Senin, 28 Januari 2019

Sate Ratu Bukan Sate Biasa


"Mbaak, udah pernah nyicip Sate Ratu?
Kalo blum, mau nyicip free gak? Syarat posting IG dan blog."

Begitu isi pesan dari Mbak Agustina. Nggak pakai mikir kelamaan, langsung saya iya kan ajakan tersebut. Kapan lagi saya dapat mencicipi kelezatan Sate Merah yang fenomenal itu? Gratis lagi! Wkwkwkw.

Saya memang sudah pernah membaca tentang Sate Ratu atau Angkringan Ratu, tapi belum pernah sekalipun mencicipi. Jadi Jumat siang saya ke Jogja Paradise depan JCM janjian dengan 5 teman blogger lainnya yaitu Mas Wahyu, Mbak Agustina, Mbak Sapti, Mbak Latifah dan Mbak Ika. Tiba di sana saya langsung melihat papan petunjuk bahwa Sate Ratu yang tadinya di depan kini pindah ke belakang. Tak perlu bingung mencari tempatnya, karena dari depan sudah terlihat papan besar bertuliskan logo Sate Ratu.

Di bagian belakang ini, outlet Sate Ratu terasa lebih luas dibandingkan dengan outlet yang di dekat parkiran tadi sehingga cocok jika ke sini makan bersama keluarga atau rombongan.

Pak Budi bersama 5 teman blogger.
Kami disambut hangat oleh Pak Budi yang merupakan owner Sate Ratu dan juga Pak Lanang, rekannya. Mereka ini sudah menjadi rekan kerja sejak tahun 1997 di salah satu hotel Surabaya, lalu keduanya sempat berpindah-pindah pekerjaan dalam bidang industri entertainment, konsultan dan karaoke. Bosan terus terikat dengan jam kerja yang tak menentu serta tidak adanya waktu untuk bersama keluarga, mereka resign dan memutuskan untuk berwirausaha. Akhirnya pada Juli 2015, dimulailah perjalanan baru mereka dalam usaha yang diberi nama "Angkringan Ratu" yang berada di Jalan Solo.
Pak Budi sedang bercerita tentang Sate Ratu.

Pak Lanang sedang menjaga outlet.
Nama "Ratu" sendiri dipilih karena mempunyai konotasi sesuatu yang tradisional, yang njawani namun mempunyai kelas yang premium. Angkringan Ratu ini sempat mempunyai 6 cabang. Tapi karena semua produk dibuat sendiri dengan macam menu khas angkringan dan 20 macam sate, Pak Budi merasa kewalahan. Di lain sisi, sistem angkringan yang meletakkan makanan di display membuat stok makanan tidak bisa selalu habis. Kebanyakan pengunjung tidak mau jika mengambil makanan yang sudah tinggal sedikit, akibatnya selalu ada makanan yang tidak habis terjual.

Testimoni Angkringan Ratu.
Keadaan ini membuat Pak Budi jadi berpikir bagaimana menjual tanpa harus memperlihatkan stok makanan yang ada agar selalu habis hingga tetes terakhir. Angkringan Ratu pun berubah menjadi Sate Ratu yang sekarang berada di Jogja Paradise Foodcourt, Jl. Magelang No. KM.6, Kutu Tegal, Sinduadi, Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sate Merah & Sate Lilit Basah



Sate Merah yang menggoda.
Menu ini adalah salah satu menu wajib yang harus dicoba jika ke Sate Ratu. Dijamin kamu nggak akan nyesel telah mencicipi hidangan ini. Beda dari sate-sate pada umumnya, Sate Merah ini berwarna merah agak kecoklatan dan tidak diberi tambahan bumbu kecap atau kacang. Rasa bumbunya sudah meresap sampai ke dalam daging. Empuk dan agak pedas.

Merasakan sensasi Sate Merah yang berbeda dari sate biasa, maka tak salah jika kalimat "kesukaan turis mancanegara dan Indonesia" ini dipakai oleh Sate Ratu sebagai tagline-nya.

Buat teman-teman blogger tidak merasa kepedasan, tapi untuk saya lumayan pedas. FYI, saya bukanlah pecinta makanan pedas tapi untuk makan 6 tusuk Sate Merah dengan nasi masih berani lah.

Menurut Pak Budi, turis dari Amerika atau Eropa yang umumnya tidak menyukai makanan pedas saja tetap menghabiskan satenya walau sering minum. Jadi masih bisa diterima oleh lidah orang luar negeri apalagi kamu orang Indonesia, masa nggak berani makan pedas? *tunjukdirisendiri.


Sate Lilit Basah
Buat yang nggak suka pedas, ada alternatif lain yaitu Sate Lilit Basah. Inipun dibuat inovasi oleh Pak Budi. Mengingat proses Sate Lilit itu lama, untuk membuat 100 tusuk sate saja bisa memakan waktu 3 jam. Maka dibuatlah Sate Lilit Basah yang tidak diberi tusuk, tapi dicetak. Karena tidak pakai tusuk, maka sate lilit ini hanya dikukus. Penyajiannya pun diberi sedikit kuah dengan irisan mentimun.

