Rabu, 29 Januari 2020

Rainbow Cake


Hari masih pagi ketika rainbow cake milikku selesai dibuat. Cepat-cepat aku masukkan ke dalam box mini buatanku setelah memotongnya jadi tiga. Kusisihkan satu kotak untuk kuberikan kepada nenek Diana, tetangga sebelah. Dua kotak yang lain aku kemas dalam satu kantong plastik dan kuletakkan di atas meja makan.
(Cerpen oleh Yustrini)
"Jangan terlalu lelah," suamiku memeluk dari belakang. Ia sudah selesai bersiap hendak pergi ke kantor. Sejak menikah kami memang memiliki kesibukan yang berbeda. Suamiku ke kantor tiap pagi dan aku berbisnis rainbow cake tanpa di sengaja akibat hobiku yang suka beresperimen dengan rasa. Bagiku warna pelangi ada tujuh, walau sebagian ada yang berpendapat hanya enam. Tujuh warna berarti tujuh rasa. Tiap lapis memiliki rasa khas masing-masing yang bila digabungkan menjadi satu bisa menciptakan perpaduan rasa yang unik.

"Membuat tujuh lapis yang berbeda apalagi dengan rasa dan warna yang berbeda pula sangat menghabiskan waktu, Jihan..." ujar suamiku. Baginya aku cuma membuang waktu untuk apa membuat tujuh adonan kalau bisa sekali jadi seperti buatan rainbow cake lain pada umumnya.

"Tinggal masukkan pewarna dan perasa buatan saja, selesai sudah. Tidak rumit dan cepat," katanya lagi.

Aku menggeleng keras. Bukannya sok perfectionis tapi...

"Kau hanya ingin menghibur diri dengan semua ini. Tapi program bayi kita takkan cepat berhasil kalau kau terlalu lelah," potong suamiku cepat.

Hatiku sedikit terusik mendengar ucapan itu, hampir tujuh tahun pernikahan kami tanpa diwarnai kehadiran tangis bayi di antara kami membuat aku ingin menenggelamkan diri dalam kesibukan. Airmataku selalu menetes tiap kali melihat ibu-ibu seusiaku sibuk mengantarkan anak-anaknya ke sekolah di jam segini.

"Hari ini hanya dua box saja," sanggahku.

Suamiku mengangguk. Aku berbalik membenarkan dasinya dan mengantarnya sampai ke depan. Tersenyum geli mendapati wajah suamiku yang sedikit protes mendapat perlakuan dariku yang seolah ingin mengusirnya keluar. Tapi ia melirik ke jam dinding seraya menepuk jidat.

Astaga, aku sudah terlambat. Serunya. Ia segera masuk ke mobil namun tak lama ia keluar lagi untuk membuka pintu gerbang. Ia melakukan semuanya dengan panik. Sementara aku hanya terkekeh gelj melihatmya. Ah, suamiku selalu bisa membuatku jatuh cinta lagi untuk kesekian kalinya.

* * *



Menua itu pasti tapi sendirian di usia senja tentu tak mengenakkan. Terlebih jika tidak memiliki anak, sedangkan pasangan hidupnya telah menghadap Yang Kuasa terlebih dulu. Hal itu yang terjadi pada nenek Diana, tetangga sebelah. Ia hidup seorang diri tanpa siapapun menua bersama rumah yang juga sudah lapuk termakan usia. Terus terang aku merasa takut kalau nantinya aku mengalami hal yang sama seperti dia.

Nenek Diana tak pernah memiliki pembantu tetap, hanya pak Diman tukang kebersihan kompleks yang sesekali membersihkan halaman rumah sedangkan istrinya dua kali seminggu membersihkan bagian dalam rumah. Selebihnya tugas memasak dan mencuci dikerjakan sendiri.

Sukar kubayangkan di usia hampir sembilan puluh tahun masih mengerjakan tugas rumah sendiri. Namun apa yang bisa kubuat? Kalau ternyata nenek Diana tidak pernah suka dengan hasil masakan orang lain.

"Lidahku terbiasa dengan masakan jawa yang komplit bumbu rempah-rempahnya," jawabnya saat kutanya kenapa tidak membeli nasi gudeg yang dijual di warung-warung. Aku hanya menahan nafas ketika melihat masakan gudeg buatan nenek Diana. Ia hanya memasak gudeg sepanci kecil saja dengan bumbu rempah yang kuat. Kalau menurutku sungguh sangat tidak praktis dan membuang waktu.
(Cerpen oleh Yustrini)

"Nggak beda sama kamu, Jihan. Membuat rainbow cake untuk mengisi kekosongan, " tiba-tiba suara mas Pram bergema.

