Rabu, 13 November 2019

Wisata Sejarah Candi Mendut, Magelang


Setelah puas berkunjung ke Candi Pawon, saya langsung menuju ke Candi Mendut. Letaknya berada di pinggir jalan besar, jadi cukup mudah untuk menemukannya. Jaraknya sekitar 3 kilometer dari Candi Borobudur.

Candi Mendut nan megah
Keletakan Candi Mendut, Candi Pawon dan Candi Borobudur berada pada satu garis imajiner mengindikasikan adanya keterkaitan di antara ketiganya.

Didirikan sekitar tahun 824 Masehi pada masa pemerintahan Raja Indra dari Dinasti Syailendra. Dalam prasasti Karangtengah disebutkan Raja Indra telah membangun bangunan suci bernama "Crimad Venuwana" yang artinya Bangunan Suci Hutan Bambu.  J.G de Casparis, seorang arkeolog Belanda menghubungkannya dengan Candi Mendut.

Pada tahun 1834, keberadaan Mendut mulai menarik perhatian Hindia Belanda. Sebelumnya candi ini tersembunyi, hanya terlihat seperti bukit yang bersemak-semak. Banyak blok batu yang diambil oleh penduduk untuk dijadikan bahan bangunan. Pada tahun 1897 barulah diadakan perbaikan kecil dan tahun 1901 baru dilakukan rekontruksi ulang meski sempat terhenti namun akhirnya selesai di tahun 1908. 

Makara pada pintu Candi Mendut
Bangunan Candi Mendut lebih besar dari Candi Pawon. Tinggi bangunan sendiri 26, 4 meter berdiri di atas kaki candi setinggi 3,7 meter. Walau hanya satu bangunan, namun masih ada arca-arca yang terpendam di sekitar area candi. Beberapa sudah ada yang ditemukan tetapi masih dipelajari untuk disusun kembali sesuai dengan aslinya.

Baca peta dulu biar lebih jelas
Halaman kompleks ini dulunya dipagari oleh dua tembok bata, di mana sisa reruntuhan masih dapat ditemui di beberapa lokasi. Sementara di sebelah utara candi ditemukan reruntuhan fondasi sebuah bangunan besar. Kemungkinan bangunan ini dulunya bangunan suci pelengkap atau dapat juga berupa tempat tinggal biksu. 


Candi Mendut berbentuk persegi empat dengan hiasan beberapa stupa kecil, total ada 48 buah. Pintu menghadap ke barat. Terdapat 8 relief Bodhisattva dengan beragam sikap tangan. 

Di dalam candi terdapat 3 arca berukuran besar, yaitu

1. Arca Dyani Budha Cakyamuni (Vairocana)
Arca ini berada di tengah menghadap ke barat, kedua kakinya menjuntai menapak pada landasan yang berbentuk bunga teratai. Tangannya bersikap dharmacakramudra yang berarti Budha sedang memutar roda kehidupan.

2. Arca Budha Avalokitesvara (Lokesvara)

Terletak di sebelah kiri atau utara  arca Dyani Budha Cakyamuni menghadap ke selatan memiliki posisi tangan membentuk gestur varamudra (memberikan pengajaran) sedangkan tangan kirinya dalam posisi vitarkamudra (memberikan khotbah).

3. Arca Bodhisatva Vajrapani

Arca ini terletak di sebelah kanan atau selatan Dyani Budha Cakyamuni menghadap ke utara. Posisi duduk dengan kaki kanan dilipat dengan telapak kaki menyentuh paha. Sementara yang kanan menjuntai ke bawah.

Relief Candi Mendut

Relief pada dinding candi 
Ada beberapa bagian relief yang telah rusak atau tinggal potongan-potongan. Tetapi beberapa masih terlihat jelas motifnya. Ukuran relief di Candi Mendut lebih besar daripada ukuran relief Candi Borobudur. Pada bagian kaki samping dan belakang Candi Mendut terdapat 13 panil relief berhiaskan figur manusia dan binatang yang dikerubuti oleh pola dekoratif tumbuhan. 

Relief pada Candi Mendut 
Pada bagian pipi luar tangga setiap sisi diisi dengan sepuluh panil, enam panil persegi panjang dan 4 panil berbentuk segitiga. Ketigapuluh panil ini diambil dari Kitab Jataka. Satu panil menceritakan satu cerita tersendiri. Cerita Jataka atau lebih dikenal dengan cerita fabel binatang memiliki makna tentang bagaimana menjalankan kebajikan-kebajikan sebagai bekal kehidupan masa depan. Yang menggarisbawahi nila-nilai kebudhaan seperti murah hati, suka menolong dan pengorbanan diri. 


Tangga masuk ke dalam ruangan candi yang berisi arca Budha

Harga tiket masuk sendiri cukup murah yaitu Rp. 3500,00 untuk turis domestik. Tiket ini merupakan terusan ke Candi Pawon juga. Bagi yang ingin membeli oleh-oleh atau kenang-kenangan terdapat banyak kios yang menjual pernak-pernik dan asesoris bernuansa Candi Mendut.

Kios oleh-oleh dan asesories Candi Mendut 

Buddhist Monastery

Di samping candi terdapat Bangunan Wihara Budha Mendut (Buddhist Monastery) yang terbuka untuk umum. Dulunya tempat ini merupakan biara Katholik yang pada tahun 1950 tanahnya dibagi-bagi kepada rakyat tetapi kemudian dibeli oleh yayasan Budha dan didirikan wihara.

Pintu gerbang Wihara Budha Mendut
Memasuki lingkungan wihara kita akan merasakan keheningan dan kesunyian. Para wisatawan diperbolehkan masuk ke dalam taman dan halaman namun ada bagian-bagian tertentu yang mengharuskan melepas alas kaki sebelum masuk. Tidak diperbolehkan juga memasuki area tempat tinggal para biksu. 
Patung Budha berada di sebelah kiri gerbang masuk
Kuil Budha


Pintu Kuil 

Isi dari kuil

Isi dari Kuil

Taman dengan kolam air

Stupa-stupa yang berada di halaman kuil

Hiasan pada taman

Ruang ibadah

Area taman dan tempat ibadah Wihara Budha Mendut
Patung Budha
Patung Budha
Berbeda dengan area candi yang panas, di sini terdapat banyak pohon sehingga terasa sangat sejuk dan nyaman. Banyak juga spot berburu foto yang bagus bagi kalian pecinta foto. Yang terpenting jaga kesopanan selama berada di area ini karena bagaimana pun tempat ini masih aktif digunakan untuk beribadah bagi umat Budha.

