Kamis, 21 November 2019

Bukit Rhema, Tempat Wisata yang Membawa Pesan Perdamaian


Bukan Gereja


Sudah lama sekali sebenarnya saya ingin ke Bukit Rhema ini tetapi baru kesampaian pada bulan Oktober 2019. Yeay! Sempat khawatir sih, kan pernah baca review jika untuk menjangkau ke sini agak susah medannya. Nggak bisa ditempuh dengan sepeda motor atau pun mobil.

"Gereja Bukit Rhema di mana sih?" Tanya saya pada salah satu warga sekitar situ. 

"Itu bukan gereja melainkan rumah doa untuk semua agama. Jarak dari tempat parkir ke atas masih sekitar 250 meter, lebih baik pakai jeep saja. Kalau jalan kaki lumayan juga, nanti kalau mau ke puncak harus naik 7 lantai." Jelasnya mungkin sambil promo jeep biar laku, he, he.

Benar saja di depanku jalan sangatlah menanjak nyaris 90 derajat. Bukit Rhema sama sekali tidak terlihat dari sini. Saya ragu untuk jalan kaki belum lagu rasa lapar mulai terasa.

Sepeda motor kami dititipkan di sebuah lahan parkir yang memang disediakan oleh warga. Semua jenis kendaraan dilarang naik ke atas karena dikhawatirkan tidak kuat menanjak sampai atas.

Bukit Rhema 

Jika tidak sanggup berjalan naik sampai ke atas, tenang saja disediakan jeep penumpang kok. Satu orang harus membayar Rp. 7.000,- sekali jalan atau Rp. 14.000,- PP.

Karena sudah merasa lelah dan mulai agak lapar saya dan suami memutuskan untuk naik jeep saja. Ini adalah pengalaman naik jeep saya yang pertama kali dan rasanya cukup menegangkan!

Sebelum naik ke puncak bukit paling atas, jeep berhenti di bagian loket masuk. Di sini kami diminta membayar ongkos pengantaran jeep dan tiket masuk semua Rp. 68.000,-.

Harga tiket masuk ke Bukit Rhema sendiri adalah Rp. 20.000,- per orang. Dengan harga segitu kita sudah mendapatkan makanan tradisional berupa singkong goreng yang merupakan hasil bumi dari masyarakat sekitar dan juga voucher diskon sebesar Rp. 5000,- untuk pembelian kopi hitam/susu/tubruk.

Kendaraan khusus antar jemput pengunjung Bukit Rhema.


Sejarah Bukit Rhema

Mungkin diantara teman-teman heran kok bisa ada bangunan unik berdiri di sebuah bukit yang untuk dijangkau kendaraan saja masih sulit?

Sama! Saya juga penasaran. Kenapa dan untuk tujuan apa? Bahkan saya sempat berpikir orang ini pasti punya uang banyak dan bingung mau diapain, he, he..tentu bercanda teman..

Begitu kami masuk ke lantai dasar ada seorang petugas yang menyambut dan menjelaskan tentang sejarah bangunan ini.

Jadi ceritanya ada seorang bernama Daniel Alamsjah yang mendapat visi dari Tuhan untuk membangun sebuah rumah doa di tahun 1988. Rumah doa ini tidak dibuat sembarangan tetapi harus berbentuk Merpati, sebagaimana simbol perdamaian.

Mengingat Indonesia adalah negara yang luas dengan berbagai macam suku, bangsa dan agama maka rumah doa ini harus bisa dipakai untuk semua agama.

Sempat mendapat kendala namun akhirnya di tahun 1992 Bukit Rhema mulai dibangun hingga kini masih ada sekitar 25% tahap pembangunan yang masih harus diselesaikan.

Rumah Bukit Rhema berbentuk Merpati 
Menurut warga sekitar, tahun 1992 itu belum ada jalur jalan yang seperti sekarang. Satu kantong semen harus dibawa 3 kali dengan berjalan kaki menaiki bukit. Wah, kebayang kan, gimana perjuangan mewujudkan sebuah Bukit Rhema ini?

