Jumat, 22 Mei 2020

Liebster Award, Penghargaan untuk Para Sahabat Blogger

Terima kasih buat mba Sapti yang sudah memberikan sebuah tantangan Liebster Award buat aku. Betul-betul tantangan banget nih. Susah gaess nyolek temen blogger ikutan.

Sebetulnya aku juga belum paham apa itu Liebster Award, intinya Mba Sapti ngajak tukeran backlink. Karena aku pengen belajar lebih soal ngeblog, aku iya'in aja tantangan ini. Nggak nyangka jika aku harus mengerjakan 'soal' juga dari Mba Sapti, ha, ha. 

Mengenal Liebster Award

Liebster Award

Sebelum aku mengerjakan tantangan ini, ada baiknya kenalan dengan istilah 'Liebster Award' dulu.

Liebster Award adalah sebuah bentuk penghargaan berupa gambar yang diberikan secara estafet untuk mempererat persahabatan antar blogger.

Kata 'Liebster' sendiri berasal dari bahasa Jerman yang artinya tersayang. Mungkin maksudnya Liebster Award adalah sebuah penghargaan yang diberikan untuk teman blogger tersayang. Jadi kalo ada yang memberikan Liebster Award ini ke saya, artinya aku disayangi, he, he.

Awalnya, seorang blogger Jerman memberikan tantangan pada 11 orang teman bloggernya. Selanjutnya ke-sebelas orang blogger ini juga memberikan tantangan ke teman-temannya secara estafet, hingga akhirnya sampai ke Indonesia. 


Liebster Award
Bersama teman-teman blogger di suatu event, salah satunya ada Mbak Sapti yang menantangku Liebster Award

Aturan Main Liebster Award 

Keuntungan ikut Liebster Award tentu bisa menaikan performa blog kita dan juga menambah erat hubungan persahabatan antar blogger. Tetapi sebagaimana layaknya program award, ada aturan mainnya. Berikut adalah peraturan Liebster Award yang dikutip dari blog Mba Sapti:
  • Mengucapkan terimakasih kepada pemberi tantangan atau pemberi anugerah Liebster Awards 
  • Menyematkan link tulisan tantangan Liebster Awards dari si pemberi tantangan. Link tulisan ya, bukan hanya alamat blognya saja.  
  • Menuliskan 7 fakta tentang diri sendiri 
  • Menjawab 7 pertanyaan yang diajukan oleh pemberi tantangan Liebster Award
  • Menantang 7 blogger lainnya untuk melakukan hal yang sama (kalau mentoknya nggak sampai 7 juga tidak apa-apa)
  • Memberi 7 pertanyaan kepada 7 blogger yang kita anugerahi Liebster Awards 
  • Menyisipkan alamat blog dari 7 bloger yang kita anugerahi Liebster Awards 
  • Menulis poin 1 sampai 7 tersebut ke dalam blog masing-masing, dan jangan lupa menyisipkan logo Liebster Awards di dalamnya

7 Fakta Tentang Diri Sendiri

Aku sebenarnya sudah pernah nulis tentang fakta di blog ini, waktu itu juga buat ikutan challenge. Namanya juga tantangan, ada sesuatu yang bikin dag dig dug duer termasuk harus menuliskan fakta tentang diri sendiri. Baiklah tak perlu berlama-lama, ini dia 7 fakta tentang aku:

1. Introvert 

Aku orang yang sangat introvert dan lebih memilih jadi pendengar di setiap pembicaraan. Maka tak heran jika orang-orang menilai aku sangat pendiam. Nggak salah sih, anggapan mereka. Sebetulnya aku pun bisa banyak bicara jika bertemu dengan orang yang pandai bicara.

Aku pun lebih nyaman jika mengobrol bersama dua tiga orang saja. Lebih dari itu, aku sudah bingung mau menanggapi yang mana. 

2. Betah di rumah aja


Mau kondisi nggak ada pandemi, aku sebenarnya betah banget di rumah. Apalagi kalo sudah di depan komputer atau nulis di HP. Kegiatanku lainnya, belajar main gitar, membaca buku, masak dan bersih-bersih rumah. 

Sebelum ada pandemi, aku keluar hanya untuk pergi ke gereja, ikut komsel, datang ke acara blogger, belanja kebutuhan atau beli makanan. Nggak pernah kumpul-kumpul sama tetangga sekitar juga. Bisa dibilang nggak kenal sama tetangga, he, he. 

3. Suka makan es krim

Kalo sedang belanja atau jalan-jalan ke mall, aku lebih suka beli es krim daripada makanan lainnya. Kadang beli es krim instan juga biar makannya bisa berkali-kali, ha, ha.

4. Pecinta kucing

Sejak kecil aku suka banget sama kucing. Saking sukanya, aku selalu menyapa kucing-kucing yang kutemui. Bukan hanya kucing betulan, aku juga suka Hello Kitty dan Doraemon. Pernah nangisin kucing peliharaanku yang mati ketabrak motor, sampai ditulis di dalam cerpen. Aku pun pernah menulis resensi novel tentang kucing.

5. Nggak bisa baca Maps

Jika sedang berpergian ke suatu tempat, jangan serahkan tugas navigasi ke saya. Karena dijamin kamu bakalan nyasar, ha, ha... 

Jujur aku nggak bisa banget disuruh baca maps, google maps sekalipun! Bingung banget deh, liat jalan-jalannya. 

6. Suka nonton Doraemon

Entah kenapa kalo nonton Doraemon itu sesuatu banget! Mungkin karena aku suka sama kucing ya! Lucu dan seru...lihat Nobita yang selalu aja bermasalah dengan alatnya Doraemon. 

7. Suka nggak konsisten

Jujur, aku kalo ikut kegiatan yang rutin, mudah sekali bosan. Misal nih, sedang semangat bikin postingan di IG eh, baru beberapa kali bosan. Ganti lagi. Duh, mulai sekarang mencoba lebih konsisten. 

Setelah menjabarkan 7 fakta tentang diri sendiri, kini saatnya aku menjawab 7 Pertanyaan dari Mba Sapti

1. Dalam hidup, siapa orang yang paling mempengaruhimu?

Aku sebenarnya orang yang sangat mudah terpengaruh dengan lingkungan sekelilingku. Siapa orang terdekatku, itulah yang paling punya pengaruh besar dalam hidupku.

2. Apa yang menjadi target terdekatmu?

Untuk saat ini target terdekatku adalah memonetisasi blog dan sosial media. 

3. Hal apa yang membuatmu kagum dengan seseorang?

Banyak hal yang bisa bikin aku kagum sama seseorang, seperti pandai mengatur waktu, sikap pantang menyerah, rajin, bakatnya. 

4. Negara mana yang paling ingin kamu kunjungi, dan kenapa?

Negara Italia, karena aku ingin mengunjungi kota-kota romantis di sana seperti yang diceritakan dalam novel Love in Italy. 

5. Hal prinsip apa yang paling kamu pegang dalam hidupmu? 

Prinsip hidupku adalah tetap bersyukur dalam segala keadaan, tetap percaya bahwa Tuhan pasti memelihara umat-Nya. 

