Frugal Living
Foto: Canva

Hidup hemat bikin hidup tersiksa? Yes or No?! 

Sebagian orang pasti berpikir hidup hemat itu seperti menyiksa diri ya? Padahal kalo kita hematnya itu karena belanja secara sadar dan tujuannya untuk jangka waktu ke depan, hasilnya bakal bisa kita nikmatin. Biasanya ini disebut frugal living.

Apa Sih Frugal Living Itu?

Frugal Living adalah hidup hemat dengan cara mengelola dan membelanjakan uang secara sadar dan bertanggungjawab. Beda sama pelit ya. 

Kalo pelit itu enggan mengeluarkan duit untuk suatu keperluan baik diri sendiri ataupun untuk orang lain. 

Pengalaman Frugal Living sebagai IRT Satu Anak

Sebagai IRT yang murni mengandalkan penghasilan dari suami, mau tidak mau aku harus menerapkan hidup frugal living. Terutama sejak tahun lalu, aku mulai merasakan harga-harga kebutuhan bahan pokok naiknya nggak kira-kira.

Harga minyak goreng naik 2 kali lipat. Gula pasir sekarang 17.500. Beras juga naik. Sabun mandi pun naik. Semua naik. Kalo ada yang harganya kelihatan tetap, tapi isinya atau ukurannya berkurang. 

Belum lagi harga paket data sekarang terasa mahal. Kalo dulu sebulan bisa beli kuota 50 ribu, cukup buat internetan sekarang harus beli 100 ribu. 

Hal inilah yang bikin aku harus berpikir agar duit bulanan dari suami cukup dan semua kebutuhan terpenuhi, tanpa harus pinjam. 

Akhirnya aku mulai terapkan gaya hidup frugal living, karena untuk sementara kami belum bisa menambah pemasukan lain. 

Trik Irit dan Hemat Uang Belanja Bulanan

1. Masak Sendiri 

Pertama, harus biasain masak sendiri. Biar hemat gas dan minyak goreng, aku biasanya pilih menu yang simple. Misal Tumis Kangkung, Sop Ayam, Tempe goreng, Semur. 

Sebisa mungkin pilih menu yang tidak digoreng dengan minyak banyak. Goreng ikan pun ternyata bisa pakai minyak dikit. Kalo mau ayam goreng, ayamnya bisa dipotong kecil atau pilih wadah penggorengan yang kecil tapi dalam, seperti panci rice cooker. 

2. Belanja di Pasar Tradisional

Berbelanja di pasar tradisional ternyata jauh lebih hemat dibanding di supermarket yang menjual buah dan sayur. Kalo agak siang biasanya penjual di pasar juga akan kasih harga diskon. 

Kita pun bisa menawar harga. Dan jika sudah langganan, kita biasanya akan diberi bonus atau diskon.

3. Beli Ketika Ada Promo

Kalo aku biasanya beli vitamin anak atau sabun mandi menunggu ada promo di toko online. Manfaatkan voucher agar dapat diskon besar. Bandingkan antara toko online satu dengan toko online yang lainnya, pilih mana yang lebih murah. 

Dengan begitu, kita bisa menghemat uang belanja bulanan.

4. Bawa Tumbler Saat Berpergian 

Biasakan selalu bawa tumbler berisi air putih di tas. Biar kalo haus nggak usah beli minum. Karena aku ke pasar jalan kaki, aku pun bawa Tumbler. 

5. Jalan Kaki untuk Jarak Dekat 

Jarak antara tempat tinggalku dengan pasar atau minimarket cukup dekat, jadi aku selalu berjalan kaki. 

Aku pilih waktu di pagi hari ketika anak sudah berangkat sekolah. Jadi hemat BBM dan uang parkir. Meski nominalnya tidak seberapa, uang parkir ini kadang yang bikin keuangan kita jadi 'bocor alus'. 

6. Tunda Pembelian, Perbaiki dan Gunakan Barang yang Sudah Ada 

Dulu, aku suka beli lagi jika ada barang yang rusak. Misal, panci gosong sampai hitam sekali. Aku langsung ke toko untuk beli lagi, karena malas nyucinya, hehe. 

