Senin, 20 Januari 2020

Teknologi Solar Panel

Sumber: DBS Bank
Energi baru ramah lingkungan semakin berkembang dan tak bisa dihindarkan. Dengan bermunculannya energi baru ramah lingkungan diharapkan mampu menekan penggunaan energi fosil yang ketersediaanya semakin terbatas. Melihat potensi tersebut, berbagai macam perusahaan teknologi mulai berlomba-lomba menciptakan produk berbasis energi yang ramah lingkungan. Peluang pengembangan sumber energi tenaga surya di Indonesia sangat besar. Terlebih letak geografis Indonesia menjadikan salah satu wilayah yang memiliki sumber energi terbaik di dunia.

Solar PV (Fotovoltaik) adalah metode pembangkit tenaga listrik dengan mengubah radiasi matahari menjadi arus listrik (DC) menggunakan semi konduktor yang menunjukan efek fotovoltaik. Solar PV atau sering disebut juga dengan solar panel atau panel surya terdiri dari sejumlah sel surya atau solar cell yang mengandung bahan atau material fotovoltaik (photovoltaics) yang disusun bersamaan dengan silikon monocrystalline, silicon polycrystalline, silikon amorf, telluride kadmium dan tembaga indium gallium selenide atau atau sulfida. Solar PV termasuk jenis photo dioda. Solar PV atau solar panel dapat bekerja untuk waktu yang cukup panjang hingga 25 tahun, tanpa memerlukan bahan bakar atau biaya operasional tambahan.

Sumber: Sewatama
Solar cell atau PV menghasilkan listrik arus DC dari sinar matahari yang dapat langsung digunakan untuk peralatan listrik DC atau untuk mengisi ulang baterai. Aplikasi praktis pertama Photovoltaics adalah satelit yang mengorbit listrik dan pesawat luar angkasa lainnya, tetapi sekarang sebagian besar modulfotovoltaik digunakan untuk pembangkit jaringan listrik tersambung setara PLN. Dalam hal ini inverter diperlukan untuk mengkonversi arus DC ke arus AC.

Indonesia mampunyai wilayah yang memiliki sumber energi matahari yang melimpah dan kita dapat memanfaatkannya sebagai sumber energi di rumah-rumah dan gedung dan saat ini di dunia kendaraan listrik dan energi tenaga surya sama-sama tengah dikembangkan. Dimana kendaraan listrik dapat memanfaatkan solar panel sebagai sumber energi listrik, teknologi ini sudah dikembangkan di sejumlah negara. Bahkan di beberapa negara mereka menggunakan teknologi ramah lingkungan dapat subsidi dari pemerintah. Di Indonesia sendiri terdapat beberapa perusahan jasa pasang solar panel salah satunya adalah Sewatama yang bergerak dibidang pengadaan dan pemasangan solar panel.

Jumat, 10 Januari 2020

Panduan Cara Klaim Asuransi Produk Gadget

Image: Pixabay.com

Di era teknologi yang super cepat perkembangannya ini, setiap orang dapat dipastikan memiliki handphone sebagai alat bantu komunikasi. Hal ini juga semakin dipermudah dengan banyaknya produsen handphone yang menjajakan produknya dengan harga yang relatif terjangkau dengan kualitas handphone yang sudah canggih. Mudahnya mendapatkan handphone ini membuat konsumsi handphone tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu komunikasi melainkan juga sebagai penunjang gaya hidup.

Antara merek hanphone satu dengan yang lainnya tentu berbeda tak terkecuali pada kualitas serta harga yang di banderol. Ini juga merupakan akibat dari segmentasi pasar yang dipilih oleh produsen. Karena pentingnya peran handphone dalam kehidupan manusia menyebabkan benda ini tak bisa lepas sedetik pun dari aktivitas sehari-hari.

Dengan demikian sangatlah wajar apabila benda ini rawan mengalami kerusakan atau menjadi benda yang diincar oleh sekelompok orang aksi kejahatan. Untuk melindunginya maka muncullah asuransi gadget. Asuransi ini seperti halnya dengan asuransi lainnya mewajibkan pemiliknya untuk membayar premi sesuai dengan besaran dan waktu yang telah disepakati sebelumnya. Namun, bagaimana cara klaim apabila terjadi kerusakan atau benda ini hilang? Berikut ulasannya.

1. Bawa handphone ke pusat layanan resmi

Setiap merek hanphone pasti memiliki pusat layanan resmi. Untuk itu, apabila terjadi sesuatu misal kerusakan segera bawa handphone ke pusat layanan resmi untuk pengajuan klaim.

2. Tunjukkan email sertifikat asuransi

Langkah kedua tunjukkan kepada petugasnya email sertifikat asuransi sebagai bukti bahwa Anda adalah peserta asuransi produk gadget. Apabila data sudah dinyatakan valid maka akan segera dilakukan penanganan.

3. Kenali faktor penolakan klaim asuransi

Yang ketiga ini merupakan hal yang harus Anda perhatikan sebagai bentuk antisipasi apabila klaim Anda ditolak. Pastikan Anda sudah mengecek terlebih dahulu periode asuransi serta layanan yang diberikan oleh pihak asuransi sesuai dengan kesepakatan di awal.

Mengetahui secara pasti bagaimana klaim asuransi merupakan hal yang wajib bagi setiap pemilik asuransi. Namun, bagi Anda yang masih ingin memilih asuransi ini perlu memperhatikan dimana Anda mengajukan asuransi. Salah satu platform yang kini bisa Anda manfaatkan untuk pengajuan asuransi dengan mudah adalah Tanamduit. Di Tanamduit Anda bisa memilih asuransi sesuai dengan kebutuhan Anda. Selain itu pula Anda bisa memilih asuransi kesehatan premi murah yang sudah banyak digunakan dan terbukti terpercaya.

