Senin, 21 Oktober 2019

Catatan Wisata ke Candi Borobudur, Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO



Siapa yang tidak tahu dengan Candi Borobudur? Pasti semua sudah tahu tentang keberadaan candi yang telah terdaftar menjadi salah satu situs warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1991. Candi Budha terbesar ini terletak di kabupaten Magelang atau di sebelah barat laut kota Yogyakarta.

Setelah check out dari Balkondes Kembang Limus sayang rasanya jika tidak mampir ke Candi yang memiliki 1460 relief dan 504 stupa ini. Kami memutuskan untuk memarkir motor di depan pertigaan pintu gerbang candi.

Untuk masuk ke dalam area candi lumayan jauh jalannya. Dari depan pintu masuk Candi Borobudur sama sekali tidak kelihatan karena tertutup oleh pepohonan yang ada di sekitarnya.

Begitu masuk ke halaman dekat loket penjualan tiket masuk, kami langsung disambut oleh para penjual topi dan juga pemberi jasa sewa payung. Berada di area candi itu memang panas apalagi pada siang hari. Bisa-bisa sepulang dari candi wajah kita gosong, tetapi tampaknya saat saya ke sana cuaca sedang mendung. Biar cuaca mendung, tetap disarankan pakai topi atau payung agar kesehatan kulit tetap terjaga, ciee!

Setelah mendapat tiket, kami melewati pintu masuk. Bagi yang membawa tas harus bersedia untuk diperiksa, karena tidak boleh membawa makanan. Jika ketahuan membawa makanan maka harus dititipkan ke petugas. 

Harga tiket masuk Candi Borobudur bagi wisatawan domestik Rp.50.000,- (dewasa), anak-anak Rp.25.000,-  sedang untuk wisatawan asing 25 dolar atau sekitar 350 ribu. 

Masuk dari pintu masuk ke pelataran Candi ternyata masih jauh. Karena suami masih terasa pegal kakinya setelah naik sepeda ontel, saya nawarin naik sepeda lagi begitu melihat ada fasilitas penyewaan sepeda. Yang tentu saja ditolak mentah-mentah sama suami. He, he.


Sambil menunggu tanda-tanda alternatif lain agar bisa ke candi, kami duduk di bawah pohon yang rindang. Saya bersiap mengeluarkan senjata eh, peralatan untuk melawan terik sinar matahari yaitu topi, payung dan syal. Tapi syal akhirnya tidak dipakai karena ternyata jadi bikin saya merasa tambah gerah alias sumuk. 

Untuk masuk ke Candi Borobudur, para pengunjung diberi alternatif naik sepeda ontel dengan membayar uang sewa Rp. 15.000,-/sepeda, bisa juga naik kereta mini Rp. 10.000,-/orang, tayo Rp.15.000,-/orang dan kereta golf Rp.20.000,-/orang. Daripada kehabisan tenaga sebelum menaiki lantai candi, kami pun memilih naik kereta mini.

Ternyata kami diajak berputar-putar dulu melewati pepohonan dan taman sebelum akhirnya memasuki lingkungan candi. Sempat terkantuk-kantuk di dalam kereta mini, akhirnya saya turun dan ini dia candinya!


Saya sangat bahagia sekaligus terkejut ketika datang ke Candi Borobudur. Ternyata demi mencapai pelataran candinya saja harus melewati ratusan anak tangga. Huaaa! Ayo, kuatkan tekadmu! 

Sebelum datang ke sini, saya sudah browsing dulu tentang candi ini. Dibutuhkan trik agar tidak kehabisan tenaga sebelum mencapai tingkat paling atas yaitu tidak usah berjalan memutari candi di setiap lantainya. 

Jadi saya tidak memutari candi di tingkat pertama sampai tingkat ke sepuluh, cukup melihat-lihat relief dan patung di bagian kanan dan kiri tangga. Setelah itu, baru pindah ke tingkat berikutnya dan di tingkat yang paling atas saya memutari arca yang paling besar untuk mengetahui sudut-sudut candi di lantai yang lebih bawah.

