Jumat, 28 September 2018

Baturraden Tempat Penuh Sejuta Kenangan

Aku sangat menyukai kota Purwokerto, sewaktu aku masih kecil pernah bermimpi untuk bisa tinggal di kota ini. Dan ajaib Tuhan mengabulkan keinginan itu setelah belasan tahun berlalu. Kenapa saya suka dengan kota ini? Entahlah, seperti ada spirit yang tertanam dalam suasana Purwokerto yang berada di dekat tempat indah bernama Baturraden. Jika saya dan mama berjalan-jalan ke kota (demikian kami menyebut Purwokerto) selalu merasakan hawa dingin yang sejuk. Puji Tuhan setelah kami tinggal di Purwokerto, kami bisa mengunjungi Baturraden kapan saja karena letaknya lebih dekat ketimbang kami dari Kroya. Beberapa tahun setelah tinggal di Purwokerto ternyata saya harus pindah ke Yogyakarta, membuat saya jadi jarang ke Baturraden lagi.

Baturraden tempat sejuta kenangan


Anak Tangga di Kebun Raya Baturraden.
Nggak cukup sehari jika kamu ingin mengunjungi semua tempat di Baturraden, mulai dari Wana Wisata Baturraden, Kebun Raya Baturraden, The Small World, Telaga Sunyi, Pancuran Pitu, Pancuran Telu, Curug Gede, dan yang terbaru ada Caping Park. Menikmati udara sejuk pegunungan dan pemandangan yang indah bikin betah. Beberapa kali saya pergi ke tempat ini dengan keluarga, saudara, calon suami dan calon mertua waktu itu, ha, ha. Yang paling sering ya sama suami yang kala itu masih berstatus jadi pacar.

Awalnya, saya mengajak suami ke Baturraden karena ingin mengenalkan ini lho, kota saya nggak kalah kan sama tempat lain? Tapi ternyata justru cinta kami bersemi di Baturraden. Padahal menurut mitos masyarakat sekitar, pasangan muda-mudi yang pacaran di Baturraden akan putus. Puji Tuhan mitos itu nggak berlaku buat kami. Mungkin hanya untuk pasangan yang pacarannya sudah melebihi batas ya.
Foto kami saat masih pacaran.
Masa pacaran, kami sering ke Baturraden setelah pulang dari gereja. Berjalan-jalan menyusuri anak tangga yang lumayan bikin keringat mengucur dan perut lapar. Membeli sate kelinci jadi andalan kami. Pernah kami pagi-pagi ke Baturraden hanya untuk sarapan sate kelinci lalu pulang lagi. Ha, ha, ha. Tapi yang namanya pacaran ya tetap asyik. Tak disangka semua itu sekarang jadi kenangan yang indah untuk diingat.

Kenangan Indah Bersama Keluarga Di Baturraden


Lebaran kemarin saya dan suami pulang ke Purwokerto. Mama dengan semangatnya mengajak kami jalan-jalan ke Baturraden pagi-pagi naik motor. Jadilah hari itu kami pergi ke Baturraden dengan 2 motor. Satu saya dengan suami, yang satu lagi mama sama kakak laki-laki saya. Untuk menghemat supaya nggak jajan di sana, mama membawa bekal nasi ayam untuk kami semua. Wk, wk, wk. Maklum baru lebaran, harga tiket dan jajan naik semua.

Sebelum ke dalam selfie dulu ah.
Ada kejadian lucu. Saat sudah sampai depan loket, kami beristirahat dulu, karena waktu mau masuk kawasan wisata Baturraden macet parah padahal kondisi jalan menanjak. Saya dan mama masuk lewat gerbang masuk dengan berjalan kaki hendak ke toilet. Sementara kk dan suami masih ingin duduk di bawah pohon beristirahat.

Sesudah beberapa saat saya dan mama selesai keluar dari toilet dan menunggu mereka. Lama menunggu, akhirnya mama telepon suamiku. Ternyata kk dan suami sudah sampai di atas, katanya sedang mencari kami. Agak kesal juga saya bilang nggak mungkin kami berdua jalan kaki ke atas. FYI, jarak antara gerbang masuk ke Kebun Raya Baturraden masih 10 menitan kalo naik motor. Jalannya menanjak lagi.

"Lho, kalian kan jalan sudah lama." Sahut kk santai.

Aku cuma tepuk jidat, "kami kan cuma ke toilet yang dekat parkiran itu." Ah, cowok emang nggak peka! Mereka kurang mengerti apa yang dilakukan wanita.

Ini liburan pertama bersama keluarga kami setelah saya menikah.
Setelah menikah, suami jadi jarang ke Purwokerto. Dia lebih sibuk kerja dan mencari lemburan. Dia baru bisa berlibur agak lama pas momen lebaran ini. Puji Tuhan kami bisa berpiknik bersama mama. Meski ke Baturraden itu bikin capek kaki karena jalannya menanjak terus. Anak tangga yang bikin ngos-ngosan selalu ada di mana-mana menantang kami untuk mendaki. Meski capek, semua itu terbayar dengan pemandangan indah dan udara yang sejuk.

Pura-pura sibuk selfie, padahal baru istirahat. Wkwkwk. 
Jalan-jalan membawa mama memang harus sabar jalannya, santai nggak usah terburu-buru. Beda sama kalo berdua, kami malah lomba menaiki tangga, wkwkwk. Tapi jangan salah diantara kami berempat mamalah yang paling semangat. Setelah menyelesaikan makan siang setelah menaiki tangga tadi, mama mengajak kami ke Pancuran Pitu yang letaknya lebih ke atas lagi, sekitar 2,5 kilometer dari Kebun Raya Baturraden. Oke, perjalanan berlanjut. Menempuh jalanan berbatu dengan mengendarai motor sekitar 20 menit sampailah kami ke Pancuran Pitu. Kali ini ratusan anak tangga yang menurun sudah menanti. Mama pun menyerah ketika sudah menempuh hampir separuh dari ratusan anak tangga. Mama memilih duduk di dekat penjual badeg, minuman fermentasi alami dari air nira kelapa. Kami bertiga terus menuruni anak tangga yang makin curam turun ke bawah. 