Pada area sebelah dalam terdapat Gapura Hening Karta yang di bagian atasnya terdapat ornamen 4 wajah Budha (Catur Mukha) yang melambangkan 4 moralitas leluhur, yaitu Cinta Kasih (Metta), Welas Asih (Karuka), Apresiasi (Mudita) dan Keteguhan (Upekkha).

Gapura Hening Karta
Kita boleh berfoto di sini tetapi tetap sopan



Dalam kompleks candi terdapat beberapa kolam, miniatur hewan, tumbuhan dan bangunan ibadah. Kita pun dapat berbincang-bincang dengan para biksu yang akan menjelaskan mengenai apa saja di dalam rumah ibadah mereka.

Kita diperbolehkan berfoto asalkan tetap sopan dan mematuhi peraturan yang ada. Misal dilarang menggunakan alas kaki ketika masuk ke dalam sebuah kuil.


Jika lapar atau lelah kita bisa beristirahat di bawah pohon beringin. Ada beberapa pedagang makanan yang bisa dipilih. 

Alamat Candi Mendut: Jl. Mayor Kusen, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah

Harga tiket masuk: Rp. 3500,-



Selasa, 05 November 2019

Badan Sehat, Kerjaan Lancar Berkat Kebaikan Alami dari Alam

dokpri

"Besok ada event blogger di Cafe X, bagi yang bisa hadir silakan daftar."


Begitu isi pesan dari WAG komunitas blogger yang kuikuti. Dalam hati saya ingin ikut, namun mengingat nanti juga ada acara lain dan besoknya juga masih ada acara, jadi kuurungkan niatku untuk mendaftar. Alasannya takut capek dan takut sakit. 

Sebenarnya sayang juga melewatkan kesempatan mengikuti acara-acara blogger seperti itu. Selain menambah jalinan pertemanan antar sesama blogger, bisa ngumpulin foto buat diupload di IG dan review tempat di blog, kesempatan belajar ilmu yang baru, kesempatan memenangkan grand prize dan semangat ngumpulin goodie bag dari sebuah acara (wkwkwk).

Meski sudah menjadi blogger aktif sejak tahun 2016 silam, saya belum pernah gabung dalam sebuah komunitas. Baru di akhir 2018, saya mulai mengenal berbagai komunitas blogger. Tak heran kalau saya cuma memiliki sedikit teman yang sama-sama terjun dalam bidang yang sama.

Ibarat katak dalam tempurung, itu pepatah yang pas buat aku. Sekarang saya mulai masuk ke dalam berbagai komunitas blogger. Berusaha kenalan sama blogger yang sudah melalangbuana dalam dunia perbloggeran.


Untuk ikut event belajar seperti ini juga butuh kondisi fisik yang prima (dok. K-Jog).

Pada November tahun lalu, saya mulai aktif mengikuti event-event blogger. Bahkan beberapa kali datang menghadiri undangan dan pulangnya dikasih uang transport. Wah, nggak pernah nyangka jika jadi blogger untuk pulang pergi saja dikasih ganti transport. 

Berbagai macam hal mulai aku tulis. Jika dulu sebelum ikut event, saya cuma bisa berkhayal dan searching google, saat ini beda. Saya harus menulis sesuai dengan apa yang didapat, dilihat dan dirasakan secara langsung. Misal review restoran maka harus benar-benar mencatat apa yang pemilik sampaikan, hidangannya bagaimana, suasana restorannya bagaimana, dsb. 

Kepekaan kelima indera saya dilatih sedemikian rupa saat mengikuti event-event atau acara kopdar blogger. Dan ujiannya setelah selesai acara, bisakah saya tuangkan di dalam blog? 


Meliput acara pameran dalam sebuah pusat perbelanjaan (dokpri).
Menulis memang kelihatannya mudah. Tinggal ketak-ketik di komputer dan tuangkan ide. Tapi bikin badan lelah dan sakit. Saya memang dari dulu mudah lelah dan gampang sekali terkena flu. Kena AC kelamaan sakit, kena angin sakit, kena hujan sakit, kebanyakan ikut acara sakit. 

Pernah lho, dalam satu minggu saya rajin ikut event blogger, seminar, dan berbagai kegiatan lain. Pokoknya hampir setiap hari ada acara keluar. Alhasil badan saya tidak kuat menahan beban, akibatnya jadi demam dan flu. 

Saat saya sedang flu, mama akan membuatkan wedang jahe agar badan menjadi hangat. Maklum, saya itu orangnya anti banget sama yang namanya kerokan, apalagi diolesin dengan minyak angin atau balsem. Rasanya jadi tambah pusing mencium aroma seperti itu. 

Sejak dulu jahe memang dipercaya dapat menjadi obat alami untuk mengatasi masuk angin atau flu. Tanaman dari Asia Tenggara ini juga dimanfaatkan sebagai bumbu masakan karena aromanya yang khas.


hellosehat.com


Cara membuat wedang jahe ala mama:

1. Jahe dicuci bersih. Dibakar di atas kompor sampai tercium wangi jahe. 

2. Kupas kulitnya dan cuci hingga bersih.

3. Geprek jahe dan potong-potong tidak terlalu kecil.

4. Rebus jahe dalam panci hingga mendidih. 

5. Saring dan masukkan ke dalam gelas, beri madu atau gula batu secukupnya. Bisa juga dikombinasikan dengan teh.

6. Sajikan hangat.

Khasiat Wedang Jahe akan lebih terasa bila ditambahkan dengan madu. Rasa jahe yang pedas dapat melegakan tenggorokan dan hidung tersumbat. Minum jahe dalam keadaan hangat juga bisa membuat suhu tubuh yang menggigil terasa lebih nyaman.

