Senin, 28 Januari 2019

Sate Ratu Bukan Sate Biasa


"Mbaak, udah pernah nyicip Sate Ratu?
Kalo blum, mau nyicip free gak? Syarat posting IG dan blog."

Begitu isi pesan dari Mbak Agustina. Nggak pakai mikir kelamaan, langsung saya iya kan ajakan tersebut. Kapan lagi saya dapat mencicipi kelezatan Sate Merah yang fenomenal itu? Gratis lagi! Wkwkwkw.

Saya memang sudah pernah membaca tentang Sate Ratu atau Angkringan Ratu, tapi belum pernah sekalipun mencicipi. Jadi Jumat siang saya ke Jogja Paradise depan JCM janjian dengan 5 teman blogger lainnya yaitu Mas Wahyu, Mbak Agustina, Mbak Sapti, Mbak Latifah dan Mbak Ika. Tiba di sana saya langsung melihat papan petunjuk bahwa Sate Ratu yang tadinya di depan kini pindah ke belakang. Tak perlu bingung mencari tempatnya, karena dari depan sudah terlihat papan besar bertuliskan logo Sate Ratu.

Di bagian belakang ini, outlet Sate Ratu terasa lebih luas dibandingkan dengan outlet yang di dekat parkiran tadi sehingga cocok jika ke sini makan bersama keluarga atau rombongan.

Pak Budi bersama 5 teman blogger.
Kami disambut hangat oleh Pak Budi yang merupakan owner Sate Ratu dan juga Pak Lanang, rekannya. Mereka ini sudah menjadi rekan kerja sejak tahun 1997 di salah satu hotel Surabaya, lalu keduanya sempat berpindah-pindah pekerjaan dalam bidang industri entertainment, konsultan dan karaoke. Bosan terus terikat dengan jam kerja yang tak menentu serta tidak adanya waktu untuk bersama keluarga, mereka resign dan memutuskan untuk berwirausaha. Akhirnya pada Juli 2015, dimulailah perjalanan baru mereka dalam usaha yang diberi nama "Angkringan Ratu" yang berada di Jalan Solo.
Pak Budi sedang bercerita tentang Sate Ratu.

Pak Lanang sedang menjaga outlet.
Nama "Ratu" sendiri dipilih karena mempunyai konotasi sesuatu yang tradisional, yang njawani namun mempunyai kelas yang premium. Angkringan Ratu ini sempat mempunyai 6 cabang. Tapi karena semua produk dibuat sendiri dengan macam menu khas angkringan dan 20 macam sate, Pak Budi merasa kewalahan. Di lain sisi, sistem angkringan yang meletakkan makanan di display membuat stok makanan tidak bisa selalu habis. Kebanyakan pengunjung tidak mau jika mengambil makanan yang sudah tinggal sedikit, akibatnya selalu ada makanan yang tidak habis terjual.

Testimoni Angkringan Ratu.
Keadaan ini membuat Pak Budi jadi berpikir bagaimana menjual tanpa harus memperlihatkan stok makanan yang ada agar selalu habis hingga tetes terakhir. Angkringan Ratu pun berubah menjadi Sate Ratu yang sekarang berada di Jogja Paradise Foodcourt, Jl. Magelang No. KM.6, Kutu Tegal, Sinduadi, Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sate Merah & Sate Lilit Basah



Sate Merah yang menggoda.
Menu ini adalah salah satu menu wajib yang harus dicoba jika ke Sate Ratu. Dijamin kamu nggak akan nyesel telah mencicipi hidangan ini. Beda dari sate-sate pada umumnya, Sate Merah ini berwarna merah agak kecoklatan dan tidak diberi tambahan bumbu kecap atau kacang. Rasa bumbunya sudah meresap sampai ke dalam daging. Empuk dan agak pedas.

Merasakan sensasi Sate Merah yang berbeda dari sate biasa, maka tak salah jika kalimat "kesukaan turis mancanegara dan Indonesia" ini dipakai oleh Sate Ratu sebagai tagline-nya.

Buat teman-teman blogger tidak merasa kepedasan, tapi untuk saya lumayan pedas. FYI, saya bukanlah pecinta makanan pedas tapi untuk makan 6 tusuk Sate Merah dengan nasi masih berani lah.

Menurut Pak Budi, turis dari Amerika atau Eropa yang umumnya tidak menyukai makanan pedas saja tetap menghabiskan satenya walau sering minum. Jadi masih bisa diterima oleh lidah orang luar negeri apalagi kamu orang Indonesia, masa nggak berani makan pedas? *tunjukdirisendiri.