Nggak ketinggalan selfie dulu di Tebing dekat Pancuran Pitu.
Sudah banyak sekali orang yang berada di pancuran pitu yang konon airnya berkhasiat untuk menyembuhkan aneka penyakit kulit seperti jerawat, bisul dan gatal-gatal. Bukan karena mitos, tetapi memang air di Pancuran Pitu itu mengandung belerang dan airnya masih panas karena keluar dari Gunung Slamet yang sebenarnya merupakan gunung berapi. Jadi di tengah udara dingin pegunungan ada tersimpan air yang panas di dalam tebing yang menjadi pancuran berjumlah tujuh, karena itu disebut dengan Pancuran Pitu. 

Banyak sekali pengunjung ketika musim lebaran seperti ini.


Kalo ditanya maukah kami ke Baturraden lagi, jawabnya pasti mau. Kalo perlu bawa kamera biar bisa memiliki foto kenangan yang benar-benar bagus dan detail. Tapi kamera itu kan mahal, fungsinya cuma buat memotret. Kalo baru nggak berlibur seperti sekarang sayang juga dianggurin. Nggak mungkin dong cuma makan pengen foto makanan pake kamera, begitu repotnya bawa-bawa kamera. Maunya pake smartphone idaman di 2018 ini. Yang punya keunggulan banyak seperti kamera dengan teknologi AI, desain yang premium, kapasitas 128 GB dan harus memiliki kinerja yang kuat buat aktifitas saya di internet.


HUAWEI NOVA 3i, Smartphone Idaman Tahun 2018.

1. Desain yang fashionable

Huawei Nova 3i memiliki tampilan yang begitu memikat. Setiap orang yang melihatnya pertama kali pasti bakal mengira jika smartphone ini sangat mahal setara dengan harga motor. Namun ternyata harganya cukup terjangkau yaitu Rp. 4.199.000. Warna yang tersedia adalah hitam dan Irish Purple dengan warna gradasi biru dan ungu, akan makin terlihat keren jika terkena cahaya. Ukuran layarnya cukup lebar 6,3 inchi dengan aspek rasio layar 19,5:9. Dengan ukuran segitu saya rasa masih bisa masuk kantong celana ya.

2. Quad AI Camera

Ternyata ada 4 camera yang dipasang di Huawei Nova 3i. Mantap ya! Dengan resolusi 24MP+2MP untuk kamera depan sehingga selfie makin keren. Juga 16MP+2MP untuk resolusi kamera belakang. Diperkuat oleh agoritme AI yang didorong pengetahuan lebih dari 100 juta gambar, Huawei Nova 3i mampu mengingat 22 kategori dari 500 lebih momen dan menyediakan hasil potret yang dioptimalkan.

3. Powerfull performance

Procesor yang digunakan pada Huawei Nova 3i adalah Octa Core dengan chipset Hisilikon Kirin 710 dan RAM sebesar 4 GB. Yang tak kalah penting adanya GPU Turbo akan makin menambah performa smartphone ini untuk dipakai bermain game. GPU Turbo adalah tekmologi pengakselerasi pemrosesan grafis yang mengubah cara grafis diolah di level sistem. Fitur ini meningkatkan integrasi software-hardware, sehingga bisa menjalankan game yang memiliki grafis paling intensif sekalipun, dengan mendongkrak performa dan efisiensi. Fungsi ini bisa memaksimalkan grafis hingga 60% dan menghemat baterai hingga 30%.

4. Smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128GB

Kapasitas penyimpanan internal yang mencapai 128GB dan RAM 4GB memungkinkan kita bisa menyimpan file foto, video dan download berbagai macam aplikasi dari yang ringan sampai berat sekalipun. Bagi yang hobi jalan-jalan pasti smarphone seperti ini berguna banget ya! Dibandingkan dengan smartphone lain, Huawei Nova 3i merupakan smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128 GB.

Spesifikasi: 
Layar : 6,3 inch, 16,7 juta warna, TFT LCD(IPS).
Resolusi : FHD+ 2340x1080, 409 PPI CPU HUAWEI Kirin 710 4xCortex A73 2,2 GHz + 4xCortex A53 1,7GHz.
Sistem operasi: Android 8.1 
EMUI : 8.2 
Memori: 4GB RAM +128GB ROM
Jaringan: 2G, 3G & 4G, LTE 
Konektivitas: 802.11b/g/n, 2.4 GHz Bluetooth 4.2, BLE, HWA, aptX and aptX HD Micro USB, USB 2.0 3,5 mm Headset Jack.
Kamera: Belakang: 16MP+2MP, F/2.2 aperture, supports autofocus (phase focus, contrast focus)
               Depan: 24MP+2MP, F/2.0 aperture, supports fixed focal length.
Baterai: 3.340 mAh 5V/2A charger.


4 Harapan saya tahun 2018:

1. Bisa kembali berjalan-jalan bersama keluarga di Baturraden.
2. Punya smartphone baru sebelum liburan akhir tahun tiba.
3. Bisa memenangkan giveaway yang berhadiah smartphone keren Huawei Nova 3i sehingga bisa dipakai untuk mendukung kegiatan ngeblog saya.
4. Harapan terakhir tentu saja agar semua harapan saya di atas bisa tercapai semua, amin.

Sumber referensi : https://nurulnoe.com/huawei-nova-3i/
Sumber gambar   : https://consumer.huawei.com/id/phones/nova3i/

Selasa, 25 September 2018

Best Momen 2018 Saya Adalah Ketika Menjalani Kehidupan Baru Bersama Suami

Hidup cuma satu kali, jadikan setiap momen dalam hidup menjadi penuh warna dan berharga. Dan itu yang sedang saya lakukan saat ini. Sebisa mungkin saya memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang nantinya akan berguna buat masa depan saya. Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya di tahun 2018, jadi sulit untuk memilih momen terbaik apa yang akan saya tulis di sini. Karena buat saya pergi nonton sama suami juga bisa jadi momen terbaik. Setiap orang pasti punya best momen masing-masing. Mungkin best momen kebanyakan orang adalah saat lulus sekolah, kuliah, ketrima kerja, dapat rumah impian, menikah, melahirkan, dll.

