Senin, 16 Desember 2019

Berlibur Menikmati Suasana Pedesaan di Balkondes Kembanglimus (2)


Halooo!!!

Jumpa lagi dengan cerita perjalanan wisata di Balkondes Kembanglimus. Kalau kamu belum baca, bisa kembali ke postingan sebelum postingan ini atau klik di sini.

Puas berfoto-foto di
Punthuk Setumbu, kami kembali menyusuri jalan tak bersetapak alias masih tanah. Dan jalannya nggak ada bebatuan atau kerikil sama sekali. Hanya ada akar pohon, ranting dan dedaunan yang gugur. Kami harus ekstra hati-hati terutama saat melewati jalan menurun dan agak basah karena hujan pagi-pagi buta tadi.

Perlahan tetapi pasti kami sampai di bawah dengan selamat. Orang-orang atau masyarakat sekitar sini tentu sudah terbiasa dengan jalan naik turun seperti ini. Buktinya staff yang menemani kami dengan hitungan beberapa menit sudah berhasil jalan kaki bolak-balik untuk mengambil senter yang tertinggal di bawah sebelum bukit Rhema.

Nggak kebayang deh, kalau saya yang suruh jalan bolak-balik gitu pasti butuh satu jam-an, he, he. Maklum

Selesai menuruni bukit dengan berjalan kaki dan bersepeda rasanya lapar sekali. Untunglah sarapan kami sudah siap ketika sampai ke penginapan, yeay!! Saatnya mengisi perut.


Menu sarapan pagi ini terbilang sederhana tapi nikmat diantaranya ada Gudangan, Tumis Soun, tempe dan ayam goreng tidak lupa pelengkapnya ada sambal. Hmmm, kami langsung melahap habis semua makanan di depan kami. Ditutup dengan jus jambu yang segar membuat perut kami jadi kenyang.

Kami diberi waktu satu setengah jam untuk sarapan dan beristirahat sebelum diajak tour ke desa-desa sekitar.

Sebenarnya ada beberapa pilihan tour yang ditawarkan di Balkondes Kembanglimus selain bersepeda yaitu naik andong atau naik mobil VW. Tetapi khusus untuk giveaway kali ini adalah dengan naik sepeda.

Nanas Benggolo


Tour kami pertama mengunjungi seorang warga desa Bumen yang bernama Bapak Nurrofik, yang membudidayakan tanaman Nanas. Berawal dari coba-coba menanam mahkota daun buah nanas yang terbuang dengan menancapkannya di pot dan berbuah, akhirnya menjadi banyak sehingga hal itu menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.

Beberapa tetangga yang merasakan manisnya Nanas Benggolo mulai mengikuti jejak Pak Nurrofik membudidayakan tanaman tersebut. Kini hampir semua warga kelurahan Kembanglimus memiliki tanaman Nanas Benggolo. Sehingga bisa dibilang bahwa inilah ikon desa Kembanglimus.

Nanas ini dikenal dengan buahnya yang berukuran besar, memiliki banyak kandungan air dan segar. Agar rasa buahnya manis, Pak Nurrofik hanya akan memanen buah nanas yang kuningnya sudah benar-benar merata. Tanda bahwa nanas memang sudah masak pohon.

Perawatan Nanas Benggolo terbilang sangat mudah. Hanya perlu disiram air yang cukup, diberi pupuk kandang dan kompos. Nyaris tak ada kendala dalam proses pembibitan, perawatan dan pemanenan.


Biasanya satu pohon nanas hanya dapat berbuah satu kali dalam setahun. Meski begitu bukan berarti pohon yang sudah dipanen tidak bisa diambil manfaatnya. Pak Nurrofik akan memangkas pohon yang telah dipanen agar keluar tunas dan kembali ditanam. Dari satu pohon nanas bisa menghasilkan banyak tunas lho!

Jadi budidayanya lumayan cepat. Jadi ada dua cara mendapatkan bibit tanaman Nanas Benggolo, yaitu dari buah nanas langsung dan yang kedua dari pohon nanas yang sudah dipanen.

Sayang waktu kami ke sini, tidak ada nanas yang sudah dipanen jadi tidak bisa mencicipi rasanya. Karena penasaran kami agak memaksa membeli 2 buah nanas untuk oleh-oleh. Mungkin masih belum masak pohon betul jadi rasanya asam.

