Generasi sandwich

Mengenal Generasi Sandwich

Belakangan ini aku sering mendengar ada istilah generasi sandwich selain generasi millenial, X, Y, Z. Penasaran dong apa sih, sebenarnya generasi sandwich itu? Apakah aku termasuk di dalamnya?

Kalau ngebayangin sandwich kan enak ya? Ada sayurnya, roti, daging dan sausnya. Wah, apakah generasi sandwich seenak sandwich?

Ternyata tidaaak!!!

Setelah googling, akhirnya aku tahu apa itu generasi sandwich sebenarnya. Yaitu suatu kondisi di mana seseorang memiliki tanggung jawab untuk menghidupi keluarga sendiri sekaligus memiliki beban finansial menanggung kehidupan keluarga besar seperti orang tua, adik atau kakak.
Kebanyakan usianya ada di antara 30 sampai 40 tahun atau yang termasuk di usia produktif.

Istilah generasi sandwich ini pertama kali dikemukakan oleh pekerja sosial bernama Dorothy Miller pada tahun 1981.

Disebut generasi sandwich karena posisi orang ini mirip sama isian sandwich yang ditekan oleh roti dari atas dan dari bawah.

Aku pun teringat dengan ramainya warga twitter membicarakan masalah generasi sandwich. Ada seorang anak yang mengeluh beratnya menopang biaya hidup orang tuanya bahkan sempat menyebut keluarga besarnya sebagai parasit. Duh! Sampai segitunya ya?!

Reaksi para netizen beragam dong! Ada yang merasakan hal yang sama, ada juga yang berpendapat kalo ngasih rejeki ke orang tua justru nanti bakalan dilipatgandakan rejekinya.

Nggak ada yang salah dengan dua pendapat tadi. Tapi yang perlu dilihat dari segi kemampuan finansial masing-masing serta latar belakang keluarganya.

Kalo punya kerjaan oke, disertai dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, gaji besar mungkin nggak ada kesulitan buat membiayai ortu dan sekaligus keluarganya.

Mungkin orang tuanya juga masih bisa hidup tanpa harus tergantung pada pemberian anaknya, karena memiliki pensiunan atau tabungan hari tua. Dalam kasus ini, maka si anak nggak termasuk dalam golongan generasi sandwich.

Lain ceritanya, kalo orang itu terlahir di keluarga pas-pasan bahkan minus, hanya memiliki pendidikan yang rendah. Mau mendapat kerjaan yang gajinya tinggi atau penghasilan besar juga sulit.

Ditambah orang tua dan keluarga besarnya selalu menuntut si anak untuk balas budi dengan menuruti semua keinginan orang tuanya. Nah, hal itu yang seringnya bikin nyesek.

Mau nolak juga nggak bisa, karena takut dicap anak durhaka, nggak tahu balas budi, egois, dll. Padahal masih punya tanggung jawab sebagai suami/istri, ayah/ibu yang harus memenuhi kebutuhan finansial keluarganya.

Akhirnya menimbulkan stress dan mengganggu kesehatan mental seseorang. Mau kerja keras bagai kuda juga kalo orang tua dan saudaranya nggak bersyukur malah tambah bikin puyeng.

Sayangnya, kondisi seperti ini bisa juga berlanjut ke generasi berikutnya, jika tidak segera mulai belajar dalam mengatur keuangan.

Akibat dari kondisi ini bisa menimbulkan banyak masalah di kemudian hari. Misalnya seorang perempuan yang sudah menikah menunda kehamilan karena masih memikirkan orang tua atau mertua yang harus ditanggung dalam segi keuangan.

Seorang laki-laki juga akan kesulitan ketika ingin menikah, karena biaya pernikahan yang mahal. Sementara penghasilannya pas-pasan hanya cukup untuk menghidupi dirinya, orang tua dan saudara bergantung hidup padanya.

Hingga perasaan cemas dan kekhawatiran yang selalu mendera setiap hari. Hingga terlilit utang demi menutup kebutuhan finansial orang tua dan keluarga besarnya.

Oleh karena itu, diperlukan strategi dalam mengelola keuangan agar semua kebutuhan dari generasi atas dan generasi bawah bisa terpenuhi.