Intinya, buat saya best momen tahun ini adalah ketika dapat menjalani kehidupan yang benar-benar baru bersama orang yang saya cintai yaitu suami saya. Ya, saya baru saja menikah tahun lalu dan langsung diboyong suami ke kota Yogyakarta. Hal ini tentu sempat bikin saya kangen sama mama dan kakak saya. Beruntung, saya punya suami yang baik banget. Dia sosok laki-laki yang nggak gengsi untuk ikut membuat makanan bareng, beres-beres rumah. Menjadi istri jelas sesuatu yang sangat baru buat saya. Kesibukan saya pun diwarnai dengan pekerjaan rumah sehari-hari seperti memasak, mencuci baju, ngepel, cuci piring, setrika, menyiapkan baju suami, membersihkan rumah yang seakan pekerjaan itu tiada habisnya ada terus setiap hari. Ya, ini belum ada apa-apanya dibanding teman-teman yang sudah punya anak dua atau tiga. Umumnya mereka sering curhat jika apa yang mereka lakukan seringnya nggak terlihat hasilnya sama suami. Kalo mendapati rumah berantakan, tinggal tanya kamu ngapain sehari di rumah, kok rumah masih kayak kapal pecah? Kalo sudah rapi, suami juga tanya kamu nggak ngapa-ngapain ya sehari? Capek deh!

Menjadi ibu rumah tangga memang sebuah tantangan tersendiri buat kaum wanita. Di satu sisi kami pengen rumah rapi teratur, di sisi lain kami juga nggak mau dibilang cuma numpang hidup sama suami karena pemasukan cuma dari gaji suami. Makanya banyak ibu rumah tangga yang menekuni profesi ganda jadi pedagang, bisnis online, penulis, penjahit atau apa saja yang bisa dikerjakan di rumah. Selain mengurus rumah, anak-anak, mereka juga dapat pemasukan tambahan. Tapi kesibukan yang demikian sering bikin para wanita rentan jadi stres, karena di mata masyarakat kita jadi ibu rumah tangga dengan kerja sampingan hanya sebuah pekerjaan yang tidak berkelas. Padahal peran para ibu-ibu sungguh besar untuk kelangsungan hidup keluarga dan akhirnya berdampak ke masyarakat. Lho, kok jadi serius gini? He, he, he.

Beruntungnya saya punya suami yang mendukung ketika sedang terpuruk karena merasa bosan di rumah. Karena kegiatan saya full di rumah bersama ibu mertua, sementara suami bekerja. Ada di rumah bersama mertua tanpa kesibukan yang tidak terlihat (karena kegiatanku sementara ini menekuni dunia menulis) agak kaku juga sih, mau duduk di luar kamar sambil nge-blog di hp nggak enak, ngetik terus di komputer nggak enak, duduk di luar sambil baca buku kok ya nggak pas. Intinya saya merasa bahwa kegiatanku pasif banget dan tidak kelihatan hasilnya. Beda sama kakak ipar suami yang kerjaannya menjahit dan wira-wiri antar jemput anak. Sedangkan saya? Nggak pernah terlihat megang sesuatu selain HP dan komputer. Kerjanya pun di kamar karena kalo mau ngungsi ke perpustakaan nggak punya laptop, nggak bisa naik motor juga, hadech.

Menginjak satu tahun pernikahan, saya masih dilanda galau untuk mengisi waktu saat ditinggal kerja suami dan keinginan untuk berkarya sambil membantu perekonomian keluarga. Penguatan dan penghiburan selalu diberikan sama suami, termasuk dukungan untuk menjadi fulltimer blogger dan mengikuti lomba blog. Hasilnya tahun ini saya berhasil menang juara ke-3 lomba Blog & Vlog Campaign yang diadakan oleh salah satu aplikasi survey online.

Selain dukungan tadi, dia sering mengajak saya ikut kegiatan di gereja dan kadang juga pergi berpiknik agar saya tidak jenuh di rumah. Puncaknya adalah pergi ke Kaliurang kemarin, selain berpiknik kami juga merayakan momen ulang tahun pernikahan kami yang pertama sekaligus bulan madu. He, he, maklum karena waktu nikah nggak ada bulan madu sama sekali. Sehabis menikah suami saya langsung kerja lagi. Bangga juga sih, punya suami yang bekerja dengan rajin, Tuhan selalu memberkati orang yang rajin, kan? Dari hasil kerja itulah, suami saya bisa mengajak saya berpergian. Walau masih dalam kapasitas untuk dua orang, itu pun perginya nggak jauh-jauh hanya sekitar Yogyakarta dan Purwokerto. Dan hasil dari jalan-jalan itu selalu saya tulis di blog saya ini.

Hidup di jaman now nggak komplit piknik tanpa berfoto ria, inilah yang kami lakukan. Hampir tiap saat kami selalu foto. Jika dikumpulkan sudah banyak sekali foto-foto kami tersimpan dalam file HP. Jadi harus dipindah dulu setiap akan pergi lagi karena penyimpanan memori HP saya yang kecil.  Belum lagi kalo mau browsing cari tempat yang akan dituju plus buka Maps. Belum sampai tujuan smartphone udah megap-megap kepanasan dan low bat. Repot deh, kalo mau pergi kemana-mana. Mungkin saya harus ganti smartphone tahun ini juga *melirikpaksuami. Intinya smartphone saya nanti harus memenuhi kriteria seperti desain keren, memiliki kamera yang kalo buat selfie jadi bikin saya makin cantik (cieee!), punya kapasitas penyimpanan yang besar dan yang terpenting dukungan GPU Turbo yang memungkinkan saya menggunakan smartphone buat browsing, ngetik atau pun nge-game sepuasnya.

Huawei Nova 3i, Smartphone Impian Saya di Tahun 2018.

Quotes Bung Karno berbunyi "Bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang. Nah, jadi saya boleh dong ya bermimpi punya smartphone impian yang harganya belasan juta?

Stt, nggak usah beli yang mahal-mahal ya, yank. Bisik suami saya.