Dengan Anda mempercayakan pada Tanamduit, segala layanan yang mudah, aman, dan cepat bisa Anda dapatkan hanya melalui satu aplikasi. Informasi lebih lanjut bisa Anda cek di https://id.tanamduit.com/

Kamis, 09 Januari 2020

Resolusi 2020, Kurangi Sambat, Lebih Banyak Ucapkan Syukur


Mengeluh itu nggak ada gunanya. Tapi banyak dari kita suka mengeluh dan menikmati penderitaan di dalam keluhan itu. Jika beruntung nih, ada orang yang mendengar keluhan dan tergerak untuk mengasihani kita. Jika tidak ya, selamat menderita dalam keluhanmu ya guys!

Tak dipungkiri setiap manusia pasti senang apa yang namanya mengeluh atau bahasa Jawanya "sambat". Bahkan sempat jadi judul buku, "Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini". Aku sih, belum pernah membaca dan nggak tertarik buat baca, cuma suka lihat timelinenya berseliweran di linimasa Twitter-ku. Mau nggak mau sih jadi nge-klik dan nge-scrolling juga, wkwkwk.

Kembali ke masalah sambat ya... Sambat itu biasa! Wajar, alamiah dan senantiasa melekat pada tiap manusia yang masih hidup. Yang nggak wajar itu, kalo kita sambat trus disemprot sama emak-emak sebelah, "woi, capek dengerin omonganmu, wong kok sambat terussss!!!" 

Nah, itu tandanya sambatmu udah kelewatan batas. 

Jujur, aku pribadi masih suka sambat alias mengeluh. Kok, hidupku gini-gini aja ya? Kok, nggak pernah menang lomba blog, sih? Kok, pageview blog-ku cuma segini-gini aja? Kok, follower sosmed-ku nggak nambah-nambah? Kok, uang di tabunganku cuma dikit? dsb, dsb, dst...

Woiiiiii! Sadar Yus! Kalo mau naik level, kamu harus banyak belajar hal baru, nggak mudah tersinggung dengan omongan orang, mudah memaafkan. Kalo mau menang lomba blog, ikutlah lomba dengan sungguh-sungguh, kumpulin data dan fokus menulis. Masa nulis buat lomba, cuma asal-asalan tapi ngarep menang, kamu seriusss? 

Sama aja ngaku blogger tapi jarang posting blog, duh! Seriuskah kamu dengan hidupmu? Masa depanmu itu terlalu sayang untuk dilewatkan dengan menyia-nyiakan hari ini. 

Daripada mengeluh, lebih baik ucapkan syukur. Terima kasih Tuhan, Engkau masih memberiku nafas hidup hari ini. Dengan kehidupan yang Tuhan kasih ke kita hari ini artinya masih ada kesempatan untuk mengubah nasib dan mencapai cita-cita. 

Seperti yang dialami saya awal tahun ini. Seharusnya di awal tahun kami sudah bisa menempati tempat tinggal yang baru, namun karena banyak hal maka masih tertunda sampai hari ini. Mimpi untuk tinggal terpisah dengan mertua harus aku simpan dulu.

Oke, aku anggap ini adalah waktu dan kesempatan buat aku untuk menyiapkan rencana usaha yang akan kami mulai di tempat yang baru. Saatnya kami mendekatkan diri kepada Tuhan dan lebih sungguh-sungguh mengandalkan Dia dalam segala hal, mulai dari yang besar bahkan hal yang terkecil sekalipun.

Tempat baru adalah tantangan baru, masalah baru dan berkat baru. Sebelum dapat menentukan mau tidaknya tinggal di tempat itu, aku dapat rhema agar lihatlah berkatnya bukan penghalangnya. Karena sebesar apapun tantangan jauh lebih besar kuasa Tuhan. Jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita? Tidak ada!

Mumpung masih di awal tahun 2020 ini, aku mau mengucap syukur dan bersemangat kembali mengelola blog ini dengan lebih serius. Setiap usaha pasti akan menghasilkan buah. Aminn!

Kamis, 19 Desember 2019

Jejamuran Resto, Restoran Bagi Para Pecinta Masakan Jamur


Resto Jejamuran merupakan salah satu tempat kuliner yang patut kamu kunjungi ketika berada di Jogja. Selain masakan yang serba jamur, di tempat ini kamu bisa belajar mengenal berbagai jenis tanaman jamur.

Lebih dari sekedar restoran, Jejamuran memberikan pelayanan yang prima mulai dari tempat parkir, keamanan hingga memesan makanan semuanya oke!

Pertama kali ke sini, saya begitu terkesan dengan perlakuan para petugasnya mulai dari tukang parkir, satpam hingga kasir. Begitu datang di tempat parkir yang berada di seberang jalan restoran kita akan dibantu menyeberang jalan sehingga tidak khawatir tertabrak kendaraan yang ramai berlalu lalang.


Di bagian depan kita akan menemui sebuah corner berisi aneka jamur. Saya yang buta tentang jejamuran jadi sedikit tahu seperti apa sih, bentuk jamur merang atau jamur-jamur lain yang dimakan.


Untuk memesan makanan, kita harus memesan meja terlebih dulu tergantung jumlah konsumen. Pelayan akan menghubungi temannya yang di dalam untuk mencarikan meja yang kosong. Hal ini sangat membantu ketika restoran sedang ramai jadi kita nggak mungkin rebutan tempat dengan pengunjung yang lain.

Tempat makannya juga cukup luas jadi tak perlu khawatir akan merasa sumpek atau pengap di sini. Ada juga hiburan berupa tembang jawa lengkap dengan sinden dan gamelan.


Ada beraneka jenis masakan jamur yang disediakan di Jejamuran Resto. Sate, Jamur Bakar, Sup Jamur, Pepes, Nasi Goreng, Tumis, Karedok, Bothok, Tongseng, Rendang, aneka cemilan dan wedang jejamuran. Bagi yang ingin menikmati hidangan non-jamur tersedia juga Ayam dan Bebek.

Bagi kamu yang suka jamur, restoran ini pas banget lho! Sedikit lebih jauh dari kota Jogja tempatnya, yaitu JCM masih ke utara lagi tepatnya jl. Pendowoharjo, Niron, Sleman Yogyakarta 55512. 

Didirikan tahun 1997 oleh Bapak Ratidjo H.S yang memang aktif di P4S (Pusat Pengembangan Pertanian Pedesaan Swadaya) di bidang jamur. Restoran ini bertambah maju dan telah menerima berbagai penghargaan.

