini, akhirnya saya turun dan ini dia candinya!


Saya sangat bahagia sekaligus terkejut ketika datang ke Candi Borobudur. Ternyata demi mencapai pelataran candinya saja harus melewati ratusan anak tangga. Huaaa! Ayo, kuatkan tekadmu! 

Sebelum datang ke sini, saya sudah browsing dulu tentang candi ini. Dibutuhkan trik agar tidak kehabisan tenaga sebelum mencapai tingkat paling atas yaitu tidak usah berjalan memutari candi di setiap lantainya. 

Jadi saya tidak memutari candi di tingkat pertama sampai tingkat ke sepuluh, cukup melihat-lihat relief dan patung di bagian kanan dan kiri tangga. Setelah itu, baru pindah ke tingkat berikutnya dan di tingkat yang paling atas saya memutari arca yang paling besar untuk mengetahui sudut-sudut candi di lantai yang lebih bawah.

Bagi saya yang menyukai foto tanpa ada gambar orang di dalamnya, jadi agak sulit untuk memotret bagian candi yang tidak ada pengunjungnya terutama di bagian paling atas. Padahal saya datang pas weekday. Tak terbayangkan bagaimana penuhnya lokasi ini dengan turis di saat musim liburan atau weekend.

Di tingkat atas banyak ditemui para pengunjung yang masih saja duduk, berdiri bahkan memanjat ke atas arca. Mereka tidak mengindahkan tanda peringatan untuk tidak naik ke atas arca.

Sebenarnya bukan karena para petugas atau pengelola Candi Borobudur yang pelit melarang ini dan itu, tetapi hal ini dilakukan agar situs warisan budaya dunia bangsa kita tetap terjaga.

Jejak Sejarah Pada Candi Borobudur


Di bagian depan pintu masuk candi terdapat dua patung singa yang khas biasa ada pada tempat ibadah umat Budha.

Untuk naik ke tingkat selanjutnya harus melewati tangga yang jaraknya lumayan tinggi antara anak tangga. Baru sadar sewaktu mau turun ternyata tangganya cukup curam juga (hadech, ketahuan kan kalo aku ini takut ketinggian). Untunglah ada pegangan besi yang bisa membantu untuk berpegangan.

Ketika ke sini, saya baru ngeh, kalau Borobudur ini sudah banyak mengalami pemugaran dan banyak bagian-bagian batu yang sudah bukan aslinya. Dan candi ini beneran cuma batu-batu yang ditumpuk terbukti ketika saya menginjak lantainya, itu terkesan seperti sedang berjalan di atas kerikil yang goyah.

Mungkin inilah sebabnya, kenapa dilarang untuk menaiki, memanjat bahkan menyentuh patung Budha yang ada di dalam stupa berongga. Karena tekanan atau gerakan memanjat arca, bisa membuat susunan batu bergeser dan membuat relief teratai di atasnya hilang.

Diduga dibangun pada jaman Syailendra dengan arsiteknya Gunadharma yaitu sekitar 750-850 tahun Masehi. Candi Borobudur diduga sempat terbengkalai berabad-abad lamanya dan terkubur oleh lapisan tanah, abu vulkanik dan ditumbuhi oleh pepohonan sampai ditemukan oleh Raffles. Tetapi  setelah mengalami proses pemugaran beberapa kali dan pemugaran besar-besaran pada tahun 1973 yang didukung oleh UNESCO, Candi Borobudur sekarang dipakai sebagai tempat ziarah umat Budha pada hari raya Waisak, selain berfungsi  juga sebagai tempat wisata budaya.


Konsep Bangunan Candi Borobudur yang Mengagumkan

Bila dilihat dari atas, Candi Borobudur ini membentuk pola Mandala yang besar. Mandala adalah konsep rumit yang tersusun atas bujusangkar dan lingkaran yang melambangkan kosmos atau alam semesta yang ditemukan dalam Budha aliran Wajrayana-Mahayana.

10 tingkatan yang dimiliki Borobudur secara keseluruhan menggambarkan filosofi kehidupan pikiran alam semesta dalam ajaran Budha. Untuk memperoleh kesempurnaan hidup, maka manusia harus melalui 10 tingkatan Bodhisattva.

Tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Budha ada 3:

1. Kamadhatu


Bagian kaki candi melambangkan Kamadhatu, yaitu tahap yang paling rendah di mana kehidupan manusia masih dikuasai oleh nafsu dunia. Bagian ini sekarang tertutup oleh kontruksi tambahan batu adesit sehingga panel 160 panel cerita Karmawibhangga tidak terlihat. Kontruksi ini dibuat untuk memperkuat susunan Candi Borobudur yang memang terletak di atas tanah yang mudah goyah.

2. Rupadhatu


Bagian ini berupa empat teras berundak yang membentuk lorong yang pada dindingnya terdapat galeri relief. Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1212 panel berukir dekoratif.

Pada tahap ini, manusia sudah dapat membebaskan diri dari nafsu tapi masih terikat pada rupa dan bentuk. Terdapat patung-patung Budha yang ditaruh di atas dinding. Terdapat sekitar 432 arca Budha di bagian ini.

3. Arupadhatu


Arupadhatu artinya tidak berupa atau tidak berwujud. Pada tingkat kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Bentuknya secara keseluruhan adalah melingkar bukan bujur sengkar seperti di bagian bawah. Di sini digambarkan manusia sudah terbebas dari segala bentuk keinginan, ikatan bentuk dan rupa namun masih belum mencapai nirwana. Ada 3 teras lingkaran yang dihiasi oleh stupa berongga  berbentuk lonceng dengan patung Budha di dalamnya. Total ada 72 stupa kecil dengan pembagian 3 lantai masing-masing, 32, 24 dan 16. Semakin ke atas makin sedikit.

Dan pada tingkatan yang tertinggi adalah stupa yang paling besar. Stupa ini melambangkan ketiadaan wujud yang sempurna. Stupa ini tidak berisi patung, menggambarkan makna kebijaksanaan tertinggi yaitu kesunyian, ketiadaan sempurna di mana tidak ada lagi ikatan dengan nafsu, keinginan dan bentuk.

Tinggi stupa utama ini mencapai 35 meter tanpa Chattra (payung susun tiga) yang sekarang dilepas. Bila dipasang maka akan mencapai tinggi 42 meter. Puncak stupa utama ini juga berbeda dengan stupa yang kecil, yakni berbentuk persegi bukan melingkar.

Fasilitas yang Terdapat di Kawasan Candi Borobudur

Selain berwisata di area candi, kita juga bisa mengunjungi beberapa fasilitas yang ada di dalam area Taman Candi Borobudur yang sangat asri penuh dengan pepohonan. Antara lain:

1. Andong Tilek Deso

Paket wisata Andong Tilek Deso akan membawa wisatawan berkeliling ke desa-desa yang ada di sekitar candi dan menikmati pemandangan alam yang terdapat di sekitar candi.

2. Kereta Mini, Mobil Tayo dan Mobil Golf

Fasilitas kendaraan bagi pengunjung ini bisa dinikmati untuk berkeliling taman dan pulang pergi dari pintu masuk-area candi dan sebaliknya. Untuk tiket kereta mini Rp. 10.000,- mobil Tayo Rp. 15.000,- dan Mobil Golf Rp. 20.000,-.

3. Cafe Manohara dan Audio Visual


Ada juga cafe khusus yang terdapat di area Taman Candi Borobudur ini. Di sebelah cafe, ada juga ruangan audio visual untuk menonton film pendek Candi Borobudur.

4. Atraksi Gajah

Di tempat ini juga terdapat kandang gajah, di sini bisa melihat dan memberi makan gajah. Untuk mendapat fasilitas ini perlu membayar Rp. 5000,- per orang.

5. Kereta Kencana Keliling Candi

Candi Borobudur
Kereta Kencana Keliling Candi

Mirip andong, kereta ini cuma berputar-putar untuk mengelilingi taman di sekitar candi.

6. Museum Kapal Samudera Raksa


Museum ini mengabadikan perjalanan bersejarah kapal Samudraraksa dari Indonesia menuju Afrika menapaki kembali jalur perdagangan rempah-rempah yang dilakukan bangsa Indonesia berabad-abad lampau. Ekspedisi ini diilhami oleh relief-relief kapal yang ada pada Candi Borobudur.

7. Museum Borobudur


Museum Borobudur terletak di dekat pintu keluar. Bagi wisatawan yang ingin mengetahui berbagai informasi mengenai Candi Borobudur. Di sini juga disimpan berbagai arca yang merupakan bagian dari Candi Borobudur atau yang ditemukan di sekitar candi.