Saya bengong sambil kedip-kedip.

Ini ada smartphone keluaran baru dari Huawei yang bentuknya keren banget, fiturnya juga oke. Lanjutnya. 

Saya mulai cemberut. Huawei apa itu? Pasti murah kan, kalo beliin istri sukanya yang murah, ah nggak mau! Saya buang muka.

Lihat dulu, dong yank. Nih, kamu bisa lihat semua spesifikasi Huawei Nova 3i dulu.

1. Desain keren dengan layar yang besar.


Huawei Nova 3i menyediakan dua model warna yaitu hitam dan Irish Purple. Kalo dilihat-lihat warna ini seperti gradasi warna biru dan ungu terong ya. Bagus banget mirip warna-warna smartphone premium yang harganya belasan juta. Keren habis, deh! Layarnya cukup lebar berukuran 6,3 inch FHD+ (2340 x 1080) tapi tetap pas masuk di kantong kok.

2. Memiliki 4 kamera yang diperkuat AI (Artificial Intelligence).

Dapat dibayangkan jika ada smartphone yang memiliki 24 MP+2 MP kamera di depan dan 16 MP+2 MP lagi di belakang, pasti hasil jepretannya bakal oke punya. Wah, mending beli Huawei Nova 3i aja daripada beli kamera DLSR yang mahal. Adapun fitur yang ada dalam Huawei Nova 3i bakalan disukai oleh kita yang suka selfie-selfie karena kameranya memiliki kemampuan untuk mencapai detail yang jelas dan kedalaman yang akurat sehingga dapat mempercantik wajah kita dengan algoritme canggih agar tetap terlihat alami dan menarik.

Fitur HDR Pro-nya memberikan foto dan video presisi yang seimbang dengan pratinjau waktu nyata bahkan saat di bawah sinar matahari.

AI 3D untuk Qmoji siap mempelajari dan menganimasikan ekspresi wajah, gerakan dan suara untuk menghasilkan Qmoji dengan format GIF dan video yang lebih dipersonalisai untuk pesan yang lebih menarik.

Kamera belakang ganda 16 MP + 2 MP dengan aperture f/2.2 menciptakan efek bokeh profesional dan alami. Meski lebih rendah dari kamera depannya, kamera belakang ini dipastikan dapat menangkap gambar jernih meski dalam keadaan yang minim cahaya. Ada juga mode 16X Super Motion yang dapat merekam setiap gerakan dan mengubah momen menjadi sorotan aksi dengan 480 frame per detik.

3. Storage 128 GB paling besar di kelas smartphone mid-end saat ini.

Nah, ini yang paling saya suka dari Huawei Nova 3i yaitu kapasitas penyimpanan internal sampai 128 GB dan dapat ditingkatkan menjadi 256 GB. Saya bisa simpan file-file, foto, video, aplikasi yang gede seperti game tanpa harus takut kehabisan ruang. Nggak perlu dikit-dikit menyeleksi atau memindahkan file tidak berguna.

4. Diperkuat dengan GPU Turbo untuk kemampuan gaming.


Yang nggak kalah penting adalah teknologi GPU Turbo yang memungkinkan Huawei Nova 3i menjadi smartphone yang memanjakan para maniak game. Transisi yang lembut antara 4G dan Wi-Fi memberikan pengalaman yang mulus, bahkan ketika jaringan mengalami penundaan.

Nah, gimana yank? Oke, kan spesifikasi Huawei Nova 3i.

Wah, keren abis pokoknya. Begitu lihat gambarnya aja langsung suka, suka, suka banget, Mau dong!

Kamu kan baru ikutan Giveaway Blognya Jiwo, kan? Aku doain aja kamu menang ya, dan dikirim 1 Huawei Nova 3i-nya.

O, iya. Ya, ya. Amin, amin, Huawei Nova 3i-nya buat saya satu ya, Jiwo, Mbak Pungky dan Mas Topan. Makasih *Qmoji kedip-kedip. 


Sumber Tulisan & foto: https://consumer.huawei.com/id/phones/nova3i/

#ChooseThebest, #GiveawayBlogJiwo, #HuaweiNova3i_ID


Kamis, 20 September 2018

Maker Fest 2018 Yogyakarta, Bentuk Apresiasi untuk Produk Kreasi Lokal Indonesia

Acara Maker Fest 2018 di Lap. Parkir Mandala Krida, Yogyakarta.

Hai, hai, hai. Gimana kabar kalian semua? Saya selalu berdoa agar kalian tetap dalam keadaan sehat selalu biar bisa mengunjungi catatan saya ini. Makasih sebelumnya buat kamu-kamu yang udah menyempatkan diri untuk membaca blog saya yang agak berantakan.

Kali ini saya mau mengulas saat saya pergi ke Maker Fest 2018 yang telah diadakan di Yogyakarta pada tanggal 15 & 16 September 2018 kemarin. Soal Maker Fest sebenarnya saya udah secara sekilas tahu lewat iklan di IG tapi nggak tertarik juga. Sampai waktu mau datang KKR di gereja yang ada di Jogja City Mall suami saya menangkap ada booth Maker Fest 2018 karena penasaran, kami langsung aja ke sana. Sama mas-mas yang nunggu malah ditawari untuk mendapatkan merchandise gratis dari Tokopedia. Wah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Kalo untuk yang gratis, kami berdua sih cepet. Ha, ha, ha.

Foto dulu buat diupload di IG.

Ok, kami harus melakukan syaratnya lebih dulu. Simple kok, cuma foto di booth yang sudah disediakan, upload ke Instagram dengan men-tag 10 teman (agak berat sih, karena saya sungkan buat ngasih tag ke teman IG, takut mengganggu). Trus suruh daftar di web Maker Fest 2018 Yogya, lalu men-download barcode, foto cekrek, upload. Udah deh,langsung dapat merchandise. Pilihannya ada gantungan kunci, tote-bag, kaos. Kami pilih kaos aja. Lumayan kan?

Apa Itu Maker Fest 2018?