Sejak pindah ke Jogja, saya jadi suka minum Teh Jahe atau Jahe Susu. Karena hampir di setiap Angkringan yang ada di Jogja menyuguhkan Wedang Teh Jahe. Kedua jenis minuman ini sangat cocok jika diminum hangat-hangat saat masuk angin, flu atau sedang hujan. 

Herbadrink Hadir untuk Generasi Millenial yang Ingin Memanfaatkan Kebaikan Alami dari Alam

dokpri

Suka minum Wedang Jahe bukan berarti suka juga membuatnya, he, he. Membuat Wedang Jahe dengan cara tradisional cukup memakan waktu. Padahal tubuh ini sudah lelah dengan segudang aktivitas (sok sibuk nih?). Belum lagi jika sedang flu, mau bangun untuk membuatnya saja sudah males duluan.

Membakar jahe, membersihkan kulitnya lalu merebus dan menyaring sama sekali nggak praktis buat saya. Memang sih, harus pandai-pandai mengolah segala sesuatu yang alami dari alam untuk kesehatan tubuh. Apalagi Jahe itu kan, banyak sekali manfaatnya seperti mencegah mual, mengurangi rasa sakit ketika menstruasi, membantu proses detoksifikasi, melindungi dari kanker.

Salah satu kandungan yang berperan untuk mencegah kanker adalah Gingerol, Phytonutrient yang juga memberikan rasa yang khas pada jahe. Terbukti juga dapat menurunkan berat badan, kadar kolesterol dalam darah dan mengurangi tumpukan lemak dalam darah. Wah! Ternyata khasiat Jahe banyak sekali ya?

Untung saja sekarang ada kemasan praktis tinggal sobek bungkusnya, tuang ke gelas ukuran +/- 150 ml berisi air panas atau menurut selera. Kesegaran segelas Wedang Jahe sudah siap untuk dinikmati. Selain praktis, Herbadrink Sari Jahe ini terbuat dari bahan alami yang bebas pengawet, tanpa ampas, dibuat secara higienis dan dengan teknologi tinggi.

Bagi yang sedang mengurangi gula, ada juga Herbadrink Sari Jahe Sugar Free yang mengandung Sukralosa yaitu pemanis tanpa kalori. Pemanis ini sudah disetujui oleh BPOM dan sudah diperbolehkan dipakai untuk bahan makanan dan minuman di 80 negara. Sukralosa tidak memiliki efek pada metabolisme karbohidrat, kontrol glukosa darah jangka pendek maupun panjang, ataupun pelelasan insulin.

Selain Herbadrink Sari Jahe tersedia juga Herbadrink Temulawak, Kunyit Asam, Kunyit Asam Sirih, Beras Kencur, Lidah Buaya, Chrysanthemum, Wedang Uwuh.


Jumat, 01 November 2019

Hello November


Semalam hujan mengguyur Jogja. Seketika bau khas tanah yang lama tidak terkena air pun menguar. Hawa panas mulai tergantikan kesejukan yang membawa rasa syukur di hati. Doaku terkabul.

Cuaca di Jogja atau di sebagian wilayah Indonesia memang sedang panas-panasnya. Beberapa daerah mengalami kekeringan dan bencana kebakaran hampir terjadi setiap hari. Mobil pemadam kebakaran sering berlari menerobos kemacetan untuk segera memadamkan api yang entah ada di mana.

Tetapi kini di bulan baru, hujan sudah turun membasahi atap rumah, dedaunan dan tanah. Terima kasih Tuhan. Rasanya baru kemarin saya berdoa agar hujan segera turun. Dan doa itu pun didengar oleh-Nya.

Saya percaya bukan hanya saya yang berdoa supaya hujan turun tetapi banyak dari kita juga berdoa.

Hujan kembali turun. Dan hati saya kembali bersukacita. Bulan November jadilah bulan yang penuh berkat sebelum 2 bulan lagi menutup tahun 2019 ini. Lebih rajin lagi mengisi blog, ikut event, upgrade diri sendiri dan selalu berpikir positif.

Lebih banyak belajar tentang ngeblog yang nggak sekedar nulis tapi juga membuat tampilannya oke, SEO friendly dan kalo dishare bisa keluar gambarnya. Hu, hu kemarin habis ngutak-ngutik kode html lagi. Padahal aslinya saya nggak mudeng blas. Untung ada google. Masalah itu bisa teratasi. Semoga lancar terus untuk selanjutnya. Dapet job dan bisa menangin lomba blog (amin).

Juga bersiap untuk menulis kisah balik setahun dan harapan apa yang ingin dicapai di tahun yang baru. Nabung buat beli mobil dan ngisi perabot rumah. 




Rabu, 30 Oktober 2019

Sudah 11 Tahun, Ini Kesanku Setelah Setahun Bersama Kompasiana

Makin Sayang dengan Kompasiana Setelah Setahun Bersama


Acara Nobar pertamaku bersama K-Jog (IG K-Jog).

Setahun sudah berlalu, tepat pada tanggal 13 November 2018 saya pertama kali menulis di sebuah platform blog Kompasiana.  Berawal muka dari ketertarikan saya untuk mengikuti lomba blog menulis cerpen tema generasi solutif Kompasiana.


Meski sudah lama membuat akun di sana, tetapi saya tidak tahu apa yang harus ditulis di sana. Parahnya saya bahkan tidak tahu bagaimana membuat artikel di Kompasiana. Mungkin kalau Kompasiana tidak mengadakan lomba itu saya belum menulis sampai sekarang.

Segala sesuatu memang akan indah pada waktunya. Dan saya percaya bahwa setahun yang lalu adalah waktu yang indah perkenalan saya dengan Kompasiana. Bukan karena jadi pemenang dalam lomba, kenyataannya saya kalah dengan peserta lain. Kalah pengalaman, kalah kemampuan menulis. 

Meskipun tidak menang saya justru mendapat kemenangan. Membuat tulisan pertama di sebuah platform blog di mana tempat berkumpulnya para penulis berbobot berkumpul. Dan kini saya bisa memiliki peluang yang sama dengan mereka menjadi penulis berbakat.