8. Jemparingan dan Tempat Foto

Bagi yang ingin eksis di sosial media bisa memakai jasa tukang foto yang akan membantu mencari spot foto yang pas. Atau bisa juga berfoto gaya jaman dulu dan memanah. Untuk biayanya, saya kurang begitu memperhatikan sepertinya sekitar Rp. 20.000,- saja. 

9. Toilet dan Mushola

Fasilitas dua ini paling penting dalam perjalanan wisata terutama untuk cewek. Biar nggak kena gejala ISK, iya kan? 


10. Pasar Seni dan Cinderamata

Bila kita ingin membawa oleh-oleh khas Borobudur, bisa dengan mudah ditemukan di dalam kios-kios yang bentuknya mirip labirin berkelok-kelok. Pasar ini berada di gerbang pintu keluar jadi otomatis jalan keluar dari candi menjadi makin jauh. Saran untuk pihak pengelola, sebaiknya pasar ini jangan dibuat seperti ini. Sehingga tidak terkesan ketika datang dibuat dekat tapi untuk keluar dibuat berputar-putar.

Tips untuk berlibur ke Candi Borobudur:


1. Bawa topi atau payung kecil sehingga tidak terpanggang saat di area candi. Berjalan di antara bebatuan dan di bawah sinar matahari sungguh sangat panas, jadi sebaiknya pakai pakaian yang nyaman.

2. Berpakaian yang sopan mengingat bahwa Candi Borobudur adalah tempat untuk beribadah umat Budha.

3. Patuhi petunjuk dan larangan yang ada pada area candi. Perhatikan mana jalur untuk masuk dan keluar area candi agar tidak macet mengingat area candi cukup sempit. Kemarin saya cukup terganggu dengan pengunjung yang turun di tangga naik jadinya bikin terhambat untuk berjalan. Belum lagi rok yang dipakai cukup panjang sehingga sangat berbahaya jika seandainya terinjak orang yang dibelakangnya.

4. Bawa air minum sendiri. Sepanjang di area candi kemarin saya bisa menghabiskan satu botol air mineral lebih padahal saya termasuk orang yang jarang minum jika sedang jalan-jalan seperti ini.

5. Tidak usah membawa bekal makanan. Di area candi dilarang untuk membawa makanan apalagi buah-buahan, jika ketahuan siap-siap aja dimarahin satpam dan seluruh pengunjung akan memperhatikan kita.  Kenapa tidak boleh? Karena jika ada makanan atau biji yang jatuh maka dikhawatirkan akan terdapat sampah dan bila jatuh di antara batu-batu dan bisa tumbuh pohon. Hal ini disebabkan karena batu-batu pada candi tidak diberi lem atau perekat apa pun.

6. Tidak perlu menyentuh patung Budha yang ada di dalam arca berlubang, karena bisa merusak susunan batu-batunya dan patung di dalamnya. Serta membuat relief di sekitar arca bisa hilang.

7. Perhatikan juga papan larangan ini untuk selalu menjaga kebersihan, dilarang mencoret-coret, dilarang merokok, dilarang memindah batu, dilarang duduk di stupa dan pagar, dilarang membawa makanan, dilarang memanjat, dilarang membawa senjata, dilarang membawa alat musik, dilarang membawa drone dan binatang peliharaan.




Sumber informasi: 
-https://id.m.wikipedia.org/wiki/Borobudur
-https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/candi-borobudur/
Foto: Dokumen pribadi

Selasa, 15 Oktober 2019

Kasih, Sukacita dan Pengharapan di Bulan Oktober


Tahun ini khususnya di bulan Oktober, merupakan masa-masa yang penuh kebahagiaan. Ucapan syukur kepada Tuhan tak henti-hentinya mengalir dari dalam hatiku. 

Di bulan ini, Tuhan sudah menambahkan umur satu tahun lagi. Air mataku sempat menetes ketika mendapat banyak ucapan selamat dari suami, keluarga dan teman-teman. Nggak nyangka aja bisa dapat sebegitu banyak ucapan selamat ulang tahun. Padahal di tahun-tahun sebelumnya, kebanyakan dari mereka lupa sama ulang tahunku. 

Bagiku nggak masalah sih, mau ada yang ngucapin atau enggak. Toh, sudah besar nggak perlu kaliii, seluruh dunia tahu dan mengucapkan happy birthday. Nggak pernah dirayain juga secara hura-hura paling cuma makan bareng atau dimasakin mie panjang umur. Udah!