Menu Baru Ceker Tugel & Kuah Polos



Ceker Tugel
Siapa yang suka makan ceker? Yang hobi menggigit-gigit tulang harus coba menu baru ini. Yaitu Ceker Tugel. Dinamakan seperti itu karena memang cekernya dalam keadaan patah, jadi memudahkan kita untuk memakannya meski memakai sendok. Rasa pedas dan daging ceker yang empuk membangkitkan selera kami untuk menghabiskan nasi. Cocok banget dinikmati pas hari hujan.

Kuah Polos
Oya, buat yang nggak bisa makan terlalu kering kamu bisa memesan Kuah Polos, yaitu kuah kaldu ayam yang rasanya kental banget dan diberi irisan daun bawang. Buat anak-anak yang belum makan pedas juga bisa jadi pilihan makanan alternatif, tinggal ditambahin potongan daging ayam.

Prestasi Sate Ratu


Ternyata eh, ternyata prestasi Sate Ratu yang baru buka beberapa bulan sungguh mencengangkan karena sudah 2 kali mendapat penghargaan Certificate of Excellence di tahun 2017 & 2018 dari aplikasi TripAdvisor. Penghargaan lainnya adalah Finalis Bango Penerus Warisan Kuliner 2018, dan jadi salah satu dari 99 Finalis BeKraf Startup Indonesia 2018. 


Testimoni dari para wisatawan mancanegara
Kunjungan tamu dari mancanegara juga sudah cukup mencengangkan karena sampai hari kami berkunjung ke sana sudah tercatat ada 2798 orang dari 71 negara berbeda. Wow! Luar biasa ya? Saya sampai terkagum-kagum melihat banyaknya testimoni yang ditulis oleh pengunjung mancanegara di dinding Sate Ratu. Herannya lagi mereka tahunya bukan dari sosial media namun dengan cara mulut ke mulut. Jadi yang sudah pernah berkunjung ke Sate Ratu mereka cerita ke teman-temannya sesama wisatawan asing kalo ada makanan enak dan murah di sana. Jadi buat makan serombongan nggak bikin bangkrut lah.


Yang Istimewa dari Sate Ratu di Kota Istimewa


Rasa modern namun tetap tradisional benar-benar membuat Sate Ratu ini menjadi istimewa, yaitu Teh Tubruk yang disajikan dalam cangkir blirik, tapi gulanya memakai gula pasir bukan gula batu.


Pemiliknya sangat ramah terhadap pengunjung yang datang dan pelayanannya cepat. Ada 4 karyawan yang membantu dalam penyajian. Maka tak heran buat siapapun yang berkunjung ke sini dengan senang hati memberikan testimoninya.

Istimewanya lagi Sang Pemiliknya, Pak Budi Fabian Seputro ini sudah menerbitkan buku tentang kisah hidupnya yang berjudul "Leaving The Comfort Zone". Bukan untuk publikasi diri tetapi adanya keinginan untuk memberikan contoh kepada anaknya yang sekarang berusia 17 tahun tentang etos kerja, kehidupan pekerjaan dll.

Pulang dari mencicipi hidangan menu Sate Ratu rasanya kok nggak afdol jika nggak bawa seporsi Sate Merah untuk suami. Jadi saya memutuskan untuk pesan 1 porsi untuk dibawa pulang.


Kagetnya saya kok dibawain ratusan foto turis yang udah mencoba kelezatan Sate Ratu. Wow! Rasanya istimewa sekali sore itu. Sudah bisa nyicipin, kenalan sama ownernya yang auranya sungguh positif. Terima kasih buat Pak Budi, Pak Lanang dan teman-teman blogger mengisi keseruan kemarin.

Saya bersama dengan teman-teman blogger (doc. Pak Budi).






Rabu, 23 Januari 2019

Siapakah Aku ini, Sehingga Boleh Bangga Menjadi Seorang Narablog di Era Digital?

Mengapa Aku Ngeblog? 



Aku bukanlah siapa-siapa, bukan  artis, bukan anak pejabat atau seorang pujangga, eh*. Aku ini seorang wanita yang punya hobi membaca dan menceburkan diri dalam dunia menulis. 

Maafkan jika tulisanku masih kacau-balau seperti ini dan bikin bosan bacanya. Hiks! Tapi katanya menulis itu harus dilatih terus-menerus biar lancar. 

Waktu kecil nih, aku suka baca buku novel petualangan karya Enid Blyton. Hayooo, apa kamu tahu juga penulis ini? 

Yup, betul sekali. Beliau adalah seorang penulis buku cerita anak-anak dan remaja asal Inggris. Suatu saat aku membaca kisahnya selama menjadi penulis, hal ini yang selanjutnya membuatku ingin menjadi seorang penulis. 

Tahub 2004 aku mulai menulis cerpen dan pertama kalinya juga cerpenku dimuat dalam media cetak. Selanjutnya aku terus menulis cerpen walau kebanyakan ditolak. 

Tahun 2016 merupakan awal mula perjumpaanku dengan blog. Kala itu belum ada niat untuk menjadi 
dan di era digital ini beralih menjadi seorang narablog. 