6. Jika waktu bisa diputar, hal apa yang ingin kamu perbaiki?

Seandainya waktu bisa diputar, aku ingin bikin blog lebih awal, menyewa domain dan mengoptimasi blog agar jadi sumber penghasilan, he, he.

7. Siapa penulis favoritmu?

Penulis favoritku adalah Enid Blyton dan Clara Ng. Buku-buku mereka itu nggak ada yang membosankan.

7 Pertanyaan untuk Blogger Terpilih

1. Mengapa kamu membuat blog? Sebutkan alasannya!
2. Apa yang kamu lakukan untuk bisa mengusir rasa bosan saat di rumah saja?
3. Apa sih makanan favoritmu?
4. Hal sederhana apa yang bisa bikin kamu bersemangat setiap hari?
5. Sebutin sebuah tempat di Indonesia yang paling kamu suka, sampai kamu memiliki impian bisa tinggal di sana.
6. Pernah nggak mengalami perbedaan budaya atau yang disebut "culture shock" di sebuah tempat baru? Coba ceritakan.
7. Jika sedang berpergian, barang apa yang wajib banget kamu bawa? 

Para Blogger yang aku colek untuk ikutan juga dalam Liebster Award ada dua, pertama ada Mbak Mei, seorang traveller blogger yang sering mendaki gunung baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa kali kami bertemu di event blogger. 
Liebster Award
Bersama Komunitas Blogger Jogja menghadiri sebuah event, jangan tanya aku yang mana ya karena nggak kelihatan, he, he.

Mbak Mei ini punya banyak cerita tentang petualangannya menjelajah ke tempat-tempat menarik, semua dituang apik di dalam blog miliknya www.meimoodaema.com.

Kedua ada Mbak Dhitta Erdittya, seorang blogger, mamah muda dan pejuang komposter yang selalu menularkan semangat zero waste. Berbagai pengalaman pribadi tentang parenting, hobi, maupun tips komposter sudah ditulis Mbak Dhita dalam dhitaerdittya.com

Untuk kedua blogger yang sudah mau menerima tantangan Liebster Award ini, aku ucapkan banyak terima kasih udah mau menerima tantanganku dan selamat menulis :)

Kamis, 21 Mei 2020

Mencicipi Lezatnya Sate Ambal, Makanan Khas Kebumen

Sate Ambal
catatanyustrini.com

Sate Ambal 

Pernahkah teman-teman mencicipi Sate Ambal atau sekilas mendengar namanya? Sate Ambal merupakan salah satu makanan khas dari salah satu kecamatan yang ada di Kebumen. Namanya sudah terkenal di antara para pecinta kuliner nusantara. Maka tak heran jika yang makan di sana kebanyakan dari luar kota Kebumen. 
Pada musim mudik tahun lalu, aku bersama suami kebetulan melintas di Jalan Daendels untuk mudik Lebaran ke Purwokerto. Aroma khas dari daging ayam yang dibakar inilah, yang membuatku tak tahan untuk segera mampir ke salah satu warungnya. Padahal sebelum berangkat kami sudah sarapan terlebih dahulu.

Di sepanjang jalan Daendels yang merupakan jalur Jogja-Purwokerto ini memang berjejer Warung Sate Ambal. Ada yang kecil dan cukup besar sehingga muat untuk parkir mobil atau bus. Baik di sebelah kanan atau kiri jalan ada. Jadi tidak perlu repot untuk menyeberang jalan, cukup pilih saja warung yang searah.

Tak perlu khawatir salah pilih warung, karena semua menjual sate dengan harga yang relatif murah. Rasanya pun enak. Ada juga yang menyediakan Sate Kambing selain Sate Ayam tapi yang khas di sini adalah Sate Ayam Ambal. Umumnya sate terbuat dari daging ayam kampung.

Lauk Sate memang sangat menggoda selera. Baunya yang harum ketika dibakar membuat hati tidak sabar menunggu. Belum lagi jika sate disajikan bersama irisan lontong, ketupat atau nasi putih. Jangan lupa harus pakai bumbu satenya. Hmm...semuanya pasti makan dengan lahap!

Keistimewaan Sate Ambal



Sate Ambal
dokpri 
Sepintas tidak ada yang terlihat menonjol dari Sate Ambal ini. Penampakan Sate Ambal hampir sama dengan sate-sate ayam pada umumnya. Namun jika dicermati dan dirasakan, ada lho perbedaan yang cukup signifikan dari Sate Ambal. 

Yup, betul. Bumbunya bukan terbuat dari kacang! Aku pun sudah curiga ketika menemui bumbu pelengkap Sate Ambal. Barulah setelah menelusuri internet, aku tahu bahwa ada yang istimewa dari Sate Ambal ini.

Bumbu pelengkap Sate Ambal merupakan sebuah ciri khas dari daerah Kebumen yang membedakan dengan sate dari daerah lain. Tidak seperti Sate Ayam pada umumnya yang menggunakan bumbu kacang, Sate Ambal justru memakai bumbu tempe yang dihaluskan sebagai pelengkapnya. Hmm, jadi lebih sehat nih!

Tempe direbus bersama dengan cabai rawit, cabai merah dan bawang hingga matang. Selanjutnya, tempe dan bumbu-bumbu dihaluskan dengan blender, masak kembali sampai agak mengental. Bumbu sate ini memang dibuat tidak terlalu kental malah terkesan encer. Sekilas memang mirip dengan saus kacang tapi lebih merah dan encer. Dalam penyajiannya bumbu ini ditaruh terpisah dengan satenya di sebuah mangkok.

Bumbu sate yang terbuat dari tempe ini akan semakin lezat bila disuguhkan bersama Sate Ambal yang tak kalah enak. Untuk membuat satenya sendiri, membutuhkan proses yang agak lama agar menghasilkan rasa sate yang lezat. Maka tak heran tanpa bumbu pun, satenya sudah cukup lezat dimakan sebagai lauk. Dagingnya juga terasa juicy, ada rasa rempah-rempahnya dan lembut. 

Daging ayam harus dimarinasi dulu dengan bumbu rempah-rempah yang sudah dihaluskan. Bumbu rendaman Sate Ambal terbuat dari bawang merah, bawang putih, gula merah, kemiri, jahe, kunyit, merica, ketumbar dan garam. Bisa juga ditambahkan pala dan jintan.

Proses perendaman dilakukan selama 1 jam, malah aslinya 2 hingga 5 jam sampai bumbu meresap, ayamnya pun menjadi lebih empuk, lembut dan juicy ketika dimakan. Selanjutnya daging ayam akan dibakar seperti sate biasa sampai matang. 

Porsinya pun cukup besar, jika umumnya sate dijual dengan 10 tusuk per porsi, maka Sate Ambal per porsinya berisi 20 tusuk. Oleh karena itu, aku dan suami cuma pesan 1 porsi untuk berdua. Harga Sate Ambal berkisar 36 sampai 50 ribu per porsi tergantung jenis ayamnya, mau Ayam Kampung atau Ayam biasa. Tapi menurutku sih, lebih enak Sate Ayam Kampung, karena dagingnya lebih gurih. 

Nama Ambal sendiri, diambil dari nama daerah di Kebumen. Warung Pak Kasman Asli merupakan pelopor Sate Ambal. Pak Kasman ini adalah cucu dari  Pak Samikin, pencipta Sate Ambal.

