Kamis, 19 Desember 2019

Jejamuran Resto, Restoran Bagi Para Pecinta Masakan Jamur


Resto Jejamuran merupakan salah satu tempat kuliner yang patut kamu kunjungi ketika berada di Jogja. Selain masakan yang serba jamur, di tempat ini kamu bisa belajar mengenal berbagai jenis tanaman jamur.

Lebih dari sekedar restoran, Jejamuran memberikan pelayanan yang prima mulai dari tempat parkir, keamanan hingga memesan makanan semuanya oke!

Pertama kali ke sini, saya begitu terkesan dengan perlakuan para petugasnya mulai dari tukang parkir, satpam hingga kasir. Begitu datang di tempat parkir yang berada di seberang jalan restoran kita akan dibantu menyeberang jalan sehingga tidak khawatir tertabrak kendaraan yang ramai berlalu lalang.


Di bagian depan kita akan menemui sebuah corner berisi aneka jamur. Saya yang buta tentang jejamuran jadi sedikit tahu seperti apa sih, bentuk jamur merang atau jamur-jamur lain yang dimakan.


Untuk memesan makanan, kita harus memesan meja terlebih dulu tergantung jumlah konsumen. Pelayan akan menghubungi temannya yang di dalam untuk mencarikan meja yang kosong. Hal ini sangat membantu ketika restoran sedang ramai jadi kita nggak mungkin rebutan tempat dengan pengunjung yang lain.

Tempat makannya juga cukup luas jadi tak perlu khawatir akan merasa sumpek atau pengap di sini. Ada juga hiburan berupa tembang jawa lengkap dengan sinden dan gamelan.


Ada beraneka jenis masakan jamur yang disediakan di Jejamuran Resto. Sate, Jamur Bakar, Sup Jamur, Pepes, Nasi Goreng, Tumis, Karedok, Bothok, Tongseng, Rendang, aneka cemilan dan wedang jejamuran. Bagi yang ingin menikmati hidangan non-jamur tersedia juga Ayam dan Bebek.

Bagi kamu yang suka jamur, restoran ini pas banget lho! Sedikit lebih jauh dari kota Jogja tempatnya, yaitu JCM masih ke utara lagi tepatnya jl. Pendowoharjo, Niron, Sleman Yogyakarta 55512. 

Didirikan tahun 1997 oleh Bapak Ratidjo H.S yang memang aktif di P4S (Pusat Pengembangan Pertanian Pedesaan Swadaya) di bidang jamur. Restoran ini bertambah maju dan telah menerima berbagai penghargaan.

Selain restoran, ada juga spa ikan gratis, minimarket yang menyediakan aneka cemilan dan produk olahan kaleng, semua terbuat dari jamur yang bisa untuk oleh-oleh keluarga di rumah.

Uniknya setiap barang milik pengunjung yang ketinggalan akan dipajang di sebuah etalase lengkap dengan tanggal ditemukan. Saya tidak tahu apakah bisa diambil kembali oleh pemiliknya atau tidak. Kita juga bisa menemukan piagam penghargaan/sertifikat yang dipajang dan ditempelkan di tembok.


Kesimpulan: 

Nilai +:
- Pelayanan sangat baik
- Penyajian cepat
- Rasa masakan dan minuman enak
- Tempat makan nyaman
- Parkir luas

Nilai -:
- Tempatnya terlalu remang-remang

SKOR: 4,5/5 ☆☆☆☆

PETA

Senin, 16 Desember 2019

Berlibur Menikmati Suasana Pedesaan di Balkondes Kembanglimus (2)


Halooo!!!

Jumpa lagi dengan cerita perjalanan wisata di Balkondes Kembanglimus. Kalau kamu belum baca, bisa kembali ke postingan sebelum postingan ini atau klik di sini.

Puas berfoto-foto di
Punthuk Setumbu, kami kembali menyusuri jalan tak bersetapak alias masih tanah. Dan jalannya nggak ada bebatuan atau kerikil sama sekali. Hanya ada akar pohon, ranting dan dedaunan yang gugur. Kami harus ekstra hati-hati terutama saat melewati jalan menurun dan agak basah karena hujan pagi-pagi buta tadi.

Perlahan tetapi pasti kami sampai di bawah dengan selamat. Orang-orang atau masyarakat sekitar sini tentu sudah terbiasa dengan jalan naik turun seperti ini. Buktinya staff yang menemani kami dengan hitungan beberapa menit sudah berhasil jalan kaki bolak-balik untuk mengambil senter yang tertinggal di bawah sebelum bukit Rhema.