Belum lagi Pak Daniel masih bekerja di Jakarta, harus rela menghabiskan waktu di kereta setiap jumat malam dan minggu sore naik kereta api menempuh perjalanan dari Jakarta-Purworejo-Jakarta. Beliau melakukan itu kurang lebih selama 10 tahun.

Jadi kalau piknik ke Bukit Rhema masih mengeluh karena medan yang berat, harus malu sama pendirinya, he, he.

Bukan hanya rumah doa, Pak Daniel juga mendirikan Panti Rehabilitasi Betesda yang tidak jauh dari Bukit Rhema.

Lantai Dasar


Di Bukit Rhema semua pengunjung bisa berdoa dan beribadah di dalam ruangan-ruangan dari berbagai agama yang telah disediakan pada lantai dasar.

Bangunan putih berbentuk burung Merpati ini terdiri dari 7 lantai yang masih dalam tahap penyelesaian. Dalam ketujuh lantainya kita akan menikmati beberapa lukisan tentang doa, pesan akan bahaya merokok dan narkoba, kearifan lokal dan multikulturalnya Indonesia.

Ada juga cerita perjalanan bagaimana Bukit Rhema dibangun. Story telling ini dikemas dalam bentuk video yang diputar dalam bangunan bagian tengah atau bagian perut Merpati.


Saya sebenarnya tertarik mendengar sejarah bagaimana Bukit Rhema ini dibangun. Mengapa dan apa tujuannya? Tetapi saya harus menyelesaikan perjalanan ke tujuh lantai berikutnya.

Bagi yang takut ketinggian naik ke tujuh lantai lumayan bikin kaki gemetaran loh! He, he. Sempat dengar cerita jika bangunan ini angker, mengingat awalnya bukit ini kosong dan pada tahun 2000-an pembangunannya sempat terhenti dikarenakan kendala biaya.

Namun begitu saya masuk ke bangunan ini, kesan angker itu sama sekali tidak ada. Yang ada justru perasaan damai, tenang dan rasa toleransi antar umat di sini terasa sekali. Masing-masing agama diberikan fasilitas untuk berdoa yang sama dan bentuk ruangannya disesuaikan.

Saya menemukan ruangan mushola bagi umat Islam, ruang Pondok Daud untuk Kristen, ruang Katholik, Budha dan Hindu. Ada juga ruangan kecil untuk doa secara pribadi. Kita juga dapat menuliskan permohonan doa di atas kertas yang sudah disediakan. Lalu kertas yang berisi permohonan doa itu ditancapkan dalam sebuah papan doa. Nantinya doa-doa itu akan didoakan oleh siapa saja yang tergerak mau berdoa.


Naik ke Paruh Merpati

Bukit Rhema ini terletak di sebuah perbukitan Menoreh yang dikelilingi oleh beberapa gunung diantaranya Gunung Sumbing, Merbabu, Suroloyo dan Merapi. Kita dapat menikmati pemandangan yang indah dari bagian mahkota burung yang berada di lantai 7.

Jujur, saya belum pernah naik ke bangunan yang tinggi sampai 7 lantai. Tetapi lukisan dan spot instagramable di lantai-lantai sebelumnya membuat saya lebih enjoy. Sempat terbelalak melihat pemandangan di luar ternyata sudah berada di ketinggian yang cukup wow!

Kakiku sempat gemetaran ketika menaiki tangga yang terbuat dari kayu. Ya, semakin ke atas tangga dibuat dari kayu. Di lantai 6 yaitu lantai terakhir menuju mahkota kami bertemu dengan seorang anak muda yang bertugas sebagai penjaga. Tugasnya mengontrol jumlah pengunjung yang naik ke atas dan mencegah pengunjung untuk keluar melalui paruh karena akan sangat berbahaya.

Mungkin tidak boleh sampai sepuluh orang naik bersama-sama di mahkotanya, karena bisa roboh.

Kedai Bukit Rhema



Meskipun Bukit Rhema dibangun bertujuan sebagai tempat doa, ada juga spot menarik bagi pengunjung yang ingin menikmati kopi di tengah-tengah keindahan alam.

