Kamis, 21 November 2019

Bukit Rhema, Tempat Wisata yang Membawa Pesan Perdamaian


Bukan Gereja


Sudah lama sekali sebenarnya saya ingin ke Bukit Rhema ini tetapi baru kesampaian pada bulan Oktober 2019. Yeay! Sempat khawatir sih, kan pernah baca review jika untuk menjangkau ke sini agak susah medannya. Nggak bisa ditempuh dengan sepeda motor atau pun mobil.

"Gereja Bukit Rhema di mana sih?" Tanya saya pada salah satu warga sekitar situ. 

"Itu bukan gereja melainkan rumah doa untuk semua agama. Jarak dari tempat parkir ke atas masih sekitar 250 meter, lebih baik pakai jeep saja. Kalau jalan kaki lumayan juga, nanti kalau mau ke puncak harus naik 7 lantai." Jelasnya mungkin sambil promo jeep biar laku, he, he.

Benar saja di depanku jalan sangatlah menanjak nyaris 90 derajat. Bukit Rhema sama sekali tidak terlihat dari sini. Saya ragu untuk jalan kaki belum lagu rasa lapar mulai terasa.

Sepeda motor kami dititipkan di sebuah lahan parkir yang memang disediakan oleh warga. Semua jenis kendaraan dilarang naik ke atas karena dikhawatirkan tidak kuat menanjak sampai atas.

Bukit Rhema 

Jika tidak sanggup berjalan naik sampai ke atas, tenang saja disediakan jeep penumpang kok. Satu orang harus membayar Rp. 7.000,- sekali jalan atau Rp. 14.000,- PP.

Karena sudah merasa lelah dan mulai agak lapar saya dan suami memutuskan untuk naik jeep saja. Ini adalah pengalaman naik jeep saya yang pertama kali dan rasanya cukup menegangkan!

Sebelum naik ke puncak bukit paling atas, jeep berhenti di bagian loket masuk. Di sini kami diminta membayar ongkos pengantaran jeep dan tiket masuk semua Rp. 68.000,-.

Harga tiket masuk ke Bukit Rhema sendiri adalah Rp. 20.000,- per orang. Dengan harga segitu kita sudah mendapatkan makanan tradisional berupa singkong goreng yang merupakan hasil bumi dari masyarakat sekitar dan juga voucher diskon sebesar Rp. 5000,- untuk pembelian kopi hitam/susu/tubruk.

Kendaraan khusus antar jemput pengunjung Bukit Rhema.


Sejarah Bukit Rhema

Mungkin diantara teman-teman heran kok bisa ada bangunan unik berdiri di sebuah bukit yang untuk dijangkau kendaraan saja masih sulit?

Sama! Saya juga penasaran. Kenapa dan untuk tujuan apa? Bahkan saya sempat berpikir orang ini pasti punya uang banyak dan bingung mau diapain, he, he..tentu bercanda teman..

Begitu kami masuk ke lantai dasar ada seorang petugas yang menyambut dan menjelaskan tentang sejarah bangunan ini.

Jadi ceritanya ada seorang bernama Daniel Alamsjah yang mendapat visi dari Tuhan untuk membangun sebuah rumah doa di tahun 1988. Rumah doa ini tidak dibuat sembarangan tetapi harus berbentuk Merpati, sebagaimana simbol perdamaian.

Mengingat Indonesia adalah negara yang luas dengan berbagai macam suku, bangsa dan agama maka rumah doa ini harus bisa dipakai untuk semua agama.

Sempat mendapat kendala namun akhirnya di tahun 1992 Bukit Rhema mulai dibangun hingga kini masih ada sekitar 25% tahap pembangunan yang masih harus diselesaikan.

Rumah Bukit Rhema berbentuk Merpati 
Menurut warga sekitar, tahun 1992 itu belum ada jalur jalan yang seperti sekarang. Satu kantong semen harus dibawa 3 kali dengan berjalan kaki menaiki bukit. Wah, kebayang kan, gimana perjuangan mewujudkan sebuah Bukit Rhema ini?

Belum lagi Pak Daniel masih bekerja di Jakarta, harus rela menghabiskan waktu di kereta setiap jumat malam dan minggu sore naik kereta api menempuh perjalanan dari Jakarta-Purworejo-Jakarta. Beliau melakukan itu kurang lebih selama 10 tahun.

Jadi kalau piknik ke Bukit Rhema masih mengeluh karena medan yang berat, harus malu sama pendirinya, he, he.

