Minggu, 10 Mei 2020

7 Sisi Positif dan Negatif Saat Dilanda Corona

Tahun 2020 adalah tahun berat bagi kita semua, buat dunia dan juga bangsa Indonesia. Dalam sekejap begitu banyak terjadi tata cara yang berubah. Harus jaga jarak, pakai masker dan rajin cuci tangan. Toko-toko, tempat wisata, alat transportasi massal berhenti beroperasi. Budaya bekerja, belajar dan beribadah di rumah saja mulai diterapkan.

7 Sisi Positif dan Negatif Saat Dilanda Corona

Edit by Canva
Bersyukur sih, jika negara kita nggak sampai lockdown. Menurutku kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) aja sudah membuat rakyat kelas bawah kelimpungan, apalagi jika lockdown benar-benar diterapkan. Dampaknya pasti akan luar biasa, ekonomi bisa ambruk dalam sekejap, sementara kebutuhan hidup terus harus berjalan. Pilihan untuk hidup berdampingan secara damai dengan Virus Corona mungkin solusi terbaik saat ini. Dengan catatan tetap menerapkan physical distancing tentunya.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dalam Virus Corona dan Penyebarannya

Kalo buat orang introvert kayak aku sih nggak masalah, di rumah aja. Toh, emang dari dulu ya kerjaannya di rumah mulu. Sampai orang-orang tuh nanya, kok bisa betah di dalam aja? Ha, ha...

Tapi...kegiatan di rumah aja, sama sekali nggak cocok buat suami aku atau orang yang tipenya ekstrovert. Dia tuh nggak betah suruh diam aja di rumah, padahal dikasih kerjaan pun, pengennya keluar. Nggak betah juga kalo disuruh kerja di balik meja seharian di kantor. Nah, kebayang kan, jika seandainya lockdown? Orang nggak boleh keluar dari rumah lagi, stok makanan dijatah, semuanya harus serba online.

Belum  lagi persoalan-persoalan yang mulai muncul, misalnya suami istri malah jadi sering bertengkar, anak rewel ngajak pergi terus, keinginan untuk ngemil terus, bosan di rumah. Perasaan-perasaan yang seperti ini malah bisa membuat orang mati bukan kena Covid tapi stress diem di rumah terus. Duh, jangan sampai deh!

Semoga badai Covid-19 ini cepat berlalu ya, sehingga kita semua bisa beraktivitas dengan normal, ibadah di gereja, bisa jalan-jalan ke mana-mana secara bebas, dll. Aku percaya semua yang terjadi pasti ada dampak positifnya. Berikut adalah hal-hal positif dan negatif saat dilanda Corona buat aku.

7 Hal Positif Saat Dilanda Corona


Pixabay

Selalu ada sisi positif yang bisa diambil dari setiap kejadian terburuk sekalipun. Semua kembali ke masing-masing pribadi bagaimana mau menyikapinya. Kalo ini 7 sisi positif ketika dilanda Corona versi aku ya!

1. Jadi lebih memperhatikan kebersihan

Disadari atau tidak, hal ini menimbulkan kebiasaan baru. Aku yang biasanya santai setelah pulang belanja nggak cuci tangan. kini jadi lebih rajin cuci tangan. 

Mau masuk toko...cuci tangan.

Habis ngambil buah saat di toko...cuci tangan

Habis pulang dari belanja...cuci tangan.

Mau makan...cuci tangan.

Setelah pegang uang...cuci tangan.

Habis buka paketan...cuci tangan. 

Selain cuci tangan, kebiasaan baruku adalah pakai hand sanitizer, ketika mau ke luar dari toko. Padahal dulu males banget kalo mau pakai. Lebih pede kalo cuci tangan pakai air sih! 

Sekarang pun udah terbiasa pakai masker kalo ke luar rumah, tadinya nggak kuat. Berasa sesak napas bro! Jadi mau minum vitamin buat jaga daya tahan tubuh karena suami masih harus bekerja di luar rumah. Mau nggak mau kan, harus strong jika dibawain oleh-oleh virus Corona, wkwkwk.

2. Lebih rajin masak

Dampak positif lainnya adalah jadi lebih rajin masak. Rajin buka internet buat mantengin resep-resep masakan. Yah, yang sederhana aja, sambil berhemat juga. Jaga-jaga jika ada situasi yang tak terduga. Banyaknya tempat makan yang menerapkan take-away aja bikin males keluar juga. Mau makan di tempat juga khawatir jika nanti malah nggak sengaja berkerumun.