Saya memesan segelas Kopi Cinta sambil membayangkan jadi Cinta dan Rangga saat ke tempat ini. Tempat ini jadi mulai terkenal sejak diadakan syuting film AADC 2. Nggak salah pokoknya tempat ini memang luar biasaaa!

Tak lupa saya menukarkan kupon free tradisional food dulu. Singkong goreng ini dibuat oleh warga sekitar. Jadi keberadaan wisata Bukit Rhema bukan untul meraup keuntungan pribadi namun bisa berdampak bagi masyarakat sekitar.


Kalau lapar para pengunjung tidak perlu repot-repot turun gunung melewati lembah hanya demi mengisi perut. Cukup di kedai ini saja, mau makan nasi ada, cemilan dan kopi juga ada. Jangan lupa untuk menukar voucher 5k untuk membeli kopi hitam/susu/tubruk.


Tak lupa juga beli oleh-oleh souvenir khas Bukit Rhema berupa kaos, gantungan kunci, mug dll. Harganya termasuk untuk donasi bagi yayasan rehabilitasi narkoba.

Berwisata di Bukit Rhema tak lengkap rasanya jika tidak ke Punthuk Setumbu yang letaknya cukup berdekatan. Sayang jalurnya masih sulit dijangkau dengan kendaraan sehingga hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Medannya cukup terjal dan naik turun.

#PastiAdaOYO


Untunglah di sekitar Bukit Rhema ada OYO Hotels Indonesia, jadi jika lelah cukup beristirahat di Hotel Magelang dan esok harinya bisa berburu sunrise di Punthuk Setumbu.

Jalan-jalan di Bukit Rhema hari ini belum membuat saya puas karena waktunya kurang lama dan belum sempat berdoa di Pondok Daud. Andai aja saya dapat voucher 70% dari OYO Hotels maka bisa kembali menjelajah tempat wisata lain yang ada di Magelang sekaligus mengulang kembali main ke Bukit Rhema dan ke Punthuk Setumbu.



Lokasi :

Karangrejo, Gombong, Kurahan, Kembanglimus, kec. Borobudur, Magelang Jawa Tengah, Indonesia 56553

Peta:

Jumat, 15 November 2019

Yoforia, Yogurt yang Segar dan Menyehatkan



Beberapa waktu yang lalu, saya dan suami berwisata ke Borobudur. Cuaca saat itu panas banget! Biasanya saya nggak akan kuat kalo pergi jalan-jalan di bawah terik matahari gitu.

Harus banyak minum air putih dan vitamin. Untunglah saya juga membawa Yoforia, saat jalan-jalan di Candi Mendut. Segarnya Yoforia membuat tenggorokanku lega. Badan juga terasa bugar kembali siap jalan lagi. Tak hanya itu, ternyata minum Yoforia bikin kenyang lebih lama. Terbukti lho!

Ceritanya dari Candi Mendut trus ke Bukit Rhema. Harusnya sebelum ke Bukit Rhema sudah makan siang dulu, namun setelah minum Yoforia laparnya hilang. Bahkan saya masih kuat untuk naik 7 lantai dan turun kembali. Baru deh, di Kedai Bukit Rhema kami makan siang.

YOFORIA, Yogurt dengan Live Prebiotics




Tahukah kamu bahwa Yoforia ini dikirim ke seluruh Indonesia itu dalam keadaan selalu dingin. Mulai dari selesai produksi hingga sampai di tangan saya dalam kondisi dingin.

Rumit ya, jika pengiriman harus dalam keadaan dingin. Yes! Ini diperlukan supaya Yoforia tetap terjaga kualitasnya hingga ke tangan konsumen.

Yoforia menjaga agar bakteri baik dalam yogurt tetap hidup karena Fresh Yogurt Yoforia ini tidak melalui proses apa pun seperti pemanasan atau UHT setelah menjadi Yogurt. Sehingga manfaatnya terjaga.

Kalau dipanaskan maka bakteri akan mati dan percuma diminum.

Yoforia, Yogurt dengan Dietary Fiber



Yoforia ini mengandung Dietary Fiber dari buah jeruk asli sehingga teksturnya lebih lembut dan cocok untuk diet. Kandungan inilah yang membuat pencernaanmu lancar dan jadi kenyang lebih lama.

