Rabu, 05 September 2018

Berlibur 2 Hari 1 Malam di Kaliurang, Yogyakarta (Part 1)


Part 1 (desain by Canva)

Halo, halo, teman semua. Nggak terasa ya, sekarang sudah mulai masuk bulan September. Waktu terasa cepat sekali berlalu, baru kemarin rasanya saya masuk ke tahun 2018, eh, sekarang sudah hampir memasuki bulan-bulan di penghujung tahun. Saya belum berhasil mengukir prestasi di tahun ini, tapi jalan terus, tetap melangkah, gapai mimpi. Yes!!! 

Kali ini saya mau menceritakan pengalaman saya di bulan Agustus ketika jalan-jalan di Kaliurang. Awalnya saya dan suami pengen pergi pas hari anniversary tanggal 23 Juli lalu sih, tapi karena ada satu dan lain hal rencana itu jadinya mundur teratur, tapi tetap keinginan untuk pergi dan menginap itu ada dan harus terlaksana entah kapan. Dan Puji Tuhan kami bisa pergi di tanggal 22 Agustus pas hari raya Idul Adha, karena di hari itu suami saya libur. Sempat agak sebel juga sama suami karena dia hampir saja lupa nggak pesan kamar buat menginap. Untung ada Traveloka, jadi urusan inap-menginap jadi beres walau cuma memesan sehari sebelumnya. Fuji Vila Kaliurang menjadi pilihan untuk tempat menginap kami.

Tibalah hari yang ditunggu untuk kami berlibur. Perbekalan seperti baju ganti, peralatan mandi, cemilan kami siapkan dalam waktu semalam. FYI, kami pergi menggunakan motor karena memang nggak punya mobil, he, he, he. Tapi lebih asyik sih karena kami bisa melewati jalan yang sempit dan menanjak tanpa kesulitan. Saya juga lebih suka berpergian naik motor atau kalau kendaraan umum ya kereta api. Bagi saya bus dan mobil itu pilihan terakhir (atau memang karena nggak punya, ya? Ha, ha, ha) kalo lagi kepepet banget sih, nggak bisa pake kereta atau terlalu jauh jaraknya untuk ditempuh dengan motor. 

Pukul 10 lebih dikit kami berangkat, agak kesiangan sih menurut saya, jadi rasanya panas banget melewati tengah kota Jogja. Untunglah arus kendaraan saat itu cukup lengang. Rencana awal kami mau mampir ke warnet untuk cari film buat hiburan kalo malam di hotel, eh, ternyata warnet tutup. Terpaksa kami melanjutkan perjalanan tanpa nge-pos dulu. Agak naik ke jalan Kaliurang kami berhenti untuk menikmati Rujak Es Krim, makanan penyemangat di kala panas terik. Ada sekitar 20 menit kami berhenti. Rute yang akan kami tempuh masih panjang dan waktu check in di hotel juga masih lama, jadi kami melacak tempat-tempat yang bisa kami kunjungi siang itu. 