Kubuka lemari es, memeriksa persediaan makanan kami. Kurasa hari ini aku harus berbelanja ke pasar. Selesai. Semua yang kuperlukan sudah tercatat. Setelah memastikan semua jendela dan pintu terkunci rapat aku keluar menuju rumah nenek Diana mengantar rainbow cake yang tadi pagi kusimpan untuknya.

Kebetulan nenek Diana sedang duduk di teras depan bersama Yu Warni, istri Pak Diman. Beliau tersenyum ramah menyambutku.

"Mau ke mana Mbak Jihan sudah rapi jam segini?" sapa nenek Diana.

"Mau ke pasar, Nek. Oya, ada cake buatanku semoga nenek suka."

"Ah, apa pun itu Nak. Nenek selalu suka pemberianmu, hati-hati di pasar suka ada copet, Nak!" nenek Diana mengingatkan.

"Bicara soal copet aku ingat dompetku belum kubawa," gumamku. Aku bergegas kembali ke rumah.

Kubuka pintu rumah, ya ampun! Ternyata kompor yang kugunakan untuk memasak air lupa kumatikan. Aku mengucap syukur untunglah tidak terjadi apa-apa pada rumah ini.

Buru-buru mengambil dompet di kamar. Setelah memeriksa kembali semuanya dengan seksama aku keluar. Meski belum pernah rumahku disatroni maling tapi setidaknya aku mewaspadai kemungkinan yang terburuk. Ingat pesan di televisi, kejahatan terjadi bukan karena ada niat tapi juga karena ada kesempatan.

Menengok ke rumah sebelah, Yu Warni masih bersama nenek Diana. Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah nenek Diana. Seorang pria tampan berjas rapi turun bersama seorang wanita cantik berpakaian modis menggandeng seorang anak perempuan manis. Gambaran keluarga idaman yang selalu ada dalam benakku.

Kulambaikan tangan ke arah mereka, nenek Diana mengangguk sambil menyerukan kalimat hati-hati di jalan.

***

Akhirnya aku menyelesaikan semua daftar belanjaku setelah beberapa kali salah masuk kios, aku emang belum terbiasa dengan pasar yang baru selesai dibangun ini. Mendadak ponselku berdering.

"Halo, kau ada di mana?" suara mas Pram terdengar panik.

"Di pasar, Mas. Ada apa? Kenapa kau?" sahutku.

"Mas baru di rumah sakit, teman kantorku meninggal sehabis melahirkan. Bayinya tampan dan sehat bagaimana kalau kita mengadopsinya?" tanya suamiku.

"Siapa yang melahirkan? Sintha?" aku membekap mulut. Tercengang sekaligus terkejut tidak menyangka akan mengadopsi anak secepat ini dari teman sendiri pula.

"Kita bahkan belum pernah bersepakat untuk mengangkat anak, Mas?" tanyaku.

"Baiklah, kita akan bicarakan lagi nanti di rumah," suamiku menutup pembicaraan.

"Tolong! Tolong...!" seorang wanita tiba-tiba berteriak histeris di tengah orang-orang yang berbelanja.

"Ada apa, Bu?" orang-orang segera mengerubunginya dengan berbagai pertanyaan.

"Tadinya saya senang bertemu teman lama saya, pak. Penampilannya saja keren, rapi, cantik. Eh, nggak tahunya dompet dan hp saya diambil. Saya baru tersadar setelah akan membayar ikan ini," cerita ibu itu.

"Ibu sih, tadi kelihatannya akrab banget sama wanita tadi. Ya saya nggak mengira dia tega sama teman sendiri. Dia itu sudah terkenal jadi pencopet ulung, tapi karena suaminya keamanan di sini jadi kami nggak bisa berbuat apa-apa," ujar si penjual ikan.

Soal copet nenek Diana sudah mengingatkan tadi. Ah, jaman sekarang orang tak lagi malu. Cantik tapi tukang copet? Aku memeriksa dompetku. Masih ada sisa uang.

