Hidup bukan kata orang

Halo, halo, sobat catatan Yustrini. Apa kabar?

Semoga selalu dalam keadaan sehat ya! Kali ini aku mau ngomongin tentang hidup itu pilihan bukan kata orang. Apalagi kata netizen, duh! Bisa bikin stress tuh! Komen mereka banyak yang pedes-pedes bikin auto baper. 

Dulu aku selalu mendengarkan apa kata orang si sekelilingku. Sayangnya, nggak semua kata, komentar atau nasehat itu membangun. Kalo nggak selektif jatuhnya malah jadi minder dan nggak kreatif untuk berani bertindak karena takut dihakimi di dunia maya. 

Hidup Kita Bukan Apa Kata Orang Apalagi Netizen

Sebagai orang yang hidup di zaman now, aku pernah merasakan gimana sih rasanya ketika sedang berkomentar di sosial media, lalu ada yang nanggepin komentarku dengan sewot. 

Hei, kamu punya masalah apa sama aku? Bahkan yang bikin aku heran adalah dia nggak kenal sama aku, hahaha... 

Karena aku bukan tipe orang yang ngegas, ya aku biarin aja sih! Nggak mau trus jadi berkepanjangan dan berekor-ekor. Belum lagi kalo ada yang nimbrung, tambah rame dong! 

Kurangi Bikin Status di Media Sosial

Cara ampuh untuk menghindari komen pedas salah satunya adalah kurangi curhat di media sosial. Dan inilah yang aku lakukan sekarang, akun media sosial cuma kupakai buat ikut giveaway, share link blog dan endorsan, he, he. 

Meski belakangan ada klien yang pengennya kerjasama dengan akun yang isinya postingan organik alias minim iklan. Jadinya aku isi juga dengan foto-foto lain, yang nggak ada hubungannya dengan kerjasama. 

Nggak Usah Terlalu Diambil Hati 

Cara kedua adalah tips yang aku dapat dari akun Tiktok salah seorang influencer (maaf aku lupa namanya). Jadi dia tuh, ngasih tips kalo ada orang yang mengeluarkan pernyataan dengan nada menghina atau mengejek, jawab aja, "sorry, aku nggak tertarik sama omonganmu!"

Itu kalo orangnya bicara secara langsung kepada kita ya. Kalo di media sosial tentunya kita nggak usah nanggepin biar nggak jadi perang Bharatayudha alias berjilid-jilid.

Sadari Bahwa Dirimu Itu Berharga 

Barangkali aja ada orang yang pernah berkata kalo kamu jelek, gendut, nggak berguna dan lain sebagainya. Tentu hal ini bisa meruntuhkan harga diri kita. 

Namun satu hal yang harus kita pegang, bahwa kita adalah makhluk ciptaan Tuhan. Dan segala sesuatu yang diciptakan Tuhan adalah BAIK. 

Kejadian 1:31a (TB)  Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. 

Yesaya 43:4 Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. 

Dijelaskan di dua ayat tersebut bahwa Tuhan sendiri yang berfirman jika kita berharga di mata-Nya. Bahkan Tuhan melihat kita sungguh amat baik. 

Dan setelah membaca ayat ini, maka tidak pantas juga kalo kita menghina orang lain. Mungkin kita tidak berniat menghina, tapi anggapan orang lain belum tentu sama. Jadi alangkah baiknya jika juga menata kembali tutur kata yang lebih baik, lebih membangun dan sopan. 

Sobat Catatan Yustrini ingat nggak dengan video viral ibu-ibu yang mengata-ngatai petugas penyekatan dengan nama hewan kaki empat? 

Miris ya, padahal di dalam mobil itu ada anak-anak juga. Bagaimana kalo mereka dibesarkan dengan orang tua yang suka mengatakan kata-kata kotor? 

Inilah pentingnya untuk menjaga emosi dan juga mulut kita dari ucapan yang kurang pantas. Bahkan jari kita harus diawasi agar tidak mengetikkan kata-kata yang bisa melukai orang lain. 

Permintaan Maaf Saja Tidak Cukup 

Sedih kalo ada orang yang sudah mengeluarkan perkataan yang kurang sopan lalu minta maaf begitu saja. Luka hati yang disebabkan oleh kata-kata pedas itu tidak bisa sembuh begitu saja dengan kata maaf. 