Padahal kalo direndam dan digosok dikit juga pasti hilang gosongnya. Betul saja, pas mama ke rumah, langsung bersihkan panci yang gosong tadi. Sebentar kemudian, bersih dan bisa dipakai lagi. 

Baju juga begitu. Selama masih layak, kami pakai terus. Dan menahan tidak membeli lagi untuk acara Natal, Paskah, mau menghadiri pernikahan atau mau arisan keluarga. Biarlah bajunya pakai itu lagi, itu lagi. Selama masih bagus, akan kami pakai dan lupakan gengsi. Aku bukan artis, hehe. 

7. Belanja Mingguan 

Dibanding belanja setiap hari, ternyata belanja mingguan itu lebih hemat. Beli sayur dan protein secukupnya untuk stok makan satu minggu. 

Untuk beras, gula, kecap, minyak goreng, sabun mandi, shampo, pasta gigi, bumbu-bumbu biasanya aku belanja sekalian dalam jumlah yang besar. Bila habis, baru beli lagi. 

Dengan trik ini, aku bisa menghemat uang belanja dan kadang ada diskon bila beli dalam jumlah besar. 

8. Tentukan Menu Tiap Hari

Biar nggak bingung mau masak tiap hari, aku buat daftar menu selama satu minggu. Jadi sehari-harinya nggak usah bingung mau masak apa. 

Untuk membuat menu harian, aku juga masih dalam tahap belajar. Belum sepenuhnya menerapkan karena kadang-kadang timbul keinginan mau masak apa, atau pengen jajan aja (hadeh!).

9. Tabung Uang Sisa Belanja 

Jika belanja mingguan sisa, aku masukkan ke tabungan. Meski kadang kembaliannya 500 atau 1000 tetap aku simpan di celengan. Nanti jika sewaktu-waktu kehabisan uang dan perlu belanja, bisa diambil dari tabungan. 

10. Cari Tempat Liburan yang Tidak Menguras Dompet

Liburan bersama keluarga mahal? Kita bisa kok pilih tempat liburan yang murah. Misal ke Ledok Sambi, yang HTM-nya free, atau menonton kereta di stasiun bersama anak. Ke tempat makan yang ada nuansa pemandangan di sawah, atau pergi ke taman bermain. 

Pokoknya siasatin supaya biaya liburan nggak menguras isi kantong. Bila ingin ke tempat liburan yang jauh dan tiketnya mahal, usahakan bikin rencana menabung, agar keuangan tetap stabil. 

Berdoa agar Selalu Dicukupkan


Bila dipikir-pikir secara logika, hidup berkeluarga, anak 1, di Jogja dengan mengandalkan gaji UMR dari satu orang, rasanya mustahil. Namun, sampai saat ini kami bisa lewati dan Puji Tuhan selalu dicukupkan.

Ada penyertaan Tuhan yang selalu diberikan kepada keluarga kami. Apa yang saja yang kami perlukan, Tuhan sudah sediakan. Anak butuh sekolah, Tuhan tunjukkan. Kami butuh tempat tinggal, Tuhan sediakan, meski belum diijinkan punya sendiri. Tapi ada tempat yang bisa kami tempati.

Kesimpulan: 


Frugal Living adalah hidup hemat namun tanpa menyiksa diri. Sesekali kami juga jajan di luar kalo lagi bosen masak. Kami pun tetap bisa piknik ke tempat-tempat wisata bersama anak. 

Hidup frugal living bukan berarti hidup hemat yang hematnya kebangetan, ya. Kita tetap bisa alokasikan dana yang ada untuk kebutuhan sehari-hari tapi juga keperluan jangka panjang, misal pendidikan anak, perbaikan rumah, liburan, beli perabotan, modal usaha, dll. 

Jadi, bagi kami hidup sudah tidak memikirkan gengsi, yang penting keuangan keluarga stabil, dan hidup tenang karena bebas hutang. 



0 Komentar