Bagi saya yang menyukai foto tanpa ada gambar orang di dalamnya, jadi agak sulit untuk memotret bagian candi yang tidak ada pengunjungnya terutama di bagian paling atas. Padahal saya datang pas weekday. Tak terbayangkan bagaimana penuhnya lokasi ini dengan turis di saat musim liburan atau weekend.

Di tingkat atas banyak ditemui para pengunjung yang masih saja duduk, berdiri bahkan memanjat ke atas arca. Mereka tidak mengindahkan tanda peringatan untuk tidak naik ke atas arca.

Sebenarnya bukan karena para petugas atau pengelola Candi Borobudur yang pelit melarang ini dan itu, tetapi hal ini dilakukan agar situs warisan budaya dunia bangsa kita tetap terjaga.

Jejak Sejarah Pada Candi Borobudur


Di bagian depan pintu masuk candi terdapat dua patung singa yang khas biasa ada pada tempat ibadah umat Budha.

Untuk naik ke tingkat selanjutnya harus melewati tangga yang jaraknya lumayan tinggi antara anak tangga. Baru sadar sewaktu mau turun ternyata tangganya cukup curam juga (hadech, ketahuan kan kalo aku ini takut ketinggian). Untunglah ada pegangan besi yang bisa membantu untuk berpegangan.

Ketika ke sini, saya baru ngeh, kalau Borobudur ini sudah banyak mengalami pemugaran dan banyak bagian-bagian batu yang sudah bukan aslinya. Dan candi ini beneran cuma batu-batu yang ditumpuk terbukti ketika saya menginjak lantainya, itu terkesan seperti sedang berjalan di atas kerikil yang goyah.

Mungkin inilah sebabnya, kenapa dilarang untuk menaiki, memanjat bahkan menyentuh patung Budha yang ada di dalam stupa berongga. Karena tekanan atau gerakan memanjat arca, bisa membuat susunan batu bergeser dan membuat relief teratai di atasnya hilang.

Diduga dibangun pada jaman Syailendra dengan arsiteknya Gunadharma yaitu sekitar 750-850 tahun Masehi. Candi Borobudur diduga sempat terbengkalai berabad-abad lamanya dan terkubur oleh lapisan tanah, abu vulkanik dan ditumbuhi oleh pepohonan sampai ditemukan oleh Raffles. Tetapi  setelah mengalami proses pemugaran beberapa kali dan pemugaran besar-besaran pada tahun 1973 yang didukung oleh UNESCO, Candi Borobudur sekarang dipakai sebagai tempat ziarah umat Budha pada hari raya Waisak, selain berfungsi  juga sebagai tempat wisata budaya.


Konsep Bangunan Candi Borobudur yang Mengagumkan

Bila dilihat dari atas, Candi Borobudur ini membentuk pola Mandala yang besar. Mandala adalah konsep rumit yang tersusun atas bujusangkar dan lingkaran yang melambangkan kosmos atau alam semesta yang ditemukan dalam Budha aliran Wajrayana-Mahayana.

10 tingkatan yang dimiliki Borobudur secara keseluruhan menggambarkan filosofi kehidupan pikiran alam semesta dalam ajaran Budha. Untuk memperoleh kesempurnaan hidup, maka manusia harus melalui 10 tingkatan Bodhisattva.

Tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Budha ada 3:

1. Kamadhatu


Bagian kaki candi melambangkan Kamadhatu, yaitu tahap yang paling rendah di mana kehidupan manusia masih dikuasai oleh nafsu dunia. Bagian ini sekarang tertutup oleh kontruksi tambahan batu adesit sehingga panel 160 panel cerita Karmawibhangga tidak terlihat. Kontruksi ini dibuat untuk memperkuat susunan Candi Borobudur yang memang terletak di atas tanah yang mudah goyah.

2. Rupadhatu


Bagian ini berupa empat teras berundak yang membentuk lorong yang pada dindingnya terdapat galeri relief. Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1212 panel berukir dekoratif.