Pintu gerbang masuk ke Maker Fest 2018. Cukup tunjukkin aplikasi Tokopedia kamu di HP untuk bisa masuk.

Sebenarnya saya juga nggak begitu ngeh sama Maker Fest 2018, tetapi jika melihat acaranya itu merupakan sebuah wadah di mana para pengusaha produk lokal atau pemilik ide usaha baru bisa memperkenalkan produknya lewat kompetisi dan festival yang diadain sama sebuah perusahaan e-commerce yaitu Tokopedia. Mereka nantinya bersaing untuk memenangkan hadiah untuk tiga merk produk kreasi lokal terbaik yaitu berupa pembinaan bisnis, pendampingan pemasaran merk dan menjadi ikon kreator bisnis untuk makers di seluruh Indonesia.

Jadwal acara.
Maker Fest 2018 ini sudah diadakan di Medan, Padang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan akan hadir di Makasar dan yang terakhir ada di Denpasar. Akan ada 30 kreator terpilih dari setiap kota. Dan para kreator inilah yang akan berjualan dan memperkenalkan produk ke pengunjung saat Rundown MakerFest 2018 berlangsung. Di sana ada workshop, talkshow, bazaar dan musik. Kalo di Jogja udah berlangsung kemarin pas tanggal 15-16 September, di Surabaya akan berlangsung tgl 29-30 September, Makasar 13 & 14 Oktober dan Denpasar tgl 3 & 4 November. Buat kamu yang berminat mau daftar kompetisi masih di buka kesempatan untuk event di Makasar dan Denpasar. Untuk lebih jelasnya buka aja di Maker Fest 2018.

Ada point reward kalo kamu ikut workshop atau memberi rating ke booth yang bertanda "Rate Me".

Trus besoknya kami pergi ke lapangan parkir Mandala Krida untuk melihat ada apa sih di sana. Acaranya sih nggak begitu menarik buat saya. Tapi saya semangat minta scan barcode di setiap booth yang bertanda "rate me" buat ngumpulin poin yang bisa ditukar sama merchandise Maker Fest 2018. Ada juga merchandise dari Tokopedia saat kita bayar produk digital di stan Tokopedia.


Creatif Talkshow sama Achmad Cliff Yusron dan Herlina Dewi dari Stiletto Books.
Suami saya nggak mau diajak muterin stan tapi dia cuma duduk di sebuah foto booth dan kejepret-jepret sama orang-orang yang selfi. Ha, ha, ha. Saya kembali saat udah capek lihat-lihat sambil minta scan. Agak gimana gitu, karena kebanyakan booth malah gadget yang buat scan lagi dibawa-bawa buat cari rate ke booth lain. 

Panggung musik yang belum begitu ramai oleh pengunjung.
O ya, untuk dapat masuk ke Maker Fest 2018 pastikan kamu sudah mendownload aplikasi Tokopedia di smartphone kamu untuk ditunjukan ke petugas. Nggak perlu khawatir, acara ini gratis kok. Ada juga permainan seru, foto booth, stan makanan, booth NET TV, workshop dan penampilan dari Sungai, Rubah di Selatan, Bravesboy, Pusakata, Gie, Tashoora, The Rain dan Mocca juga Raisa. Kegiatan Maker fest 2018 ini akan ada juga di Makasar dan Denpasar pada bulan Oktober dan November mendatang. Ikuti IG Maker Fest untuk info selanjutnya. Dah!!

Jumat, 07 September 2018

Berlibur 2 Hari 1 Malam di Kaliurang, Yogyakarta (Part 2)

Halo, ini adalah cerita saya tentang liburan di Kaliurang beberapa waktu yang lalu. Sebelumnya saya sudah menulis yang bagian 1, kalian bisa baca di sini.
Part 2 (desain by Canva).

Setelah melalui malam yang amat dingin, berisik dan susah tidur sampailah kami pada hari yang kedua. Pukul 7 kami baru benar-benar terbangun dan menyadari kalo hari sudah pagi. Rasanya masih belum cukup tidur karena baru sekitar jam 4 atau jam 5 kami benar-benar bisa tertidur lelap. Makasih buat pihak vila yang memperkerjakan pegawainya sampai malam sehingga tamu keberisikan. Tapi sudahlah lupakan semuanya, kini kami harus menyiapkan fisik untuk jalan-jalan lagi. Dan yang harus kami lakukan pertama kali adalah mandi dengan air yang dingin seperti es.

Sarapan kami dari Fuji Vila Kaliurang

Suami saya yang lebih dulu mandi. Sementara saya sarapan crackers agar tidak terlalu lapar karena udara dingin membuat saya lebih cepat lapar, ha, ha, ha. Sekitar jam setengah delapan saya memberanikan untuk mandi bebek. Pokoknya asal badan terkena sabun dan dibilas air shower yang aliran airnya seakan tak berperasaan membuat badan saya gemetaran. Akhirnya saya berhasil juga melewati mandi pagi yang amat menyiksa itu (agak lebay, ya?).

*Museum Ullen Sentalu

Pintu masuk ke Museum Ullen Sentalu.




Museum ini diresmikan tahun 1997 oleh Menparpostel, Joop Ave. 
Harga tiket masuk ke Ullen Sentalu. 

Selesai mandi akhirnya sarapan datang juga. Nasi goreng pedas, telur goreng, nugget ayam dan salak cukup membuat saya kenyang. Selesai sarapan kami jalan-jalan sebentar di sekitar Taman Kaliurang. Karena masih sepi kami memilih tidak masuk ke taman tetapi justru berjalan ke kiri bila dari arah vila.

Nggak jauh dari Wisma Kinasih (tempat retreat) terdapat sebuah Museum Ullen Sentalu. Kami berjalan terus ke sana namun seperti kisah pertama, nggak jadi masuk lagi karena waktunya mepet sementara kalau mau masuk ke museum harus pakai guide dan ikut rombongan. Padahal jam 12 siang kami harus check out dari vila, sementara itu kami harus menunggu ada pengunjung lainnya datang. Harga tiket untuk wisatawan dalam negeri 40 ribu untuk dewasa, 20 ribu untuk anak-anak. Untuk wisatawan asing 60 ribu dewasa, 40 ribu anak-anak.
Jalan-jalan pagi ke Taman Kaliurang & Museum Ullen Sentalu.
Kembali ke Fuji Villa lewat jalan kampung, ternyata di sini banyak sekali tempat penginapan ada yang sederhana, mewah, kamar sedikit sampai kamar yang banyak ada semua. Kalo yang di dalam kebanyakan rumah penduduk yang berubah fungsi 

*Menara Pandang

Di Menara Pandang Gunung Merapi sekitar 6 Km dari puncaknya. 