Bukan hanya rumah doa, Pak Daniel juga mendirikan Panti Rehabilitasi Betesda yang tidak jauh dari Bukit Rhema.

Lantai Dasar


Di Bukit Rhema semua pengunjung bisa berdoa dan beribadah di dalam ruangan-ruangan dari berbagai agama yang telah disediakan pada lantai dasar.

Bangunan putih berbentuk burung Merpati ini terdiri dari 7 lantai yang masih dalam tahap penyelesaian. Dalam ketujuh lantainya kita akan menikmati beberapa lukisan tentang doa, pesan akan bahaya merokok dan narkoba, kearifan lokal dan multikulturalnya Indonesia.

Ada juga cerita perjalanan bagaimana Bukit Rhema dibangun. Story telling ini dikemas dalam bentuk video yang diputar dalam bangunan bagian tengah atau bagian perut Merpati.


Saya sebenarnya tertarik mendengar sejarah bagaimana Bukit Rhema ini dibangun. Mengapa dan apa tujuannya? Tetapi saya harus menyelesaikan perjalanan ke tujuh lantai berikutnya.

Bagi yang takut ketinggian naik ke tujuh lantai lumayan bikin kaki gemetaran loh! He, he. Sempat dengar cerita jika bangunan ini angker, mengingat awalnya bukit ini kosong dan pada tahun 2000-an pembangunannya sempat terhenti dikarenakan kendala biaya.

Namun begitu saya masuk ke bangunan ini, kesan angker itu sama sekali tidak ada. Yang ada justru perasaan damai, tenang dan rasa toleransi antar umat di sini terasa sekali. Masing-masing agama diberikan fasilitas untuk berdoa yang sama dan bentuk ruangannya disesuaikan.

Saya menemukan ruangan mushola bagi umat Islam, ruang Pondok Daud untuk Kristen, ruang Katholik, Budha dan Hindu. Ada juga ruangan kecil untuk doa secara pribadi. Kita juga dapat menuliskan permohonan doa di atas kertas yang sudah disediakan. Lalu kertas yang berisi permohonan doa itu ditancapkan dalam sebuah papan doa. Nantinya doa-doa itu akan didoakan oleh siapa saja yang tergerak mau berdoa.


Naik ke Paruh Merpati

Bukit Rhema ini terletak di sebuah perbukitan Menoreh yang dikelilingi oleh beberapa gunung diantaranya Gunung Sumbing, Merbabu, Suroloyo dan Merapi. Kita dapat menikmati pemandangan yang indah dari bagian mahkota burung yang berada di lantai 7.

Jujur, saya belum pernah naik ke bangunan yang tinggi sampai 7 lantai. Tetapi lukisan dan spot instagramable di lantai-lantai sebelumnya membuat saya lebih enjoy. Sempat terbelalak melihat pemandangan di luar ternyata sudah berada di ketinggian yang cukup wow!

Kakiku sempat gemetaran ketika menaiki tangga yang terbuat dari kayu. Ya, semakin ke atas tangga dibuat dari kayu. Di lantai 6 yaitu lantai terakhir menuju mahkota kami bertemu dengan seorang anak muda yang bertugas sebagai penjaga. Tugasnya mengontrol jumlah pengunjung yang naik ke atas dan mencegah pengunjung untuk keluar melalui paruh karena akan sangat berbahaya.

Mungkin tidak boleh sampai sepuluh orang naik bersama-sama di mahkotanya, karena bisa roboh.

Kedai Bukit Rhema



Meskipun Bukit Rhema dibangun bertujuan sebagai tempat doa, ada juga spot menarik bagi pengunjung yang ingin menikmati kopi di tengah-tengah keindahan alam.

Saya memesan segelas Kopi Cinta sambil membayangkan jadi Cinta dan Rangga saat ke tempat ini. Tempat ini jadi mulai terkenal sejak diadakan syuting film AADC 2. Nggak salah pokoknya tempat ini memang luar biasaaa!

Tak lupa saya menukarkan kupon free tradisional food dulu. Singkong goreng ini dibuat oleh warga sekitar. Jadi keberadaan wisata Bukit Rhema bukan untul meraup keuntungan pribadi namun bisa berdampak bagi masyarakat sekitar.