Seperti yang telah kuceritakan di postingan-postingan sebelumnya bahwa tujuanku membuat blog ini untuk menyimpan berbagai karya cerpen yang telah dimuat di media cetak. Daripada hilang terselip di antara tumpukan buku dan majalah kupikir lebih baik disimpan di dalam sebuah blog. Karyaku abadi dan bisa diakses oleh banyak orang bahkan bisa ditelusuri oleh generasi penerusku kelak. Siapa yang tidak bangga jika ternyata neneknya adalah salah satu pengukir sejarah di dunia digital?

Namun perjalanan waktu mengiringku untuk mengisi blog bukan lagi dengan karya yang dimuat di media melainkan berbagai artikel yang kuikutsertakan dalam lomba blog maupun giveaway. Hal ini dikarenakan banyaknya media cetak yang gulung tikar tergilas perkembangan era industri 4.0 yang sedemikian pesatnya. 

Banyak yang tidak siap menerima perubahan ini. Media cetak makin tergusur dengan kehadiran internet. Sangat mudah mencari informasi lewat dunia maya, berita baru dengan mudahnya tersebar hanya dalam kurun waktu sekian detik. Mau mencari info lowongan pekerjaan, teman lama atau barang antik? Tinggak klik dan taraaa semuanya ada di depan mata. 

Berita dan informasi yang dicetak lewat majalah kini keburu basi ketika sampai di tangan konsumen. Akibatnya orang tidak tertarik lagi membeli majalah. Tentu lebih ekonomis membeli kuota daripada membeli majalah yang sama harganya namun cuma sebentar saja basi. Sementara dengan kuota mereka bisa mengakses internet, menelepon bahkan berbisnis online.

Gugurnya media cetak dalam era digital ini membuat karya cerpenku jadi makin sulit menemukan jodohnya. Jika dulu masih banyak alamat majalah remaja yang bisa kukirimi cerpen, sekarang makin sedikit. Belum lagi harus bersaing dengan ribuan naskah lainnya yang juga menanti nasib untuk diterbitkan. Syukur kepada Tuhan, saya masih untuk berkarya lewat media yang lain. Tuhan memang baik, Ia menuntunku menuju ke padang rumput yang hijau. Di satu sisi pintu tertutup tapi ada pintu lain yang dibukakan Tuhan untuk saya.

Setelah berhasil membuat blog, mata saya makin terbuka bahwa kesempatan menulis bukan hanya menulis cerpen lalu kirim ke media, namun juga menulis artikel di blog yang bisa diikutsertakan dalam giveaway menulis. Saya masih ingat betul tulisan yang ikut giveaway pertamaku berjudul Birthday Cake 6 Jam. Walau kalah saya tidak menyerah, sadar bahwa kemampuanku menulis masihlah minim. Hingga saat ini masih banyak sekali yang perlu saya pelajari. Bukankah kita harus percaya segala sesuatu yang ditekuni pasti akan mendatangkan hasil yang memuaskan. Termasuk menjadi narablog atau blogger. Satu persatu pintu berkat akan terbuka mengalir ke hidupku dan keluargaku sampai ke sesama. 

Siapakah saya? 

Saya adalah seorang yang bisa dikatakan gaptek, nggak tahu apa-apa soal bahasa pemrograman, dst, dsb, dll. Nggak bisa nulis tapi nekat menjadi Narablog. Demi apa? Demi masa depan karena saya tahu ini eranya digital, eranya industri 4.0. Jika tidak mengikuti perkembangan maka saya akan menjadi Dinosaurus yang punah karena tergilas arus. Dan saya tidak mau bernasib demikian. 

Sungguh saya terkesan sama prestasi hebat yang telah dicapai oleh Mas Nodi dan Mas Joe Chandra. Tulisan mereka memang patut diacungi jempol, bahasanya tertata rapi, dilengkapi dengan infografis luar biasa informatif yang membuat para juri jatuh cinta dan menetapkan mereka menjadi juara. 


Moment Spesial yang Membuat Saya Bangga Jadi Narablog di Era Digital



Hasilnya apa jadi Narablog? 

Memangnya dapat uang?

Nominalnya berapa dan dari mana uangnya? 

Yang bayar kamu siapa?  

Pertanyaan mereka wajar, mengingat narablog bukanlah sesuatu yang baru untuk orang yang sudah lama menekuninya, tapi masih belum familiar untuk dijadikan sebuah profesi. Lagipula minat baca di lingkungan sekitar saya masih rendah. Membaca buku masih dianggap pekerjaan yang membuang waktu di dalam keluarga saya. Lalu apa yang membuat saya bangga jadi narablog di era digital? Berikut diantaranya:

1. Menjadi lebih mengenal teknologi

Saya merupakan manusia yang terlambat dalam mengenal komputer & teknologi. Lewat hobi membaca saya bisa tahu tentang bagaimana membuat dan mengelola blog. Lewat blog mau tidak mau saya harus belajar bagaimana membuat postingan yang baik, mengunggah gambar, foto dan video sampai harus bergelut untuk mengenal berbagai aplikasi ponsel pintar. 

2. Melatih ketekunan

Memulai itu mudah, tapi mengerjakan terus-menerus itu butuh ketekunan, konsisten dan komitmen. Jangan pernah membiarkan sesuatu yang telah dimulai tanpa menyelesaikannya. Menulis di blog juga demikian, saya harus terus berjuang agar blog ini nggak jadi rumah kosong tanpa penghuni.