Pengalaman menulis pertama itu membuka pintu kesempatan berikutnya. Siapa sangka, saya malah bisa bergabung di dalam sebuah komunitas bernama Kompasiana Jogja (K-Jog). Yang tadinya saya tidak tahu ada komunitas itu di Jogja. Lewat K-Jog saya berpeluang mendapat ilmu lebih banyak lagi.

Melalui K-Jog, saya bisa berkenalan dengan para penulis dalam satu kota dan mengikuti event baru seperti Nobar, Nangkring bareng K-Jog, Download Ilmu K-Jog dll. Di sini saya mendapatkan teman-teman baru, ilmu baru, pengalaman baru dan cara menulis review film yang baik. Lewat K-Jog saya tahu bagaimana cara menulis review film tanpa spoiler.

Lewat event-event K-Jog perlahan saya mulai mengisi artikel di Kompasiana sampai sekarang.

Kompasiana #BeyondBlogging


Ini adalah event K-Jog pertama yang kuikuti, saat itu artikelku baru satu (IG K-Jog).
Menulis di Kompasiana berbeda dengan menulis di blog, sesuai tagline-nya "#BeyondBlogging".

Menulis di Kompasiana bukan sekedar ngeblog. Di sini saya mendapatkan lebih banyak pengalaman dibanding menulis blog biasa.

Contohnya ada kejutan-kejutan manis ketika  tiba-tiba tulisan saya diberi label "Pilihan" oleh Kompasiana. Maka poin yang saya dapatkan akan lebih banyak ketika masuk dalam artikel pilihan.

Saya tidak tahu fungsi poin itu untuk ditukar apa. Setelah bertanya dengan sesama anggota Kompasiana ternyata bisa ditukar dengan uang. Tetapi syaratnya agak berat yaitu harus bisa masuk dalam artikel pilihan dan headline. Total view minimal 3000 untuk semua konten yang ditulis selama 1 bulan periode.

Buat para penulis yang sudah rajin masuk artikel headline tentu tidak berat. Namun bagi saya hal itu adalah bonus. Karena menulis sesungguhnya sarana penyalur hobi, sarana mengasah bakat dan sarana untuk mengukir jejak sejarah pribadi seseorang. Bonus dari ketekunan adalah hasil, maka tetap ada potensi menambah penghasilan dengan menulis artikel di Kompasiana.

Beyond blogging patut disematkan ke Kompasiana karena setiap artikel yang diupload akan diteliti sudahkah memenuhi ketentuan. Jika belum, maka akan dihapus dan diberi peringatan.

Ketentuan ini meliputi gambar ilustrasi yang dicantumkan dalam konten. Sudahkah mencantumkan sumbernya dari mana. Bila dokumen pribadi juga harus diberi keterangan, agar tidak dihapus oleh editor.

Ibarat kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Maka setelah setahun menjadi seorang Kompasianer, walau belum seproduktif para senior saya di platform ini, saya jadi makin sayang dan enggan untuk berhenti belajar menulis. 

Ditambah makin banyak lomba blog dan event yang diadakan oleh Kompasiana. Ada yang mengatakan jika ikut lomba di Kompasiana kemungkinan menang itu lebih besar. Karena tak seperti blog pribadi, yang menampilkan berbagai efek visual, infografis dan video yang wow! Kompasiana lebih cenderung padat tulisan.

Maka jika suka berkompetisi, lomba blog di Kompasiana bisa jadi tempat berjuang menulis sebaik mungkin. Dan dapatkan hadiah-hadiah yang sangat menarik seperti hadiah motor pada event lomba Samber THR kemarin.

Mengapa Menulis di Kompasiana?

Setelah hampir satu tahun ini, total saya telah menulis 14 artikel. Tidak produktif memang dibanding dengan teman-teman kompasianer yang lain.  Saya hanya menulis di saat ada event K-Jog yang mewajibkan menulis review, selebihnya saya kadang membuat artikel sesuai topik pilihan yang menarik. 

Pernah mengalami kesulitan login juga ke Kompasiana yang ternyata juga dialami oleh Kompasianer lain. Untunglah, saya bisa kembali masuk dan menulis lagi di sana. 


SS pribadi 

Salah satu alasan yang paling kuat buat saya adalah karena di Kompasiana tidak perlu repot untuk mengotak-atik tampilan, teknik SEO atau cari kata kunci. Cukup tulis, upload foto yang sesuai dan publish. Tak perlu pusing bagaimana mencari pembaca karena dengan sendirinya tulisan-tulisan di Kompasiana akan dicari.

Akun Kompasianaku bisa diklik di sini.

Adanya tim editor juga membuat tulisan yang ada di Kompasiana menjadi lebih berbobot dan jika ada yang kurang sesuai maka akan mendapat surat peringatan. Bahkan jika kita mendapat komentar yang kurang sesuai bahkan bernada negatif kita bisa melaporkannya. Maka komentar itu akan dihapus.

Kejutan manis ketika artikel yang ditulis ternyata masuk menjadi pilihan editor bahkan menjadi headline. Maka kemungkinan akan menerima reward menjadi lebih besar.

Tidak perlu takut kehabisan ide dan bahan bacaan karena ide itu bertebaran di Kompasiana. Kebanyakan artikel yang ditulis di sini adalah artikel ringan dan berbobot jadi pantas untuk dijadikan bahan bacaan jika sedang kering ide.

Topik pilihan juga bisa menjadi sebuah ide untuk menulis. Saya beberapa kali menulis berdasarkan topik pilihan, salah satunya tulisan "Bisnis Rokok Ibarat Dua Sisi Mata Uang"  

Jadi seandainya mau menulis tiap hari sepertinya tidak akan takut akan kehabisan ide. Salut juga sama para penulis di Kompasiana yang rajin menulis setiap hari.