Tahun ini adalah tahun kedua usia pernikahanku. Itu artinya ini ketiga kalinya, melewati ulang tahunku bersama suami. Di tahun sebelumnya, kami mengisi hari spesial itu dengan makan malam di restoran. Cieee! Tapi tahun ini aku minta nggak usah ke restoran. Bagi-bagi roti sama bawa konsumsi aja saat komsel. Namun, rencana kedua gagal karena bareng sama acara gereja. Ya sudahlah dibikin woles aja, ha, ha.

Dalam hati aku kecewa kenapa nggak pernah bisa berhasil bawa konsumsi dalam komsel pas berdekatan dengan hari spesial. Bayangin aja dari bulan Juni kami pengen bawa, tapi ada saja moment yang buat jadi batal. 

Dari suami, aku belajar jadi orang yang nggak gampang dikit-dikit ngambek. Bersyukurlah dalam segala hal. Entah kenapa situasi di gereja juga mendukungku untuk mengingatkanku selalu mengucap syukur dengan muncul lagu "Kubersyukur Bapa". Dan itu diulang-ulang terus. Puji Tuhan saya jadi bisa terus mengucap syukur meski ada banyak hal yang bikin aku sebenarnya bisa saja tidak mengucap syukur. Banyak hal yang mengecewakan dalam hidupku. Termasuk diriku sendiri. Ya, ada rasa kecewa terhadap diriku. 

Aku menyadari bahwa diriku bukan orang yang selalu baik dan bisa menyenangkan orang lain. Ada sikapku yang bisa dibilang kurang menyenangkan terutama jika ada sesuatu yang bikin aku tiba-tiba takut, tiba-tiba marah, ngambek, nggak mau ngapa-ngapain dan bisa nangis sendiri tanpa bisa mengungkapkan penyebabnya. Untuk kembali menjadi normal pun lama, bisa menghabiskan waktu seharian. 

Bila sudah seperti itu aku hanya ingin ditemani. Diajak berdoa dan didoakan. Setelahnya aku akan merasakan ketenangan. Kalau selama hidup dengan suami, biasanya dia akan menemaniku dan mengajakku mengenali apa sih yang ada dalam pikiranku, dalam perasaanku. Jangan dikira hal itu mudah, tidak itu sangat lama. Sulit sekali mengenali apa yang sebenarnya aku rasakan. 

Mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri itu tidak mudah jika kamu belum mengasihi dirimu. Mungkin kalimat tadi yang membuatku menjadi orang yang sulit untuk memberikan perhatian bagi orang lain. Tetapi dalam pernikahan aku belajar untuk mengasihi. Bukan lagi memikirkan perasaanku saja tetapi juga perasaan suamiku. 

Melalui komsel dan komunitas di gereja saat ini membawaku ke sebuah titik di mana aku belajar kembali tentang kasih. Paulus dalam 1 Korintus 13:2 menulis "Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna".  

Mengasihi itu tidak mudah jika dilakukan sendiri tanpa pertolongan Tuhan. Begitu banyak hal di dunia ini yang membuat kita kepahitan, putus asa bahkan mengasihani diri sendiri. Namun terpujilah Tuhan, karena kasih itu sesungguhnya sudah hadir dalam hati kita. Sehingga kita bisa dengan mudah mengasihi orang-orang di sekitar kita. 

Dan itulah yang kurasakan, ketika teman-teman dan keluarga bahkan suami membuat hari ulang tahunku jadi terasa spesial dengan ucapan selamat. Seharian itu, hapeku sibuk sekali notifnya, wkwkwk. Terima kasih buat kalian yang sudah memberikan ucapan dan doa buat saya. 

Kejutan ulang tahun ternyata nggak berhenti sampai di sini. Karena lebih spesialnya lagi, suami dapat hadiah menginap dan jalan-jalan di Balkondes Kembang Limus, Borobudur, Magelang. Wow! 

Asyiknya jalan-jalan kami akan saya tulis dalam postingan selanjutnya. Bagiku ini adalah hadiah terindah yang Tuhan kasih dalam hidupku di bulan aku ulang tahun. Tahu nggak sih, kalian kalau aku tuh punya sukacita yang meluap-luap dari dalam hati. Bukan jalan-jalan biasa tapi ada banyak pelajaran yang kupetik lewat kegiatan ini. 

Jadi tunggu postinganku selanjutnya ya! Tuhan memberkati!