Moment yang bikin saya bangga adalah ketika berhasil menyelesaikan tantangan menulis 30 hari dari Blogger Perempuan. Kalo nggak jadi Narablog saya nggak akan bisa nulis selama 30 hari berturut-turut. 

3. Memberikan rasa percaya diri

Menulis dan membuat blog membuat percaya diri saya bertumbuh. Jujur saya termasuk orang yang susah untuk bergaul di dunia nyata karena suara saya kecil jadi akan sulit bagi orang menangkap apa yang saya bicarakan. Jadi saya lebih percaya diri jika disuruh melakukan pekerjaan yang jarang berinteraksi dengan orang lain minimal saya tidak harus berbicara di ruangan yang besar dan bising. Maka menjadi penulis atau Narablog merupakan pekerjaan yang cocok buat saya dan membuat pede jika ditanya kamu kerja apa? 

4. Mendapat reward

Walau belum pernah menyabet gelar juara lomba blog yang hadiahnya besar, saya sering juga mendapat reward berupa hadiah hiburan berupa buku, pulsa, voucher belanja, souvenir, kaos, kosmetik dan uang tunai. Saking seringnya dapat hadiah, tukang paketnya sampai hapal nama saya, hi, hi. Tahun ini berharap bisa dapat hadiah yang lebih besar, amin.

5. Berkenalan dengan teman-teman blogger

Tahun 2018 adalah tahun yang spesial buat saya karena akun sosial media saya mendapat follower baru dan banyak teman-teman blogger yang berkunjung ke sini. Bahkan saya bisa kopdar sama mereka. Rasanya bangga dan bahagia banget bisa menemukan orang-orang yang mempunyai minat sama dan belajar dari mereka.

 6. Dapat kesempatan spesial

Bisa hadir di acara untuk meliput atau tugas review dan mencoba produk baru yang belum diluncurkan ke pasaran bagiku sangatlah spesial. Tak semua orang dapat kesempatan seperti ini. Masuk keluar hotel mewah juga menjadi kesempatan spesial buat saya ketika menghadiri event yang diadakan di sana. 

Bertemu dengan Nia Dinata di event Viu kemarin juga nggak bakal bisa terwujud kalo saya bukan narablog. Lalu kesempatan spesial apalagi yang sedang menunggu saya di depan? Kita lihat saja nanti, he, he.

7. Ketika muncul jadi pemenang lomba blog

Ketika nama saya tertulis menjadi juara ke-3 blog competition yang diadakan oleh Taruna Ngeblog. Wow, rasanya sukar dipercaya. Saya bisa menang juga! Mau tahu tulisan saya yang bikin jadi juara 3? Ini dia:



 "MemanfaatkanSosial media untuk Mengembangkan Potensi dalam Diri" 

Yang kedua adalah menang lomba blog yang diadakan oleh Nusaresearch. Saya juga nggak menduga bisa menang di kompetisi itu. Kok bisaaa? Maaf jika saya terlalu narsis, maklum saya jarang sekali menang lomba, tapi beginilah cara saya menyemangati diri agar tidak keburu kecil hati sebelum bertanding. Termasuk ikut kompetisi ini, jujur saya maju mundur cantik, ikut enggak, ikut enggak, akhirnya nekat. Berbekal peribahasa yang berbunyi "kamu tidak akan tahu hasilnya sebelum mencoba" saya pun ikut.

Resolusi Saya di Tahun 2019



1. Merapikan blog & branding diri

Saya sering membuka postingan lama dan terkejut karena menemukan tulisan yang begitu ala kadarnya, berantakan dan nggak banget deh! Maka saya mau rapikan pelan-pelan, baik huruf, jarak antar paragraf agar lebih enak dibaca.

2. Lebih selektif dalam mengikuti lomba blog 

Jika dulu saya semangat banget ikut lomba blog, ini-itu ikut nggak peduli temanya yang penting nulis. Akhirnya saya nggak fokus karena harus mengejar deadline yang banyak dengan tema yang masih asing. Akibatnya nihil dapat hadiah hiburan saja enggak, hiks! Resolusi tahun ini lebih baik ikut satu lomba blog tapi temanya masuk dan bisa dikuasai sehingga nggak asal nulis.  

3. Rajin blogwalking 

Saya akui jarang blogwalking ke mana-mana, blog yang dikunjungi cuma itu-itu aja sih. Padahal blogwalking juga bisa membuat saya tahu ada blog yang tulisannya bagus, bermanfaat dan banyak hal-hal yang belum saya ketahui. 

4. Rajin share ke sosial media

Habis posting tulisan lalu santai nggak share kemana-mana, tapi nungguin traffic pengunjung naik. Itulah saya padahal banyak cara buat mempromosikan blog salah satunya share media sosial. Tahun ini mesti berubah deh. Share ayo share! 

5. Belajar fotografi

Foto termasuk hal yang membuat blog jadi menarik. Sayangnya saya nggak bisa motret. Namun segala sesuatu bisa dipelajari kan? 

6. Bikin jadwal posting

Ini yang nggak mudah, harus punya jadwal posting biar nggak bolong-bolong. 