Selain restoran, ada juga spa ikan gratis, minimarket yang menyediakan aneka cemilan dan produk olahan kaleng, semua terbuat dari jamur yang bisa untuk oleh-oleh keluarga di rumah.

Uniknya setiap barang milik pengunjung yang ketinggalan akan dipajang di sebuah etalase lengkap dengan tanggal ditemukan. Saya tidak tahu apakah bisa diambil kembali oleh pemiliknya atau tidak. Kita juga bisa menemukan piagam penghargaan/sertifikat yang dipajang dan ditempelkan di tembok.


Kesimpulan: 

Nilai +:
- Pelayanan sangat baik
- Penyajian cepat
- Rasa masakan dan minuman enak
- Tempat makan nyaman
- Parkir luas

Nilai -:
- Tempatnya terlalu remang-remang

SKOR: 4,5/5 ☆☆☆☆

PETA

Senin, 16 Desember 2019

Berlibur Menikmati Suasana Pedesaan di Balkondes Kembanglimus (2)


Halooo!!!

Jumpa lagi dengan cerita perjalanan wisata di Balkondes Kembanglimus. Kalau kamu belum baca, bisa kembali ke postingan sebelum postingan ini atau klik di sini.

Puas berfoto-foto di
Punthuk Setumbu, kami kembali menyusuri jalan tak bersetapak alias masih tanah. Dan jalannya nggak ada bebatuan atau kerikil sama sekali. Hanya ada akar pohon, ranting dan dedaunan yang gugur. Kami harus ekstra hati-hati terutama saat melewati jalan menurun dan agak basah karena hujan pagi-pagi buta tadi.

Perlahan tetapi pasti kami sampai di bawah dengan selamat. Orang-orang atau masyarakat sekitar sini tentu sudah terbiasa dengan jalan naik turun seperti ini. Buktinya staff yang menemani kami dengan hitungan beberapa menit sudah berhasil jalan kaki bolak-balik untuk mengambil senter yang tertinggal di bawah sebelum bukit Rhema.

Nggak kebayang deh, kalau saya yang suruh jalan bolak-balik gitu pasti butuh satu jam-an, he, he. Maklum

Selesai menuruni bukit dengan berjalan kaki dan bersepeda rasanya lapar sekali. Untunglah sarapan kami sudah siap ketika sampai ke penginapan, yeay!! Saatnya mengisi perut.


Menu sarapan pagi ini terbilang sederhana tapi nikmat diantaranya ada Gudangan, Tumis Soun, tempe dan ayam goreng tidak lupa pelengkapnya ada sambal. Hmmm, kami langsung melahap habis semua makanan di depan kami. Ditutup dengan jus jambu yang segar membuat perut kami jadi kenyang.

Kami diberi waktu satu setengah jam untuk sarapan dan beristirahat sebelum diajak tour ke desa-desa sekitar.

Sebenarnya ada beberapa pilihan tour yang ditawarkan di Balkondes Kembanglimus selain bersepeda yaitu naik andong atau naik mobil VW. Tetapi khusus untuk giveaway kali ini adalah dengan naik sepeda.

Nanas Benggolo


Tour kami pertama mengunjungi seorang warga desa Bumen yang bernama Bapak Nurrofik, yang membudidayakan tanaman Nanas. Berawal dari coba-coba menanam mahkota daun buah nanas yang terbuang dengan menancapkannya di pot dan berbuah, akhirnya menjadi banyak sehingga hal itu menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.

Beberapa tetangga yang merasakan manisnya Nanas Benggolo mulai mengikuti jejak Pak Nurrofik membudidayakan tanaman tersebut. Kini hampir semua warga kelurahan Kembanglimus memiliki tanaman Nanas Benggolo. Sehingga bisa dibilang bahwa inilah ikon desa Kembanglimus.

Nanas ini dikenal dengan buahnya yang berukuran besar, memiliki banyak kandungan air dan segar. Agar rasa buahnya manis, Pak Nurrofik hanya akan memanen buah nanas yang kuningnya sudah benar-benar merata. Tanda bahwa nanas memang sudah masak pohon.

Perawatan Nanas Benggolo terbilang sangat mudah. Hanya perlu disiram air yang cukup, diberi pupuk kandang dan kompos. Nyaris tak ada kendala dalam proses pembibitan, perawatan dan pemanenan.


Biasanya satu pohon nanas hanya dapat berbuah satu kali dalam setahun. Meski begitu bukan berarti pohon yang sudah dipanen tidak bisa diambil manfaatnya. Pak Nurrofik akan memangkas pohon yang telah dipanen agar keluar tunas dan kembali ditanam. Dari satu pohon nanas bisa menghasilkan banyak tunas lho!

Jadi budidayanya lumayan cepat. Jadi ada dua cara mendapatkan bibit tanaman Nanas Benggolo, yaitu dari buah nanas langsung dan yang kedua dari pohon nanas yang sudah dipanen.

Sayang waktu kami ke sini, tidak ada nanas yang sudah dipanen jadi tidak bisa mencicipi rasanya. Karena penasaran kami agak memaksa membeli 2 buah nanas untuk oleh-oleh. Mungkin masih belum masak pohon betul jadi rasanya asam.

Semier dan Jetkolet


Selanjutnya kami mengunjungi rumah-rumah penduduk yang memiliki kerajinan pembuatan makanan tradisional Semier dan Jetkolet.

Jujur, saya merasa sangat asing dengan nama kedua makanan ini. Berkali-kali saya bertanya pada Mbak Nuniek bahkan menanyakan ejaannya, wkwkw.

Setelah melihat hasil matangnya, saya baru tahu kalo itu bukanlah produk asing bagi saya. Keduanya sama-sama terbuat dari bahan dasar yang sama yakni singkong atau ubi jalar.

Cara pembuatannya pun berbeda. Semier dibuat dari singkong yang diparut, ditiriskan dan dicampur dengan tepung pati serta bumbu-bumbu.