Harapan untuk #11TahunKompasiana

Tim Kreatif Kompasiana
Di usia ke-sebelas ini, harapan saya adalah Kompasiana bisa terus menjadi media yang ramah bagi para penulis pemula seperti saya. Menjadi ajang tempat belajar menulis, tempat bagi para anggotanya saling memberi apresiasi berupa like, jumlah pembaca dan komentar.

Terus mengadakan event-event menarik dan senantiasa menyaring tulisan-tulisan yang masuk. Agar Kompasiana tetap selaras dengan dasar negara kita yang Bhineka Tunggal Ika, Pancasila dan menjadi media pemersatu bangsa.

Selamat Ulang Tahun 
KOMPASIANA
Sukses dan Jayalah Selalu

TERIMA KASIH

Jumat, 25 Oktober 2019

Candi Pawon, Bangunan Bersejarah yang Berada di Permukiman Rumah Penduduk


Berwisata ke kecamatan Borobudur tentu sayang jika tidak mampir ke Candi Pawon ini. Letaknya cukup unik, yaitu berada di antara permukiman rumah penduduk.

Sebelum memasuki halaman pelataran candi, saya melewati beberapa rumah penduduk yang diberi dekorasi bebatuan mirip nuansa Bali. Di atas pagar-pagar rumah juga diberi hiasan replika arca Candi Borobudur.

Candi Pawon jika dilihat secara sekilas bentuknya ramping, namun di bagian puncak ada bentuk stupa-stupa yang bulat, ciri khas dari Candi Budha. Ukurannya lebih kecil jika dibanding dengan Candi Mendut dan letaknya berada cukup dekat dengan rumah penduduk.

Bangunan candi menghadap ke barat dengan pagar besi di sekelilingnya setinggi 1 meter. Memiliki 1 ruangan yang kosong dan memiliki lubang angin. Semula diduga di dalam candi ada arca Bodhisattva, sebagai penghormatan kepada Raja Indra yang telah mencapai tataran Bodhisattva. Terdapat ukiran dan hiasan di dinding luar candi berupa makhluk setengah manusia setengah burung (kinnara-kinnari*1), ukiran motif daun-daunan dan bunga.

Di bagian kanan dari pintu masuk terdapat sebuah makara*2 yang terlihat sudah tidak utuh lagi. Susunan candi terbuat dari batu adesit mirip dengan batu milik Candi Mendut. Di atas pintu masuk terdapat hiasan kala*3.

Diperkirakan didirikan pada pertengahan abad VIII hampir bersamaan dengan Candi Mendut dan Candi Borobudur. Dilihat di dalam peta, candi ini berada di tengah-tengah garis lurus antara Candi Mendut dan Candi Borobudur. Ditemukan pada akhir abad ke-19 dalam keadaan rusak tertimbun semak-semak. Kemudian mulai dipugar pada tahun 1897-1904 dilanjutkan kembali tahun 1908 oleh Van Erp.

PAWON bila dalam bahasa Jawa berarti "dapur". Awalnya saya mengira bahwa ini adalah candi untuk dapur ditambah dengan adanya lubang angin di berbagai sisi candi. Namun setelah mencarai referensi ternyata seorang ahli epigrafi J.G. de Carparis mengartikan "Pawon" sebagai perawuan atau perabuan. Karena tempat ini dimanfaatkan juga sebagai tempat menyimpan abu jenazah Raja Indra (782-812 M) atau Ayah Raja Samaratungga pada masa dinasti Syailendra.

Candi ini juga kerap disebut Candi Brajanalan yang memiliki fungsi untuk menyimpan senjata Dewa Indra, Dewa Petir dan Halilintar, Vajranala" yang berasal dari bahasa Sansekerta, "vajra" yang berarti halilintar dan "anala" yang berarti api. Nama Brajanalan sendiri merupakan nama dusun Brojonalan tempat candi ini berada.

Ada beberapa kios cinderamata yang ada di sebelah kiri candi. Sewaktu masuk ke candi, saya tidak melihat ada petugas atau pengunjung lain. Bahkan baru sadar harus membeli tiket masuk dulu setelah ada wisatawan asing yang datang dan membeli tiket di loket.

Ternyata letak loket ada di sebelah kanan sekitar 20 meter di depan candi. Dan tiket masuknya cukup murah hanya Rp. 3500/orang. Itu pun berlaku sekaligus masuk ke Candi Mendut.

Keterangan:
1. Kinnara-kinnari: Hiasan candi yang berbentuk makhluk kayangan berbadan burung berkepala manusia. Sering ditemukan dalam relief candi dengan posisi mengapit pohon kalipataru.

2. Makara: Patung hiasan yang terdapat pada kanan dan kiri pintu candi. Bentuknya bisa berupa perpaduan antara gajah, ular, buaya dan naga.

3. Kala: Hiasan candi yang berbentuk kepala manusia, kadang lengkap dengan rambut, rahang bawah dan tangan. Biasa di atas gapura pintu candi.

Referensi:
- https://www.google.com/amp/s/sejarahlengkap.com/bangunan/sejarah-candi-pawon/amp
- https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/candi-pawon/

Alamat: Brojonalan, dusun 1, Wanurejo, Kec. Borobudur, Magelang, Jawa Tengah 56553.

PETA:

Rabu, 23 Oktober 2019

Kuliner Pagi Hari, Menikmati Segarnya Soto Rempah Jogja


Bicara soal kulineran di Jogja seakan nggak ada habisnya ya, teman? Tetapi kalau mau kulineran pagi hari saya suka bingung cari menunya. Apalagi kalau pas dapat jadwal tugas doa pagi di gereja. Duh, jadi nggak keburu bikin sarapan untuk suami.

Bila sudah begitu, solusinya adalah membeli makanan siap santap, he, he.

Di antara sekian banyak soto yang dijual saat pagi hari, Soto Rempah di kawasan Mantrijeron, tepatnya di Jl. DI. Panjaitan No. 98 Yogyakarta sudah menjadi pilihan pas di hati, pas di lidah dan ramah di kantong. Letaknya nggak jauh-jauh banget dari alun-alun kota Jogja (wajib banget pulang dari gereja lewat sini, he, he), lalu melewati perempatan Plengkung Gading ke selatan sebelah kanan jalan.