7. Ikut event

Salah satu cara biar terus bisa menulis adalah menghadiri event supaya ada bahan untuk ditulis. Mengulas acara secara langsung dan menulis di blog ternyata menyenangkan. 

8. Aktif lagi menulis di media online

Awal tahun lalu saya menulis untuk media online namun berhenti ketika di tengah-tengah tahun. Saatnya saya menulis lagi supaya dapat penghasilan dari sana juga. 

Harapan saya tentu saja agar bisa menjadi seorang narablog yang bermanfaat bagi keluarga dan banyak orang. Diberkati untuk menjadi berkat, amin. 







Rabu, 16 Januari 2019

Ingin Ide Ceritamu Dibikin Film? Yuk Ikuti Viu Pitching Forum 2019


doc. pri

Kesempatan nggak pernah datang untuk kedua kalinya. Itu yang saya pikirkan ketika membaca pengumuman tentang adanya event Viu Pitching Forum 2019 ini. Saya memang suka menonton film, baik berupa serial ataupun layar lebar, bahkan saya pernah bermimpi ingin terlibat dalam sebuah proses pembuatan film. Bukan jadi pemainnya, tapi ingin menyumbangkan ide cerita lantas diwujudkan menjadi sebuah film.

Karena itulah di saat mendengar ada kegiatan Road Show Dialog Film bersama Nia Dinata (sutradara dan produser) dan Myra Suraryo (Viu Senior Vice President Marketing) di Jogja saya langsung tertarik mendaftar. Kali ini bukan sebagai peserta tetapi jadi blogger. Sempat gugup juga ketika mau hadir acara ini, karena saya tahu yang ikut di sini pasti orang-orang yang sudah kenal sama dunia perfilman. Dan benar saja di hari H, yang datang kebanyakan mahasiswa/i dari Jogja Film Akademy, tempat di mana dialog film diselenggarakan.

Yogyakarta sangatlah beruntung karena menjadi kota pertama dari 10 kota di Indonesia yang akan disinggahi oleh tim Viu dalam rangka kegiatan road show Dialog bersama Nia Dinata. Kegiatan ini mengawali ajang pencarian talenta Indonesia Viu Pitching Forum. Kota-kota yang akan disambangi selanjutnya ada Jakarta, Tangerang, Bandung, Padang, Yogyakarta, Medan, Balikpapan, Surabaya, Bali dan Manado. 

Mengenal Viu

Myra Suraryo-Senior Vice President Marketing Viu

Di kesempatan dialog kali ini, Myra Suraryo memperkenalkan apa itu Viu, visi misinya dan tentang tujuan diadakannya Pitching Forum 2019. Di antara peserta yang hadir ternyata masih banyak yang belum mengenal Viu.

Jadi Viu ini adalah sebuah layanan video OTT terkemuka yang tersedia di 16 negara Asia dan negara-negara Timur Tengah seperti Hong Kong, Singapura, Indonesia, Korea, Malaysia, India, Filipina dan Thailand. Viu ini sudah ada juga di negara-negara Timur Tengah seperti UAE, Saudi Arabia, Mesir, Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Oman dan Qatar. 

Misi Viu di Indonesia adalah untuk menjadikan Viu sebuah wadah di mana pemirsa di Indonesia menikmati tayangan-tayangan terbaik dari seluruh Asia bahkan banyak tayangan yang bisa dinikmati pada saat tayangan itu dirilis di negara aslinya. Wow banget kan?! Itu artinya kita bisa menonton tayangan baru lengkap dengan subtitle bahasa Indonesia di hari yang sama film itu ditayangkan.

Komitmen Viu yang lain adalah sebagai wadah yang memfasilitasi para sineas Indonesia memamerkan karyanya ke dunia internasional. Teh Myra ini menceritakan bahwa sineas Indonesia kalo mau membawa karyanya ke festival film internasional seringnya dengan biaya sendiri yang otomatis harus bergerak sendiri juga.

Karena biaya produksi film itu sangat besar, kadang sulit mencari investor yang mau membiayai semua yang dibutuhkan dalam memproduksi sebuah film. Setelah film selesai diproduksi maka perlu distribusi dan promosi yang biayanya justru lebih besar dari biaya produksinya.


Viu Pitching Forum


Di sesi kedua giliran Teh Nia Dinata menjelaskan tentang pitching forum, apa saja yang harus disiapkan untuk mengikuti acara ini dan memberi beberapa contoh sinopsis ide cerita yang menarik.

Viu Pitching Forum adalah sebuah acara tahunan yang didedikasikan untuk memfasilitasi dan mengembangkan ide-ide cerita yang dimiliki oleh sineas Indonesia untuk menjadi Viu Originals selanjutnya. Kesempatan ini bisa digunakan oleh para sineas film untuk mensubmit ide cerita mereka ke Viu, lalu diseleksi dan selanjutnya dipilih 12 finalis yang akan mengikuti workshop di Jakarta selama 6 hari.

Para finalis ini akan masuk ke sesi workshop bagaimana mempresentasikan sebuah ide cerita kepada investor, apa saja yang harus disiapkan, bagaimana cara presentasinya agar ide diterima dan dibiayai oleh investor. Intinya supaya para investor ini yakin bahwa ide cerita kamu menarik banyak penonton dan akhirnya bisa menghasilkan keuntungan yang signifikan.