Adonan ini kemudian ditipiskan di atas sehelai daun pisang, proses penipisan ini harus dilakukan secara hati-hati agar hasilnya halus. Lalu dijemur beberapa hari hingga kering. Barulah semier ini digoreng.


Jika melihat hasil matangnya saya baru bisa menyebut ini semacam opak tetapi lebih terasa seperti kerupuk singkong (menurut lidah saya lhoo!)

Kalau kamu menyebut Semier di daerahmu apa?

Beralih dari tempat pembuatan Semier ke Jetkolet. Hmm, makanan apalagi ini?

Jarak antar rumah di daerah Kembanglimus tidak seperti di kota atau perumahan yang padat lho. Per rumah memiliki halaman yang luas, ditanami dengan beraneka pohon ada rambutan, nangka, pisang, singkong, petai, kelapa, dll. Dan memang terbukti benar bahwa Nanas Benggolo ada di setiap rumah warga desa Kembanglimus, meski tak sebanyak Pak Nurrofik tadi.

Kembali ke Jetkolet!


Jetkolet terbuat dari singkong yang sudah direbus lalu dihaluskan sama seperti pembuatan getuk. Adonan getuk ini dimasukkan ke dalam freezer agar keras, setelah keras dipotong-potong lalu digoreng.


Berbeda dengan pembuatan Semier tadi yang masih manual, pembuatan Jetkolet sudah memakai mesin.


Tetapi menggorengnya tetap sama, memakai kayu bakar. Mataku sempat terasa perih hingga bercucuran air mata karena asap yang keluar dari perapian. Duh polusi udara nih!

Memasak menggunakan kayu bakar memang diakui oleh sebagian orang membuat taste tersendiri dan lebih panas dibandingkan memakai gas. Kalau saya nyerah deh, pakai kayu bakar, he, he.

Gula Jawa


Hari makin siang, waktu kami makin menipis. Tapi ada satu lagi yang perlu kami kunjungi, yaitu pembuatan Gula Jawa.

Bagi wanita yang suaminya bekerja menjadi buruh bangunan, usaha membuat gula jawa sudah seperti menjadi kewajiban. Tujuannya tentu saja untuk menambah penghasilan dalam rumah tangga.

Penderes adalah istilah untuk orang yang mengambil air nira, bahan utama pembuatan gula jawa. Kekeringan beberapa waktu lalu membuat air nira yang dihasilkan sedikit dan memengaruhi hasil produksi gula jawa. Syukurlah sekarang sudah mulai memasuki musim penghujan. Semoga usaha pembuatan gula jawa ini semakin lancar.


Selesai sudah kunjungan wisata kami ke rumah penduduk yang sangat berkesan ini. Terima kasih buat Balkondes Kembanglimus yang sudah memberikan kesempatan menikmati tour dan staycation yang istimewa.

Saatnya kami pulang ke penginapan dan meluncur ke Borobudur, yeay!!! 

Jumat, 06 Desember 2019

Berlibur Menikmati Suasana Pedesaan di Balkondes Kembanglimus (1)

Balkondes Kembanglimus



Sudah lama saya dan suami ingin piknik ke luar kota, karena selama ini kalo jalan-jalan cuma seputaran Jogja dan Purwokerto aja. Pengen dong bisa menginap ke luar kota. Puji Tuhan pas ada keinginan itu, pas suami ikut giveway dan menang! 

Akhirnya kami bisa piknik ke luar kota dan nginep gratis. Hadiahnya ternyata nggak cuma nginep aja tapi ada aktivitas dinner, berwisata dan breakfast. Asyikk!!

Eh, tapi kan nggak ada hari libur di bulan Oktober? Tenang, sang suami mau ambil cuti 2 hari di weekday. Jadi nggak takut bakal berdesak-desakkan saat di jalan atau tempat wisata. Terutama karena lokasi penginapannya ini dekat dengan Candi Borobudur.


Mungkin sebagian teman-teman bertanya-tanya, apa sih Balkondes Kembanglimus? 

Balkondes merupakan singkatan dari Balai Ekonomi Desa yang dikelola oleh penduduk sekitar kecamatan Borobudur. Diharapkan dengan adanya Balkondes ini, ekonomi masyarakat desa Borobudur juga turut merasakan dampak ekonomi mengingat adanya tempat wisata Candi Borobudur yang sudah terkenal di dunia. Ada sekitar 20 Balkondes yang tersebar di 20 kelurahan. 

Kembanglimus adalah nama kelurahan tempat Balkondes itu berada. Lokasi tempat kami menginap ini cukup dekat dengan tempat wisata Bukit Rhema dan Punthuk Setumbu. 

Kami berangkat dari Jogja sekitar jam 9 agar bisa berwisata dulu sebelum masuk ke penginapan. Pertama kami mampir ke Bendungan Kali Progo. 

Agak siang kami sudah sampai di kawasan Candi Pawon, Candi Mendut dan Bukit Rhema. 

Baca Juga: 


Check in di Balkondes sekitar jam 3 sore. Mbak Menuk resepsionist menyambut kami dengan ramah. Ia menjelaskan aktivitas apa saja yang akan kami nikmati selama menginap di sana. 

Kamar yang kami pakai cukup nyaman, terdapat tempat tidur yang bersih, televisi, WIFi kencang dan AC. Uniknya kamar kami berupa bangunan yang semuanya terbuat dari bambu. Lagipula sekeliling penginapan adalah sawah dan ladang. Jadi terasa nuansa etnik dan pedesaan. 

Dinner Istimewa


Karena sudah melakukan perjalanan dari pagi dan mampir ke beberapa tempat, kami memutuskan untuk menikmati suasana sore di Balkondes Kembanglimus saja. Hawa dingin mulai terasa menjelang petang. Di sana ternyata hanya kami saja yang menginap maklum bukan weekend atau musimnya liburan. 

Walau sudah diberitahu bahwa kami akan mendapat dinner, perasaanku tetap saja was-was. Ha, ha...biasa urusan perut lapar itu BERBAHAYA. Kucing manis bisa berubah jadi Harimau kalau sedang kelaparan. 

