Jumat, 25 Oktober 2019

Candi Pawon, Bangunan Bersejarah yang Berada di Permukiman Rumah Penduduk


Berwisata ke kecamatan Borobudur tentu sayang jika tidak mampir ke Candi Pawon ini. Letaknya cukup unik, yaitu berada di antara permukiman rumah penduduk.

Sebelum memasuki halaman pelataran candi, saya melewati beberapa rumah penduduk yang diberi dekorasi bebatuan mirip nuansa Bali. Di atas pagar-pagar rumah juga diberi hiasan replika arca Candi Borobudur.

Candi Pawon jika dilihat secara sekilas bentuknya ramping, namun di bagian puncak ada bentuk stupa-stupa yang bulat, ciri khas dari Candi Budha. Ukurannya lebih kecil jika dibanding dengan Candi Mendut dan letaknya berada cukup dekat dengan rumah penduduk.

Bangunan candi menghadap ke barat dengan pagar besi di sekelilingnya setinggi 1 meter. Memiliki 1 ruangan yang kosong dan memiliki lubang angin. Semula diduga di dalam candi ada arca Bodhisattva, sebagai penghormatan kepada Raja Indra yang telah mencapai tataran Bodhisattva. Terdapat ukiran dan hiasan di dinding luar candi berupa makhluk setengah manusia setengah burung (kinnara-kinnari*1), ukiran motif daun-daunan dan bunga.

Di bagian kanan dari pintu masuk terdapat sebuah makara*2 yang terlihat sudah tidak utuh lagi. Susunan candi terbuat dari batu adesit mirip dengan batu milik Candi Mendut. Di atas pintu masuk terdapat hiasan kala*3.

Diperkirakan didirikan pada pertengahan abad VIII hampir bersamaan dengan Candi Mendut dan Candi Borobudur. Dilihat di dalam peta, candi ini berada di tengah-tengah garis lurus antara Candi Mendut dan Candi Borobudur. Ditemukan pada akhir abad ke-19 dalam keadaan rusak tertimbun semak-semak. Kemudian mulai dipugar pada tahun 1897-1904 dilanjutkan kembali tahun 1908 oleh Van Erp.

PAWON bila dalam bahasa Jawa berarti "dapur". Awalnya saya mengira bahwa ini adalah candi untuk dapur ditambah dengan adanya lubang angin di berbagai sisi candi. Namun setelah mencarai referensi ternyata seorang ahli epigrafi J.G. de Carparis mengartikan "Pawon" sebagai perawuan atau perabuan. Karena tempat ini dimanfaatkan juga sebagai tempat menyimpan abu jenazah Raja Indra (782-812 M) atau Ayah Raja Samaratungga pada masa dinasti Syailendra.

Candi ini juga kerap disebut Candi Brajanalan yang memiliki fungsi untuk menyimpan senjata Dewa Indra, Dewa Petir dan Halilintar, Vajranala" yang berasal dari bahasa Sansekerta, "vajra" yang berarti halilintar dan "anala" yang berarti api. Nama Brajanalan sendiri merupakan nama dusun Brojonalan tempat candi ini berada.

Ada beberapa kios cinderamata yang ada di sebelah kiri candi. Sewaktu masuk ke candi, saya tidak melihat ada petugas atau pengunjung lain. Bahkan baru sadar harus membeli tiket masuk dulu setelah ada wisatawan asing yang datang dan membeli tiket di loket.

Ternyata letak loket ada di sebelah kanan sekitar 20 meter di depan candi. Dan tiket masuknya cukup murah hanya Rp. 3500/orang. Itu pun berlaku sekaligus masuk ke Candi Mendut.

Keterangan:
1. Kinnara-kinnari: Hiasan candi yang berbentuk makhluk kayangan berbadan burung berkepala manusia. Sering ditemukan dalam relief candi dengan posisi mengapit pohon kalipataru.

2. Makara: Patung hiasan yang terdapat pada kanan dan kiri pintu candi. Bentuknya bisa berupa perpaduan antara gajah, ular, buaya dan naga.

3. Kala: Hiasan candi yang berbentuk kepala manusia, kadang lengkap dengan rambut, rahang bawah dan tangan. Biasa di atas gapura pintu candi.

Referensi:
- https://www.google.com/amp/s/sejarahlengkap.com/bangunan/sejarah-candi-pawon/amp
- https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/candi-pawon/

Alamat: Brojonalan, dusun 1, Wanurejo, Kec. Borobudur, Magelang, Jawa Tengah 56553.

PETA:

6 komentar:

  1. Wah, kalau jalan-jalan memang yang dicari ya toko cenderamata ya. Semacam bukti kalau kita pernah mengunjungi tempat tersebut selain untuk oleh-oleh.
    Agendakan ke Candi Pawon.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, bisa buat koleksi juga selama ini kita sudah ke mana saja.

      Makasih sudah berkunjung ke sini :)

      Hapus
  2. Aih, ternyata dari kata perabuan ya, bukan dapur. Selama ini pun kukira "Pawon" yang artinya dapur.

    BalasHapus
  3. Ternyata tempat menyimpan abu, kirain itu ya tempat memasak

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.