Tetap saja membekas di hati dan ingatan orang yang sudah kita lukai. Seperti kejadian video ibu-ibu yang menuduh tetangganya ngepet. 

Halo... yang tersinggung bukan tetangganya aja lho! Aku aja ikut kesel mendengarnya. Padahal kan sekarang zamannya WFH, kerja dari rumah. Wajar aja kan orang kerjanya di rumah terus tapi bisa dapat uang banyak. 

Memang sih, kalo kerja di rumah itu jadinya jarang ketemu orang tapi kan, tetap bisa berkomunikasi dan bekerja melalui internet. 

Apakah dengan beliau meminta maaf sudah menghapus permasalahan? Belum. Buktinya masih ada. Ucapannya masih membekas. Dan aku masih bisa menulis ini. Tanda bahwa ucapan kasar itu masih membekas walau orang tersebut sudah minta maaf. 

Jadi lebih baik hati-hati dalam berkata-kata, kalo marah baiknya tahan emosi. Tenang. Hitung angka dari satu sampai sepuluh. Masih marah, hitung terus sampai 20, bahkan sampai 1000 kalo perlu 😆

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu (Efesus 4:26).

Kalo marah juga jangan lama-lama. Move on cepat dari rasa marah itu. Dunia masih belum berakhir, tapi marahmu bisa menghancurkan hidupmu. 

Jadi..

Hati-hatilah dalam berkata-kata, karena itu bisa membunuh! 

Sadari bahwa kita semua berharga di mata Tuhan. Nggak masalah orang katakan sesuatu yang merendahkanmu, karena dirimu sungguh berharga, apapun keadaanmu. Hidup kita bukan kata orang kok! 

Tetap jalani hidup dengan hati bersyukur dan bahagia. Selamat beraktivitas.


6 Komentar

  1. Semangaaatt selalu, siapkan mental kita, agar ga mudah terbawa komentar orang lain.
    Jadi, mau orang bilang apa aja, kita santai bae :D

    Kalau menurut saya malah kejaman dunia nyata dari dunia maya, hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bikin slow aja apa kata mereka :))

      Hapus
  2. Bacanya lga adem :). Seandainya aja semua netizen punya pikiran seperti ini ya mba. Tenang dunia...

    Aku sendiri tipe yg ga suka curhat di medsos. Ga ada gunanya, dan lagian suami bakal marah sih kalo aku umbar masalah di medsos. Apalagi masalah keluarga. Dia selalu minta, selesaikan lgs , jgn dikit2 tulis di media.

    Kadang kalo udh jenuuuh sekali dgn apa yg terbaca di medsos, aku putusin utk detoks, ga mau buka samasekali sampe 2 Minggu. Dan setelahnya lga refresh kok. Itu mengurangi marah2 ga jelas juga.

    Naah ttg ortu yg suka berkata kasar depan anak, aku juga miris. Kuatir anakny bakal meniru. Daerah rumahku bukan komplek. Dan banyaaak bgt anak2 kampung sini yg kalo udh main pake kata2 kasar binatang. Aku pas denger aja serem mba. Umur mereka sebaya Ama anak2ku. 5-9 THN. Dan omongannya sekadar itu. Alasan kuat aku ga prnh izinin anakku kluar utk main Ama mereka. Lbgs bgs anakku ga punya temen drpd berteman Ama anak2 kasar begitu. Takut ketularan cara ngomongnya yg penuh makian. Ga ngerti lagi gimana cara ortunya mndidik mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak, kita memang harus libur dulu dari medsos. Rasanya lebih nyaman dan lega hatinya.

      Curhat di medsos juga gak bikin jadi punya jalan keluar. Malah ada yg merasa kesindir, padahal ga ada maksud apa2. Ini yg dibicarain siapa, yg tersinggung juga siapa ha, ha.

      Masalah kebiasaan sih,memang kalo lingkungan memberi dampak buat anak-anak. Salut deh, sama mbak yg justru lebih memilih anaknya nggak punya teman daripada terpengaruh negatif ma teman2nya :))

      Hapus
  3. Wuih, setujulah sama postingan ini. Hidup kita itu harus pake versi kita bukan versi orang lain...hehe...

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar yang masuk akan melewati tahap moderasi terlebih dahulu, spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.