Cara Cerdas Mengelola Keuangan Bagi Generasi Sandwich

Aku percaya nggak ada orang tua di dunia ini yang ingin membuat anaknya susah. Rata-rata orang tua jaman dulu khususnya yang lahir di tahun 1946-1964 atau yang lebih dikenal dengan sebutan generasi baby boomer, kebanyakan belum pandai mengatur keuangan. Sehingga tidak memiliki persiapan finansial ketika memasuki usia tidak produktif.

Memutuskan mata rantai generasi sandwich memang tidak mudah. Apalagi jika sudah terbelit hutang dan kebutuhan yang terus mendesak. Tapi bukan mustahil untuk dilakukan agar generasi selanjutnya tidak mengalami kesulitan keuangan seperti orang tuanya.

Berikut, ada beberapa cara mengelola keuangan bagi generasi sandwich sekaligus cara memutus mata rantai generasi sandwich:

1. Bicarakan dengan Orang Tua dan Pasangan

Menanggung beban sendirian tentu sangat berat. Apalagi jika posisinya sebagai kepala keluarga, anak dan menantu. Bicaralah secara terbuka kepada orang tua/mertua dan pasangan beban ekonomi apa saja yang harus ditanggung.

Jangan sampai keluarga terbengkalai karena seluruh penghasilan habis untuk membiayai orang tua. Atau sebaliknya, orang tua jadi terabaikan karena penghasilan tidak cukup.

Tak ada salahnya berbagi beban dengan saudara. Misal si A bagian bayar tagihan, si B menanggung makan, si C menanggung biaya rumah, dsb. Jika ternyata anak tunggal, maka harus dibicarakan dengan saudara dari orang tua.

2. Prioritaskan Kebutuhan Hidup 

Utamakan penuhi dulu kebutuhan hidup keluarga sehari-hari, melunasi hutang daripada hiburan seperti piknik, makan di restoran, beli baju baru, dll.

Tutup dahulu semua tagihan dan biaya rumah tangga bulanan. Tak lupa juga untuk menyiapkan dana darurat dan berinvestasi. Terutama bagi yang sudah berkeluarga pasti membutuhkan tempat tinggal sendiri. Nggak mau dong, selamanya tinggal di kontrakan?

3. Menurunkan Gaya Hidup

Buat orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan cenderung memiliki gaya hidup yang lebih konsumtif. Melakukan pembelian barang-barang yang sebenarnya tidak perlu, hangout di cafe hanya agar terlihat kaya atau biar eksis di media sosial.

Akhirnya terlilit hutang demi memenuhi keinginan bergaya hidup mewah. Kalo aku sendiri sih, mending dipandang orang sebagai orang biasa tapi pikiran tenang, daripada dipandang orang kaya, tapi aslinya pusing mikirin utang. Terserah orang mau memandangku sebelah mata, nggak masalah.

4. Berhemat

Masih ingatkah dengan peribahasa "hemat pangkal kaya?" Coba deh, terapkan hal itu dalam kehidupan sehari-hari.

Mulai saja dari hal sepele seperti selalu bawa botol minum kalo baru jalan-jalan. Masak sendiri di rumah daripada beli atau makan di warung.

Mencuci pakaian sendiri daripada mengirimkan ke laundry. Kurangi nongkrong di cafe-cafe, dll. Pertimbangkan kembali jika ada keinginan untuk membeli barang-barang, apakah diperlukan sekali atau tidak?

Uang yang dihemat bisa dialokasikan untuk hal-hal lain yang lebih dibutuhkan, iya kan?

5. Bantu orang tua mendapatkan penghasilan pasif di masa tuanya

Hidup bahagia di masa tua tentu menjadi keinginan bagi banyak orang. Karena itu, bantu agar orang tua tetap memperoleh penghasilan pasif di saat tidak mampu bekerja lagi.

Penghasilan pasif bisa didapat dengan menyewakan kamar kost, rumah kontrakan, usaha warung makan yang dipegang karyawan.

Bisa juga dengan mengajak anggota keluarga lain menjalankan usaha dengan memanfaatkan internet. Dengan demikian anak-anaknya juga merasa tenang karena tiap bulan tidak harus mensupport keuangan, karena orang tua sudah ada dana tersendiri.