Semier dan Jetkolet


Selanjutnya kami mengunjungi rumah-rumah penduduk yang memiliki kerajinan pembuatan makanan tradisional Semier dan Jetkolet.

Jujur, saya merasa sangat asing dengan nama kedua makanan ini. Berkali-kali saya bertanya pada Mbak Nuniek bahkan menanyakan ejaannya, wkwkw.

Setelah melihat hasil matangnya, saya baru tahu kalo itu bukanlah produk asing bagi saya. Keduanya sama-sama terbuat dari bahan dasar yang sama yakni singkong atau ubi jalar.

Cara pembuatannya pun berbeda. Semier dibuat dari singkong yang diparut, ditiriskan dan dicampur dengan tepung pati serta bumbu-bumbu.


Adonan ini kemudian ditipiskan di atas sehelai daun pisang, proses penipisan ini harus dilakukan secara hati-hati agar hasilnya halus. Lalu dijemur beberapa hari hingga kering. Barulah semier ini digoreng.


Jika melihat hasil matangnya saya baru bisa menyebut ini semacam opak tetapi lebih terasa seperti kerupuk singkong (menurut lidah saya lhoo!)

Kalau kamu menyebut Semier di daerahmu apa?

Beralih dari tempat pembuatan Semier ke Jetkolet. Hmm, makanan apalagi ini?

Jarak antar rumah di daerah Kembanglimus tidak seperti di kota atau perumahan yang padat lho. Per rumah memiliki halaman yang luas, ditanami dengan beraneka pohon ada rambutan, nangka, pisang, singkong, petai, kelapa, dll. Dan memang terbukti benar bahwa Nanas Benggolo ada di setiap rumah warga desa Kembanglimus, meski tak sebanyak Pak Nurrofik tadi.

Kembali ke Jetkolet!


Jetkolet terbuat dari singkong yang sudah direbus lalu dihaluskan sama seperti pembuatan getuk. Adonan getuk ini dimasukkan ke dalam freezer agar keras, setelah keras dipotong-potong lalu digoreng.


Berbeda dengan pembuatan Semier tadi yang masih manual, pembuatan Jetkolet sudah memakai mesin.


Tetapi menggorengnya tetap sama, memakai kayu bakar. Mataku sempat terasa perih hingga bercucuran air mata karena asap yang keluar dari perapian. Duh polusi udara nih!

Memasak menggunakan kayu bakar memang diakui oleh sebagian orang membuat taste tersendiri dan lebih panas dibandingkan memakai gas. Kalau saya nyerah deh, pakai kayu bakar, he, he.

Gula Jawa


Hari makin siang, waktu kami makin menipis. Tapi ada satu lagi yang perlu kami kunjungi, yaitu pembuatan Gula Jawa.

Bagi wanita yang suaminya bekerja menjadi buruh bangunan, usaha membuat gula jawa sudah seperti menjadi kewajiban. Tujuannya tentu saja untuk menambah penghasilan dalam rumah tangga.

Penderes adalah istilah untuk orang yang mengambil air nira, bahan utama pembuatan gula jawa. Kekeringan beberapa waktu lalu membuat air nira yang dihasilkan sedikit dan memengaruhi hasil produksi gula jawa. Syukurlah sekarang sudah mulai memasuki musim penghujan. Semoga usaha pembuatan gula jawa ini semakin lancar.


Selesai sudah kunjungan wisata kami ke rumah penduduk yang sangat berkesan ini. Terima kasih buat Balkondes Kembanglimus yang sudah memberikan kesempatan menikmati tour dan staycation yang istimewa.

Saatnya kami pulang ke penginapan dan meluncur ke Borobudur, yeay!!! 

3 komentar:

  1. Paling suka wisata ke tempat2 produksi kayak gini. Kadang bisa beli produknya harga miring. Langsung borong banyak.

    BalasHapus
  2. Asik tempat wisatanya mbak.. jadi pingin jalan2 juga nih.. tapi kantongnya gak mendukung.. hahaha

    BalasHapus
  3. Menu sarapannya tuh homey banget. Bikin betah kalo kaya gini. Terus, bisa jalan-jalan ngeliat produk UKM lagi. Udah lah makin males pulang

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.