Fyi nih, suamiku tuh, nggak suka soto. Tetapi sejak diajak sama saya makan di sini, eh, dia langsung cocok. Terutama rasa kuahnya itu mantap dan awet panasnya. Belum lagi tempe gorengnya yang maknyuss pengen dilahap terus sampai kenyang. 

Ciri khas dari Soto Rempah ini adalah penyajiannya di mangkok yang terbuat dari batok/tempurung kelapa. Isinya terdiri dari nasi, soun, kol, taoge, daun bawang, seledri, irisan tomat dan suwiran daging sapi atau ayam. Kuahnya bening khas soto Jogja lainnya. Jangan takut sama judulnya dengan adanya kata-kata rempah di sini, karena sama sekali tidak terasa kayak jamu.

Awalnya saya agak takut mendengar 'Soto Rempah' karena trauma pernah beli soto rempah juga tapi baunya khas bau jamu. Namun Soto Rempah di sini bedaaa. Sampai heran saya, kenapa dikasih nama itu? Kan, nggak berasa rempah-rempahnya? 

Menjadi sensasi tersendiri bila makan soto rempah, selain kuahnya nggak dingin-dingin alias awet panasnya, kita bakalan makan sambil diiringi musik gamelan yang syahdu. Bukan live perform sih, tapi dari mp3 yang diputar.


Buat saya tak lengkap makan soto tanpa asesoris alias makanan pendamping berupa kerupuk atau tempe goreng. Dan makan Soto Rempah itu wajib banget hukumnya harus sama pesan tempe goreng.

Tempe goreng yang dijual oleh Soto Rempah mirip tempe goreng rumahan hanya lebih garing dengan tepung tipis di luarnya. Pantas saja para pembeli soto selalu berebut minta tempe bahkan ketika tempe baru digoreng. Hits banget ya Si Tempe ini, he, he. 

Seporsi Soto Ayam atau Soto Sapi dibanderol harga Rp. 8000 saja. Semua sudah pakai nasi. Minuman mulai harga Rp. 2000 sampai Rp. 2500. Sementara harga tempe goreng cuma seribuan. Wow! Murah banget, kan?

Warung Soto Rempah ini buka pukul 7 pagi sampai pukul 2 siang. Kadang saking larisnya, jam sebelas sudah tutup. Sebaiknya sih, ke sini antara jam 7-9 pagi, biar nggak kehabisan karena selalu banyak pembeli setiap harinya.

Bagi kalian yang ingin mencicipi Soto Rempah ini dan belum tahu tempatnya, bisa melihat di bawah.

Kesimpulan:

Nilai + :
1. Cara penyajiannya unik, yaitu memakai mangkok batok
2. Kuahnya awet panas
3. Kaldunya terasa
4. Tempe goreng yang garing
5. Harganya murah meriah
6. Ada tempat parkir motor
7. Parkir gratis

Nilai - :
1. Tempatnya sempit
2. Tempe gorengnya terlalu cepat habis
3. Tidak ada tempat parkir mobil

SKOR : 4/5 ☆☆☆☆

PETA:

Senin, 21 Oktober 2019

Catatan Wisata ke Candi Borobudur, Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO



Siapa yang tidak tahu dengan Candi Borobudur? Pasti semua sudah tahu tentang keberadaan candi yang telah terdaftar menjadi salah satu situs warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1991. Candi Budha terbesar ini terletak di kabupaten Magelang atau di sebelah barat laut kota Yogyakarta.

Setelah check out dari Balkondes Kembang Limus sayang rasanya jika tidak mampir ke Candi yang memiliki 1460 relief dan 504 stupa ini. Kami memutuskan untuk memarkir motor di depan pertigaan pintu gerbang candi.

Untuk masuk ke dalam area candi lumayan jauh jalannya. Dari depan pintu masuk Candi Borobudur sama sekali tidak kelihatan karena tertutup oleh pepohonan yang ada di sekitarnya.

Begitu masuk ke halaman dekat loket penjualan tiket masuk, kami langsung disambut oleh para penjual topi dan juga pemberi jasa sewa payung. Berada di area candi itu memang panas apalagi pada siang hari. Bisa-bisa sepulang dari candi wajah kita gosong, tetapi tampaknya saat saya ke sana cuaca sedang mendung. Biar cuaca mendung, tetap disarankan pakai topi atau payung agar kesehatan kulit tetap terjaga, ciee!

Setelah mendapat tiket, kami melewati pintu masuk. Bagi yang membawa tas harus bersedia untuk diperiksa, karena tidak boleh membawa makanan. Jika ketahuan membawa makanan maka harus dititipkan ke petugas. 

Harga tiket masuk Candi Borobudur bagi wisatawan domestik Rp.50.000,- (dewasa), anak-anak Rp.25.000,-  sedang untuk wisatawan asing 25 dolar atau sekitar 350 ribu. 

Masuk dari pintu masuk ke pelataran Candi ternyata masih jauh. Karena suami masih terasa pegal kakinya setelah naik sepeda ontel, saya nawarin naik sepeda lagi begitu melihat ada fasilitas penyewaan sepeda. Yang tentu saja ditolak mentah-mentah sama suami. He, he.


Sambil menunggu tanda-tanda alternatif lain agar bisa ke candi, kami duduk di bawah pohon yang rindang. Saya bersiap mengeluarkan senjata eh, peralatan untuk melawan terik sinar matahari yaitu topi, payung dan syal. Tapi syal akhirnya tidak dipakai karena ternyata jadi bikin saya merasa tambah gerah alias sumuk. 

Untuk masuk ke Candi Borobudur, para pengunjung diberi alternatif naik sepeda ontel dengan membayar uang sewa Rp. 15.000,-/sepeda, bisa juga naik kereta mini Rp. 10.000,-/orang, tayo Rp.15.000,-/orang dan kereta golf Rp.20.000,-/orang. Daripada kehabisan tenaga sebelum menaiki lantai candi, kami pun memilih naik kereta mini.