Agak parno juga jika beli makanan di luar, meski pakai jasa pesan antar juga. Was-was juga kalo ternyata masaknya nggak bersih, kokinya lagi kena flu, atau di jalan ketempelan virus, dll. Banyak deh, jika disebutin satu per satu. Daripada menduga yang tidak-tidak, mending masak sendiri di rumah, iya, kan?

3. Irit bensin 

Udah 2 bulan ini, aku nggak pernah pergi ke mana-mana selain belanja kebutuhan sehari-hari. Kegiatan ibadah ke gereja pun sudah dilakukan online. Otomatis motor cuma dipakai buat pulang pergi ke kantor aja sama suami.

Rumah kami pun cukup dekat dengan kantor suami, jadi beli bensin irit banget! Paling suami wira-wiri ke toko aja untuk berbelanja bulanan. Irit kan?

4. Kesempatan belajar aplikasi baru

Sebagai freelancer, aku jadi dituntut untuk lebih kreatif. Putar otak dong biar keuangan tetap terjaga selama masa pandemi. Misalnya aku jadi kenal aplikasi buat influencer seperti Tellscore, Revu, atau aplikasi edit gambar, Canva. Dan mulai kenalan sama Zoom. Wkwkw, kemarin gaptek banget pas ikutan meeting Zoom. Tapi sekarang jadi tahulah.

Baca juga: 7 Aplikasi Pengusir Kebosanan Sekaligus Menghasilkan

5. Menyadari ibadah itu penting

Kalau yang satu ini tuh, bikin terharu banget! Pasti masing-masing dari kita punya pengalaman rohani tersendiri.

Jika sebelum ada Corona, aku tuh males banget berangkat ke gereja. Yang panaslah, waktunya mepet, jaraknya jauh dari rumah, dll. Walau pada akhirnya aku tetep berangkat sih, bersyukur punya suami yang rajin ngingetin aku buat selalu rajin.

Tiap kali ibadah pun, pemimpin praise n worship selalu doa gini, 'kami bersyukur jika kami masih bisa beribadah di tempat ini, semua karena kemurahanMu'.

Namun setelah ada Corona, aku juga diingatkan betapa pentingnya beribadah. Dan ibadah bisa dilakukan di mana saja, nggak harus di gereja. Herannya, Tuhan seperti sudah menyiapkan gereja tempat aku ibadah untuk bisa streaming di Youtube, siaran di radio bahkan di televisi. Jadi kami nggak ketinggalan mendapatkan siraman rohani tiap minggu bahkan setiap harinya.

6. Jadi kenal dunia buzzer 

Bila selama ini aku nggak kenal apa yang namanya buzzer, influencer. Sekarang aku mulai tercebur dalam dunia itu. Bermula mengisi form yang disebar lewat grup WA, aku mulai ikut jadi buzzer.

Fee-nya sih nggak seberapa tapi pengalamannya itu yang mahal. Dan aku percaya bahwa ini pun caranya Tuhan memelihara hidupku. Biar nggak bete karena nggak ada event blogger lagi selama ada pandemi Covid-19 ini.

7. Kulit menjadi lebih putih

Nggak pernah keluar rumah, bikin aku jadi nggak kepanasan. Kalo belanja pun hanya di pagi hari atau malam hari. Jadi resiko kena matahari makin kecil. Kulit pun jadi tambah putih kan? Apalagi kalau rajin luluran, selesai masa karantina jadi makin glowing dong!

7 Hal negatif saat dilanda Corona

Pixabay
Ada positif tentu ada yang negatif juga. Aku sama sekali tidak menyangkal ada banyak sekali hal yang negatif dari Corona ini. Nah, ini dia 7 hal negatif yang aku rasakan.

1. Sedih tidak bisa ke mana-mana

Mengetahui ada kasus positif yang ditemukan setiap harinya tentu sangat sedih. Salah satu upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 adalah dengan di rumah saja. Ibadah dan semua kegiatan di gereja dijadikan online semua, otomatis nggak bisa ketemu dengan teman-teman.

Nggak bisa ke mana-mana, mau ke mall, ke tempat wisata atau sekedar makan di luar nggak bisa.
Sedih banget karena liburan Lebaran kali ini nggak bisa mudik. Perjalanan kereta juga sudah tidak ada. Seiring larangan mudik yang dikeluarkan oleh pemerintah. Satu-satunya cara biar nggak sedih ya, video call sama keluarga. Lumayanlah bisa mengobati rindu biar nggak begitu berat.

2. Lebih boros kuota

Di rumah terus secara nggak sadar kegiatannya lebih banyak online. Browsing internet, aktif di medsos jadi bikin boros kuota. Aku juga suka nyari-nyari film atau baca komik di internet. Banyak yang ngasih seminar online, kursus, materi bacaan gratis yang menggoda untuk diunduh.