Yoforia aman diminum setiap hari untuk mengimbangi asupan gizi lain ke tubuh dan cocok untuk orang yang sedang menjalankan program diet.

YOFORIA Tidak Terlalu Asam



Buat saya tuh, Yoforia rasanya pas nggak terlalu asam. Hal ini disebabkan karena YOFORIA ini menggunakan live probiotics khusus sehingga rasa yang dihasilkan tidak terlalu asam dan teksturnya lebih creamy.

YOFORIA Banyak Tersedia Berbagai Pilihan Rasa


Banyak pilihan rasa yang disediakan oleh YOFORIA diantaranya adalah Authentique, Berry Smooth, Sousop Bliss, Blueberry Good, Coffe Cream  dan Peach Delight.

Ada juga rasa baru yang unik yaitu rasa Lychee Blast. Saya sudah mencicipi rasa Authentique, Blueberry Good, Lychee Blast dan Berry Smooth.

Pilihanku jatuh pada rasa Authentique dan Berry Smooth. Menurutku kedua rasa itulah yang paling enak diantara rasa yang lain.


This entry was posted in

Rabu, 13 November 2019

Wisata Sejarah Candi Mendut, Magelang


Setelah puas berkunjung ke Candi Pawon, saya langsung menuju ke Candi Mendut. Letaknya berada di pinggir jalan besar, jadi cukup mudah untuk menemukannya. Jaraknya sekitar 3 kilometer dari Candi Borobudur.

Candi Mendut nan megah
Keletakan Candi Mendut, Candi Pawon dan Candi Borobudur berada pada satu garis imajiner mengindikasikan adanya keterkaitan di antara ketiganya.

Didirikan sekitar tahun 824 Masehi pada masa pemerintahan Raja Indra dari Dinasti Syailendra. Dalam prasasti Karangtengah disebutkan Raja Indra telah membangun bangunan suci bernama "Crimad Venuwana" yang artinya Bangunan Suci Hutan Bambu.  J.G de Casparis, seorang arkeolog Belanda menghubungkannya dengan Candi Mendut.

Pada tahun 1834, keberadaan Mendut mulai menarik perhatian Hindia Belanda. Sebelumnya candi ini tersembunyi, hanya terlihat seperti bukit yang bersemak-semak. Banyak blok batu yang diambil oleh penduduk untuk dijadikan bahan bangunan. Pada tahun 1897 barulah diadakan perbaikan kecil dan tahun 1901 baru dilakukan rekontruksi ulang meski sempat terhenti namun akhirnya selesai di tahun 1908. 

Makara pada pintu Candi Mendut
Bangunan Candi Mendut lebih besar dari Candi Pawon. Tinggi bangunan sendiri 26, 4 meter berdiri di atas kaki candi setinggi 3,7 meter. Walau hanya satu bangunan, namun masih ada arca-arca yang terpendam di sekitar area candi. Beberapa sudah ada yang ditemukan tetapi masih dipelajari untuk disusun kembali sesuai dengan aslinya.

Baca peta dulu biar lebih jelas
Halaman kompleks ini dulunya dipagari oleh dua tembok bata, di mana sisa reruntuhan masih dapat ditemui di beberapa lokasi. Sementara di sebelah utara candi ditemukan reruntuhan fondasi sebuah bangunan besar. Kemungkinan bangunan ini dulunya bangunan suci pelengkap atau dapat juga berupa tempat tinggal biksu. 


Candi Mendut berbentuk persegi empat dengan hiasan beberapa stupa kecil, total ada 48 buah. Pintu menghadap ke barat. Terdapat 8 relief Bodhisattva dengan beragam sikap tangan. 

Di dalam candi terdapat 3 arca berukuran besar, yaitu

1. Arca Dyani Budha Cakyamuni (Vairocana)
Arca ini berada di tengah menghadap ke barat, kedua kakinya menjuntai menapak pada landasan yang berbentuk bunga teratai. Tangannya bersikap dharmacakramudra yang berarti Budha sedang memutar roda kehidupan.