* Obyek Wisata Kawasan Kaliadem


Bunker Kaliadem
Pilihan pertama kami jatuh pada The Lost World dan Rumah Hobbit tapi setibanya di sana kami cuma numpang duduk di pintu masuknya saja, he, he, he. Terus terang saya sudah lapar, saudara-saudara tapi nggak ada tempat buat numpang makan. Saat itu kami ternyata sama-sama menahan emosi biar nggak marah. Saya kesal karena lapar tapi diajak ke tempat wisata yang panas, suami saya kesal karena sudah sampai ke tujuan tapi saya nggak mau masuk, dia sudah mengeluh (dalam hati) karena jalannya berbatu-batu dan berpasir. Tak mau berlama-lama membuang waktu di sana, kami memutuskan menyusuri jalan yang nggak tahu tembus ke mana. Kata juru parkir katanya jalan berbatu dan berpasir itu panjangnya sekitar 3 km, jika jalannya benar maka kami akan sampai di Kaliadem. Oke berarti kami nggak punya pilihan lagi. Istilahnya maju kena jalan rusak mundur juga kena. Mending maju aja, mengingat jalan pertama yang kami tempuh juga sudah cukup jauh dari jalan utama.
Ternyata apa yang dikatakan juru parkir tadi nggak sepenuhnya benar, karena nggak berapa lama kami menemukan Bunker Kaliadem. Horeee!!! Nggak usah pake acara nyasar segala, hi, hi, hi. Padahal jalannya banyak belokan tapi prinsip saya dan suami kami harus mengikuti jalan yang biasa dilewati oleh mobil jeep, kendaraan yang biasa disewa oleh wisatawan yang ingin wisata tour Merapi. Di sini kami hanya membayar biaya parkir Rp. 2.000,00. Jarak antara loket retribusi wisata dengan obyeknya lumayan jauh. Untuk masuk ke kawasan Kaliadem kami membayar Rp. 3.000/orang dan Rp. 2.000 untuk roda dua.  Cukup murah. 

Foto-foto di dekat puncak, panas matahari nggak terasa karena hawanya sejuk.

Menurut informasi di sana, Bunker Kaliadem sempat tertimbun material serta memakan 2 korban jiwa saat Gunung Merapi meletus tahun 2006 dan 2010. Bencana gunung meletus yang terjadi tahun 2010 terbilang cukup dahsyat ini juga merenggut nyawa dari juru kunci Gunung Merapi yaitu Mbah Maridjan yang waktu itu enggan untuk dievakuasi. Sayangnya saat saya di sana, Gunung Merapi tidak terlihat karena ditutupi oleh kabut tebal. Bila ditarik garis lurus, bunker ini hanya berjarak sekitar 5 Km dari puncak Merapi. Walau terlihat panas tapi berada di sini hawanya sejuk dan airnya dingin ketika saya pergi ke Toilet Kejujuran. Dinamai Toilet Kejujuran karena nggak ada yang jaga, hanya ada kotakan yang ditulisi kalo memakai toilet bayar 2000. Walau tanpa penjaga, toilet ini bersih lho! 

Akhirnya kami membuka persediaan makan kami di dekat bunker. Pengunjung nggak banyak saat itu, namun ada beberapa turis asing yang berfoto-foto di dekat puncak Merapi yang memiliki pemandangan sangat indah. Saya juga berfoto-foto ria sambil berjalan terus menyusuri jalan yang ternyata adalah tebing dari Kaliadem yang rusak akibat aliran lahar dingin dari Gunung Merapi. Walau Kali artinya sungai tapi di sana tidak ada air sama sekali. 

* Petilasan Mbah Maridjan


Petilasan ini berada di sekitar 4 km dari puncak Merapi. 

Puas berfoto di kawasan Bunker Kaliadem, kami beranjak menyusuri jalan kecil yang menuju ke Petilasan Mbah Maridjan. Rumah ini sempat hancur karena luncuran awan panas yang menyapu Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kec. Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Ada beberapa bangunan di sana yang digunakan untuk menyimpan barang-barang yang hancur akibat erupsi tahun 2010 diantaranya sepeda motor milik anak Mbah Maridjan, mobil yang digunakan oleh relawan Tutur Priyanto dan Yuniawan Wahyu yang hangus. Di bagian lain terdapat lukisan Mbah Maridjan dengan latar belakang Gunung Merapi. Ada juga foto-foto korban yang sedang mengungsi dan foto-foto korban bencana membersihkan puing-puing rumahnya setelah erupsi berhenti. Sedih sekali rasanya melihat betapa keberadaan sebuah gunung api bisa jadi sumber kehidupan tapi juga bisa menjadi bencana bagi manusia. Doaku semoga Merapi tidak mengamuk lagi dan semua orang yang tinggal di lereng Merapi bisa beroleh kesejahteraan dari tempat wisata ini.


