Sabtu, 16 Mei 2020

Komik Pak Janggut, Buntelan Ajaib dan Nostalgia

Komik Pak Janggut

Komik Pak Janggut 


Beberapa waktu lalu, aku terpana membaca tweet seorang kawan. Di dalam cuitan tersebut, dia mengunggah gambar komik Pak Janggut. Ingatanku pun melayang pada masa kecilku. Komik ini pernah Ä·utemukan dalam majalah Bobo menjadi cerita gambar bersambung.

Waktu aku kecil, komik ini sudah tidak ada lagi di majalah Bobo. Tapi aku menemukannnya di majalah lawas yang kubeli di kios majalah bekas. Dulu aku memang suka membeli majalah bekas daripada majalah yang baru. Apalagi alasannya jika bukan pengen ngirit, ha, ha. Ya, sejak kecil aku udah perhitungan kalo masalah duit, wkwkw.

Majalah bekas yang kubeli berupa bundelan berisi 5 edisi majalah Bobo dari tahun 90-an. Begitu tebal tentunya. Tapi aku suka membacanya berulang-ulang, baik cerpennya, artikel dan komik Pak Janggut. Bahkan sampai kini aku masih menyimpannya di rumah Purwokerto.

Pak Janggut dan Buntelan Ajaib

Untuk kalian yang belum kenal sama Pak Janggut, mari kukenalkan ya. Pak Janggut adalah seorang kakek tua dengan ciri khas baju hijau yang selalu membawa buntelan ke mana-mana.

Secara fisik, Pak Janggut ini sangat pendek, tapi tidak diceritakan dia itu termasuk kurcaci atau bukan. Setiap cerita Pak Janggut berlatar belakang Benua Eropa di abad ke-17, dunia peri, fantasi, sihir dan kerajaan.

Ibarat Kantong Doraemon, Buntelan Ajaib yang dibawa Pak Janggut bisa memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan. Bentuk Buntelan Ajaib hanyalah sebuah kain yang digantungkan ke ujung tongkat kayu. Sepintas memang tidak seperti sebuah kantong ajaib.

Dari buntelan ajaibnya, Pak Janggut bisa mengeluarkan berbagai macam barang, seperti uang, emas, makanan, alat mancing dan hadiah untuk orang-orang. Anehnya, buntelan ajaib menjadi kosong jika diperiksa oleh orang lain.

Komik Terjemahan

Komik Pak Janggut merupakan karya terjemahan dari komik berbahasa Belanda dengan judul asli Douwe Dabbert. Terbit pertama kali di majalah Donald Duck pada tahun 1975. Pengarangnya adalah seorang komikus bernama Pieter Cornelis Wijn.

Dalam bahasa aslinya, Pak Janggut masih terbit sampai tahun 2001. Setelah itu, pengarangnya sakit-sakitan dan tidak bisa menggambar lagi.

Douwe Dabbert sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing lainnya seperti Denmark dengan judul Gammelpot, bahasa Jerman dengan judul Timpe Tampert.

Komik Pak Janggut ini pernah menghiasi Majalah Bobo dari tahun 1980-an hingga 1990-an. Pada waktu itu, diterbitkan dengan cara sisipan cerita bersambung.

Buat kamu yang penasaran atau ingin bernostalgia kembali dengan komik Pak Janggut, bisa mendownloadnya di https://komiknostalgia.wordpress.com/2014/07/12/komik-pak-janggut/


Baca juga: Cerpen Anak Pertamaku yang Tampil di Media, Berbagi Itu Asyik 

Cerpen Clara, Sepasang Sepatu dan Cowok Es Krim






7 komentar:

  1. Wah majalah bobo suka saya baca tapi lupa-lupa ingat ada komik pak janggut nanti dibaca deh.. .

    BalasHapus
  2. Aku kok lupa ya sama tokoh Pak Janggut. hehehe. Saking udah lamanya. Dulu majalah bobo merupakan majalah kegemaranku dimana dulu belum ada medsos seperti skrng.

    BalasHapus
  3. Lupa-lupa ingat, sepertinya aku pernah baca juga komik pak Janggut ini di Bobo. Eh, jangan2 buntelan ajaibnya itu yg menginspirasi kantong ajaib Doraemon ya? Hihi..

    BalasHapus
  4. Itupun bacaan sy masa kecil mbak. Berarti kita seumuran yah. Hehe. Di rumah masih disimpen jg tuh bundelan majalah Bobo. Kadang sy tunjukin ke anak2 milenial, biar mereka tau komik Indonesia yg legend.

    BalasHapus
  5. Wah, majalah bobo kesukaan aku masa kecil. Majalah yang gak pernah usang dimakan waktu karena komik dan cerpen2nya selalu enak dibaca lagi di waktu lain. Jadi bisa turun temurun. Termasuk komik pak janggut ini.

    BalasHapus
  6. Saya baru tahu nih tentang tokoh Pak janggut ini. Sepertinya ceritanya menarik banget nih, pasti banyak keajaiban yang terjadi berkat buntelan ajaib tersebut.Jadi penasaran nih, nanti mau coba download ah komik pak janggut ini

    BalasHapus
  7. wah saya rasanya baru tahu cerita ini, belom pernah baca bukunya, tapi keren ya ternyata udah diterjemahin ke berbagai bahasa ya, jadi penasaran pengen baca ceritanya. ceritanya cocok buat anak-anak ya.

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar yang masuk akan melewati tahap moderasi terlebih dahulu, spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.