Harapan dari diadakannya Viu Pitching Forum ini agar Viu bisa membawa hasil karya anak bangsa ke dunia internasional yang bisa dinikmati oleh banyak orang di seluruh dunia. Dan bisa memberikan sumbangsih kepada pendapatan nasional Indonesia melalui ekonomi kreatif.

Viu merupakan jenis industri perfilman yang baru. Jaman sudah berubah. Kini orang sudah tidak lagi menonton di layar lebar bioskop, mereka memilih menonton di rumah seperti melalui televisi, You Tube dan Viu.

Apa sih Pitching Forum itu? 



Nia Dinata-Sutradara Film & Founder Kalyana Shira Film
Nia Dinata menjelaskan secara simple, pitching itu adalah presentasi di depan umum untuk menjelaskan ide cerita dalam waktu terbatas antara 3-10 menit. Bisa nggak dalam waktu sesingkat itu kamu menjelaskan ide cerita agar orang tertarik untuk percaya memproduksi dan mau membiayai film itu. Jadi untuk menjadi orang film harus bisa menguasai teknik dan seninya pitching.

Apa saja yang dibutuhkan untuk mengikuti Viu Pitching Forum?

Perlu diketahui jika Viu ini mencari ide cerita fiksi yang bagus untuk serial berkualitas biasanya 13 episode, durasi 45 menit tiap episode. Teh Nia menjelaskan apa saja sih yang disiapkan jika ingin mengikuti Viu Pitching Forum 2019.

Syarat-syarat mengikuti Viu Pitching Forum:
1. Sinopsis cerita dalam 1 halaman PDF, minimal 300 kata, maksimal 500 kata.
2. Deskripsi karakter bentuk PDF, karakter tokoh utama dan pendukung.
3. Video berdurasi 30 detik-1 menit.
4. Memiliki akun Viu Premium minimal 1 bulan aktif.
5. Tergabung dalam dramalovers.
6. Kirim ke pitchtoviu@vuclip.com dengan subject: NamaPeserta_JudulCerita
7. Ide cerita bisa mulai disubmit tanggal 20 Januari-28 Febuari 2019.

Selanjutnya Viu akan memilih 10 finalis, yang akan mengikuti workshop selama 6 hari di Jakarta dengan bimbingan dari mentor-mentor yang sudah profesional seperti Sammaria Simanjuntak (Sutradara & Produser), Andri Cung (Sutradara & Penulis Naskah), Pritagita Arianegara (Sutradara) dan Aline Justria (Editor).

Sedangkan yang bertindak menjadi juri adalah Myra Suraryo (Viu Senior Vice President Marketing Indonesia) dan Aileen Leong (Viu Head of Content Indonesia), Nia Dinata (Sutradara & Produser), Lucky Kuswandi (Sutradara & Penulis Naskah), Melissa Karim (Produser & Penulis Naskah) dan Juri dari Institut Kesenian Jakarta.

Dalam dialog kali ini juga diadakan sesi tanya jawab. Banyak peserta yang begitu antusias bertanya bahkan di antara mereka ada yang bertanya seandainya terpilih, boleh bawa tim nggak ikut bikin film? Kalo sudah terpilih, ikut workshop, menang dan idenya dibikin film selanjutnya nasib saya gimana? He, he, agak lucu juga sih tanyanya tapi semua dijawab sama Teh Nia dan Teh Myra.

"Mending nonton dulu deh, film yang ada di Viu jadi kalian tahu yang dimau oleh Viu kayak apa," saran teh Myra. Betul juga sih, mumpung masih panjang waktunya buat memikirkan ide terbaik dan mengirimkan persyaratan ke Viu. Ayo, ayo kirim ide ceritamu ke Viu Pitching Forum sebanyak-banyaknya, siapa tahu karyamu yang terpilih untuk dijadiin film. 

Oya, dalam dialog kemarin juga diumumkan bahwa 2 pemenang Viu Pitching Forum 2018 adalah HALUSTIK dan Knock Out Girl yang diluncurkan pada bulan September dan Desember kemarin. Film "Knock Out Girl" sendiri akan hadir dalam 13 episode dengan durasi 45 menit per episode dengan waktu tayang setiap Rabu & Kamis di www.viu.com atau di aplikasi Viu.

Informasi selanjutnya tentang Viu ini bisa diakses melalui akun media sosial Viu Indonesia di Facebook, Instagram, You Tube dan Viu Blog.

Peserta Viu Pitching Forum 2019 Roadshow Dialog Film Yogyakarta


Sumber foto: Media Buffet 


This entry was posted in

Senin, 14 Januari 2019

Keseruan Perayaan Ultah Jaric, Sebuah Komunitas Crafter di Jogja


Para Jabricers, sebutan buat anggota Jabric (doc. Mbak Lusi).
Semua serba ungu unyu-unyu, begitu saya menginjakkan kaki di lantai dua Pondok Cabe Bistro C. Simanjuntak. Ada apakah gerangan di sana? Kok, banyak yang pakai dress warna ungu (kecuali saya, he, he, he)? Ternyata di sana ada sebuah komunitas yang sedang merayakan ulangtahunnya.