2. Arca Budha Avalokitesvara (Lokesvara)

Terletak di sebelah kiri atau utara  arca Dyani Budha Cakyamuni menghadap ke selatan memiliki posisi tangan membentuk gestur varamudra (memberikan pengajaran) sedangkan tangan kirinya dalam posisi vitarkamudra (memberikan khotbah).

3. Arca Bodhisatva Vajrapani

Arca ini terletak di sebelah kanan atau selatan Dyani Budha Cakyamuni menghadap ke utara. Posisi duduk dengan kaki kanan dilipat dengan telapak kaki menyentuh paha. Sementara yang kanan menjuntai ke bawah.

Relief Candi Mendut

Relief pada dinding candi 
Ada beberapa bagian relief yang telah rusak atau tinggal potongan-potongan. Tetapi beberapa masih terlihat jelas motifnya. Ukuran relief di Candi Mendut lebih besar daripada ukuran relief Candi Borobudur. Pada bagian kaki samping dan belakang Candi Mendut terdapat 13 panil relief berhiaskan figur manusia dan binatang yang dikerubuti oleh pola dekoratif tumbuhan. 

Relief pada Candi Mendut 
Pada bagian pipi luar tangga setiap sisi diisi dengan sepuluh panil, enam panil persegi panjang dan 4 panil berbentuk segitiga. Ketigapuluh panil ini diambil dari Kitab Jataka. Satu panil menceritakan satu cerita tersendiri. Cerita Jataka atau lebih dikenal dengan cerita fabel binatang memiliki makna tentang bagaimana menjalankan kebajikan-kebajikan sebagai bekal kehidupan masa depan. Yang menggarisbawahi nila-nilai kebudhaan seperti murah hati, suka menolong dan pengorbanan diri. 


Tangga masuk ke dalam ruangan candi yang berisi arca Budha

Harga tiket masuk sendiri cukup murah yaitu Rp. 3500,00 untuk turis domestik. Tiket ini merupakan terusan ke Candi Pawon juga. Bagi yang ingin membeli oleh-oleh atau kenang-kenangan terdapat banyak kios yang menjual pernak-pernik dan asesoris bernuansa Candi Mendut.

Kios oleh-oleh dan asesories Candi Mendut 

Buddhist Monastery

Di samping candi terdapat Bangunan Wihara Budha Mendut (Buddhist Monastery) yang terbuka untuk umum. Dulunya tempat ini merupakan biara Katholik yang pada tahun 1950 tanahnya dibagi-bagi kepada rakyat tetapi kemudian dibeli oleh yayasan Budha dan didirikan wihara.

Pintu gerbang Wihara Budha Mendut
Memasuki lingkungan wihara kita akan merasakan keheningan dan kesunyian. Para wisatawan diperbolehkan masuk ke dalam taman dan halaman namun ada bagian-bagian tertentu yang mengharuskan melepas alas kaki sebelum masuk. Tidak diperbolehkan juga memasuki area tempat tinggal para biksu. 
Patung Budha berada di sebelah kiri gerbang masuk
Kuil Budha


Pintu Kuil 

Isi dari kuil

Isi dari Kuil

Taman dengan kolam air

Stupa-stupa yang berada di halaman kuil

Hiasan pada taman

Ruang ibadah

Area taman dan tempat ibadah Wihara Budha Mendut
Patung Budha
Patung Budha
Berbeda dengan area candi yang panas, di sini terdapat banyak pohon sehingga terasa sangat sejuk dan nyaman. Banyak juga spot berburu foto yang bagus bagi kalian pecinta foto. Yang terpenting jaga kesopanan selama berada di area ini karena bagaimana pun tempat ini masih aktif digunakan untuk beribadah bagi umat Budha.

Pada area sebelah dalam terdapat Gapura Hening Karta yang di bagian atasnya terdapat ornamen 4 wajah Budha (Catur Mukha) yang melambangkan 4 moralitas leluhur, yaitu Cinta Kasih (Metta), Welas Asih (Karuka), Apresiasi (Mudita) dan Keteguhan (Upekkha).