Sekitar pukul 11 kami check out dari hotel dan pergi ke Menara Pandang yang jaraknya 6 km jika ditarik garis lurus dari puncak Merapi. Hampir bisa dikatakan tidak ada pengunjung ketika kami ke sana. Tempatnya agak seperti taman bermain, ada beberapa kios dekat lokasi parkir. Tiket masuk 2000/orang dan 2000 untuk sepeda motor. Murah, kan? Saya pilih wisatanya yang murah terus ya? Pletak *tepukjidatsendiri. 


*Taman Nasional Gunung Merapi



Taman Nasional Gunung Merapi.

Lanjut dari Menara Pandang kami ke Taman Nasional Gunung Merapi, kalo umumnya sih tempat ini disebut Kaliurang. Ciri khas tempat ini adalah Tugu Elang Jawa yang merupakan hewan paling dilindungi dan kawasan ini adalah tempat habitat bagi mereka yang kian hari makin sedikit. Mungkin sekarang jumlahnya tidak lebih dari 10 ekor.

Selain Elang Jawa, hewan yang hidup dilindungi di sini adalah kera ekor panjang atau kalo orang sana bilang monyet atau munyuk. Mereka suka beraktivitas di dekat manusia. Jangan heran jika ada kera yang tiba-tiba merebut makanan kita, mereka juga suka iseng sama pengunjung, suka bertatap mata sama orang (kemarin saya juga sempat ditatap sama monyet, naksir kali ya, wkwkwk), suka ngagetin orang dengan tiba-tiba menjatuhkan ranting atau menarik barang yang kita bawa. Biasanya mereka suka turun gunung di sore hari. Kalo siang mungkin mereka lebih suka bermain di pohon, berkutu-kutuan atau tidur siang.

Oo siapa dia? Baru makan buah lalu melemparkan kulitnya ke orang yang lagi duduk di bawahnya, ha, ha, ha.
Di dekat pintu masuk terdapat banyak kios-kios yang jualan makanan khas Kaliurang seperti Jadah Tempe, Sate Kelinci, Nasi Klenyer dan Tongseng Kelinci. Makanan umum seperti soto, mie ayam, mie instan, nasi goreng juga ada, pedagang buah juga ada. Saya tertarik untuk menengok air terjun Tlogo Muncar, sayangnya status Merapi sedang dinyatakan waspada level 2 jadi kami tidak boleh mendaki ke puncak.

Makan siang kami, Nasi Goreng Klenyer dan Sate Kelinci. 
Begitu sampai di air terjun, saya kaget karena bayangan saya air terjun itu selalu banyak air dan bawahnya ada kolam besar dengan aliran air yang deras turun dari tebing. Ternyata air terjun Muncar hampir tidak ada airnya, cuma seperti aliran air yang merembes di dinding. Kata suami saya kadang kalo lagi musim kemarau seperti sekarang, airnya nggak ada, jadi ini termasuk banyak.

Puas menikmati suasana alam hutan alami dan sedikit was-was karena kera-kera sudah mulai turun, kami pun keluar. Suami bermaksud beli oleh-oleh buat maminya, maka berjalanlah kami menuju pedagang buah yang berada tidak jauh dari pintu masuk. Mereka berteriak-teriak terus saat kami mendatangi salah satu penjual. Agak menyesal sih, beli di tempat ini. Karena talas dan salak yang kami beli ternyata banyak yang busuk, harganya juga mahal. Hal ini kami ketahui ketika sudah sampai di rumah. Lain kali kami harus lebih hati-hati beli oleh-oleh di tempat wisata.

Kami pun ke kios makanan memesan Sate Kelinci dan Nasi Klenyer. Untuk seporsi Nasi Sate Kelinci harganya 20.000 isi 5 tusuk dan Nasi Klenyer 25.000. Rasa makanan yang kami pesan ternyata tidak mengecewakan, semua enak terutama Nasi Klenyernya, ini adalah nasi goreng namun rasanya ada bumbu tongsengnya, dagingnya pakai daging kambing yang empuk. Hmm, enak banget! Penasaran? Ke Kaliurang aja!

Sebelum pulang kami menyempatkan membeli jadah tempe, satu paket berisi 10 jadah, 10 tempe seharga Rp. 22.000,- sukses kami bawa pulang buat oleh-oleh mamah mertua.


*Museum Gunung Merapi.
Museum Gunung Merapi.

Hari masih sore, kami mampir ke Museum Gunung Merapi. Harga tiket masuknya hanya 5 ribu rupiah per orang plus parkir 3 ribu. Tempatnya bagus banget. Saat memasuki museum yang pertama kali yang dilihat adalah replika Gunung Merapi yang mensimulasikan sebaran awan panas 3 letusan di tahun 1969, 1994 dan 2006. Gunung Merapi merupakan salah satu gunung paling aktif di dunia.

Replika Gunung Merapi.

Berjalan di sebelah kiri ada ruangan yang menyimpan koleksi benda-benda sisa akibat letusan merapi tahun 2010. Ada juga tulisan-tulisan yang mengharukan dari para korban bencana, ada yang kehilangan ternaknya, rumah, suami, istri dan anak tapi mereka berusaha untuk tegar dan tetap menjalani hidup. Ada juga kisah-kisah dari para relawan yang turut membantu mengevakuasi warga.

Isi MGM yang sangat informatif tentang kegunungapian.
Di bagian lain ada peta di mana gunung berapi berada tersebar di seluruh dunia, koleksi foto-foto gunung Merapi dari tahun ke tahun, informasi kegunungapian, ada batu-batu dari gunung berapi di Indonesia yang ternyata bentuk dan jenisnya bermacam-macam.

