Senin, 27 Januari 2020

Hati-hatilah Dalam Berkata-kata, Karena Itu Bisa Membunuh!

Ayub 19:2 (TB)  "Berapa lama lagi kamu menyakitkan hatiku, dan meremukkan aku dengan perkataan? 

Tahukah bahwa di dunia ini orang bisa dengan mudahnya ngomentarin (atau bahasa sekarang 'nyinyir') orang lain. Baik itu secara lisan maupun tulisan di medsos. Gawatnya nggak semua orang kuat dinyinyirin. Makanya sering kita dengar ada artis/aktor yang cukup terkenal tiba-tiba bunuh diri. Padahal bila dilihat hidupnya sudah mapan, semua kebutuhan terpenuhi dan materi berlimpah.

Lalu orang mulai bertanya, kenapa? Halo netizen yang maha benar, kebanyakan mereka itu bunuh diri akibat haters atau fans yang ngomentarin negatif terus.

Nggak peduli sih setiap manusia, entah terkenal atau tidak, selama masih hidup atau bahkan udah mati nggak akan lepas dari yang namanya omongan. Baik itu positif maupun negatif.

"Halah, udah nggak usah dimasukin ke hati. Ambil positifnya dan balaslah dengan prestasi," kalimat itu udah umum sekali didengar dan jadi sebuah jurus menangkal perkataan negatif yang seperti pedang tajam menancap di hati kita.

Tapi apa iya semudah itu?

Bagiku nggak mudah. Sangat tidak mudah. Banyak sekali orang komentarin negatif tentang diriku. Dan itu jelas nusuk banget di hati.

Seperti pas udah nikah, saudara-saudara selalu ngomong, 'bisa apa kamu?', 'penghasilanmu cuma dikit, nggak mungkin cukup buat ngidupin anak, belum kebutuhan lain', 'halah, paling keharmonisannya cuma sebentar aja', 'nggak mungkin kamu bisa tinggal di kota, beli rumah di kota tu mahal, kamu nggak sanggup', 'kamu kan nikah cuma buat nggantungin hidup sama suami, iya kan?' dst, dsb, dll...

Kalo udah gitu biasanya aku tutup telinga dan berdoa. Itu kalo lagi waras. Tapi kalo enggak, ya seringnya baper dan nangis seharian.

Solusinya paling aku agak menjauhi mereka. Nggak banyak cerita soal apa yang jadi masalah rumah tangga kami. Karena kebanyakan rumah tangga hancur bukan orang ketiga tapi akibat dikomentarin anggota keluarga yang lain. Duh!

Tutup telinga aja ketika mereka mulai membicarakanku di belakang. Nggak masalahin apa yang dipersoalkan mereka yang penting visi keluargaku terus berjalan.

Tips Mengatasi Komentar Negatif dari Orang Lain: 


Aku menuliskan ini bukan berarti aku sudah lolos dari ujian perkataan negatif orang. Tetapi sebagai pemacu diriku dalam mengatasi nyinyiran orang.

1. Jangan terlalu dipikirkan dan dimasukkan ke dalam hati

Pixabay.com

Ngomong itu gampang, melakukannya tidak mudah. Tenang mereka yang mengomentari belum tentu bisa jika diposisikan ke kamu.

2. Hidup itu cuma sekali


Kita cuma diberi kesempatan untuk melewati hari ini hanya sekali. Untuk apa menghabiskan waktu dengan memikirkan omongan orang. Aku tahu bahwa hidupku cuma sekali maka aku pastikan hidupku ini jadi berarti, bahagia dan luar biasa.

Aku punya kemampuan untuk berusaha menjadikan hidupku yang cuma sekali ini bisa bermanfaat dan jadi berkat bagi banyak orang.

3. Kita tidak bergantung pada mereka


Sekali lagi nggak masalah orang mau bilang apa, menghina kita sekalipun. Hidup kita tidak akan tergantung dengan mereka, yang memberi nafas hidup dan menciptakan kita adalah Tuhan. Hidup kita tergantung pada Tuhan, bila kita kurang pintar, kurang materi minta sama Sang Pencipta.

4. Ubah cara pandang kita terhadap diri sendiri


Siapa lagi yang bisa memandang diri kita berharga selain diri kita sendiri. Tuhan pun yang menciptakan kita manusia berkata, engkau ini berharga di mataKu. Sesuatu yanh berharga itu pasti disayang, dijaga, dirawat. Nggak ada orang yang membiarkan barang berharganya tergeletak begitu saja, pasti disimpan dan dijaga dengan baik. Begitu juga Tuhan terhadap diri kita.

5. Berdoa dan melepaskan pengampunan


Pembelaan Tuhan itu sempurna. Pernah suatu kali tetanggaku menghina televisi kami yang jelek, perkataannya bukan cuma sekali tapi berkali-kali dan itu sangat menyakitkan.

Saat itu yang kulakukan cuma berdoa sambil nangis, Tuhan dengarkan apa yang dikatakan tetanggaku? Belalah aku Tuhan. Aku tidak mampu tapi Engkau yang mampukan aku untuk melepaskan pengampunan.

Ya, aku cuma doa minta dibela Tuhan dan meminta agar hatiku bisa mengampuni orang itu. Dan apa yang terjadi?