Nggak kebayang deh, kalau saya yang suruh jalan bolak-balik gitu pasti butuh satu jam-an, he, he. Maklum

Selesai menuruni bukit dengan berjalan kaki dan bersepeda rasanya lapar sekali. Untunglah sarapan kami sudah siap ketika sampai ke penginapan, yeay!! Saatnya mengisi perut.


Menu sarapan pagi ini terbilang sederhana tapi nikmat diantaranya ada Gudangan, Tumis Soun, tempe dan ayam goreng tidak lupa pelengkapnya ada sambal. Hmmm, kami langsung melahap habis semua makanan di depan kami. Ditutup dengan jus jambu yang segar membuat perut kami jadi kenyang.

Kami diberi waktu satu setengah jam untuk sarapan dan beristirahat sebelum diajak tour ke desa-desa sekitar.

Sebenarnya ada beberapa pilihan tour yang ditawarkan di Balkondes Kembanglimus selain bersepeda yaitu naik andong atau naik mobil VW. Tetapi khusus untuk giveaway kali ini adalah dengan naik sepeda.

Nanas Benggolo


Tour kami pertama mengunjungi seorang warga desa Bumen yang bernama Bapak Nurrofik, yang membudidayakan tanaman Nanas. Berawal dari coba-coba menanam mahkota daun buah nanas yang terbuang dengan menancapkannya di pot dan berbuah, akhirnya menjadi banyak sehingga hal itu menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.

Beberapa tetangga yang merasakan manisnya Nanas Benggolo mulai mengikuti jejak Pak Nurrofik membudidayakan tanaman tersebut. Kini hampir semua warga kelurahan Kembanglimus memiliki tanaman Nanas Benggolo. Sehingga bisa dibilang bahwa inilah ikon desa Kembanglimus.

Nanas ini dikenal dengan buahnya yang berukuran besar, memiliki banyak kandungan air dan segar. Agar rasa buahnya manis, Pak Nurrofik hanya akan memanen buah nanas yang kuningnya sudah benar-benar merata. Tanda bahwa nanas memang sudah masak pohon.

Perawatan Nanas Benggolo terbilang sangat mudah. Hanya perlu disiram air yang cukup, diberi pupuk kandang dan kompos. Nyaris tak ada kendala dalam proses pembibitan, perawatan dan pemanenan.


Biasanya satu pohon nanas hanya dapat berbuah satu kali dalam setahun. Meski begitu bukan berarti pohon yang sudah dipanen tidak bisa diambil manfaatnya. Pak Nurrofik akan memangkas pohon yang telah dipanen agar keluar tunas dan kembali ditanam. Dari satu pohon nanas bisa menghasilkan banyak tunas lho!

Jadi budidayanya lumayan cepat. Jadi ada dua cara mendapatkan bibit tanaman Nanas Benggolo, yaitu dari buah nanas langsung dan yang kedua dari pohon nanas yang sudah dipanen.

Sayang waktu kami ke sini, tidak ada nanas yang sudah dipanen jadi tidak bisa mencicipi rasanya. Karena penasaran kami agak memaksa membeli 2 buah nanas untuk oleh-oleh. Mungkin masih belum masak pohon betul jadi rasanya asam.

Semier dan Jetkolet


Selanjutnya kami mengunjungi rumah-rumah penduduk yang memiliki kerajinan pembuatan makanan tradisional Semier dan Jetkolet.

Jujur, saya merasa sangat asing dengan nama kedua makanan ini. Berkali-kali saya bertanya pada Mbak Nuniek bahkan menanyakan ejaannya, wkwkw.

Setelah melihat hasil matangnya, saya baru tahu kalo itu bukanlah produk asing bagi saya. Keduanya sama-sama terbuat dari bahan dasar yang sama yakni singkong atau ubi jalar.

Cara pembuatannya pun berbeda. Semier dibuat dari singkong yang diparut, ditiriskan dan dicampur dengan tepung pati serta bumbu-bumbu.


Adonan ini kemudian ditipiskan di atas sehelai daun pisang, proses penipisan ini harus dilakukan secara hati-hati agar hasilnya halus. Lalu dijemur beberapa hari hingga kering. Barulah semier ini digoreng.


Jika melihat hasil matangnya saya baru bisa menyebut ini semacam opak tetapi lebih terasa seperti kerupuk singkong (menurut lidah saya lhoo!)

Kalau kamu menyebut Semier di daerahmu apa?