Jadi jika kamu melintas atau sedang berada di Kebumen, jangan lupa untuk mencicipi kelezatan Sate Ambal ini.

Senin, 18 Mei 2020

[ Sebuah Fiksi ] Wajah yang Mirip


Sebuah fiksi oleh Yustrini
Wajah yang Mirip 


Pukul 18:30

“Vannes, jaga rumah baik-baik ya!” pesan mama sebelum keluar bersama Kak Vira dan papa. Mereka semua akan pergi ke sebuah pesta ulang tahun teman kantor papa.

“Yakin Nes nggak ikut ke pesta?” tanya Kak Vira terlihat cemas.

Aku tersenyum menggeleng, "malas Kak, ketemu Rico anak Om Farid yang rese itu,” jawabku sekenanya. Tak tahu harus memberikan alasan apa, aku tidak suka berada di keramaian. Terlebih dalam pesta, aku harus rajin tersenyum dan sedikit berbasa-basi.

Satu jam setelah papa, mama dan Kak Vira pergi, hujan turun begitu lebatnya. Sesekali petir menggelegar. Aku jadi agak menyesal kenapa nggak ikut tadi. Setidaknya ada yang menemaniku dalam satu ruangan.

Tok...tok...tok.

Duh, siapa sih yang malam-malam begini bertamu? Hujan-hujan lagi? Aku segera membuka pintu.

Seorang gadis menggigil kedinginan berdiri di muka pintu. Bajunya basah kuyup. Sepintas aku merasa aneh.

“Permisi Kak, namaku Nadira. Bolehkah aku menumpang di rumah ini?” katanya dengan wajah yang sangat memperihatinkan.

“Oh, ya, ya. Tentu saja, silakan masuk!” Aku membuka pintu lebih lebar mengijinkannya masuk.

Nadira tersenyum bahagia, ' aku sudah mendapat rumah' sepintas aku mendengarnya berbisik.

"Apa katamu?"

"Maaf, maksudku dari beberapa rumah yang kuketuk pintunya, sedari tadi tidak ada yang mau membukakan pintu. Hanya kau saja, " kata Nadira sambil masih berdiri di dekat pintu.

"Sebentar," aku berlari mengambil handuk dan baju kering.

“Terimakasih,” katanya sambil menerima secangkir teh hangat yang baru kubuat. Ia sudah ganti baju dengan baju hangatku.

* * *

“Nadira mirip sekali sama Vannes,” ujar Kak Vira saat kami berkumpul di ruang TV sambil menikmati teh dan kue buatan mama.

“Iya! Tadi mama sempat keliru manggil Nadira dengan nama Vannes,” mama menimpali.

Sudah dua hari satu malam Nadira tinggal di rumah ini. Dia seumuran aku, tubuhnya tinggi kecil  wajah kami mirip, Orang serumah bilang kami seperti saudara kembar. Aku sih, senang-senang saja Nadira tinggal di rumahku.

“Kamu nggak kangen sama keluargamu?” tanyaku.

Nadira menunduk sedih, “sangat! Aku rindu sama semua orang...” airmatanya menetes.

“Ingin sekali pulang namun aku takut...” matanya terpejam.

“Kamu takut mereka marah karena kamu kabur dari rumah kan? Tenang besok kami akan mengantarmu pulang, Tante yakin mereka pasti juga kangen sama kamu.” hibur mama sambil mengelus rambut Nadira.

* * *

“Nad, tolong gantiin aku pergi ke pesta ulangtahun Farrel ntar malam,” kataku pada Nadira esok harinya.

“Tapi Nes, aku takut ketahuan," Nadira menolak.

“Enggak bakal, dijamin deh! Kalo aku dandanin kamu dan pakai baju pesta aku nggak ada yang tahu. Kamu kan mirip banget sama aku,” bujukku.

Kemiripan kami nyaris 99% sama, dari wajah, rambut, tinggi badan, bahkan tindak-tanduk kami. Inilah yang membuat anggota keluargaku jadi sering keliru membedakan kami.

“Please,” aku terus memohon. Terpaksa cara ini kutempuh karena mama dan papa serius mengancam akan memotong uang saku aku kalo nggak ikut kali ini.

“Rekan kerja Papa ingin melihat anak Papa yang bungsu,” kata papa.

“Eh, anak teman papa itu cakep lho Nes! Lumayan kan dapet kenalan cowok keren...” bujuk Kak Vira.

“Ihh, kakak genit!” sahutku kesal.

Hampir semalaman mereka bujuk aku terus untuk ikut. Yang kak Vira maksud itu pasti Farrel, apa asyiknya coba kenalan sama cowok manja kayak dia. Bisanya cuma jadi bos di kelas. Huh! Mentang-mentang anak orang kaya! Seenaknya!

“Iya deh Nes, tapi kalo ketahuan nanti kamu yang tanggung ya!” Kata Nadira setelah mendengar betapa menderitanya aku nanti di pesta.

“Apa? Kamu jadian 'ma Farrel?” Pulang dari pesta  Nadira membawa berita yang buat aku syok!

“Apa aku buat kesalahan?” tanya Nadira polos.

“Iya!” jawabku tegas.

Mataku berputar-putar gemas. Apa coba yang bisa disukai dari Farrel? Dia bossy banget, bisa-bisa aku lebih jadi pembantunya daripada jadi pacar dia. Dan tadi Nadira terima Farrel jadi pacarnya dengan status jadi Vannes itu artinya...

“Aduh gimana nih? Pasti Farrel udah update status dimana-mana dan semua orang pasti udah tahu soal ini,” ujarku panik.

“Maafin aku, Nes! Aku nggak bisa nolak tadi. Nggak tega sama Farrel.”

“Oya, Nad. Aku punya ide!”

“Kamu yakin akan melakukan ini?” tanya Nadira.

“Iya,” aku mengacungkan jempol. Aku sudah memakai baju milik Nadira saat ia datang pertama kali ke rumah.

“Hati-hati ya Vannes!”

“Stt, jangan sebut namaku keras-keras, ingat mulai sekarang namaku Nadira dan kamu Vannes. Ok?” aku mengulurkan jari kelingking  dan Nadira menyambutnya.

“Ok!”

Sekarang aku bersiap meninggalkan rumahku menuju rumah Nadira dengan diantar oleh keluargaku. Fuuh! Kuhembuskan napas kuat-kuat. Beratnya pergi ke rumah orang lain untuk tinggal disana. Sabar Vannes ini cuma sementara nanti juga kembali sebagai Vannes.

Di rumah Nadira. Mama dan papanya menyambutku sangat baik. Kamar Nadira dua kali lebih besar dari kamarku lengkap dengan kamar mandi dalam dan televisi. Heran kenapa Nadira mau kabur dari rumah.

Aku menatap ke sekelilingku. Aneh kenapa bulu kudukku selalu berdiri sejak masuk tadi? Baunya juga seperti tak asing tercium olehku. Tapi apa ya?

* * *

“Kamu nggak bisa pulang kesini lagi, ini rumahku!” Nadira mengusirku saat aku minta tukar tempat lagi.