Beberapa hari kemudian, entah kenapa televisi tetanggaku itu tiba-tiba rusak. Padahal barusan beli dan mereknya cukup bagus. Nggak sampai di situ saja, temannya kakakku meminjamkan televisinya untuk dipakai di rumah kami. Wow, Tuhan dahsyat kan?

6. Tetap bekerja mengukir prestasi, fokus pada tujuan akhir


Ada usaha pasti ada hasil. Dulu pas lulus SMA, karena nggak mampu kuliah aku menjalankan usaha toko kelontong dan terima pesanan kue ulang tahun. Waktu itu banyak orang berkomentar apa yang kulakukan adalah sia-sia.

Ngapain kamu usaha gitu? Kenapa nggak kerja aja ke luar negeri? Kenapa nggak merantau? Kenapa nggak berusaha cari beasisiwa? Dsb, dst...

Parahnya waktu itu aku justru tidak fokus dengan apa yang kukerjakan. Usaha tiap hari sih terus dilakukan tapi tiap hari juga mikir komentar orang. Lalu kepikiran pengem kuliah, pengen kerja di luar tapi takut nggak bisa pulang lagi, pengen ngelamar jadi PNS, dll.

Tapi semuanya nggak bisa kulakukan dan akhirnya aku cuma bisa nangis dan merenungi nasib. Kok nggak kayak si itu, si A, si B? Duh, hidupku miris banget sih? Cuma jadi bakul roti. Parah banget ya sebutannya? Padahal yang anaknya Pak Jokowi aja mau kok jualan pisang goreng, he, he.

Akhirnya nggak fokus pada usaha yang sedang aku rintis. Padahal kalo dilihat sekarang, seandainya dulu aku bisa fokus usaha mungkin aja udah berhasil. Tuh kan, akhirnya nyesel!

7. Bergabung dengan orang-orang yang tepat


Kegagalanku menjadi seorang pengusaha roti (ciee!) Bisa jadi karena aku nggak bergabung dengan para pengusaha lainnya. Aku berdiri sendiri di tengah orang-orang yang visinya berbeda.

Bertambah usia membuatku paham bahwa bila lingkungan tempat bergaul itu sangat memengaruhi hidup dan cara pandang. Saat itu benar aku ada di lingkungan tetangga yang membuka toko tapi tidak bergaul dengan mereka.

Kebanyakan mereka sudah sibuk dengan aktivitas. Yang datang ke toko adalah orang-orang pekerja kantoran, pegawai negeri dan buruh. Maka otomatis mereka menganggap profesi mereka yang terbaik dan saat itu aku masih imut-imut. Kebiasaan deh orang lebih tua itu menasehati orang yang lebih muda. Padahal visinya beda.

Oleh karena itu, lebih baik bergabunglah dengan komunitas yang sesuai dengan apa yang jadi visi kita. Kalo mau hidup kita berharga jangan pernah bergabung dengan orang-orang yang suka nyinyir atau bergosip.

Bersyukur sekarang sudah ada internet sehingga dengan mudah bisa menemukan komunitas yang cocok. Blogger dengan blogger, pebisnis online dengan pebisnis online, seniman dengan seniman.

8. Anggap perkataan orang itu sebagai cambuk agar kita lebih maju lagi


Orang yang dihina biasanya akan lebih sukses. Ini dikarenakan saat mereka dihina, bukannya melemah tetapi malah semakin kuat berusaha agar keadaan hidupnya berubah lebih baik.

Jadi jangan pernah membiarkan kata-kata orang lain memengaruhi hidupku dan hidupmu yang sudah baik ini.

Mari ubah kata-katamu menjadi perkataan yang membangun bukan meruntuhkan




Suatu kali ada yang membagi sebuah renungan lewat WA. Di sana diceritakan ada seorang ibu dua anak kembar yang tanpa sengaja justru membunuh salah satu anaknya. Karena dituduh selalu pilih kasih.

Seorang ibu juga rentan stress, ketika ibu ini bekerja maka akan dikomentarin, 'kok tega sih ninggalin anak demi bekerja, memang gaji suami nggak cukup ya?'

Ketika jadi ibu rumah tangga, 'ih sarjana kok nggak kerja di rumah aja?', 'nggak pengen kaya ya?'

Seorang nenek bahagia tinggal sendiri di rumah lalu tetangga bilang, 'anaknya tega ya membiarkan ibunya sendirian di rumah'. Lalu nenek ini jadi sedih dan malah sakit-sakitan.

Banyak dari kita nggak sadar telah mengeluarkan perkataan yang tidak perlu dikatakan. Tahukah bahwa kata-kata itu tajam? Kata-kata begitu mudahnya mempengaruhi hidup seseorang, bisa membangkitkan atau meruntuhkan semangat.


Dunia ini diciptakan oleh Tuhan dengan perkataan. Tuhan berfirman, "jadilah terang, maka terang itu jadi."

Perkataan itu ada kuasanya. Jadi pergunakanlah perkataanmu sebagai alat untuk membangun orang lain. Sebagai orang tua janganlah mengutuki anakmu nakal tetapi berkati dengan berkata, 'anakku pintar, kamu hebat, kamu anak baik.'

Sebagai suami jangan berkata, 'istriku bodoh, jelek, gendut, tidak bisa apa-apa,' tetapi sebaliknya puji dia. Maka istrimu akan makin cantik, lembut dan baik.

Gunakan kata-katamu untuk memuji Tuhan dan juga memberkati sesamamu yang diciptakanNya.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.