* Fuji Villa Kaliurang


Fuji Vila yang bergaya ala-ala Jepang. 

Tak terasa waktu berlalu, pukul 14.30 kami menuju ke Fuji Villa Kaliurang yang jaraknya cukup dekat dengan Taman Kaliurang. Rencannya kami akan mandi dan beristirahat sebentar di sana lalu jalan kaki ke taman dan mencari makanan untuk makan malam. Kenyataannya setibanya kami di villa, tidak bisa langsung masuk karena kamarnya baru disiapkan. Terpaksa kami duduk menunggu di area taman kecil di halaman vila yang sayangnya kurang terawat. Untung kami sudah makan tadi kalo tidak gunung meletusnya pindah di sini, ha, ha, ha. 

Sekitar 20 menit kami menunggu akhirnya kami bisa menikmati kamar yang cukup nyaman dan luas. Saya langsung ke kamar mandi untuk cuci muka, brr, dinginnya bagaikan air es. Lantai di kamar juga sangat dingin. Kami memutuskan untuk mandi dulu dan kami kecewa lagi karena nggak ada alat untuk pemanas air baik untuk mandi maupun untuk minum. Saya malah bengong karena di udara yang sedingin itu, justru yang disediakan hotel adalah AC dan kulkas! Di meja makan disediakan teh dan kopi juga 2 cangkir gelas. Tak lama ketika kami masih bengong, mbak yang tadi membersihkan kamar, datang mengantarkan satu termos berukuran kecil yang pastinya hanya bisa untuk membuat minuman. Lain kali saya akan bawa alat pemanas air sendiri kalo mau menginap di sana, ha, ha, ha.

Taman Kaliurang.

Sorenya sekitar pukul lima lebih atau hampir setengah enam kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke Taman Kaliurang. Jaraknya sih cukup dekat mungkin sekitar 300 meter lah tapi rasanya seperti jalan satu kilo, dikarenakan jalannya menanjak. Di sekitar taman ada orang jualan pakai gerobak, beberapa kios yang menjual sate kelinci, wedang ronde, mie ayam, bakso. Hmm, saya tertarik buat makan semangkuk bakso dan membeli satu porsi sate kelinci dengan dua porsi nasi juga untuk dibawa pulang ke hotel. Malam di Fuji Vila cukup tenang, jauh dari suara bising kendaraan, cuma agak terganggu dengan suara mesin cuci yang sepertinya ditaruh di sebelah kamar kami. Hawa dingin yang menusuk membuat kami enggan keluar kamar, duduk di sofa depan kamar juga nggak akan nyaman karena untuk lalu lalang pegawai hotel yang masih sibuk sampai malam. Menonton siaran langsung pertandingan bulutangkis menjadi satu-satunya pilihan hiburan. Wah, senang rasanya ketika melihat atlet-atlet Indonesia menang dalam bertanding melawan atlet negara lain di ASIAN Games. Terima kasih para atlet Indonesia yang sudah menghibur kami dan juga berjuang untuk mengharumkan nama bangsa di mata dunia. ☺☺

Bermalam di Fuji Villa benar-benar butuh perjuangan untuk terlelap tidur karena suara berisik dari mesin cuci, walau sebenarnya tidak keras tapi terdengar cukup bising  di malam yang sepi dan dingin. Suara langkah pegawai yang bolak-balik, suara gagang pel, suara lemari dibuka juga terdengar sangat jelas di telinga. Pokoknya semalaman bunyinya nggak berhenti sampai pagi. Menjelang pagi tinggal ribut suara piring, gelas dan sendok. Gimana mau tidur nyenyak kalo begini? 


22 komentar:

  1. Liburannya sepertinya ngadem sekali...
    sayang pas ke Jogja kemarin gak sempet kemana2
    :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. He, he, iya baru musim dingin dan perginya juga ke tempat dingin. Kalo ke Jogja jalan-jalan ke Kaliurang aja.