“Nadira siapa kamu sebenarnya? Kenapa rumahmu berubah jadi kuburan?” tanyaku.

“Kita begitu mirip kan? Aku pun telah diusir dari hidupku. Aku sudah mati Vannes tapi bisa bangkit kembali melalui tubuhmu,” jelasnya.

“Apa?” Aku tak mengerti, kenapa bisa seperti ini?

“Nadira kapan kamu datang? Tante senang kamu mau main dengan Vannes. Kasihan, dia suka sendirian di rumah kalo Tante, om dan kak Vira pergi ke pesta teman kerja om. Dia kan, nggak suka pesta.”

Kepalaku pusing mendengar cerita mama.

Nadira segera menopangku sambil berbisik, “Ingat kata-katamu sendiri, Vannes. Waktu itu...”

'Stt, jangan sebut namaku keras-keras, nanti ketahuan. Ingat mulai sekaranfg namaku Nadira dan kamu Vannes, Ok?' bisik Nadira.

“O iya, namaku Nadira. Maaf aku pulang dulu ya Nes!” Aku pamit.

* * *

Tok...tok..tok.

Seorang gadis berwajah pucat berdiri dimuka pintu.

“Permisi kak, Namaku Vannes. Bolehkan aku menumpang di rumah ini?”

“Boleh.”

“Hei, Vannes kamu mirip ya sama Agnes.”

Vannes tersenyum bahagia. 'Aku sudah mendapat rumah.'

* * * *


This entry was posted in

Sabtu, 16 Mei 2020

Komik Pak Janggut, Buntelan Ajaib dan Nostalgia

Komik Pak Janggut

Komik Pak Janggut 


Beberapa waktu lalu, aku terpana membaca tweet seorang kawan. Di dalam cuitan tersebut, dia mengunggah gambar komik Pak Janggut. Ingatanku pun melayang pada masa kecilku. Komik ini pernah Ä·utemukan dalam majalah Bobo menjadi cerita gambar bersambung.

Waktu aku kecil, komik ini sudah tidak ada lagi di majalah Bobo. Tapi aku menemukannnya di majalah lawas yang kubeli di kios majalah bekas. Dulu aku memang suka membeli majalah bekas daripada majalah yang baru. Apalagi alasannya jika bukan pengen ngirit, ha, ha. Ya, sejak kecil aku udah perhitungan kalo masalah duit, wkwkw.

Majalah bekas yang kubeli berupa bundelan berisi 5 edisi majalah Bobo dari tahun 90-an. Begitu tebal tentunya. Tapi aku suka membacanya berulang-ulang, baik cerpennya, artikel dan komik Pak Janggut. Bahkan sampai kini aku masih menyimpannya di rumah Purwokerto.

Pak Janggut dan Buntelan Ajaib

Untuk kalian yang belum kenal sama Pak Janggut, mari kukenalkan ya. Pak Janggut adalah seorang kakek tua dengan ciri khas baju hijau yang selalu membawa buntelan ke mana-mana.

Secara fisik, Pak Janggut ini sangat pendek, tapi tidak diceritakan dia itu termasuk kurcaci atau bukan. Setiap cerita Pak Janggut berlatar belakang Benua Eropa di abad ke-17, dunia peri, fantasi, sihir dan kerajaan.

Ibarat Kantong Doraemon, Buntelan Ajaib yang dibawa Pak Janggut bisa memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan. Bentuk Buntelan Ajaib hanyalah sebuah kain yang digantungkan ke ujung tongkat kayu. Sepintas memang tidak seperti sebuah kantong ajaib.

Dari buntelan ajaibnya, Pak Janggut bisa mengeluarkan berbagai macam barang, seperti uang, emas, makanan, alat mancing dan hadiah untuk orang-orang. Anehnya, buntelan ajaib menjadi kosong jika diperiksa oleh orang lain.

Komik Terjemahan

Komik Pak Janggut merupakan karya terjemahan dari komik berbahasa Belanda dengan judul asli Douwe Dabbert. Terbit pertama kali di majalah Donald Duck pada tahun 1975. Pengarangnya adalah seorang komikus bernama Pieter Cornelis Wijn.

Dalam bahasa aslinya, Pak Janggut masih terbit sampai tahun 2001. Setelah itu, pengarangnya sakit-sakitan dan tidak bisa menggambar lagi.

Douwe Dabbert sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing lainnya seperti Denmark dengan judul Gammelpot, bahasa Jerman dengan judul Timpe Tampert.

Komik Pak Janggut ini pernah menghiasi Majalah Bobo dari tahun 1980-an hingga 1990-an. Pada waktu itu, diterbitkan dengan cara sisipan cerita bersambung.

Buat kamu yang penasaran atau ingin bernostalgia kembali dengan komik Pak Janggut, bisa mendownloadnya di https://komiknostalgia.wordpress.com/2014/07/12/komik-pak-janggut/


Baca juga: Cerpen Anak Pertamaku yang Tampil di Media, Berbagi Itu Asyik 

Cerpen Clara, Sepasang Sepatu dan Cowok Es Krim






Jumat, 15 Mei 2020

Serunya Buka Bareng FWD Ditemani Gita Bhebhita & Chef Putri


Haiii teman-teman, gimana kondisi kalian saat berpuasa selama masa pandemi ini? Masih betah berada di rumah saja kah? 


Mungkin di antara kalian banyak yang merasa bosan, nggak bisa ngabuburit ke luar rumah atau buka bersama teman seperti Ramadan tahun kemarin. Mau ke luar rumah juga pasti jarang ya, orang jualan takjil di pinggir jalan. Lagian kita dihimbau untuk di rumah aja sama pemerintah.

Daripada bengong nggak tahu harus ngapain lagi, mending baca yuk, ceritaku tentang pengalaman ngabuburit dan #BukaBarengFWD. Acara ini diadakan kolaborasi dengan Kapan Lagi Com. Ada Kak Gita Bhebhita yang hadir sebagai host, Chef Putri Miranti dan Ibu Maika Randini (Chief Marketing Officer FWD Life) sebagai bintang tamu.

Apa sih, FWD itu? 



Barangkali teman-teman penasaran, apa sih FWD, siapakah dia? Kok, disebut-sebut terus dari tadi?

Biar nggak penasaran, akan aku jelasin aja secara singkat. FWD merupakan perusahaan asuransi jiwa dan kesehatan terbaik di Indonesia yang sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK.

Selama bulan Ramadhan, FWD mengajakmu ikut Kolaborasi untuk Berbagi. Setiap minggunya akan ada Instagram Live #DiRumahAjaBarengFWD, #BukaBarengDenganFWD secara virtual dan #BerbagiBarengFWD.

Ngabuburit Bareng  Gita & Chef Putri 


Pada hari Rabu, 29 April 2020, FWD bekerja sama dengan Kapan Lagi Com mengadakan acara IG Live #BukaBarengFWD episode 1 bertajuk "KOLAK (Kreasi Olah Takjil)" bareng Gita Bhebhita dan Chef Putri.

Di live IG kali ini, Chef Putri mempraktekkan bagaimana cara membuat Cendol, namun diberi variasi dengan penambahan Chia Seed.