Yuhu, tanggal 12 Januari adalah ulang tahun ke-4 buat Jaric, sebuah komunitas di Jogja yang isinya orang-orang kreatif dan punya hobi bikin handmade dari kain atau benang.

Jaric ini singkatan dari Jogja Fabric Club yang artinya komunitas pecinta kain dan produk-produk dari kain yang ada di Jogja. Komunitas Jabric ini sering mengadakan kopdar kreatif di Jogja, biasanya kalo sudah ngumpul pasti menghasilkan karya kerajinan tangan yang unik seperti tas, dompet, tempat pencil, bunga, dll.

Saya sendiri bukanlah anggota komunitas ini. Di sini saya hadir sebagai tamu undangan dari blogger bersama Mbak Lusi, Mbak Agustina, Mbak Iffa dan Mbak Phie. Kami sendiri tergabung dalam Komunitas Blogger Jogja.

Kalau puluhan orang kreatif dikumpulin jadi satu dalam ruangan tentu menjadikan acara ini jadi beda sama acara ultah lainnya. Mulai dari souvenir saja sudah beda. Tempat souvenirnya adalah dompet serut handmade, kipas handmade, notebook kecil ungu dan kalender meja yang didesain sendiri oleh salah satu admin Jaric.

Souvenir yang saya terima, lucu kan? (doc.pri)
Sebelum saya datang ke acara ini, saya sempat  mencari-cari akun medsosnya Jaric. Bertemulah saya dengan akun IG-nya, di situ saya jadi mupeng deh, melihat bocoran doorprice yang bakal dibagikan ke anggotanya. Sayang saya bukanlah anggota komunitas Jaric, jadi saya cuma bisa melihat saja hu, hu, hu.

Para admin Jabric sedang menyiapkan doorprize buat para peserta Jaric4th (doc.IG jogja_fabric_club).
Acara pertama dibuka dengan perkenalan para admin yang bekerja dibalik Jabric dan sambutan dari Mbak Mei Wulandari selaku founder dari Jabric. Para admin ini sangat ramah menyapa kami, jadi serasa berada di komunitas kami sendiri.

Yang bikin saya terheran-heran adalah tempat tinggal para admin ini ternyata rumahnya jauh-jauh, ada yang dari Gunung Kidul, Prambanan, Wonosari. Kebayang kan, perjuangan mereka untuk mendirikan komunitas yang ada di Jogja ini. Nggak kebayang deh, kesibukan mereka dalam menyiapkan acara kopdar ultah ini, padahal mereka itu juga seorang istri sekaligus ibu dari anak-anak yang masih kecil dan mengurus usaha craft. Wow!

Para admin tiup lilin (doc.pri).
Belum ultah kalo nggak tiup lilin ya. Karena adminnya banyak maka yang meniup juga banyak. Para Jabricers cilik juga sudah ngumpul siap-siap mau ikut tiup lilinnya. Wah, yang ultah banyak ya?

Seru, unik, beda. Itu 3 kata dari saya jika ditanya apa kesanmu setelah ikut kopdar ultah bersama Jaric ini.

Taburan hadiah banyak banget! Beneran cuma bagi-bagi deh acara ini. Semua peserta pasti kebagian karena saking banyaknya hadiah dan doorprize.

Ada juga polling buat admin yang ter-ramah, ter-eksis dan ter-jaim. Saya sempat bingung mau milih yang mana di antara 10 orang admin karena baru pertama bertemu dan masih lupa-lupa ingat namanya tadi waktu perkenalan. Akhirnya saya mengeluarkan jurus cup, cup, kembang kuncup, pilih yang mana, ha, ha, ha.

Apa uniknya? Acara ini santai banget, bertabur hadiah dan bagiin souvenir/goodie bagnya unyu-unyu. Jujur, saya suka banget sama bag-nya itu dan kalendernya, lucu banget! Satu lagi yang unik adalah jenis permainan yang diadain di sini seperti masang kepala rits, menyusun manik-manik, mengikat kain, dan anak-anak juga ikut lho!

Anak-anak juga ikut games (doc,pri).
Apa permainan buat anak-anak? Saya nggak tahu gimana nulisnya, tapi anak-anak ini menuruni ibunya yang suka nge-craft. Nggak cuma anak cewek, yang cowok pun nggak kalah bisa masukin tali ke pola yang berlubang. Saya belum tentu bisa secepat mereka, hi, hi, hi. Wow, buah memang jatuh nggak jauh dari pohonnya ya?

Spesial Gift

Bukan komunitas crafter kalo kasih hadiah biasa aja, buatan pabrik, dijual bebas di pasaran. Jauh deh dari kata itu. Karena sehari sebelumnya saya sudah mengintip instagram Jaric, sedikit punya bocoran ada wooden watch yang nantinya akan diberikan kepada salah satu peserta. Benar saja sebuah jam tangan handmade telah disiapkan sebagai kejutan. Para peserta harap-harap cemas ketika hadiah itu dibawa oleh salah satu admin berputar mengelilingi ruangan untuk memilih peserta dengan kriteria dress code terbaik. Teryata Mbak yang duduk di depanlah yang terpilih.