Saya memutuskan untuk membuat susu agar perut nggak terasa lapar banget. Untuk menghabiskan waktu aku mencoba bikin artikel tapi gagal karena nggak konsen, wkwkwkw. 

Akhirnya panggilan dinner itu pun tiba. Nggak nyangka kirain yang namanya "dinner" cuma dikasih makanan aja. TIDAK sodara-sodara!!!

Kami disuruh duduk di tengah-tengah Balkondes sambil difoto-foto. Biasanya aku yang foto-foto ini gantian aku yang difoto. Duh! Mbak, mas kalian salah objek deh! Aku bukanlah selebgram atau influencer kece, he, he... 

Kalian tahu apa yang aku lakuin? Ya, cuma pasrah sambil senyum-senyum menahan haru. Tuhan kok tahu sih, kalo sebenarnya aku tuh ya mau dinner dengan dikasih lilin-lilin seperti ini. 

Menu pertama ada semacam Roti Tawar digoreng yang ada cokelat leleh di dalamnya. Kedua nasi goreng lengkap dengan telur dadar, fillet ikan dan acar. Penutupnya ada salad buah. Minumannya Wedang Secang. 

Biar pun sederhana, tapi hal ini akan teringat terus karena terjadi pas banget di bulan ulang tahunku. Wah, God is Good all the time deh! 

Mulai aktivitas pukul 5 pagi

Pagi di Kembanglimus kami harus bangun pagi-pagi buat ngejar sunrise. Agak bandel juga sih, harusnya bisa pergi jam setengah lima tapi karena telat bangun jadi mulur setengah jam. 

Berempat saya bersama tim jalan-jalan Balkondes Kembanglimus menuju ke Bukit Rhema dan Punthuk Setumbu. Udara pagi terasa lebih segar terutama karena sempat hujan pukul 3 pagi tadi. Lumayan jalannya jadi nggak debu banget.

Jalan menuju ke Bukit Rhema cukup menguras tenaga. Saat sepeda yang kami gunakan sudah terasa makin berat dan tidak kuat lagi menanjak kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.


Tak lama kami mencapai lokasi Bukit Rhema yang kemarin sudah sempat dikunjungi. Bukit Rhema belum buka tetapi ada paket sunrise yaitu menikmati sarapan dengan view pemandangan yang indah. Satu orang dikenai biaya 40 ribu.

Karena tidak mau melewatkan sunrise kami segera menuju ke Punthuk Setumbu. Kami harus menempuh jalan yang masih alami menembus hutan sekitar 250 meter. Jalanan kali ini naik turun dan kadang ada bagian yang licin.


Namun semuanya terbayar dengan indahnya pemandangan di Punthuk Setumbu. Dari sini kita dapat melihat bangunan Bukit Rhema dan puncak dari Candi Borobudur.

Sayang karena tadi pagi hujan, matahari yang ditunggu tidak juga muncul. Meski gagal melihat matahari terbit, saya cukup puas karena bisa mendapat pengalaman berjalan-jalan di tengah hutan.

Setelah puas menikmati suasana perbukitan, kami kembali menuju ke Kembanglimus untuk sarapan. Sepanjang perjalanan saya sungguh berdecak kagum karena para penduduk menyapa kami dengan ramah meski belum kenal.

Seperti apa sarapan kami di Balkondes Kembanglimus? Tunggu postingan saya selanjutnya ya! 

Kamis, 21 November 2019

Bukit Rhema, Tempat Wisata yang Membawa Pesan Perdamaian


Bukan Gereja


Sudah lama sekali sebenarnya saya ingin ke Bukit Rhema ini tetapi baru kesampaian pada bulan Oktober 2019. Yeay! Sempat khawatir sih, kan pernah baca review jika untuk menjangkau ke sini agak susah medannya. Nggak bisa ditempuh dengan sepeda motor atau pun mobil.

"Gereja Bukit Rhema di mana sih?" Tanya saya pada salah satu warga sekitar situ. 

"Itu bukan gereja melainkan rumah doa untuk semua agama. Jarak dari tempat parkir ke atas masih sekitar 250 meter, lebih baik pakai jeep saja. Kalau jalan kaki lumayan juga, nanti kalau mau ke puncak harus naik 7 lantai." Jelasnya mungkin sambil promo jeep biar laku, he, he.

Benar saja di depanku jalan sangatlah menanjak nyaris 90 derajat. Bukit Rhema sama sekali tidak terlihat dari sini. Saya ragu untuk jalan kaki belum lagu rasa lapar mulai terasa.

Sepeda motor kami dititipkan di sebuah lahan parkir yang memang disediakan oleh warga. Semua jenis kendaraan dilarang naik ke atas karena dikhawatirkan tidak kuat menanjak sampai atas.

Bukit Rhema 

Jika tidak sanggup berjalan naik sampai ke atas, tenang saja disediakan jeep penumpang kok. Satu orang harus membayar Rp. 7.000,- sekali jalan atau Rp. 14.000,- PP.

Karena sudah merasa lelah dan mulai agak lapar saya dan suami memutuskan untuk naik jeep saja. Ini adalah pengalaman naik jeep saya yang pertama kali dan rasanya cukup menegangkan!

Sebelum naik ke puncak bukit paling atas, jeep berhenti di bagian loket masuk. Di sini kami diminta membayar ongkos pengantaran jeep dan tiket masuk semua Rp. 68.000,-.

Harga tiket masuk ke Bukit Rhema sendiri adalah Rp. 20.000,- per orang. Dengan harga segitu kita sudah mendapatkan makanan tradisional berupa singkong goreng yang merupakan hasil bumi dari masyarakat sekitar dan juga voucher diskon sebesar Rp. 5000,- untuk pembelian kopi hitam/susu/tubruk.

Kendaraan khusus antar jemput pengunjung Bukit Rhema.


Sejarah Bukit Rhema

Mungkin diantara teman-teman heran kok bisa ada bangunan unik berdiri di sebuah bukit yang untuk dijangkau kendaraan saja masih sulit?

Sama! Saya juga penasaran. Kenapa dan untuk tujuan apa? Bahkan saya sempat berpikir orang ini pasti punya uang banyak dan bingung mau diapain, he, he..tentu bercanda teman..