Chia Seed sering disebut juga Superfood, karena mengandung banyak nutrisi dan 
manfaat yang  baik untuk tubuh. Manfaat Chia Seed antara lain dapat menurunkan kolesterol, menurunkan berat badan, mencegah penyakit jantung dan membuat kenyang lebih lama. 

Ternyata membuat Cendol nggak sesulit yang aku kira. Bahan-bahannya juga mudah. Cendol bikinan Chef Putri ini kemudian dikombinasikan dengan es batu, sirup, susu, es krim dan chia. Jadi deh, Cendol Chia ala Chef Putri.

Tak hanya membagikan cara bagaimana membuat Cendol Chia, bagi penonton yang mengikuti IG Live ini juga berkesempatan untuk mendapatkan hadiah berupa saldo GOPAY dan bukber virtual bareng FWD.

#BukaBarengFWD Secara Virtual





Keseruan berlanjut di #BukaBarengFWD, kali ini spesial ada Ibu Maika Randini sebagai Chief Marketing Officer FWD Life. Masih dengan Gita Bhebhita sebagai host dan Chef Putri sebagai bintang tamu.

Obrolan kali ini lebih santai dan semua peserta jadi serasa makin dekat dipandu oleh host Gita yang kocak. Sembari menunggu waktu berbuka, Bu Maika menularkan semangat buat para peserta agar tetap tinggal di rumah saja. Hal ini dilakukan demi keselamatan kita semua. 

Biar pun hanya bisa di rumah, tetap harus bersyukur karena masih bisa main media sosial, menikmati buka bareng sambil video call dengan teman, punya gadget yang bisa buat internetan sehingga bisa bukber virtual. Namun di luar sana masih banyak yang kurang beruntung, tidak sama seperti kita.

Bu Maika mengajak kita untuk ikutan bakar kalori sekaligus berdonasi melalui tantangan mingguan. Dengan cara mendaftar di https://bit.ly/berbagibarengFWD dengan biaya Rp. 200.000,-.


#BerbagiBarengFWD bekerja sama dengan SOS Children Villages Indonesia untuk membantu anak-anak yang telah kehilangan pengasuhan orang tua. Setiap biaya pendaftaran yang masuk akan langsung dikonversikan menjadi donasi untuk anak-anak di SOS Children Villages Indonesia.

Sebagai ucapan terima kasih, FWD akan memberikan kaos Jersey di akhir periode.

Resep Cendol Chia ala Chef Putri

Di akhir sesi, peserta tanya jawab dengan Chef Putri tentang tips memasak dan kembali membagikan resep Cendol Chia. 

Cendol Chia 

Bahan:
50 gr Tepung Beras/Sagu
500 ml air
1 pak Agar-Agar/Jelly
Perisa/Ekstrak Pandan secukupnya
Sejumput Garam
1 sdt Chia Seed yang direndam air
Susu
Sirup secukupnya

Cara Membuat:
Masukkan tepung beras, agar-agar, perisa pandan, garam ke dalam panci berisi air. Aduk rata baru nyalakan kompor. Aduk terus di atas api kecil.

Setelah matang, tuang dicetakan cendol. Cetak di atas air yang diberi es batu agar cendol cepat mengeras. Jika tidak ada cetakan cendol bisa memakai plastik.

Saran Penyajian:
Tuang cendol, chia seed, susu, sirup sesuai selera.

Sumber Gambar: Instagram @FWD_id dan dokumen pribadi yang diedit dengan Canva

Minggu, 10 Mei 2020

7 Sisi Positif dan Negatif Saat Dilanda Corona

Tahun 2020 adalah tahun berat bagi kita semua, buat dunia dan juga bangsa Indonesia. Dalam sekejap begitu banyak terjadi tata cara yang berubah. Harus jaga jarak, pakai masker dan rajin cuci tangan. Toko-toko, tempat wisata, alat transportasi massal berhenti beroperasi. Budaya bekerja, belajar dan beribadah di rumah saja mulai diterapkan.

7 Sisi Positif dan Negatif Saat Dilanda Corona

Edit by Canva
Bersyukur sih, jika negara kita nggak sampai lockdown. Menurutku kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) aja sudah membuat rakyat kelas bawah kelimpungan, apalagi jika lockdown benar-benar diterapkan. Dampaknya pasti akan luar biasa, ekonomi bisa ambruk dalam sekejap, sementara kebutuhan hidup terus harus berjalan. Pilihan untuk hidup berdampingan secara damai dengan Virus Corona mungkin solusi terbaik saat ini. Dengan catatan tetap menerapkan physical distancing tentunya.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dalam Virus Corona dan Penyebarannya

Kalo buat orang introvert kayak aku sih nggak masalah, di rumah aja. Toh, emang dari dulu ya kerjaannya di rumah mulu. Sampai orang-orang tuh nanya, kok bisa betah di dalam aja? Ha, ha...

Tapi...kegiatan di rumah aja, sama sekali nggak cocok buat suami aku atau orang yang tipenya ekstrovert. Dia tuh nggak betah suruh diam aja di rumah, padahal dikasih kerjaan pun, pengennya keluar. Nggak betah juga kalo disuruh kerja di balik meja seharian di kantor. Nah, kebayang kan, jika seandainya lockdown? Orang nggak boleh keluar dari rumah lagi, stok makanan dijatah, semuanya harus serba online.

Belum  lagi persoalan-persoalan yang mulai muncul, misalnya suami istri malah jadi sering bertengkar, anak rewel ngajak pergi terus, keinginan untuk ngemil terus, bosan di rumah. Perasaan-perasaan yang seperti ini malah bisa membuat orang mati bukan kena Covid tapi stress diem di rumah terus. Duh, jangan sampai deh!

Semoga badai Covid-19 ini cepat berlalu ya, sehingga kita semua bisa beraktivitas dengan normal, ibadah di gereja, bisa jalan-jalan ke mana-mana secara bebas, dll. Aku percaya semua yang terjadi pasti ada dampak positifnya. Berikut adalah hal-hal positif dan negatif saat dilanda Corona buat aku.

7 Hal Positif Saat Dilanda Corona


Pixabay

Selalu ada sisi positif yang bisa diambil dari setiap kejadian terburuk sekalipun. Semua kembali ke masing-masing pribadi bagaimana mau menyikapinya. Kalo ini 7 sisi positif ketika dilanda Corona versi aku ya!

1. Jadi lebih memperhatikan kebersihan

Disadari atau tidak, hal ini menimbulkan kebiasaan baru. Aku yang biasanya santai setelah pulang belanja nggak cuci tangan. kini jadi lebih rajin cuci tangan. 

Mau masuk toko...cuci tangan.

Habis ngambil buah saat di toko...cuci tangan

Habis pulang dari belanja...cuci tangan.

Mau makan...cuci tangan.

Setelah pegang uang...cuci tangan.

Habis buka paketan...cuci tangan. 

Selain cuci tangan, kebiasaan baruku adalah pakai hand sanitizer, ketika mau ke luar dari toko. Padahal dulu males banget kalo mau pakai. Lebih pede kalo cuci tangan pakai air sih! 