Biar nggak boros-boros banget kadang aku akalin dengan putar mp3 aja atau ikut ngintip saat suami buka medsosnya, hi, hi. Banyakin juga kegiatan yang nggak butuh kuota internet seperti main gitar, nyapu, masak, nonton TV, dll.

3. Mudah termakan berita

Sebenarnya nggak terbayang juga kalo Indonesia pun ikut terkena pandemi ini. Di awal tahun, hampir semua negara tetangga kena tapi negara kita masih adem ayem aja. Meski sudah ada peringatan dan sosialisasi juga dari pemerintah untuk tetap waspada. Beberapa kali ada wabah seperti SARS, MERS juga kan nggak sampai separah ini.

Ada juga yang bilang virus Corona nggak bisa hidup di iklim tropis seperti Indonesia. Pernyataan tersebut sebenarnya bikin aku cukup lega. Tapi awal Maret semuanya berubah. Mendadak aku selalu panas dingin dengar berita ada pertambahan kasus Covid-19 setiap harinya. Jumlah kematian juga cukup tinggi. Belum lagi berita hoaks yang mudah tersebar di grup-grup WA dan medsos, sukses bikin aku jadi flu lagi.

Sekarang aku siasati dengan menguirangi asupan berita dan banyak-banyak berdoa. Pikiran yang positif tentu membuat imunitas kita jadi lebih kuat. Iya, kan?

4. Jadi was-was kalo ketemu orang

Siapa di sini yang nggak was-was ketika bertemu dengan orang lain? Apalagi kalo orang itu batuk atau bersin! Suamiku yang masuk tipe orang yang selalu berpikir positif aja bisa mendadak takut masuk toko pas rame.

5. Nggak mudah ngenalin wajah orang

Aku tuh ngebayangin kalo tetanggaku bakalan lupa sama wajahku, saking nggak pernah liat mukaku. Tiap ketemu pasti pakai masker. Kadang akupun bingung ketemu orang yang tiba-tiba menganggukkan kepala ke arahku, ha, ha. Bahkan sama saudara sendiri juga, bisa nggak ngenalin waktu belanja di supermarket.

Gimana mau ngenalin? Wong dianya tuh, pakai baju panjang (biasanya cuma celana pendek), pake masker plus kacamata item! Wkwkwkw...

Aku cuma berdoa, semoga setelah berakhirnya pandemi ini. Orang-orang nggak selalu nanya, kamu siapa ya? Hu, hu, hu...

6. Repot kalo datang ke suatu tempat harus cuci tangan dan cek suhu badan

Jika dulu masuk toko, bank atau apalah tinggal jalan aja. Sekarang harus cuci tangan dan cek suhu. Kalo banyak pengunjung, mesti antri atau gantian masuk. Repot kan?

7. Sulit konsentrasi utk beribadah secara online di rumah 

Ibadah di rumah aja, ternyata nggak seindah ekspektasi. Apalagi kalo tinggal bersama keluarga besar. Bersyukur sih, sekarang sudah tinggal bersama suami aja. Tapi bukan berarti ibadah online jadi lancar jaya ya!

Yang namanya online itu tergantung sama jaringan internet, jadi selama masih terhubung, it's okay! Beda cerita kalau tiba-tiba mati lampu, internet juga putus, hwaaa!!! Pernah juga waktu ndengerin kotbah malah ketiduran, wkwkwk. Ada juga saat mati gaya, ketika ikut pujian, eh, anggota keluarga yang lain datang tapi cuek aja. Malah ngeliatin orang lagi ibadah, wkwkw.

Biar nggak kejadian hal-hal ajaib kayak gitu, aku biasanya sepakat sama suami nanti mau ikut ibadah yang jam berapa? Lewat Youtube atau televisi? Pastiin cuaca cerah atau enggak dengan melihat langit. Hubungi teman sepelayanan biar ibadah bareng tapi di rumah masing-masing. Pastikan juga tetap berpakaian rapi seperti beribadah di gereja, jadi biar terasa lebih semangat. 

Nah, itu dia sisi positif dan negatif buat aku saat dilanda Corona. Yang penting tetap semangat ya, biar di rumah aja. Ubah cara pandang negatif ke positif terus. Kalo masih negatif ya, cari positifnya aja!                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 

2 komentar:

  1. memang ada sisi positif dan negatifnya ya mbak corona ini. Tapi, mudah-mudahan lekas berlalu agar bisa hidup normal lagi kita.

    BalasHapus
  2. jadi rajin cuci atngan jaga kebersihan dan takut makan sembarang

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar yang masuk akan melewati tahap moderasi terlebih dahulu, spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.