Gapura Hening Karta
Kita boleh berfoto di sini tetapi tetap sopan



Dalam kompleks candi terdapat beberapa kolam, miniatur hewan, tumbuhan dan bangunan ibadah. Kita pun dapat berbincang-bincang dengan para biksu yang akan menjelaskan mengenai apa saja di dalam rumah ibadah mereka.

Kita diperbolehkan berfoto asalkan tetap sopan dan mematuhi peraturan yang ada. Misal dilarang menggunakan alas kaki ketika masuk ke dalam sebuah kuil.


Jika lapar atau lelah kita bisa beristirahat di bawah pohon beringin. Ada beberapa pedagang makanan yang bisa dipilih. 

Alamat Candi Mendut: Jl. Mayor Kusen, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah

Harga tiket masuk: Rp. 3500,-



Selasa, 05 November 2019

Badan Sehat, Kerjaan Lancar Berkat Kebaikan Alami dari Alam

dokpri

"Besok ada event blogger di Cafe X, bagi yang bisa hadir silakan daftar."


Begitu isi pesan dari WAG komunitas blogger yang kuikuti. Dalam hati saya ingin ikut, namun mengingat nanti juga ada acara lain dan besoknya juga masih ada acara, jadi kuurungkan niatku untuk mendaftar. Alasannya takut capek dan takut sakit. 

Sebenarnya sayang juga melewatkan kesempatan mengikuti acara-acara blogger seperti itu. Selain menambah jalinan pertemanan antar sesama blogger, bisa ngumpulin foto buat diupload di IG dan review tempat di blog, kesempatan belajar ilmu yang baru, kesempatan memenangkan grand prize dan semangat ngumpulin goodie bag dari sebuah acara (wkwkwk).

Meski sudah menjadi blogger aktif sejak tahun 2016 silam, saya belum pernah gabung dalam sebuah komunitas. Baru di akhir 2018, saya mulai mengenal berbagai komunitas blogger. Tak heran kalau saya cuma memiliki sedikit teman yang sama-sama terjun dalam bidang yang sama.

Ibarat katak dalam tempurung, itu pepatah yang pas buat aku. Sekarang saya mulai masuk ke dalam berbagai komunitas blogger. Berusaha kenalan sama blogger yang sudah melalangbuana dalam dunia perbloggeran.


Untuk ikut event belajar seperti ini juga butuh kondisi fisik yang prima (dok. K-Jog).

Pada November tahun lalu, saya mulai aktif mengikuti event-event blogger. Bahkan beberapa kali datang menghadiri undangan dan pulangnya dikasih uang transport. Wah, nggak pernah nyangka jika jadi blogger untuk pulang pergi saja dikasih ganti transport. 

Berbagai macam hal mulai aku tulis. Jika dulu sebelum ikut event, saya cuma bisa berkhayal dan searching google, saat ini beda. Saya harus menulis sesuai dengan apa yang didapat, dilihat dan dirasakan secara langsung. Misal review restoran maka harus benar-benar mencatat apa yang pemilik sampaikan, hidangannya bagaimana, suasana restorannya bagaimana, dsb. 

Kepekaan kelima indera saya dilatih sedemikian rupa saat mengikuti event-event atau acara kopdar blogger. Dan ujiannya setelah selesai acara, bisakah saya tuangkan di dalam blog? 


Meliput acara pameran dalam sebuah pusat perbelanjaan (dokpri).
Menulis memang kelihatannya mudah. Tinggal ketak-ketik di komputer dan tuangkan ide. Tapi bikin badan lelah dan sakit. Saya memang dari dulu mudah lelah dan gampang sekali terkena flu. Kena AC kelamaan sakit, kena angin sakit, kena hujan sakit, kebanyakan ikut acara sakit. 

Pernah lho, dalam satu minggu saya rajin ikut event blogger, seminar, dan berbagai kegiatan lain. Pokoknya hampir setiap hari ada acara keluar. Alhasil badan saya tidak kuat menahan beban, akibatnya jadi demam dan flu. 