Sekarang pun udah terbiasa pakai masker kalo ke luar rumah, tadinya nggak kuat. Berasa sesak napas bro! Jadi mau minum vitamin buat jaga daya tahan tubuh karena suami masih harus bekerja di luar rumah. Mau nggak mau kan, harus strong jika dibawain oleh-oleh virus Corona, wkwkwk.

2. Lebih rajin masak

Dampak positif lainnya adalah jadi lebih rajin masak. Rajin buka internet buat mantengin resep-resep masakan. Yah, yang sederhana aja, sambil berhemat juga. Jaga-jaga jika ada situasi yang tak terduga. Banyaknya tempat makan yang menerapkan take-away aja bikin males keluar juga. Mau makan di tempat juga khawatir jika nanti malah nggak sengaja berkerumun.

Agak parno juga jika beli makanan di luar, meski pakai jasa pesan antar juga. Was-was juga kalo ternyata masaknya nggak bersih, kokinya lagi kena flu, atau di jalan ketempelan virus, dll. Banyak deh, jika disebutin satu per satu. Daripada menduga yang tidak-tidak, mending masak sendiri di rumah, iya, kan?

3. Irit bensin 

Udah 2 bulan ini, aku nggak pernah pergi ke mana-mana selain belanja kebutuhan sehari-hari. Kegiatan ibadah ke gereja pun sudah dilakukan online. Otomatis motor cuma dipakai buat pulang pergi ke kantor aja sama suami.

Rumah kami pun cukup dekat dengan kantor suami, jadi beli bensin irit banget! Paling suami wira-wiri ke toko aja untuk berbelanja bulanan. Irit kan?

4. Kesempatan belajar aplikasi baru

Sebagai freelancer, aku jadi dituntut untuk lebih kreatif. Putar otak dong biar keuangan tetap terjaga selama masa pandemi. Misalnya aku jadi kenal aplikasi buat influencer seperti Tellscore, Revu, atau aplikasi edit gambar, Canva. Dan mulai kenalan sama Zoom. Wkwkw, kemarin gaptek banget pas ikutan meeting Zoom. Tapi sekarang jadi tahulah.

Baca juga: 7 Aplikasi Pengusir Kebosanan Sekaligus Menghasilkan

5. Menyadari ibadah itu penting

Kalau yang satu ini tuh, bikin terharu banget! Pasti masing-masing dari kita punya pengalaman rohani tersendiri.

Jika sebelum ada Corona, aku tuh males banget berangkat ke gereja. Yang panaslah, waktunya mepet, jaraknya jauh dari rumah, dll. Walau pada akhirnya aku tetep berangkat sih, bersyukur punya suami yang rajin ngingetin aku buat selalu rajin.

Tiap kali ibadah pun, pemimpin praise n worship selalu doa gini, 'kami bersyukur jika kami masih bisa beribadah di tempat ini, semua karena kemurahanMu'.

Namun setelah ada Corona, aku juga diingatkan betapa pentingnya beribadah. Dan ibadah bisa dilakukan di mana saja, nggak harus di gereja. Herannya, Tuhan seperti sudah menyiapkan gereja tempat aku ibadah untuk bisa streaming di Youtube, siaran di radio bahkan di televisi. Jadi kami nggak ketinggalan mendapatkan siraman rohani tiap minggu bahkan setiap harinya.

6. Jadi kenal dunia buzzer 

Bila selama ini aku nggak kenal apa yang namanya buzzer, influencer. Sekarang aku mulai tercebur dalam dunia itu. Bermula mengisi form yang disebar lewat grup WA, aku mulai ikut jadi buzzer.

Fee-nya sih nggak seberapa tapi pengalamannya itu yang mahal. Dan aku percaya bahwa ini pun caranya Tuhan memelihara hidupku. Biar nggak bete karena nggak ada event blogger lagi selama ada pandemi Covid-19 ini.

7. Kulit menjadi lebih putih

Nggak pernah keluar rumah, bikin aku jadi nggak kepanasan. Kalo belanja pun hanya di pagi hari atau malam hari. Jadi resiko kena matahari makin kecil. Kulit pun jadi tambah putih kan? Apalagi kalau rajin luluran, selesai masa karantina jadi makin glowing dong!

7 Hal negatif saat dilanda Corona

Pixabay
Ada positif tentu ada yang negatif juga. Aku sama sekali tidak menyangkal ada banyak sekali hal yang negatif dari Corona ini. Nah, ini dia 7 hal negatif yang aku rasakan.

1. Sedih tidak bisa ke mana-mana

Mengetahui ada kasus positif yang ditemukan setiap harinya tentu sangat sedih. Salah satu upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 adalah dengan di rumah saja. Ibadah dan semua kegiatan di gereja dijadikan online semua, otomatis nggak bisa ketemu dengan teman-teman.

Nggak bisa ke mana-mana, mau ke mall, ke tempat wisata atau sekedar makan di luar nggak bisa.
Sedih banget karena liburan Lebaran kali ini nggak bisa mudik. Perjalanan kereta juga sudah tidak ada. Seiring larangan mudik yang dikeluarkan oleh pemerintah. Satu-satunya cara biar nggak sedih ya, video call sama keluarga. Lumayanlah bisa mengobati rindu biar nggak begitu berat.

2. Lebih boros kuota

Di rumah terus secara nggak sadar kegiatannya lebih banyak online. Browsing internet, aktif di medsos jadi bikin boros kuota. Aku juga suka nyari-nyari film atau baca komik di internet. Banyak yang ngasih seminar online, kursus, materi bacaan gratis yang menggoda untuk diunduh.

Biar nggak boros-boros banget kadang aku akalin dengan putar mp3 aja atau ikut ngintip saat suami buka medsosnya, hi, hi. Banyakin juga kegiatan yang nggak butuh kuota internet seperti main gitar, nyapu, masak, nonton TV, dll.

3. Mudah termakan berita

Sebenarnya nggak terbayang juga kalo Indonesia pun ikut terkena pandemi ini. Di awal tahun, hampir semua negara tetangga kena tapi negara kita masih adem ayem aja. Meski sudah ada peringatan dan sosialisasi juga dari pemerintah untuk tetap waspada. Beberapa kali ada wabah seperti SARS, MERS juga kan nggak sampai separah ini.

Ada juga yang bilang virus Corona nggak bisa hidup di iklim tropis seperti Indonesia. Pernyataan tersebut sebenarnya bikin aku cukup lega. Tapi awal Maret semuanya berubah. Mendadak aku selalu panas dingin dengar berita ada pertambahan kasus Covid-19 setiap harinya. Jumlah kematian juga cukup tinggi. Belum lagi berita hoaks yang mudah tersebar di grup-grup WA dan medsos, sukses bikin aku jadi flu lagi.

Sekarang aku siasati dengan menguirangi asupan berita dan banyak-banyak berdoa. Pikiran yang positif tentu membuat imunitas kita jadi lebih kuat. Iya, kan?

4. Jadi was-was kalo ketemu orang

Siapa di sini yang nggak was-was ketika bertemu dengan orang lain? Apalagi kalo orang itu batuk atau bersin! Suamiku yang masuk tipe orang yang selalu berpikir positif aja bisa mendadak takut masuk toko pas rame.