Selamat! Bajunya memang keren dan serasi banget deh, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sayang saya motretnya kurang ke bawah, jadi sepatunya nggak kelihatan, hu, hu, hu (doc. pri).
Selamat ya Mbak yang pakai baju hitam kombinasi dengan ungu, serasi banget dengan tas dan sepatunya deh! Pantas menang dapat jam tangan keren.

Name tag yang khusus bertuliskan nama saya. (doc.pri)
Ada satu lagi yang berkesan buat saya adalah dengan pemberian name tag buat kami, 5 blogger Jogja. Khusus lho buat kami. Saya melihat para peserta aja memakai name tag biasa dan nggak sebagus ini (bikin saya jadi GR nih!).Thanks buat Jaric yang sudah mengapresiasi kedatangan kami berlima, saya, Mbak Lusi, Mbak Agustina, Mbak Phie dan Mbak Iffa.

Pouch hasil karya anggota Jabric, bagus-bagus ya? (doc. Mbak Lusi).
Sebelumnya juga ada sebuah event perlombaan bikin pouch dan pemenangnya mendapat hadiah. Salah satu dari kami diminta untuk memilih pouch yang paling unik, setelah lempar-lemparan diantar kami akhirnya Mbak Phie yang mau jadi jurinya. Terus terang saya itu nggak bisa memilih mana yang unik, takutnya semua saya pilih dan akhirnya baper karena nggak bisa membawa pulang salah satu dari mereka. Jadi lebih baik jurinya bukan saya, wkwkwk.

Akhir kata dari saya untuk Jaric, semoga menjadi komunitas yang terus berkelanjutan, makin sukses, juga menjadi wadah bersilahturahmi bagi para pecinta crafter, berbagi ilmu dan makin maju, amin.

This entry was posted in

Kamis, 10 Januari 2019

Meriahnya Perayaan Natal & Tahun Baru Komsel El-Shadday GBI KA Jogja



Selamat Natal & Tahun Baru 2019. Kiranya sukacita & damai Natal selalu melingkupi kita semua dan semua impian yang belum terwujud di tahun 2018 bisa segera terwujud di tahun ini, amiin.

Di sela-sela kesibukan pekerjaan dan pelayanan anggota keluarga Komsel El-Shadday, akhirnya kami bisa berkumpul pada 6 Januari 2019 kemarin. Serba mendadak menyiapkan segala sesuatu dan melangkah dengan iman meski dana yang ada sangatlah minim. Namun Tuhan senantiasa menyediakan apa saja yang dibutuhkan oleh anak-anakNya karena dialah Tuhan Sang Sumber Berkat. 

Merencanakan dalam waktu 3 minggu untuk sebuah acara kecil seperti ini, bukan tanpa kendala. Meski sudah dibikin grup WA masih saja komunikasi kurang lancar. Karena tak semua panitia bisa menanggapi chat sewaktu-waktu. Rapat juga cuma diadakan dua kali, itu pun tak semua panitia bisa hadir. Hanya dengan sebuah kerinduan dari semua anggota Komsel untuk bisa merayakan Natal bersama-sama setelah tahun-tahun sebelumnya bagi kami Natal hanya lewat begitu saja. Di tahun baru ini kami ingin berbenah, mulai aktif kembali membuat Komsel tak lagi hanya kegiatan yang monoton.

Bagi yang belum tahu apa itu Komsel, saya jelaskan jadi Komsel singkatan dari Kelompok Sel. Komsel ini adalah keluarga rohani bagian dari gereja yang paling kecil. Supaya setiap anggota bisa mendalami Firman yang disampaikan setiap minggu maka diadakan Komsel. Di Komsel setiap anggota saling memperhatikan, jika ada yang kesulitan maka kami akan saling membantu, baik secara rohani maupun secara jasmani.

Mbak Puji memimpin pujian bersama Pak Bagus sebagai gitaris.

Bu Jono memimpin doa pembukaan

Kado silang dari anggota Komsel El-Shadday

Semua bisa hadir mengikuti acara perayaan Natal & Tahun Baru 2019.

Bu Siti memberi sambutan 

Pak Sihite memimpin doa penutup

Doa berkat oleh Bu Siti.

Game dipimpin oleh saya dan Mas Gedor.

Peserta hadap belakang dulu, sementara ketua tim diberi clue oleh MC

Para peserta game tebak gerakan

Kamu lagi ngapain sih, Rio? Hi, hi, hi.

"Clue yang benar apa sih, Mbak Yus?" Tanya Bu Tri penasaran.

Semuanya menang! Horeee!

"Permainan ini nggak ada yang kalah, semuanya pemenang, saya bagi-bagi nomor dulu ya!"

Saya dapat kado nomer berapa ya, Kak?

"Adek dapat nomor berapa?" Mas Gedor sibuk mencari kado sesuai nomor.

"Selamat datang di Komsel kami, Bu Tatik," Bu Siti memberikan hadiah untuk keluarga baru Komsel El-Shadday.

Terimakasih Bu Jono untuk kesetiaannya mengikuti Komsel dan selalu memberkati kami semua dengan Setup Jambu.

Doa makan pulang dipimpin oleh Mbak Nila.

Puji Tuhan akhirnya semua senang dan bersukacita bersama dalam acara ini. Ke depannya saya berharap Komsel El-Shadday terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dan tiap anggotanya makin dipulihkan segambar dan serupa denganNya. Amin