6. Menyiapkan Masa Pensiun Sejak Dini

Jangan lupa bagi generasi sandwich juga harus menyiapkan usaha atau sumber penghasilan pasif sejak dini. Kita bisa memulai investasi seperti emas, reksa dana atau tabungan berjangka. Mengingat kita jika sudah memasuki usia lanjut tentu akan mengalami kesulitan dalam bekerja tidak seperti saat kita muda.

Tentu tidak ingin kan, anak-anak kita yang akan menanggung beban ekonomi saat kita tua nanti?

7. Menyiapkan Tabungan Pendidikan Anak

Pendidikan merupakan bekal yang paling penting untuk anak-anak agar bisa memiliki masa depan yang lebih cerah. Nggak mau kan, anak-anak putus sekolah atau hanya berpendidikan rendah karena masalah biaya?

Oleh sebab itu, persiapkan biaya pendidikan anak sedini mungkin. Bahkan di saat anak belum lahir. Agar generasi sandwich ini tidak kita turunkan ke anak kita besok. Cukup kita saja yang merasakan.

Pentingnya Memutus Mata Rantai Generasi Sandwich

Buat aku pribadi memutus mata rantai generasi sandwich ini penting banget! Meski aku bukan termasuk dalam generasi sandwich ini, karena mama aku masih produktif dan memiliki penghasilan pasif.

Namun bukan tidak mungkin, anakku kelak jadi generasi sandwich jika aku tidak menyiapkan finansial di hari tua sejak dini. Demi masa depan dan kesejahteraan anak cucu kita nanti.

Kita juga perlu belajar dari sejarah masa lalu tentang krisis keuangan. Nggak perlu yang serius baca buku tebal tentang sejarah karena lewat film Korea juga bisa lho!

Dan jangan lupa untuk tetap menyertakan Tuhan dalam seluruh keputusan keuangan yang kita buat. Termasuk membelanjakan uang yang didapatkan melalui pekerjaan kita agar menjadi berkat bagi keluarga dan banyak orang.

Sumber bacaan:

https://m.bisnis.com/finansial/read/20190507/55/919603/cara-memutus-mata-rantai-sandwich-generation
https://m.detik.com/wolipop/money-hacks/d-5107387/mengenal-sandwich-generation-yang-ramai-dibahas-netizen-twitter-indonesia
https://koinworks.com/blog/memutus-rantai-generasi-sandwich/

3 Comments

  1. Ini yg pengen aku ajarin ke anak2ku mba. Alhamdulillah keluargaku dan suami bukan semacam generasi ini. Papa bahkan masih aktif mengurus toko2 bakery nya untuk sumber income . Aku belajar dari orngtuaku, yg dari dulu menekankan ga akan mau menyusahkan anak2nya. Papa tipe pengusaha yg sangat ulet. Dan aku belajar dari situ.

    Sejak masih kerja, aku rutin investasi di Reksadana, obligasi, asuransi dan logam mulia. Ini semua untuk bekal pensiun sih. Krn akupun ga kepengin nyusahin anak2ku. Aku dan suami malah planning, setelah pensiun kami mau traveling puas2in ke negara yg blm pernah kami datangin. Makanya menabung dan investasi dr skr untuk achieve target tadi :D.

    Anak2 mumpung masih kecil, malah aku biasain utk menyimpan uangnya yg di dapat, di tabungan emas. Aku sengaja ga mau tabungan konvensional, Krn mikirin inflasinya yg bikin value uang turun. Beda kalo dalam bentuk tabungan emas yg aman dari inflasi :). Nanti setelah lebih besar, baru aku bebasin untuk memilih bntuk investasi yg mereka mau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Merencanakan keuangan memang penting sekali ya mbak. Bersyukur buat anak-anak yang orang tuanya sudah mempersiapkan hari tuanya. Jadi sejahtera semuanya.

      Delete
  2. nah, itu dia ya kalau ada generasi seperti ini sulit banget ya, apalagi kalau keluarga besar, ortud an adik2nya masih tergantung banget dengan pasangan kita. bahkan ada ayng sudah berkeluargapun masih tergantung

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar yang masuk akan melewati tahap moderasi terlebih dahulu, spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.