Begitu kami masuk ke lantai dasar ada seorang petugas yang menyambut dan menjelaskan tentang sejarah bangunan ini.

Jadi ceritanya ada seorang bernama Daniel Alamsjah yang mendapat visi dari Tuhan untuk membangun sebuah rumah doa di tahun 1988. Rumah doa ini tidak dibuat sembarangan tetapi harus berbentuk Merpati, sebagaimana simbol perdamaian.

Mengingat Indonesia adalah negara yang luas dengan berbagai macam suku, bangsa dan agama maka rumah doa ini harus bisa dipakai untuk semua agama.

Sempat mendapat kendala namun akhirnya di tahun 1992 Bukit Rhema mulai dibangun hingga kini masih ada sekitar 25% tahap pembangunan yang masih harus diselesaikan.

Rumah Bukit Rhema berbentuk Merpati 
Menurut warga sekitar, tahun 1992 itu belum ada jalur jalan yang seperti sekarang. Satu kantong semen harus dibawa 3 kali dengan berjalan kaki menaiki bukit. Wah, kebayang kan, gimana perjuangan mewujudkan sebuah Bukit Rhema ini?

Belum lagi Pak Daniel masih bekerja di Jakarta, harus rela menghabiskan waktu di kereta setiap jumat malam dan minggu sore naik kereta api menempuh perjalanan dari Jakarta-Purworejo-Jakarta. Beliau melakukan itu kurang lebih selama 10 tahun.

Jadi kalau piknik ke Bukit Rhema masih mengeluh karena medan yang berat, harus malu sama pendirinya, he, he.

Bukan hanya rumah doa, Pak Daniel juga mendirikan Panti Rehabilitasi Betesda yang tidak jauh dari Bukit Rhema.

Lantai Dasar


Di Bukit Rhema semua pengunjung bisa berdoa dan beribadah di dalam ruangan-ruangan dari berbagai agama yang telah disediakan pada lantai dasar.

Bangunan putih berbentuk burung Merpati ini terdiri dari 7 lantai yang masih dalam tahap penyelesaian. Dalam ketujuh lantainya kita akan menikmati beberapa lukisan tentang doa, pesan akan bahaya merokok dan narkoba, kearifan lokal dan multikulturalnya Indonesia.

Ada juga cerita perjalanan bagaimana Bukit Rhema dibangun. Story telling ini dikemas dalam bentuk video yang diputar dalam bangunan bagian tengah atau bagian perut Merpati.


Saya sebenarnya tertarik mendengar sejarah bagaimana Bukit Rhema ini dibangun. Mengapa dan apa tujuannya? Tetapi saya harus menyelesaikan perjalanan ke tujuh lantai berikutnya.

Bagi yang takut ketinggian naik ke tujuh lantai lumayan bikin kaki gemetaran loh! He, he. Sempat dengar cerita jika bangunan ini angker, mengingat awalnya bukit ini kosong dan pada tahun 2000-an pembangunannya sempat terhenti dikarenakan kendala biaya.

Namun begitu saya masuk ke bangunan ini, kesan angker itu sama sekali tidak ada. Yang ada justru perasaan damai, tenang dan rasa toleransi antar umat di sini terasa sekali. Masing-masing agama diberikan fasilitas untuk berdoa yang sama dan bentuk ruangannya disesuaikan.

Saya menemukan ruangan mushola bagi umat Islam, ruang Pondok Daud untuk Kristen, ruang Katholik, Budha dan Hindu. Ada juga ruangan kecil untuk doa secara pribadi. Kita juga dapat menuliskan permohonan doa di atas kertas yang sudah disediakan. Lalu kertas yang berisi permohonan doa itu ditancapkan dalam sebuah papan doa. Nantinya doa-doa itu akan didoakan oleh siapa saja yang tergerak mau berdoa.


Naik ke Paruh Merpati

Bukit Rhema ini terletak di sebuah perbukitan Menoreh yang dikelilingi oleh beberapa gunung diantaranya Gunung Sumbing, Merbabu, Suroloyo dan Merapi. Kita dapat menikmati pemandangan yang indah dari bagian mahkota burung yang berada di lantai 7.

Jujur, saya belum pernah naik ke bangunan yang tinggi sampai 7 lantai. Tetapi lukisan dan spot instagramable di lantai-lantai sebelumnya membuat saya lebih enjoy. Sempat terbelalak melihat pemandangan di luar ternyata sudah berada di ketinggian yang cukup wow!

Kakiku sempat gemetaran ketika menaiki tangga yang terbuat dari kayu. Ya, semakin ke atas tangga dibuat dari kayu. Di lantai 6 yaitu lantai terakhir menuju mahkota kami bertemu dengan seorang anak muda yang bertugas sebagai penjaga. Tugasnya mengontrol jumlah pengunjung yang naik ke atas dan mencegah pengunjung untuk keluar melalui paruh karena akan sangat berbahaya.

Mungkin tidak boleh sampai sepuluh orang naik bersama-sama di mahkotanya, karena bisa roboh.

Kedai Bukit Rhema



Meskipun Bukit Rhema dibangun bertujuan sebagai tempat doa, ada juga spot menarik bagi pengunjung yang ingin menikmati kopi di tengah-tengah keindahan alam.

Saya memesan segelas Kopi Cinta sambil membayangkan jadi Cinta dan Rangga saat ke tempat ini. Tempat ini jadi mulai terkenal sejak diadakan syuting film AADC 2. Nggak salah pokoknya tempat ini memang luar biasaaa!

Tak lupa saya menukarkan kupon free tradisional food dulu. Singkong goreng ini dibuat oleh warga sekitar. Jadi keberadaan wisata Bukit Rhema bukan untul meraup keuntungan pribadi namun bisa berdampak bagi masyarakat sekitar.


Kalau lapar para pengunjung tidak perlu repot-repot turun gunung melewati lembah hanya demi mengisi perut. Cukup di kedai ini saja, mau makan nasi ada, cemilan dan kopi juga ada. Jangan lupa untuk menukar voucher 5k untuk membeli kopi hitam/susu/tubruk.