Beralih dari tempat pembuatan Semier ke Jetkolet. Hmm, makanan apalagi ini?

Jarak antar rumah di daerah Kembanglimus tidak seperti di kota atau perumahan yang padat lho. Per rumah memiliki halaman yang luas, ditanami dengan beraneka pohon ada rambutan, nangka, pisang, singkong, petai, kelapa, dll. Dan memang terbukti benar bahwa Nanas Benggolo ada di setiap rumah warga desa Kembanglimus, meski tak sebanyak Pak Nurrofik tadi.

Kembali ke Jetkolet!


Jetkolet terbuat dari singkong yang sudah direbus lalu dihaluskan sama seperti pembuatan getuk. Adonan getuk ini dimasukkan ke dalam freezer agar keras, setelah keras dipotong-potong lalu digoreng.


Berbeda dengan pembuatan Semier tadi yang masih manual, pembuatan Jetkolet sudah memakai mesin.


Tetapi menggorengnya tetap sama, memakai kayu bakar. Mataku sempat terasa perih hingga bercucuran air mata karena asap yang keluar dari perapian. Duh polusi udara nih!

Memasak menggunakan kayu bakar memang diakui oleh sebagian orang membuat taste tersendiri dan lebih panas dibandingkan memakai gas. Kalau saya nyerah deh, pakai kayu bakar, he, he.

Gula Jawa


Hari makin siang, waktu kami makin menipis. Tapi ada satu lagi yang perlu kami kunjungi, yaitu pembuatan Gula Jawa.

Bagi wanita yang suaminya bekerja menjadi buruh bangunan, usaha membuat gula jawa sudah seperti menjadi kewajiban. Tujuannya tentu saja untuk menambah penghasilan dalam rumah tangga.

Penderes adalah istilah untuk orang yang mengambil air nira, bahan utama pembuatan gula jawa. Kekeringan beberapa waktu lalu membuat air nira yang dihasilkan sedikit dan memengaruhi hasil produksi gula jawa. Syukurlah sekarang sudah mulai memasuki musim penghujan. Semoga usaha pembuatan gula jawa ini semakin lancar.


Selesai sudah kunjungan wisata kami ke rumah penduduk yang sangat berkesan ini. Terima kasih buat Balkondes Kembanglimus yang sudah memberikan kesempatan menikmati tour dan staycation yang istimewa.

Saatnya kami pulang ke penginapan dan meluncur ke Borobudur, yeay!!! 

Jumat, 06 Desember 2019

Berlibur Menikmati Suasana Pedesaan di Balkondes Kembanglimus (1)

Balkondes Kembanglimus



Sudah lama saya dan suami ingin piknik ke luar kota, karena selama ini kalo jalan-jalan cuma seputaran Jogja dan Purwokerto aja. Pengen dong bisa menginap ke luar kota. Puji Tuhan pas ada keinginan itu, pas suami ikut giveway dan menang! 

Akhirnya kami bisa piknik ke luar kota dan nginep gratis. Hadiahnya ternyata nggak cuma nginep aja tapi ada aktivitas dinner, berwisata dan breakfast. Asyikk!!

Eh, tapi kan nggak ada hari libur di bulan Oktober? Tenang, sang suami mau ambil cuti 2 hari di weekday. Jadi nggak takut bakal berdesak-desakkan saat di jalan atau tempat wisata. Terutama karena lokasi penginapannya ini dekat dengan Candi Borobudur.


Mungkin sebagian teman-teman bertanya-tanya, apa sih Balkondes Kembanglimus? 

Balkondes merupakan singkatan dari Balai Ekonomi Desa yang dikelola oleh penduduk sekitar kecamatan Borobudur. Diharapkan dengan adanya Balkondes ini, ekonomi masyarakat desa Borobudur juga turut merasakan dampak ekonomi mengingat adanya tempat wisata Candi Borobudur yang sudah terkenal di dunia. Ada sekitar 20 Balkondes yang tersebar di 20 kelurahan. 

Kembanglimus adalah nama kelurahan tempat Balkondes itu berada. Lokasi tempat kami menginap ini cukup dekat dengan tempat wisata Bukit Rhema dan Punthuk Setumbu. 

Kami berangkat dari Jogja sekitar jam 9 agar bisa berwisata dulu sebelum masuk ke penginapan. Pertama kami mampir ke Bendungan Kali Progo. 

Agak siang kami sudah sampai di kawasan Candi Pawon, Candi Mendut dan Bukit Rhema. 