Saat saya sedang flu, mama akan membuatkan wedang jahe agar badan menjadi hangat. Maklum, saya itu orangnya anti banget sama yang namanya kerokan, apalagi diolesin dengan minyak angin atau balsem. Rasanya jadi tambah pusing mencium aroma seperti itu. 

Sejak dulu jahe memang dipercaya dapat menjadi obat alami untuk mengatasi masuk angin atau flu. Tanaman dari Asia Tenggara ini juga dimanfaatkan sebagai bumbu masakan karena aromanya yang khas.


hellosehat.com


Cara membuat wedang jahe ala mama:

1. Jahe dicuci bersih. Dibakar di atas kompor sampai tercium wangi jahe. 

2. Kupas kulitnya dan cuci hingga bersih.

3. Geprek jahe dan potong-potong tidak terlalu kecil.

4. Rebus jahe dalam panci hingga mendidih. 

5. Saring dan masukkan ke dalam gelas, beri madu atau gula batu secukupnya. Bisa juga dikombinasikan dengan teh.

6. Sajikan hangat.

Khasiat Wedang Jahe akan lebih terasa bila ditambahkan dengan madu. Rasa jahe yang pedas dapat melegakan tenggorokan dan hidung tersumbat. Minum jahe dalam keadaan hangat juga bisa membuat suhu tubuh yang menggigil terasa lebih nyaman.

Sejak pindah ke Jogja, saya jadi suka minum Teh Jahe atau Jahe Susu. Karena hampir di setiap Angkringan yang ada di Jogja menyuguhkan Wedang Teh Jahe. Kedua jenis minuman ini sangat cocok jika diminum hangat-hangat saat masuk angin, flu atau sedang hujan. 

Herbadrink Hadir untuk Generasi Millenial yang Ingin Memanfaatkan Kebaikan Alami dari Alam

dokpri

Suka minum Wedang Jahe bukan berarti suka juga membuatnya, he, he. Membuat Wedang Jahe dengan cara tradisional cukup memakan waktu. Padahal tubuh ini sudah lelah dengan segudang aktivitas (sok sibuk nih?). Belum lagi jika sedang flu, mau bangun untuk membuatnya saja sudah males duluan.

Membakar jahe, membersihkan kulitnya lalu merebus dan menyaring sama sekali nggak praktis buat saya. Memang sih, harus pandai-pandai mengolah segala sesuatu yang alami dari alam untuk kesehatan tubuh. Apalagi Jahe itu kan, banyak sekali manfaatnya seperti mencegah mual, mengurangi rasa sakit ketika menstruasi, membantu proses detoksifikasi, melindungi dari kanker.

Salah satu kandungan yang berperan untuk mencegah kanker adalah Gingerol, Phytonutrient yang juga memberikan rasa yang khas pada jahe. Terbukti juga dapat menurunkan berat badan, kadar kolesterol dalam darah dan mengurangi tumpukan lemak dalam darah. Wah! Ternyata khasiat Jahe banyak sekali ya?

Dokpri

Untung saja sekarang ada kemasan praktis tinggal sobek bungkusnya, tuang ke gelas ukuran +/- 150 ml berisi air panas atau menurut selera. Kesegaran segelas Wedang Jahe sudah siap untuk dinikmati. Selain praktis, Herbadrink Sari Jahe ini terbuat dari bahan alami yang bebas pengawet, tanpa ampas, dibuat secara higienis dan dengan teknologi tinggi.

Bagi yang sedang mengurangi gula, ada juga Herbadrink Sari Jahe Sugar Free yang mengandung Sukralosa yaitu pemanis tanpa kalori. Pemanis ini sudah disetujui oleh BPOM dan sudah diperbolehkan dipakai untuk bahan makanan dan minuman di 80 negara. Sukralosa tidak memiliki efek pada metabolisme karbohidrat, kontrol glukosa darah jangka pendek maupun panjang, ataupun pelelasan insulin.

Selain Herbadrink Sari Jahe tersedia juga Herbadrink Temulawak, Kunyit Asam, Kunyit Asam Sirih, Beras Kencur, Lidah Buaya, Chrysanthemum, Wedang Uwuh.