Ternyata kami diajak berputar-putar dulu melewati pepohonan dan taman sebelum akhirnya memasuki lingkungan candi. Sempat terkantuk-kantuk di dalam kereta mini, akhirnya saya turun dan ini dia candinya!


Saya sangat bahagia sekaligus terkejut ketika datang ke Candi Borobudur. Ternyata demi mencapai pelataran candinya saja harus melewati ratusan anak tangga. Huaaa! Ayo, kuatkan tekadmu! 

Sebelum datang ke sini, saya sudah browsing dulu tentang candi ini. Dibutuhkan trik agar tidak kehabisan tenaga sebelum mencapai tingkat paling atas yaitu tidak usah berjalan memutari candi di setiap lantainya. 

Jadi saya tidak memutari candi di tingkat pertama sampai tingkat ke sepuluh, cukup melihat-lihat relief dan patung di bagian kanan dan kiri tangga. Setelah itu, baru pindah ke tingkat berikutnya dan di tingkat yang paling atas saya memutari arca yang paling besar untuk mengetahui sudut-sudut candi di lantai yang lebih bawah.

Bagi saya yang menyukai foto tanpa ada gambar orang di dalamnya, jadi agak sulit untuk memotret bagian candi yang tidak ada pengunjungnya terutama di bagian paling atas. Padahal saya datang pas weekday. Tak terbayangkan bagaimana penuhnya lokasi ini dengan turis di saat musim liburan atau weekend.

Di tingkat atas banyak ditemui para pengunjung yang masih saja duduk, berdiri bahkan memanjat ke atas arca. Mereka tidak mengindahkan tanda peringatan untuk tidak naik ke atas arca.

Sebenarnya bukan karena para petugas atau pengelola Candi Borobudur yang pelit melarang ini dan itu, tetapi hal ini dilakukan agar situs warisan budaya dunia bangsa kita tetap terjaga.

Jejak Sejarah Pada Candi Borobudur


Di bagian depan pintu masuk candi terdapat dua patung singa yang khas biasa ada pada tempat ibadah umat Budha.

Untuk naik ke tingkat selanjutnya harus melewati tangga yang jaraknya lumayan tinggi antara anak tangga. Baru sadar sewaktu mau turun ternyata tangganya cukup curam juga (hadech, ketahuan kan kalo aku ini takut ketinggian). Untunglah ada pegangan besi yang bisa membantu untuk berpegangan.

Ketika ke sini, saya baru ngeh, kalau Borobudur ini sudah banyak mengalami pemugaran dan banyak bagian-bagian batu yang sudah bukan aslinya. Dan candi ini beneran cuma batu-batu yang ditumpuk terbukti ketika saya menginjak lantainya, itu terkesan seperti sedang berjalan di atas kerikil yang goyah.

Mungkin inilah sebabnya, kenapa dilarang untuk menaiki, memanjat bahkan menyentuh patung Budha yang ada di dalam stupa berongga. Karena tekanan atau gerakan memanjat arca, bisa membuat susunan batu bergeser dan membuat relief teratai di atasnya hilang.

Diduga dibangun pada jaman Syailendra dengan arsiteknya Gunadharma yaitu sekitar 750-850 tahun Masehi. Candi Borobudur diduga sempat terbengkalai berabad-abad lamanya dan terkubur oleh lapisan tanah, abu vulkanik dan ditumbuhi oleh pepohonan sampai ditemukan oleh Raffles. Tetapi  setelah mengalami proses pemugaran beberapa kali dan pemugaran besar-besaran pada tahun 1973 yang didukung oleh UNESCO, Candi Borobudur sekarang dipakai sebagai tempat ziarah umat Budha pada hari raya Waisak, selain berfungsi  juga sebagai tempat wisata budaya.


Konsep Bangunan Candi Borobudur yang Mengagumkan

Bila dilihat dari atas, Candi Borobudur ini membentuk pola Mandala yang besar. Mandala adalah konsep rumit yang tersusun atas bujusangkar dan lingkaran yang melambangkan kosmos atau alam semesta yang ditemukan dalam Budha aliran Wajrayana-Mahayana.

10 tingkatan yang dimiliki Borobudur secara keseluruhan menggambarkan filosofi kehidupan pikiran alam semesta dalam ajaran Budha. Untuk memperoleh kesempurnaan hidup, maka manusia harus melalui 10 tingkatan Bodhisattva.

Tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Budha ada 3:

1. Kamadhatu


Bagian kaki candi melambangkan Kamadhatu, yaitu tahap yang paling rendah di mana kehidupan manusia masih dikuasai oleh nafsu dunia. Bagian ini sekarang tertutup oleh kontruksi tambahan batu adesit sehingga panel 160 panel cerita Karmawibhangga tidak terlihat. Kontruksi ini dibuat untuk memperkuat susunan Candi Borobudur yang memang terletak di atas tanah yang mudah goyah.

2. Rupadhatu


Bagian ini berupa empat teras berundak yang membentuk lorong yang pada dindingnya terdapat galeri relief. Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1212 panel berukir dekoratif.

Pada tahap ini, manusia sudah dapat membebaskan diri dari nafsu tapi masih terikat pada rupa dan bentuk. Terdapat patung-patung Budha yang ditaruh di atas dinding. Terdapat sekitar 432 arca Budha di bagian ini.

3. Arupadhatu


Arupadhatu artinya tidak berupa atau tidak berwujud. Pada tingkat kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Bentuknya secara keseluruhan adalah melingkar bukan bujur sengkar seperti di bagian bawah. Di sini digambarkan manusia sudah terbebas dari segala bentuk keinginan, ikatan bentuk dan rupa namun masih belum mencapai nirwana. Ada 3 teras lingkaran yang dihiasi oleh stupa berongga  berbentuk lonceng dengan patung Budha di dalamnya. Total ada 72 stupa kecil dengan pembagian 3 lantai masing-masing, 32, 24 dan 16. Semakin ke atas makin sedikit.

Dan pada tingkatan yang tertinggi adalah stupa yang paling besar. Stupa ini melambangkan ketiadaan wujud yang sempurna. Stupa ini tidak berisi patung, menggambarkan makna kebijaksanaan tertinggi yaitu kesunyian, ketiadaan sempurna di mana tidak ada lagi ikatan dengan nafsu, keinginan dan bentuk.