Tak lupa juga beli oleh-oleh souvenir khas Bukit Rhema berupa kaos, gantungan kunci, mug dll. Harganya termasuk untuk donasi bagi yayasan rehabilitasi narkoba.

Berwisata di Bukit Rhema tak lengkap rasanya jika tidak ke Punthuk Setumbu yang letaknya cukup berdekatan. Sayang jalurnya masih sulit dijangkau dengan kendaraan sehingga hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Medannya cukup terjal dan naik turun.

#PastiAdaOYO


Untunglah di sekitar Bukit Rhema ada OYO Hotels Indonesia, jadi jika lelah cukup beristirahat di Hotel Magelang dan esok harinya bisa berburu sunrise di Punthuk Setumbu.

Jalan-jalan di Bukit Rhema hari ini belum membuat saya puas karena waktunya kurang lama dan belum sempat berdoa di Pondok Daud. Andai aja saya dapat voucher 70% dari OYO Hotels maka bisa kembali menjelajah tempat wisata lain yang ada di Magelang sekaligus mengulang kembali main ke Bukit Rhema dan ke Punthuk Setumbu.



Lokasi :

Karangrejo, Gombong, Kurahan, Kembanglimus, kec. Borobudur, Magelang Jawa Tengah, Indonesia 56553

Peta:

Jumat, 15 November 2019

Yoforia, Yogurt yang Segar dan Menyehatkan



Beberapa waktu yang lalu, saya dan suami berwisata ke Borobudur. Cuaca saat itu panas banget! Biasanya saya nggak akan kuat kalo pergi jalan-jalan di bawah terik matahari gitu.

Harus banyak minum air putih dan vitamin. Untunglah saya juga membawa Yoforia, saat jalan-jalan di Candi Mendut. Segarnya Yoforia membuat tenggorokanku lega. Badan juga terasa bugar kembali siap jalan lagi. Tak hanya itu, ternyata minum Yoforia bikin kenyang lebih lama. Terbukti lho!

Ceritanya dari Candi Mendut trus ke Bukit Rhema. Harusnya sebelum ke Bukit Rhema sudah makan siang dulu, namun setelah minum Yoforia laparnya hilang. Bahkan saya masih kuat untuk naik 7 lantai dan turun kembali. Baru deh, di Kedai Bukit Rhema kami makan siang.

YOFORIA, Yogurt dengan Live Prebiotics




Tahukah kamu bahwa Yoforia ini dikirim ke seluruh Indonesia itu dalam keadaan selalu dingin. Mulai dari selesai produksi hingga sampai di tangan saya dalam kondisi dingin.

Rumit ya, jika pengiriman harus dalam keadaan dingin. Yes! Ini diperlukan supaya Yoforia tetap terjaga kualitasnya hingga ke tangan konsumen.

Yoforia menjaga agar bakteri baik dalam yogurt tetap hidup karena Fresh Yogurt Yoforia ini tidak melalui proses apa pun seperti pemanasan atau UHT setelah menjadi Yogurt. Sehingga manfaatnya terjaga.

Kalau dipanaskan maka bakteri akan mati dan percuma diminum.

Yoforia, Yogurt dengan Dietary Fiber



Yoforia ini mengandung Dietary Fiber dari buah jeruk asli sehingga teksturnya lebih lembut dan cocok untuk diet. Kandungan inilah yang membuat pencernaanmu lancar dan jadi kenyang lebih lama.

Yoforia aman diminum setiap hari untuk mengimbangi asupan gizi lain ke tubuh dan cocok untuk orang yang sedang menjalankan program diet.

YOFORIA Tidak Terlalu Asam



Buat saya tuh, Yoforia rasanya pas nggak terlalu asam. Hal ini disebabkan karena YOFORIA ini menggunakan live probiotics khusus sehingga rasa yang dihasilkan tidak terlalu asam dan teksturnya lebih creamy.

YOFORIA Banyak Tersedia Berbagai Pilihan Rasa


Banyak pilihan rasa yang disediakan oleh YOFORIA diantaranya adalah Authentique, Berry Smooth, Sousop Bliss, Blueberry Good, Coffe Cream  dan Peach Delight.

Ada juga rasa baru yang unik yaitu rasa Lychee Blast. Saya sudah mencicipi rasa Authentique, Blueberry Good, Lychee Blast dan Berry Smooth.

Pilihanku jatuh pada rasa Authentique dan Berry Smooth. Menurutku kedua rasa itulah yang paling enak diantara rasa yang lain.


This entry was posted in

Rabu, 13 November 2019

Wisata Sejarah Candi Mendut, Magelang


Setelah puas berkunjung ke Candi Pawon, saya langsung menuju ke Candi Mendut. Letaknya berada di pinggir jalan besar, jadi cukup mudah untuk menemukannya. Jaraknya sekitar 3 kilometer dari Candi Borobudur.

Candi Mendut nan megah
Keletakan Candi Mendut, Candi Pawon dan Candi Borobudur berada pada satu garis imajiner mengindikasikan adanya keterkaitan di antara ketiganya.

Didirikan sekitar tahun 824 Masehi pada masa pemerintahan Raja Indra dari Dinasti Syailendra. Dalam prasasti Karangtengah disebutkan Raja Indra telah membangun bangunan suci bernama "Crimad Venuwana" yang artinya Bangunan Suci Hutan Bambu.  J.G de Casparis, seorang arkeolog Belanda menghubungkannya dengan Candi Mendut.

Pada tahun 1834, keberadaan Mendut mulai menarik perhatian Hindia Belanda. Sebelumnya candi ini tersembunyi, hanya terlihat seperti bukit yang bersemak-semak. Banyak blok batu yang diambil oleh penduduk untuk dijadikan bahan bangunan. Pada tahun 1897 barulah diadakan perbaikan kecil dan tahun 1901 baru dilakukan rekontruksi ulang meski sempat terhenti namun akhirnya selesai di tahun 1908. 