Sate Lilit Basah
Buat yang nggak suka pedas, ada alternatif lain yaitu Sate Lilit Basah. Inipun dibuat inovasi oleh Pak Budi. Mengingat proses Sate Lilit itu lama, untuk membuat 100 tusuk sate saja bisa memakan waktu 3 jam. Maka dibuatlah Sate Lilit Basah yang tidak diberi tusuk, tapi dicetak. Karena tidak pakai tusuk, maka sate lilit ini hanya dikukus. Penyajiannya pun diberi sedikit kuah dengan irisan mentimun.

Menu Baru Ceker Tugel & Kuah Polos



Ceker Tugel
Siapa yang suka makan ceker? Yang hobi menggigit-gigit tulang harus coba menu baru ini. Yaitu Ceker Tugel. Dinamakan seperti itu karena memang cekernya dalam keadaan patah, jadi memudahkan kita untuk memakannya meski memakai sendok. Rasa pedas dan daging ceker yang empuk membangkitkan selera kami untuk menghabiskan nasi. Cocok banget dinikmati pas hari hujan.

Kuah Polos
Oya, buat yang nggak bisa makan terlalu kering kamu bisa memesan Kuah Polos, yaitu kuah kaldu ayam yang rasanya kental banget dan diberi irisan daun bawang. Buat anak-anak yang belum makan pedas juga bisa jadi pilihan makanan alternatif, tinggal ditambahin potongan daging ayam.

Prestasi Sate Ratu


Ternyata eh, ternyata prestasi Sate Ratu yang baru buka beberapa bulan sungguh mencengangkan karena sudah 2 kali mendapat penghargaan Certificate of Excellence di tahun 2017 & 2018 dari aplikasi TripAdvisor. Penghargaan lainnya adalah Finalis Bango Penerus Warisan Kuliner 2018, dan jadi salah satu dari 99 Finalis BeKraf Startup Indonesia 2018. 


Testimoni dari para wisatawan mancanegara
Kunjungan tamu dari mancanegara juga sudah cukup mencengangkan karena sampai hari kami berkunjung ke sana sudah tercatat ada 2798 orang dari 71 negara berbeda. Wow! Luar biasa ya? Saya sampai terkagum-kagum melihat banyaknya testimoni yang ditulis oleh pengunjung mancanegara di dinding Sate Ratu. Herannya lagi mereka tahunya bukan dari sosial media namun dengan cara mulut ke mulut. Jadi yang sudah pernah berkunjung ke Sate Ratu mereka cerita ke teman-temannya sesama wisatawan asing kalo ada makanan enak dan murah di sana. Jadi buat makan serombongan nggak bikin bangkrut lah.


Yang Istimewa dari Sate Ratu di Kota Istimewa


Rasa modern namun tetap tradisional benar-benar membuat Sate Ratu ini menjadi istimewa, yaitu Teh Tubruk yang disajikan dalam cangkir blirik, tapi gulanya memakai gula pasir bukan gula batu.


Pemiliknya sangat ramah terhadap pengunjung yang datang dan pelayanannya cepat. Ada 4 karyawan yang membantu dalam penyajian. Maka tak heran buat siapapun yang berkunjung ke sini dengan senang hati memberikan testimoninya.

Istimewanya lagi Sang Pemiliknya, Pak Budi Fabian Seputro ini sudah menerbitkan buku tentang kisah hidupnya yang berjudul "Leaving The Comfort Zone". Bukan untuk publikasi diri tetapi adanya keinginan untuk memberikan contoh kepada anaknya yang sekarang berusia 17 tahun tentang etos kerja, kehidupan pekerjaan dll.

Pulang dari mencicipi hidangan menu Sate Ratu rasanya kok nggak afdol jika nggak bawa seporsi Sate Merah untuk suami. Jadi saya memutuskan untuk pesan 1 porsi untuk dibawa pulang.


Kagetnya saya kok dibawain ratusan foto turis yang udah mencoba kelezatan Sate Ratu. Wow! Rasanya istimewa sekali sore itu. Sudah bisa nyicipin, kenalan sama ownernya yang auranya sungguh positif. Terima kasih buat Pak Budi, Pak Lanang dan teman-teman blogger mengisi keseruan kemarin.

Saya bersama dengan teman-teman blogger (doc. Pak Budi).






8 komentar:

  1. Sate Merah-nya Sate Ratu memang juara banget ya, kak

    BalasHapus
  2. Sebagai pecinta sate, saya sangat amat tergoda dengan sate merah nya.. huaaaaaa.. pengeeeen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus cobain, enak banget! Cocok buat pecinta sate lhooo...:D

      Hapus
  3. Pengen tau rasanya sate lilit basah deh Mbak. Itu kuahnya berasa asem kayak kuah pempek begitu kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sate Lilitnya berasa ayam semua, empuk dan lezat. Kuahnya di Sate Lilit itu nggak kayak kuah pempek, cenderung manis plus segar karena ada mentimunnya. Kalo kuah polos itu rasanya kayak kuah sop atau bakso ayam, asin.

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.