Baca Juga: 


Check in di Balkondes sekitar jam 3 sore. Mbak Menuk resepsionist menyambut kami dengan ramah. Ia menjelaskan aktivitas apa saja yang akan kami nikmati selama menginap di sana. 

Kamar yang kami pakai cukup nyaman, terdapat tempat tidur yang bersih, televisi, WIFi kencang dan AC. Uniknya kamar kami berupa bangunan yang semuanya terbuat dari bambu. Lagipula sekeliling penginapan adalah sawah dan ladang. Jadi terasa nuansa etnik dan pedesaan. 

Dinner Istimewa


Karena sudah melakukan perjalanan dari pagi dan mampir ke beberapa tempat, kami memutuskan untuk menikmati suasana sore di Balkondes Kembanglimus saja. Hawa dingin mulai terasa menjelang petang. Di sana ternyata hanya kami saja yang menginap maklum bukan weekend atau musimnya liburan. 

Walau sudah diberitahu bahwa kami akan mendapat dinner, perasaanku tetap saja was-was. Ha, ha...biasa urusan perut lapar itu BERBAHAYA. Kucing manis bisa berubah jadi Harimau kalau sedang kelaparan. 

Saya memutuskan untuk membuat susu agar perut nggak terasa lapar banget. Untuk menghabiskan waktu aku mencoba bikin artikel tapi gagal karena nggak konsen, wkwkwkw. 

Akhirnya panggilan dinner itu pun tiba. Nggak nyangka kirain yang namanya "dinner" cuma dikasih makanan aja. TIDAK sodara-sodara!!!

Kami disuruh duduk di tengah-tengah Balkondes sambil difoto-foto. Biasanya aku yang foto-foto ini gantian aku yang difoto. Duh! Mbak, mas kalian salah objek deh! Aku bukanlah selebgram atau influencer kece, he, he... 

Kalian tahu apa yang aku lakuin? Ya, cuma pasrah sambil senyum-senyum menahan haru. Tuhan kok tahu sih, kalo sebenarnya aku tuh ya mau dinner dengan dikasih lilin-lilin seperti ini. 

Menu pertama ada semacam Roti Tawar digoreng yang ada cokelat leleh di dalamnya. Kedua nasi goreng lengkap dengan telur dadar, fillet ikan dan acar. Penutupnya ada salad buah. Minumannya Wedang Secang. 

Biar pun sederhana, tapi hal ini akan teringat terus karena terjadi pas banget di bulan ulang tahunku. Wah, God is Good all the time deh! 

Mulai aktivitas pukul 5 pagi

Pagi di Kembanglimus kami harus bangun pagi-pagi buat ngejar sunrise. Agak bandel juga sih, harusnya bisa pergi jam setengah lima tapi karena telat bangun jadi mulur setengah jam. 

Berempat saya bersama tim jalan-jalan Balkondes Kembanglimus menuju ke Bukit Rhema dan Punthuk Setumbu. Udara pagi terasa lebih segar terutama karena sempat hujan pukul 3 pagi tadi. Lumayan jalannya jadi nggak debu banget.

Jalan menuju ke Bukit Rhema cukup menguras tenaga. Saat sepeda yang kami gunakan sudah terasa makin berat dan tidak kuat lagi menanjak kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.


Tak lama kami mencapai lokasi Bukit Rhema yang kemarin sudah sempat dikunjungi. Bukit Rhema belum buka tetapi ada paket sunrise yaitu menikmati sarapan dengan view pemandangan yang indah. Satu orang dikenai biaya 40 ribu.

Karena tidak mau melewatkan sunrise kami segera menuju ke Punthuk Setumbu. Kami harus menempuh jalan yang masih alami menembus hutan sekitar 250 meter. Jalanan kali ini naik turun dan kadang ada bagian yang licin.


Namun semuanya terbayar dengan indahnya pemandangan di Punthuk Setumbu. Dari sini kita dapat melihat bangunan Bukit Rhema dan puncak dari Candi Borobudur.

Sayang karena tadi pagi hujan, matahari yang ditunggu tidak juga muncul. Meski gagal melihat matahari terbit, saya cukup puas karena bisa mendapat pengalaman berjalan-jalan di tengah hutan.

Setelah puas menikmati suasana perbukitan, kami kembali menuju ke Kembanglimus untuk sarapan. Sepanjang perjalanan saya sungguh berdecak kagum karena para penduduk menyapa kami dengan ramah meski belum kenal.

Seperti apa sarapan kami di Balkondes Kembanglimus? Tunggu postingan saya selanjutnya ya!