Makara pada pintu Candi Mendut
Bangunan Candi Mendut lebih besar dari Candi Pawon. Tinggi bangunan sendiri 26, 4 meter berdiri di atas kaki candi setinggi 3,7 meter. Walau hanya satu bangunan, namun masih ada arca-arca yang terpendam di sekitar area candi. Beberapa sudah ada yang ditemukan tetapi masih dipelajari untuk disusun kembali sesuai dengan aslinya.

Baca peta dulu biar lebih jelas
Halaman kompleks ini dulunya dipagari oleh dua tembok bata, di mana sisa reruntuhan masih dapat ditemui di beberapa lokasi. Sementara di sebelah utara candi ditemukan reruntuhan fondasi sebuah bangunan besar. Kemungkinan bangunan ini dulunya bangunan suci pelengkap atau dapat juga berupa tempat tinggal biksu. 


Candi Mendut berbentuk persegi empat dengan hiasan beberapa stupa kecil, total ada 48 buah. Pintu menghadap ke barat. Terdapat 8 relief Bodhisattva dengan beragam sikap tangan. 

Di dalam candi terdapat 3 arca berukuran besar, yaitu

1. Arca Dyani Budha Cakyamuni (Vairocana)
Arca ini berada di tengah menghadap ke barat, kedua kakinya menjuntai menapak pada landasan yang berbentuk bunga teratai. Tangannya bersikap dharmacakramudra yang berarti Budha sedang memutar roda kehidupan.

2. Arca Budha Avalokitesvara (Lokesvara)

Terletak di sebelah kiri atau utara  arca Dyani Budha Cakyamuni menghadap ke selatan memiliki posisi tangan membentuk gestur varamudra (memberikan pengajaran) sedangkan tangan kirinya dalam posisi vitarkamudra (memberikan khotbah).

3. Arca Bodhisatva Vajrapani

Arca ini terletak di sebelah kanan atau selatan Dyani Budha Cakyamuni menghadap ke utara. Posisi duduk dengan kaki kanan dilipat dengan telapak kaki menyentuh paha. Sementara yang kanan menjuntai ke bawah.

Relief Candi Mendut

Relief pada dinding candi 
Ada beberapa bagian relief yang telah rusak atau tinggal potongan-potongan. Tetapi beberapa masih terlihat jelas motifnya. Ukuran relief di Candi Mendut lebih besar daripada ukuran relief Candi Borobudur. Pada bagian kaki samping dan belakang Candi Mendut terdapat 13 panil relief berhiaskan figur manusia dan binatang yang dikerubuti oleh pola dekoratif tumbuhan. 

Relief pada Candi Mendut 
Pada bagian pipi luar tangga setiap sisi diisi dengan sepuluh panil, enam panil persegi panjang dan 4 panil berbentuk segitiga. Ketigapuluh panil ini diambil dari Kitab Jataka. Satu panil menceritakan satu cerita tersendiri. Cerita Jataka atau lebih dikenal dengan cerita fabel binatang memiliki makna tentang bagaimana menjalankan kebajikan-kebajikan sebagai bekal kehidupan masa depan. Yang menggarisbawahi nila-nilai kebudhaan seperti murah hati, suka menolong dan pengorbanan diri. 


Tangga masuk ke dalam ruangan candi yang berisi arca Budha

Harga tiket masuk sendiri cukup murah yaitu Rp. 3500,00 untuk turis domestik. Tiket ini merupakan terusan ke Candi Pawon juga. Bagi yang ingin membeli oleh-oleh atau kenang-kenangan terdapat banyak kios yang menjual pernak-pernik dan asesoris bernuansa Candi Mendut.

Kios oleh-oleh dan asesories Candi Mendut 

Buddhist Monastery

Di samping candi terdapat Bangunan Wihara Budha Mendut (Buddhist Monastery) yang terbuka untuk umum. Dulunya tempat ini merupakan biara Katholik yang pada tahun 1950 tanahnya dibagi-bagi kepada rakyat tetapi kemudian dibeli oleh yayasan Budha dan didirikan wihara.

Pintu gerbang Wihara Budha Mendut
Memasuki lingkungan wihara kita akan merasakan keheningan dan kesunyian. Para wisatawan diperbolehkan masuk ke dalam taman dan halaman namun ada bagian-bagian tertentu yang mengharuskan melepas alas kaki sebelum masuk. Tidak diperbolehkan juga memasuki area tempat tinggal para biksu. 
Patung Budha berada di sebelah kiri gerbang masuk
Kuil Budha


Pintu Kuil 

Isi dari kuil

Isi dari Kuil

Taman dengan kolam air

Stupa-stupa yang berada di halaman kuil

Hiasan pada taman

Ruang ibadah

Area taman dan tempat ibadah Wihara Budha Mendut
Patung Budha
Patung Budha
Berbeda dengan area candi yang panas, di sini terdapat banyak pohon sehingga terasa sangat sejuk dan nyaman. Banyak juga spot berburu foto yang bagus bagi kalian pecinta foto. Yang terpenting jaga kesopanan selama berada di area ini karena bagaimana pun tempat ini masih aktif digunakan untuk beribadah bagi umat Budha.

Pada area sebelah dalam terdapat Gapura Hening Karta yang di bagian atasnya terdapat ornamen 4 wajah Budha (Catur Mukha) yang melambangkan 4 moralitas leluhur, yaitu Cinta Kasih (Metta), Welas Asih (Karuka), Apresiasi (Mudita) dan Keteguhan (Upekkha).

Gapura Hening Karta
Kita boleh berfoto di sini tetapi tetap sopan



Dalam kompleks candi terdapat beberapa kolam, miniatur hewan, tumbuhan dan bangunan ibadah. Kita pun dapat berbincang-bincang dengan para biksu yang akan menjelaskan mengenai apa saja di dalam rumah ibadah mereka.

Kita diperbolehkan berfoto asalkan tetap sopan dan mematuhi peraturan yang ada. Misal dilarang menggunakan alas kaki ketika masuk ke dalam sebuah kuil.


Jika lapar atau lelah kita bisa beristirahat di bawah pohon beringin. Ada beberapa pedagang makanan yang bisa dipilih. 

Alamat Candi Mendut: Jl. Mayor Kusen, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah

Harga tiket masuk: Rp. 3500,-