Kalau lapar para pengunjung tidak perlu repot-repot turun gunung melewati lembah hanya demi mengisi perut. Cukup di kedai ini saja, mau makan nasi ada, cemilan dan kopi juga ada. Jangan lupa untuk menukar voucher 5k untuk membeli kopi hitam/susu/tubruk.


Tak lupa juga beli oleh-oleh souvenir khas Bukit Rhema berupa kaos, gantungan kunci, mug dll. Harganya termasuk untuk donasi bagi yayasan rehabilitasi narkoba.

Berwisata di Bukit Rhema tak lengkap rasanya jika tidak ke Punthuk Setumbu yang letaknya cukup berdekatan. Sayang jalurnya masih sulit dijangkau dengan kendaraan sehingga hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Medannya cukup terjal dan naik turun.

#PastiAdaOYO


Untunglah di sekitar Bukit Rhema ada OYO Hotels Indonesia, jadi jika lelah cukup beristirahat di Hotel Magelang dan esok harinya bisa berburu sunrise di Punthuk Setumbu.

Jalan-jalan di Bukit Rhema hari ini belum membuat saya puas karena waktunya kurang lama dan belum sempat berdoa di Pondok Daud. Andai aja saya dapat voucher 70% dari OYO Hotels maka bisa kembali menjelajah tempat wisata lain yang ada di Magelang sekaligus mengulang kembali main ke Bukit Rhema dan ke Punthuk Setumbu.



Lokasi :

Karangrejo, Gombong, Kurahan, Kembanglimus, kec. Borobudur, Magelang Jawa Tengah, Indonesia 56553

Peta:

18 komentar:

  1. Kalo di Manado ada jg yang seperti ini, bukit kasih namanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, luar biasa di Manado juga pasti bagusnya sama.

      Hapus
  2. Ini kan sebenarnya gereja gitu ya, kan. Dulu mana ada yang tahu lokasi ini, sedikit orang pastinya. Habis mas Rangga dan Mbak Cinta main sini deh baru pada ehe vaham dan berburu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya saya kira gereja tapi bukan mbak. Itu tempat berdoa bagi semua agama. Inget AADC 2 deh kalo ke sini yaaa...

      Hapus
  3. ohhh yayayyayaya kayaknya gereja bentuk ayam ini beberapa kali masuk TV

    BalasHapus
  4. Dulu sempet lihat kawan-kawanku berkunjung ke tempat ini mba. Pemandangannya emang ciamik banget mbak karena masih asri. Apalagi sempat ngetop setelah masuk ke film AADC 2. Anak2 muda langsung pada ngehits cekrek sana sini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pemandangannya luar biasa indah di sini.

      Hapus
  5. Wah bagus ya interiornya, sebelumnya baca-baca dari sumber lain kesannya angker gitu loh padahal... ternyata terang juga bagian dalamnya... eh, btw, aku belom pernah ke sana lho, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak terasa ada mistis-mistisnya, malah terasa hadirat Tuhan banget! Rasanya hati tenang dan damai berada di situ :)

      Hapus
  6. Wiwin | pratiwanggini.net28 November 2019 19.38

    Tapi kenapa terkenal sebagai gereja ya? Btw aku penasaran pengin kesana tapiiii sekarang belum bisa dong karena Dimas masih kecil, kasihan kalo melalui medan yang berat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena di depan bangunan ada gereja kecil (kapel) yang seing buat nikahan. Jadi dikiranya gereja. Hmm, ada jeep kok Mbak untuk ke Bukit Rhemanya. Kalo ke Puthuk Dimas mungkin belum sanggup, he, he...

      Hapus
  7. Eeeehhhh baru tau kalo ada kedainya di deket sana. Asyik deh kayanya abis jalan jauh gitu terus istirahat di kedai sambil nikmatin pemandangan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kedainya itu ada di ekor merpatinya Mbak, jadi masih satu tempat, he, he...

      Hapus
  8. Wah, sudah sampai sini saja mbak.. Bagus ya. .panoramanya menawan. Itu kok tiket masuk bukit remamya 68rb, sopir jeepnya ikut masuk juga ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 68 ribu berdua Mbak, rinciannya 20rb tiket masuk, 14rb naik jeep PP. Satu orangnya 34 ribu.

      Hapus
  9. Bentuknya yang benar benar berbeda dari tempat-tempat berdoa semua agama menjadikannya menarik untuk dikunjungin. Belum lagi susahnya untuk mengakses lokasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena sulit itu, jadi masih terasa nuansa alam yang benar-benar bersih udaranya.

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.