"Ini, bu. Biar buat bayar ikan ibu," ujarku seraya menyerahkan lembaran berwarna biru kepada ibu yang kecopetan tadi.

"Wah, terima kasih bu. Semoga Tuhan memberikan apa yang ibu idamkan," ucap ibu itu senang.

"Sama-sama, ibu." aku tersenyum miris. Ya, semoga Tuhan memberikannya. Aku jadi ingat dengan ucapan Mas Pram tadi.

***

Kembali ke rumah. Kembali pada kesendirian. Dunia yang sunyi. Kulirik rumah nenek Diana. Menghela napas. Memutar kunci.

"Kapan kamu punya momongan? Lihat si Lastri nikah baru sebulan langsung tekdung. Kamu kapan? Mama ingin gendong cucu dari Pram," ucapan yang selalu keluar acap kali bertemu dengan mama mertua.

"Punya keturunan itu penting lho! Kalau tidak mau menyesal di masa tua. Sendiri tanpa keluarga. Suami nggak bisa selalu ada di dekatmu, Jihan!" itu kata ayah mertua.

Kutenangkan diri duduk di sofa sambil memejamkan mata.

"Mencari uang bisa ditunda, tapi anak jangan ditunda!" nasehat mama, "lihat nenek Diana tetanggamu. Itu contoh nyata masa depan orang yang tidak punya keturunan!"

Kuputuskan mengocok adonan kembali. Mengolah tujuh rasa berbeda di tiap lapisnya. Memanjakan setiap lidah menyecap kelezatannya. Mungkin inilah warna yang ada dalam hidupku.
(Cerpen oleh Yustrini)
Tiba-tiba pintu depan diketuk keras tak berirama menandakan pengetuknya sedanh mengalami masalah besar.

"Mbak, tolong Mbak Jihan. Ibu... Ibu... Mbak!" seru Yu Warni.

"Tenang, Yu Warni. Ada apa?" Aku bergegas membuka pintu.

"Ibu Diana, Mbak. Dia pingsan!" sahut Yu Warni dengan wajah pucat.

"Apa?" aku berlari ke rumah nenek Diana.

"Rampok, mbak Jihan orang itu rampok!" kata nenek Diana setelah sadarkan diri. Ia masih berada di dalam kamar yang berantakan. Lemari baju terbuka lebar dan isinya berserakan tidak karuan. Semua benda yang ada di kamar itu tak satupun berdiri dengan rapi tanda bahwa penjahat itu tak mau meninggalkan barang berharga sedikitpun.

"Orang yang membawa mobil mewah tadi menghipnotis ibu, Mbak. Tanpa sadar ibu terus mengobrol dengan wanita dan anaknya. Sedang laki-laki itu menyelinap ke dalam rumah menggasak semuanya," jelas Yu Warni.

Lagi-lagi pelakunya orang yang berpenampilan kelas atas, sasarannya orang lanjut usia seperti nenek Diana. Batinku geram.

"Habis semua uang nenek, mbak! Kalung, gelang, anting, cincin dari almarhum bapak ludes! Mbak!" ujar nenek tersedu-sedu.

Kurasa tinggal sendiri di hari tua bukan ide yang baik. Segera kuhubungi suamiku, "Mas, aku setuju. Kita adopsi saja bayi itu."

Dan kudengar nada yang sangat bahagia dari ujung sana.

* * * *



This entry was posted in

12 komentar:

  1. Aku suka cara bertuturnya. Mengalir. Omong-omong, dark banget kisahnya. Jadi ikut sedih. :,(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak udah baca cerpenku sampai akhir 🙏😇

      Hapus
  2. aha, suka nulis fiksi juga ternyata ya

    BalasHapus
  3. ceritanya jadi mengingatkan aku mba, terima kasih, kadang aku suka santai menghadapi pernikahan, padahal ibu udah sering nasehatin, makasih mba sharingnya, sangat-sangat bermanfaat

    BalasHapus
  4. Bagus banget mb ..dalam, dan mengena. Pinter mbak yustrini bikin cerita...

    BalasHapus
  5. Bagus banget mbak ceritanya. Udah pantes nongol di media media besar. Baru tahu lho kl Mb Yustrini pinter nulis fiksi😍

    BalasHapus
  6. Amin, terima kasih mbak..saya tulis di sini karena belum lolos media 🤭

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar yang masuk akan melewati tahap moderasi terlebih dahulu, spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.