Tinggi stupa utama ini mencapai 35 meter tanpa Chattra (payung susun tiga) yang sekarang dilepas. Bila dipasang maka akan mencapai tinggi 42 meter. Puncak stupa utama ini juga berbeda dengan stupa yang kecil, yakni berbentuk persegi bukan melingkar.

Fasilitas yang Terdapat di Kawasan Candi Borobudur

Selain berwisata di area candi, kita juga bisa mengunjungi beberapa fasilitas yang ada di dalam area Taman Candi Borobudur yang sangat asri penuh dengan pepohonan. Antara lain:

1. Andong Tilek Deso

Paket wisata Andong Tilek Deso akan membawa wisatawan berkeliling ke desa-desa yang ada di sekitar candi dan menikmati pemandangan alam yang terdapat di sekitar candi.

2. Kereta Mini, Mobil Tayo dan Mobil Golf

Fasilitas kendaraan bagi pengunjung ini bisa dinikmati untuk berkeliling taman dan pulang pergi dari pintu masuk-area candi dan sebaliknya. Untuk tiket kereta mini Rp. 10.000,- mobil Tayo Rp. 15.000,- dan Mobil Golf Rp. 20.000,-.

3. Cafe Manohara dan Audio Visual


Ada juga cafe khusus yang terdapat di area Taman Candi Borobudur ini. Di sebelah cafe, ada juga ruangan audio visual untuk menonton film pendek Candi Borobudur.

4. Atraksi Gajah

Di tempat ini juga terdapat kandang gajah, di sini bisa melihat dan memberi makan gajah. Untuk mendapat fasilitas ini perlu membayar Rp. 5000,- per orang.

5. Kereta Kencana Keliling Candi

Candi Borobudur
Kereta Kencana Keliling Candi

Mirip andong, kereta ini cuma berputar-putar untuk mengelilingi taman di sekitar candi.

6. Museum Kapal Samudera Raksa


Museum ini mengabadikan perjalanan bersejarah kapal Samudraraksa dari Indonesia menuju Afrika menapaki kembali jalur perdagangan rempah-rempah yang dilakukan bangsa Indonesia berabad-abad lampau. Ekspedisi ini diilhami oleh relief-relief kapal yang ada pada Candi Borobudur.

7. Museum Borobudur


Museum Borobudur terletak di dekat pintu keluar. Bagi wisatawan yang ingin mengetahui berbagai informasi mengenai Candi Borobudur. Di sini juga disimpan berbagai arca yang merupakan bagian dari Candi Borobudur atau yang ditemukan di sekitar candi.

8. Jemparingan dan Tempat Foto

Bagi yang ingin eksis di sosial media bisa memakai jasa tukang foto yang akan membantu mencari spot foto yang pas. Atau bisa juga berfoto gaya jaman dulu dan memanah. Untuk biayanya, saya kurang begitu memperhatikan sepertinya sekitar Rp. 20.000,- saja. 

9. Toilet dan Mushola

Fasilitas dua ini paling penting dalam perjalanan wisata terutama untuk cewek. Biar nggak kena gejala ISK, iya kan? 


10. Pasar Seni dan Cinderamata

Bila kita ingin membawa oleh-oleh khas Borobudur, bisa dengan mudah ditemukan di dalam kios-kios yang bentuknya mirip labirin berkelok-kelok. Pasar ini berada di gerbang pintu keluar jadi otomatis jalan keluar dari candi menjadi makin jauh. Saran untuk pihak pengelola, sebaiknya pasar ini jangan dibuat seperti ini. Sehingga tidak terkesan ketika datang dibuat dekat tapi untuk keluar dibuat berputar-putar.

Tips untuk berlibur ke Candi Borobudur:


1. Bawa topi atau payung kecil sehingga tidak terpanggang saat di area candi. Berjalan di antara bebatuan dan di bawah sinar matahari sungguh sangat panas, jadi sebaiknya pakai pakaian yang nyaman.

2. Berpakaian yang sopan mengingat bahwa Candi Borobudur adalah tempat untuk beribadah umat Budha.

3. Patuhi petunjuk dan larangan yang ada pada area candi. Perhatikan mana jalur untuk masuk dan keluar area candi agar tidak macet mengingat area candi cukup sempit. Kemarin saya cukup terganggu dengan pengunjung yang turun di tangga naik jadinya bikin terhambat untuk berjalan. Belum lagi rok yang dipakai cukup panjang sehingga sangat berbahaya jika seandainya terinjak orang yang dibelakangnya.

4. Bawa air minum sendiri. Sepanjang di area candi kemarin saya bisa menghabiskan satu botol air mineral lebih padahal saya termasuk orang yang jarang minum jika sedang jalan-jalan seperti ini.

5. Tidak usah membawa bekal makanan. Di area candi dilarang untuk membawa makanan apalagi buah-buahan, jika ketahuan siap-siap aja dimarahin satpam dan seluruh pengunjung akan memperhatikan kita.  Kenapa tidak boleh? Karena jika ada makanan atau biji yang jatuh maka dikhawatirkan akan terdapat sampah dan bila jatuh di antara batu-batu dan bisa tumbuh pohon. Hal ini disebabkan karena batu-batu pada candi tidak diberi lem atau perekat apa pun.

6. Tidak perlu menyentuh patung Budha yang ada di dalam arca berlubang, karena bisa merusak susunan batu-batunya dan patung di dalamnya. Serta membuat relief di sekitar arca bisa hilang.

7. Perhatikan juga papan larangan ini untuk selalu menjaga kebersihan, dilarang mencoret-coret, dilarang merokok, dilarang memindah batu, dilarang duduk di stupa dan pagar, dilarang membawa makanan, dilarang memanjat, dilarang membawa senjata, dilarang membawa alat musik, dilarang membawa drone dan binatang peliharaan.




Sumber informasi: 
-https://id.m.wikipedia.org/wiki/Borobudur
-https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/candi-borobudur/
Foto: Dokumen pribadi