5. Nggak mudah ngenalin wajah orang

Aku tuh ngebayangin kalo tetanggaku bakalan lupa sama wajahku, saking nggak pernah liat mukaku. Tiap ketemu pasti pakai masker. Kadang akupun bingung ketemu orang yang tiba-tiba menganggukkan kepala ke arahku, ha, ha. Bahkan sama saudara sendiri juga, bisa nggak ngenalin waktu belanja di supermarket.

Gimana mau ngenalin? Wong dianya tuh, pakai baju panjang (biasanya cuma celana pendek), pake masker plus kacamata item! Wkwkwkw...

Aku cuma berdoa, semoga setelah berakhirnya pandemi ini. Orang-orang nggak selalu nanya, kamu siapa ya? Hu, hu, hu...

6. Repot kalo datang ke suatu tempat harus cuci tangan dan cek suhu badan

Jika dulu masuk toko, bank atau apalah tinggal jalan aja. Sekarang harus cuci tangan dan cek suhu. Kalo banyak pengunjung, mesti antri atau gantian masuk. Repot kan?

7. Sulit konsentrasi utk beribadah secara online di rumah 

Ibadah di rumah aja, ternyata nggak seindah ekspektasi. Apalagi kalo tinggal bersama keluarga besar. Bersyukur sih, sekarang sudah tinggal bersama suami aja. Tapi bukan berarti ibadah online jadi lancar jaya ya!

Yang namanya online itu tergantung sama jaringan internet, jadi selama masih terhubung, it's okay! Beda cerita kalau tiba-tiba mati lampu, internet juga putus, hwaaa!!! Pernah juga waktu ndengerin kotbah malah ketiduran, wkwkwk. Ada juga saat mati gaya, ketika ikut pujian, eh, anggota keluarga yang lain datang tapi cuek aja. Malah ngeliatin orang lagi ibadah, wkwkw.

Biar nggak kejadian hal-hal ajaib kayak gitu, aku biasanya sepakat sama suami nanti mau ikut ibadah yang jam berapa? Lewat Youtube atau televisi? Pastiin cuaca cerah atau enggak dengan melihat langit. Hubungi teman sepelayanan biar ibadah bareng tapi di rumah masing-masing. Pastikan juga tetap berpakaian rapi seperti beribadah di gereja, jadi biar terasa lebih semangat. 

Nah, itu dia sisi positif dan negatif buat aku saat dilanda Corona. Yang penting tetap semangat ya, biar di rumah aja. Ubah cara pandang negatif ke positif terus. Kalo masih negatif ya, cari positifnya aja!                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 

Rabu, 06 Mei 2020

Menyalakan Kembali Semangat Menulis Lewat Film Full House

Masih ingatkah kamu dengan drama Korea Full House yang pernah tayang sekitar tahun 2006 silam? Cukup lama juga ya?!

Kpopway.com
Melalui film drama ini, aku mulai kenal dengan bintang cantik Korea, Song Hye Kyo yang sampai sekarang nggak keliatan tambah tua. Segitu aja kali umurnya, wkwkw.

Berperan sebagai gadis muda yang hidup seorang diri, Han Ji-Eun (Song Hye Kyo) berprofesi sebagai penulis novel. Ia Han Ji-eun tinggal di sebuah rumah yang megah peninggalan orang tuanya yang sudah tiada.

Awal cerita dikisahkan Lee Young Jae (Rain), seorang artis yang sedang naik daun di Korea. Sementara Han Ji-Eun adalah seorang penulis muda yang mencoba menyelesaikan novelnya. Ji-Eun memilik dua sahabat Dong Wook dan Hee Jin sejak masih kecil.

Suatu hari kedua sahabat ini memberikan tiket pesawat dan hadiah liburan ke Shanghai untuk Ji-Eun. Di pesawat, tanpa sengaja Han Ji-Eun dan Yong Jae duduk bersebelahan. Kekocakan demi kekocakan terjadi sampai akhirnya Ji-eun muntah di lengan Young Jae.

Perkenalan Ji-eun dengan Min Yuk terjadi di lobi hotel. Ji Eun mulai curiga dengan kedua sahabatnya. Mau tidak mau ia harus pinjam uang kepada Yong Jae untuk kembali ke Korea.

Sampai di Korea, alangkah terkejutnya Ji-eun yang mengetahui bahwa rumahnya sudah dijual bersama isinya, tabungan di bank pun ludes ditambah ada tagihan kartu kredit dengan atas namanya. Wah, Ji Eun kesal sekali dengan kedua sahabatnya itu yang sudah menipunya habis-habisan.

Dalam keadaan tidak punya uang dan kehilangan rumah, Ji Eun pun terpaksa menikah kontrak dengan aktor yang baru dikenalnya. Selama 6 bulan menikah kontrak, ternyata benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.

Film ini memiliki 16 episode saja, biarpun ceritanya sederhana namun ada motivasi tentang menulis yang bisa diambil dari karakter Han Ji Eun. Nah, apa saja?

1. Bangkit

Intandiaries.blogspot.com
Secara finansial Han Ji Eun diceritakan miskin mendadak sampai tidak punya apa-apa lagi. Namun ia berani mau bekerja di rumahnya sendiri sebagai pembantu dan berusaha menawarkan karyanya ke beberapa produser film.

Meski karyanya dibilang jelek, ia tidak putus asa untuk membuat cerita lagi.

2. Percaya diri



Sebagai penulis kadang tidak percaya diri ketika karyanya dibaca. Tidak dengan Han Ji Eun. Ia dengan percaya diri mengumumkan bahwa ia menulis novelnya, meski dibilang alur ceritanya masih berantakan dan buruk sekali oleh direktur atasan Yong Jae.

3. Berani ambil resiko

Hansinema.net

Beberapa kali Ji Eun menyerahkan naskahnya pada Min Hyuk, tapi ditolak. Malah ditawari untuk menulis skenario, Ji Eun dengan semangat menerimanya. Meski prosesnya tidak berjalan mulus, langsung bisa menulis cerita yang menarik.

4. Mau menempa diri

Hidup bersama Yong Jae, bukanlah perkara mudah. Ji Eun tiap hari disuruh bersih-bersih, memasak dan dipanggil 'burung', 'ayam' bahkan 'mangkok basi', belum lagi kalo diusir. Duh, tabah sekali hati Ji Eun ini.

5. Memotivasi diri

Solopos.com
Kata yang sering diucapkan oleh Ji Eun adalah 'figthing' ketika ingin menyemangati dirinya dan Yong Jae. Ia bahkan tidak gentar ketika berhadapan dengan keluarga besar dari Yong Jae.

6. Pantang menyerah

@fullhouse_famouse

Tulisan pertama ditolak, kedua ditolak bahkan berkali-kali ditolak namun Ji Eun tetap kukuh ingin mewujudkan cita-citanya jadi penulis. Ia rela tak harus jadi novelis tak apa, jadi penulis ide cerita oke, disuruh nulis skenario juga mau.

7. Bekerja keras

Han Ji Eun benar-benar bekerja serius ketika menulis. Pagi-pagi ia sudah bangun menyiapkan sarapan, bersih-bersih, ke kantor Mun Hyuk untuk setor tulisan. Belum lagi kalo dihalangi oleh Yong Jae yang ingin Ji Eun di rumah saja, ha, ha. Apa kabar dengan saya yang bentar-bentar mengeluh nggak punya ide dan malas nulis ini?