Pada tahap ini, manusia sudah dapat membebaskan diri dari nafsu tapi masih terikat pada rupa dan bentuk. Terdapat patung-patung Budha yang ditaruh di atas dinding. Terdapat sekitar 432 arca Budha di bagian ini.

3. Arupadhatu


Arupadhatu artinya tidak berupa atau tidak berwujud. Pada tingkat kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Bentuknya secara keseluruhan adalah melingkar bukan bujur sengkar seperti di bagian bawah. Di sini digambarkan manusia sudah terbebas dari segala bentuk keinginan, ikatan bentuk dan rupa namun masih belum mencapai nirwana. Ada 3 teras lingkaran yang dihiasi oleh stupa berongga  berbentuk lonceng dengan patung Budha di dalamnya. Total ada 72 stupa kecil dengan pembagian 3 lantai masing-masing, 32, 24 dan 16. Semakin ke atas makin sedikit.

Dan pada tingkatan yang tertinggi adalah stupa yang paling besar. Stupa ini melambangkan ketiadaan wujud yang sempurna. Stupa ini tidak berisi patung, menggambarkan makna kebijaksanaan tertinggi yaitu kesunyian, ketiadaan sempurna di mana tidak ada lagi ikatan dengan nafsu, keinginan dan bentuk.

Tinggi stupa utama ini mencapai 35 meter tanpa Chattra (payung susun tiga) yang sekarang dilepas. Bila dipasang maka akan mencapai tinggi 42 meter. Puncak stupa utama ini juga berbeda dengan stupa yang kecil, yakni berbentuk persegi bukan melingkar.

Fasilitas yang Terdapat di Kawasan Candi Borobudur

Selain berwisata di area candi, kita juga bisa mengunjungi beberapa fasilitas yang ada di dalam area Taman Candi Borobudur yang sangat asri penuh dengan pepohonan. Antara lain:

1. Andong Tilek Deso

Paket wisata Andong Tilek Deso akan membawa wisatawan berkeliling ke desa-desa yang ada di sekitar candi dan menikmati pemandangan alam yang terdapat di sekitar candi.

2. Kereta Mini, Mobil Tayo dan Mobil Golf

Fasilitas kendaraan bagi pengunjung ini bisa dinikmati untuk berkeliling taman dan pulang pergi dari pintu masuk-area candi dan sebaliknya. Untuk tiket kereta mini Rp. 10.000,- mobil Tayo Rp. 15.000,- dan Mobil Golf Rp. 20.000,-.

3. Cafe Manohara dan Audio Visual


Ada juga cafe khusus yang terdapat di area Taman Candi Borobudur ini. Di sebelah cafe, ada juga ruangan audio visual untuk menonton film pendek Candi Borobudur.

4. Atraksi Gajah

Di tempat ini juga terdapat kandang gajah, di sini bisa melihat dan memberi makan gajah. Untuk mendapat fasilitas ini perlu membayar Rp. 5000,- per orang.

5. Kereta Kencana Keliling Candi

Candi Borobudur
Kereta Kencana Keliling Candi

Mirip andong, kereta ini cuma berputar-putar untuk mengelilingi taman di sekitar candi.

6. Museum Kapal Samudera Raksa


Museum ini mengabadikan perjalanan bersejarah kapal Samudraraksa dari Indonesia menuju Afrika menapaki kembali jalur perdagangan rempah-rempah yang dilakukan bangsa Indonesia berabad-abad lampau. Ekspedisi ini diilhami oleh relief-relief kapal yang ada pada Candi Borobudur.

7. Museum Borobudur


Museum Borobudur terletak di dekat pintu keluar. Bagi wisatawan yang ingin mengetahui berbagai informasi mengenai Candi Borobudur. Di sini juga disimpan berbagai arca yang merupakan bagian dari Candi Borobudur atau yang ditemukan di sekitar candi.