      Hapus
  2. Fuji Villanya keliatannya oke. tapi kok berisik gitu ya?!
    susah dong kalau mau istirahat yang tenang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya tempatnya tenang tapi karena ada aktifitas karyawan saat malam jadi berisik. Mungkin kalo milih kamar yang bagian depan nggak begitu terganggu.

      Hapus
  3. Jalan menuju bunker itu batuan kan Mbak? Keren loh bisa naik motor di sana 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sepanjang perjalanan dag, dig, dug juga takut ban bocor, he, he..

      Hapus
  4. Alternatif wisata nih, nginep dua hari satu malam di kaliurang, tapi eksplore wisata di sekitarnya...

    BalasHapus
  5. pertama kali datang ke Jogja buat studi diajak temen ke tempat ini, Bunker Kaliadem, berangkat subuh-subuh jam 4 pagi karena pengen lihat sunrise, seru deh, suka suasananya adem dan seger, I love Jogja

    BalasHapus
  6. Uwaaah saya pernah ke situ jugaaa. Emang hawanya adem tapi mataharinya teriiik banget. Pulang-pulang tangan saya tetep gosong dong ahahahaha

    BalasHapus
  7. Motornya tangguh ya mbak bisa diajakin sampai ke bunker. Saya beberapa kali ke situ tapi naik jeep, itu aja rasaya aduhay banget. Btw ide staycation di Kaliuranh menarik juga nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah belum pernah naik jeep. Pengen tapi kayaknya Ngeri...

      Hapus
  8. Wah terima kasih referensinya mba. Saya lho belum pernah ke Kaliurang, hiks. Semoga bisa kesana bareng keluarga.

    BalasHapus
  9. Aku orang sana, tapi baru satu yang aku kunjungi yaitu Taman Kaliurang :D . Lainnya malah belum..

    BalasHapus
  10. Kaliurang memang nyaman untuk dijelajahi karena hawanya yang sejuk. Wah, aku malah belum pernah ke bunker Kaliadem. Jadi pengin kesana kapan-kapan :)

    BalasHapus
  11. Ke kaliurang tapi belum pernah nginep. Sepertinya Fuji Villa asyik utk staycation sama anak anak-anak.

    BalasHapus
  12. Wajah syok mbak. Aku kalau pas liburan lebaran atau tahun baru juga diajakin nginep di villa Kaliurang . Tapi bukan yang di Fuji ini. Oh ya, tempat2 wisatanya ini asyik ya buat dikunjungi, pernah menyambangi juga. Pokoknya hawanya sejuk banget. Hehe

    BalasHapus
  13. Lha dibagian fasilitas hotel ga dicek kah mbak ada heater nya atau ga? Biasanya tertulis gitu. Sedih banget kalo nginep di kaliurang tapi mandi air dingin, brrr. Terutama yg bawa anak2 kasian. Aku baru tahu ada villa brisik gitu. Selama ini nginep di kaliurang pesan 1 rumah villa nya. Terus skrg jg mulai ada yg per kamar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah cek sebelumnya di aplikasi ada heater tapi alami. Harus manasin air dengan cara tradisional, yaitu bakar sampah di bawah penampung air.
      Berisiknya karena pegawainya mondar-mandir buat beres-beres sama bunyi mesin cuci. Itu juga dapat villa yang kamarnya 1 rumah. Cuma ada beberapa aja.

      Hapus
  14. Pertamanya ke Kaliurang sewaktu study tour SMA dan main ke museum yang ada di sana. Mungkin bisa jadi pilihan destinasi kapan-kapan :D

    acipah.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kalo sudah pernah bisa membandingkan dulu sekarang kayak apa. Semoga bisa piknik lagi ke Kaliurang ya!

      Hapus
  15. jadi inget jaman kuliah dulu. kaliurang-kaliadem ini tempat saya nongkrong sambil mandangin Gunung Merapi. hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas banget nongkrong di Kaliurang, hihi. Pasti asyik ya?!

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.