Sebenarnya berada di Museum Gunung Merapi sangat mengasyikkan karena bisa menambah pengetahuan tentang gunung Merapi, namun saya merasa lelah untuk membaca satu persatu keterangan dari alat edukasi di sana. Kebanyakan pengunjungnya adalah anak-anak, remaja dan orang tua yang membawa anak-anaknya.

Museum Gunung Merapi ini jadi tempat terakhir dari perjalanan wisata kali ini. Lain waktu mungkin kami akan ke Merapi Park, Museum Sisa Hartaku, Kali Kuning, Ullen Sentalu dan naik jeep, ha, ha, ha. Tentu untuk semua itu saya dan suami harus siapkan fisik dan juga kantong yang lebih tebal. Sekian dan trimakasih sudah membaca :).




Rabu, 05 September 2018

Berlibur 2 Hari 1 Malam di Kaliurang, Yogyakarta (Part 1)


Part 1 (desain by Canva)

Halo, halo, teman semua. Nggak terasa ya, sekarang sudah mulai masuk bulan September. Waktu terasa cepat sekali berlalu, baru kemarin rasanya saya masuk ke tahun 2018, eh, sekarang sudah hampir memasuki bulan-bulan di penghujung tahun. Saya belum berhasil mengukir prestasi di tahun ini, tapi jalan terus, tetap melangkah, gapai mimpi. Yes!!! 

Kali ini saya mau menceritakan pengalaman saya di bulan Agustus ketika jalan-jalan di Kaliurang. Awalnya saya dan suami pengen pergi pas hari anniversary tanggal 23 Juli lalu sih, tapi karena ada satu dan lain hal rencana itu jadinya mundur teratur, tapi tetap keinginan untuk pergi dan menginap itu ada dan harus terlaksana entah kapan. Dan Puji Tuhan kami bisa pergi di tanggal 22 Agustus pas hari raya Idul Adha, karena di hari itu suami saya libur. Sempat agak sebel juga sama suami karena dia hampir saja lupa nggak pesan kamar buat menginap. Untung ada Traveloka, jadi urusan inap-menginap jadi beres walau cuma memesan sehari sebelumnya. Fuji Vila Kaliurang menjadi pilihan untuk tempat menginap kami.

Tibalah hari yang ditunggu untuk kami berlibur. Perbekalan seperti baju ganti, peralatan mandi, cemilan kami siapkan dalam waktu semalam. FYI, kami pergi menggunakan motor karena memang nggak punya mobil, he, he, he. Tapi lebih asyik sih karena kami bisa melewati jalan yang sempit dan menanjak tanpa kesulitan. Saya juga lebih suka berpergian naik motor atau kalau kendaraan umum ya kereta api. Bagi saya bus dan mobil itu pilihan terakhir (atau memang karena nggak punya, ya? Ha, ha, ha) kalo lagi kepepet banget sih, nggak bisa pake kereta atau terlalu jauh jaraknya untuk ditempuh dengan motor. 

Pukul 10 lebih dikit kami berangkat, agak kesiangan sih menurut saya, jadi rasanya panas banget melewati tengah kota Jogja. Untunglah arus kendaraan saat itu cukup lengang. Rencana awal kami mau mampir ke warnet untuk cari film buat hiburan kalo malam di hotel, eh, ternyata warnet tutup. Terpaksa kami melanjutkan perjalanan tanpa nge-pos dulu. Agak naik ke jalan Kaliurang kami berhenti untuk menikmati Rujak Es Krim, makanan penyemangat di kala panas terik. Ada sekitar 20 menit kami berhenti. Rute yang akan kami tempuh masih panjang dan waktu check in di hotel juga masih lama, jadi kami melacak tempat-tempat yang bisa kami kunjungi siang itu. 

* Obyek Wisata Kawasan Kaliadem


Bunker Kaliadem
Pilihan pertama kami jatuh pada The Lost World dan Rumah Hobbit tapi setibanya di sana kami cuma numpang duduk di pintu masuknya saja, he, he, he. Terus terang saya sudah lapar, saudara-saudara tapi nggak ada tempat buat numpang makan. Saat itu kami ternyata sama-sama menahan emosi biar nggak marah. Saya kesal karena lapar tapi diajak ke tempat wisata yang panas, suami saya kesal karena sudah sampai ke tujuan tapi saya nggak mau masuk, dia sudah mengeluh (dalam hati) karena jalannya berbatu-batu dan berpasir. Tak mau berlama-lama membuang waktu di sana, kami memutuskan menyusuri jalan yang nggak tahu tembus ke mana. Kata juru parkir katanya jalan berbatu dan berpasir itu panjangnya sekitar 3 km, jika jalannya benar maka kami akan sampai di Kaliadem. Oke berarti kami nggak punya pilihan lagi. Istilahnya maju kena jalan rusak mundur juga kena. Mending maju aja, mengingat jalan pertama yang kami tempuh juga sudah cukup jauh dari jalan utama.
Ternyata apa yang dikatakan juru parkir tadi nggak sepenuhnya benar, karena nggak berapa lama kami menemukan Bunker Kaliadem. Horeee!!! Nggak usah pake acara nyasar segala, hi, hi, hi. Padahal jalannya banyak belokan tapi prinsip saya dan suami kami harus mengikuti jalan yang biasa dilewati oleh mobil jeep, kendaraan yang biasa disewa oleh wisatawan yang ingin wisata tour Merapi. Di sini kami hanya membayar biaya parkir Rp. 2.000,00. Jarak antara loket retribusi wisata dengan obyeknya lumayan jauh. Untuk masuk ke kawasan Kaliadem kami membayar Rp. 3.000/orang dan Rp. 2.000 untuk roda dua.  Cukup murah. 

Foto-foto di dekat puncak, panas matahari nggak terasa karena hawanya sejuk.