8. Jemparingan dan Tempat Foto

Bagi yang ingin eksis di sosial media bisa memakai jasa tukang foto yang akan membantu mencari spot foto yang pas. Atau bisa juga berfoto gaya jaman dulu dan memanah. Untuk biayanya, saya kurang begitu memperhatikan sepertinya sekitar Rp. 20.000,- saja. 

9. Toilet dan Mushola

Fasilitas dua ini paling penting dalam perjalanan wisata terutama untuk cewek. Biar nggak kena gejala ISK, iya kan? 


10. Pasar Seni dan Cinderamata

Bila kita ingin membawa oleh-oleh khas Borobudur, bisa dengan mudah ditemukan di dalam kios-kios yang bentuknya mirip labirin berkelok-kelok. Pasar ini berada di gerbang pintu keluar jadi otomatis jalan keluar dari candi menjadi makin jauh. Saran untuk pihak pengelola, sebaiknya pasar ini jangan dibuat seperti ini. Sehingga tidak terkesan ketika datang dibuat dekat tapi untuk keluar dibuat berputar-putar.

Tips untuk berlibur ke Candi Borobudur:


1. Bawa topi atau payung kecil sehingga tidak terpanggang saat di area candi. Berjalan di antara bebatuan dan di bawah sinar matahari sungguh sangat panas, jadi sebaiknya pakai pakaian yang nyaman.

2. Berpakaian yang sopan mengingat bahwa Candi Borobudur adalah tempat untuk beribadah umat Budha.

3. Patuhi petunjuk dan larangan yang ada pada area candi. Perhatikan mana jalur untuk masuk dan keluar area candi agar tidak macet mengingat area candi cukup sempit. Kemarin saya cukup terganggu dengan pengunjung yang turun di tangga naik jadinya bikin terhambat untuk berjalan. Belum lagi rok yang dipakai cukup panjang sehingga sangat berbahaya jika seandainya terinjak orang yang dibelakangnya.

4. Bawa air minum sendiri. Sepanjang di area candi kemarin saya bisa menghabiskan satu botol air mineral lebih padahal saya termasuk orang yang jarang minum jika sedang jalan-jalan seperti ini.

5. Tidak usah membawa bekal makanan. Di area candi dilarang untuk membawa makanan apalagi buah-buahan, jika ketahuan siap-siap aja dimarahin satpam dan seluruh pengunjung akan memperhatikan kita.  Kenapa tidak boleh? Karena jika ada makanan atau biji yang jatuh maka dikhawatirkan akan terdapat sampah dan bila jatuh di antara batu-batu dan bisa tumbuh pohon. Hal ini disebabkan karena batu-batu pada candi tidak diberi lem atau perekat apa pun.

6. Tidak perlu menyentuh patung Budha yang ada di dalam arca berlubang, karena bisa merusak susunan batu-batunya dan patung di dalamnya. Serta membuat relief di sekitar arca bisa hilang.

7. Perhatikan juga papan larangan ini untuk selalu menjaga kebersihan, dilarang mencoret-coret, dilarang merokok, dilarang memindah batu, dilarang duduk di stupa dan pagar, dilarang membawa makanan, dilarang memanjat, dilarang membawa senjata, dilarang membawa alat musik, dilarang membawa drone dan binatang peliharaan.




Sumber informasi: 
-https://id.m.wikipedia.org/wiki/Borobudur
-https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/candi-borobudur/
Foto: Dokumen pribadi

4 komentar:

  1. Emank bagus dibolehin buat bawa makanan gt, soalny kadang orang2 abis makan malah suka nyampah. Kan sayang klo candinya kotor gara2 bekas makanan gitu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, suka miris kalo lihat tempat wisata yang ramai pasti di situ juga banyak sampah. Bayangkan kalo boleh masuk bawa makanan, candinya bisa rusak karena remah-remah makanan..

      Hapus
  2. Saya beberapa kali ke Borobudur dan ya ampyyyuuuunn selalu capek mendaki 😀😀

    BalasHapus
  3. Pakai kain batik ga mba yang disediakan staf disana? udah lama aku ga ke sana.

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.