Di akhir cerita Han Ji Eun berhasil menjadi penulis yang karyanya difilmkan. Bukan hanya itu saja, ia dapat bonus bisa mendapatkan rumah, cinta bahkan bisa menyelamatkan karir Yong Jae yang sudah di depan tanduk.

Karakter dalam film Full House:


1. Han Ji Eun(Song Hye Kyo)

IG @fullhouse_famouse
Seorang gadis yang tinggal sendiri di sebuah rumah pinggir pantai. Kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan saat ia masih SD. Tumbuh bersama dengan dua sahabatnya Hee Jin dan Dong Wook sampai SMA. Tak disangka ia ditipu oleh keduanya sehingga menjadikan ia harus kawin kontrak dengan aktor terkenal Yong Jae.

Hari demi hari harus dilewati bersama Yong Jae. Kesibukan sebagai pembantu di rumahnya sendiri pun ia jalani. Kawin kontraknya dengan Yong Jae membawanya mau nggak mau harus dekat juga dengan keluarga besarnya Yong Jae.

2. Lee Yong Jae(Rain)

Pinterest
Aktor yang sedang naik daun di Korea, tampan dan digandrungi wanita. Punya sahabat sejak kecil Hae Won dan Min Hyuk. Diam-diam ia menyukai Hae Won tapi tidak berani mengungkapkannya. Malahan ia menikahi Ji Eun yang baru dikenalnya.

Sikap Yong Jae ini kekanakan banget, makanya si Hae Won nggak suka ya. Ji Eun juga pertamanya ogah nikah sama dia, kalo nggak karena kehilangan rumahnya.

Terlihat mapan, kaya dan aktor terkenal siapa sangka hubungannya dengan ayahnya menjadi sangat dingin. Ia keluar dari rumah demi menghindari konflik dengan ayahnya.

3. Kang Hae Won(Han Eun Jung)



Kumparan.com

Hae Won adalah seorang desainer terkenal dan sukses membuka butik. Ia bekerja sama dengan Yong Jae. Diam-diam ia suka dengan Min Hyuk sejak mereka masih kecil. Sayangnya, Min Hyuk cuma menganggapnya sebagai adik.

Perhatian Min Hyuk kepadanya ternyata cuma sebatas kakak adik. Huft, php nih si Min Hyuk. Hae Won sampai jatuh sakit ketika ditolak cintanya. Sadar dulu Yong Jae pernah suka sama dirinya, lalu ia balik mengejar perhatiannya Yong Jae. Padahal Yong Jae sudah mulai jatuh cinta sama Ji Eun. Tambah sakit hati nih si Hae Won.

4. Yoo Min Hyuk( Kim Sung Soo)

IG fullhouse.luv

Min Hyuk adalah seorang pengusaha sukses. Ia juga bergerak di bidang entertainment. Sahabat baiknya Yong Jae dan Hae Won. Tampan, sukses dan kaya membuatnya dikagumi oleh para wanita. Namun ia tukang PHP, terbukti ada wanita yang sampai jatuh sakit gara-gara penolakannya.

Sangat perhatian kepada Ji Eun dan menjadi teman curhatnya ketika ada masalah dengan Yong Jae. Bahkan sempat jatuh hati kepada Ji Eun sampai mengancam Yong Jae akan merebutnya, jika kembali menyia-nyiakan Ji Eun.

Kalo aku sih, lebih suka karakternya Min Hyuk yang dewasa dan selalu perhatian pada Ji Eun. Wajahnya juga lebih ganteng kan? Ha, ha...

5. Yang Hee Jin( Lee Young Eun)

IG @fullhouse_famouse

Hee Jin adalah sahabat Ji Eun sejak kecil. Ia cukup ceroboh tapi sangat setia sama suaminya, Dong Wook. Kebiasaannya yang ceplas-ceplos membuat Min Hyuk jadi tahu soal masa kecil Ji Eun dan adanya perjanjian kontrak antara Ji Eun dan Yong Jae. 

6. Shin Dong Wook(Kang Do Han)


Ig @fullhouse_famouse

Kekasih Hee Jin ini sebenarnya baik, tetapi karena ceroboh ia malah kehilangan pekerjaan dan mempunyai banyak hutang. Bersama Hee Jin, ia menjerumuskan Ji Eun ke sebuah masalah besar.

Kelakuan mereka berdua dalam film ini bikin gemesss deh! Udah mencuri rumah Ji Eun, ngacak-acak makanan di kulkas, bahkan memasuki rumah tanpa ijin. Herannya, Ji Eun masih berbesar hati memberikan pekerjaan buat Dong Wook. Mereka berdua juga yang bikin semua orang tahu adanya kawin kontrak antara Ji Eun dan Yong Jae. Bikin huuuufttt kan?!!

7. Neneknya Yong Jae (Kim Ji-Young)

Ig @fullhouse_famouse

Awalnya, nenek terkesan galak dan kurang suka dengan Ji Eun. Ia bahkan suka memarahi dan menyuruh-nyuruh Ji Eun. Bahkan suka memanggil Ji Eun, Si Beruang gara-gara Ji Eun pernah menyanyikan lagu Si Beruang di depan keluarga besar Yong Jae.

Kumparan.com
Ha, ha, nggak kebayang gimana malunya Yong Jae waktu itu. Meski begitu, nenek Yong Jae suka sekali mengundang Ji Eun untuk datang ke rumahnya. Kejadian memalukan pun pernah dialami nenek ketika mau mengajari Ji Eun memasak. Ternyata nenek juga nggak bisa masak, ha, ha.

8. Mr. Lee/Ayahnya Yong Jae (Jang Yong)

IG @fullhouse_famouse

Ayah Yong Jae adalah seorang dokter, ia  terkesan kurang akur dengan Yong Jae, tapi ia sayang kepada Ji Eun dan dianggap anaknya sendiri. Mereka juga akrab dengan Ji Eun karena sama-sama suka bermain kartu.

9. Mrs. Kim,/Ibunya Yong Jae (Eun-sook Sunwo)

IG @fullhouse_famouse

Ibunya Yong Jae adalah wanita yang sangat anggun. Sayang dengan Ji Eun, pintar memasak dan suka nitip membawakan makanan untuk Yong Jae ketika Ji Eun main ke rumah.

10. Direktur Dae-pyo (Im Ye Jin)

intandiaries.blogspot.com
Ibu direktur ini beberapa kali dibuat pusing oleh ulah Yong Jae. Namun tak hilang akal, ia membuat trik agar Yong Jae dan Ji Eun terlihat mesra, salah satunya dengan meminta Ji Eun membuatkan makan siang untuk seluruh kru pemotretan.

Jadilah adegan suap-suapan yang lucu antara Ji Eun dan Yong Jae. Ha, ha, ha...

intandiaries.blogspot.com
Menonton film drama Korea memang menyenangkan ya. Apalagi jika di dalam filmnya terkandung pesan yang mendalam. Nah, apakah teman-teman sudah pernah nonton Full House ini? Yuk, ceritakan dikolom komentar kesanmu tentang film ini!