Menurut informasi di sana, Bunker Kaliadem sempat tertimbun material serta memakan 2 korban jiwa saat Gunung Merapi meletus tahun 2006 dan 2010. Bencana gunung meletus yang terjadi tahun 2010 terbilang cukup dahsyat ini juga merenggut nyawa dari juru kunci Gunung Merapi yaitu Mbah Maridjan yang waktu itu enggan untuk dievakuasi. Sayangnya saat saya di sana, Gunung Merapi tidak terlihat karena ditutupi oleh kabut tebal. Bila ditarik garis lurus, bunker ini hanya berjarak sekitar 5 Km dari puncak Merapi. Walau terlihat panas tapi berada di sini hawanya sejuk dan airnya dingin ketika saya pergi ke Toilet Kejujuran. Dinamai Toilet Kejujuran karena nggak ada yang jaga, hanya ada kotakan yang ditulisi kalo memakai toilet bayar 2000. Walau tanpa penjaga, toilet ini bersih lho! 

Akhirnya kami membuka persediaan makan kami di dekat bunker. Pengunjung nggak banyak saat itu, namun ada beberapa turis asing yang berfoto-foto di dekat puncak Merapi yang memiliki pemandangan sangat indah. Saya juga berfoto-foto ria sambil berjalan terus menyusuri jalan yang ternyata adalah tebing dari Kaliadem yang rusak akibat aliran lahar dingin dari Gunung Merapi. Walau Kali artinya sungai tapi di sana tidak ada air sama sekali. 

* Petilasan Mbah Maridjan


Petilasan ini berada di sekitar 4 km dari puncak Merapi. 

Puas berfoto di kawasan Bunker Kaliadem, kami beranjak menyusuri jalan kecil yang menuju ke Petilasan Mbah Maridjan. Rumah ini sempat hancur karena luncuran awan panas yang menyapu Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kec. Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Ada beberapa bangunan di sana yang digunakan untuk menyimpan barang-barang yang hancur akibat erupsi tahun 2010 diantaranya sepeda motor milik anak Mbah Maridjan, mobil yang digunakan oleh relawan Tutur Priyanto dan Yuniawan Wahyu yang hangus. Di bagian lain terdapat lukisan Mbah Maridjan dengan latar belakang Gunung Merapi. Ada juga foto-foto korban yang sedang mengungsi dan foto-foto korban bencana membersihkan puing-puing rumahnya setelah erupsi berhenti. Sedih sekali rasanya melihat betapa keberadaan sebuah gunung api bisa jadi sumber kehidupan tapi juga bisa menjadi bencana bagi manusia. Doaku semoga Merapi tidak mengamuk lagi dan semua orang yang tinggal di lereng Merapi bisa beroleh kesejahteraan dari tempat wisata ini.


* Fuji Villa Kaliurang


Fuji Vila yang bergaya ala-ala Jepang. 

Tak terasa waktu berlalu, pukul 14.30 kami menuju ke Fuji Villa Kaliurang yang jaraknya cukup dekat dengan Taman Kaliurang. Rencannya kami akan mandi dan beristirahat sebentar di sana lalu jalan kaki ke taman dan mencari makanan untuk makan malam. Kenyataannya setibanya kami di villa, tidak bisa langsung masuk karena kamarnya baru disiapkan. Terpaksa kami duduk menunggu di area taman kecil di halaman vila yang sayangnya kurang terawat. Untung kami sudah makan tadi kalo tidak gunung meletusnya pindah di sini, ha, ha, ha. 

Sekitar 20 menit kami menunggu akhirnya kami bisa menikmati kamar yang cukup nyaman dan luas. Saya langsung ke kamar mandi untuk cuci muka, brr, dinginnya bagaikan air es. Lantai di kamar juga sangat dingin. Kami memutuskan untuk mandi dulu dan kami kecewa lagi karena nggak ada alat untuk pemanas air baik untuk mandi maupun untuk minum. Saya malah bengong karena di udara yang sedingin itu, justru yang disediakan hotel adalah AC dan kulkas! Di meja makan disediakan teh dan kopi juga 2 cangkir gelas. Tak lama ketika kami masih bengong, mbak yang tadi membersihkan kamar, datang mengantarkan satu termos berukuran kecil yang pastinya hanya bisa untuk membuat minuman. Lain kali saya akan bawa alat pemanas air sendiri kalo mau menginap di sana, ha, ha, ha.

Taman Kaliurang.

Sorenya sekitar pukul lima lebih atau hampir setengah enam kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke Taman Kaliurang. Jaraknya sih cukup dekat mungkin sekitar 300 meter lah tapi rasanya seperti jalan satu kilo, dikarenakan jalannya menanjak. Di sekitar taman ada orang jualan pakai gerobak, beberapa kios yang menjual sate kelinci, wedang ronde, mie ayam, bakso. Hmm, saya tertarik buat makan semangkuk bakso dan membeli satu porsi sate kelinci dengan dua porsi nasi juga untuk dibawa pulang ke hotel. Malam di Fuji Vila cukup tenang, jauh dari suara bising kendaraan, cuma agak terganggu dengan suara mesin cuci yang sepertinya ditaruh di sebelah kamar kami. Hawa dingin yang menusuk membuat kami enggan keluar kamar, duduk di sofa depan kamar juga nggak akan nyaman karena untuk lalu lalang pegawai hotel yang masih sibuk sampai malam. Menonton siaran langsung pertandingan bulutangkis menjadi satu-satunya pilihan hiburan. Wah, senang rasanya ketika melihat atlet-atlet Indonesia menang dalam bertanding melawan atlet negara lain di ASIAN Games. Terima kasih para atlet Indonesia yang sudah menghibur kami dan juga berjuang untuk mengharumkan nama bangsa di mata dunia. ☺☺

Bermalam di Fuji Villa benar-benar butuh perjuangan untuk terlelap tidur karena suara berisik dari mesin cuci, walau sebenarnya tidak keras tapi terdengar cukup bising  di malam yang sepi dan dingin. Suara langkah pegawai yang bolak-balik, suara gagang pel, suara lemari dibuka juga terdengar sangat jelas di telinga. Pokoknya semalaman bunyinya nggak berhenti sampai pagi. Menjelang pagi tinggal ribut suara piring, gelas dan sendok. Gimana mau tidur nyenyak kalo begini?