Ibadah online

Jujur aku nggak pernah membayangkan akan mengalami masa pandemi Covid-19 seperti ini. Sampai-sampai harus mengubah kebiasaan lama jadi sebuah kebiasaan yang baru, termasuk cara beribadah.

Pemerintah menyarankan agar tetap di rumah, hindari kerumunan, pakai masker dan selalu cuci tangan. Hal inilah yang membuat gereja-gereja mengadakan ibadah dan kegiatan lain secara online. 

Awalnya sih, aku senang karena nggak harus membuang waktu menempuh jarak dari rumah ke gereja. Aku hanya cukup menyiapkan diri, berdandan rapi dan siap di depan televisi atau sediakan smartphone. Untuk pondok Daud juga bisa dilakukan di rumah saja tanpa harus pergi ke gereja tiap hari. 

Namun, ternyata ibadah online itu tak seindah ekspektasi. Realitanya banyak sekali hambatan yang dihadapi. Apa saja hambatan itu? 

*Ini hanya pendapat dari saya pribadi sebagai jemaat biasa yang mengalami hambatan dalam beribadah online.

1. Cuaca buruk 

Ibadah di rumah saja menurutku nggak akan dipengaruhi oleh cuaca. Mau hujan, mau panas tetap di bawah atap kita bernaung, ha, ha... Nggak ada alesan buat nggak ibadah karena cuaca, tapi sinyal kadang ngambek kalo pas datang hujan angin plus petir. 

Kadang listriknya mati. Mungkin ini yang namanya halangan dalam beribadah. Pasti ada yang nggak suka kalo ada manusia yang mau beribadah. Oleh karena itu jangan lupa buat dukung doa selama ibadah berlangsung. Agar roh-roh kegelapan nggak berkuasa untuk mengacaukan jalannya ibadah online.

Pernah sih ngalamin mati listrik satu kali, tapi nggak ambil pusing. Kami masih bisa ngikutin ibadah terakhir jam 7 lewat streaming You Tube. Dan Puji Tuhan semuanya berjalan lancar. 

2. Kuota habis

Salah satu pengorbanan dalam ibadah online ya, harus rela ngabisin kuota internet. Jika kita aja rela buat buang kuota demi main medsos, masa nggak mau kalo buat cari Tuhan? Pasti Dia akan sediakan.

Kalimat di atas tuh, cocok kalo hati lagi tenang, tapi ketika nggak ada duit ngenes juga beli kuota data, he, he. Kadang merasa sayang juga membeli kuota data buat buka You Tube (akhinya ngaku, wkwkw). Tapiii sekarang ada kuota khusus buat streaming You Tube, jadi lumayan ketolong. Cuman harus cek dulu dan bisa kira-kira kuotanya cukup nggak untuk streaming kurang lebih 2 jam.

Syukurlah ada ibadah yang disiarkan melalui televisi jadi aku nggak perlu galau lagi soal kuota ini. Lagi pula lebih leluasa karena lihat di monitor televisi daripada di hape. 

3. Nggak kompak

Kekompakan dalam satu keluarga atau satu rumah tuh, kudu tetep terjaga. Kalo nggak ibadahnya garing banget kan? Satu nyanyi, memuji Tuhan yang satunya sibuk sendiri wira-wiri. Atau malah ngajak ngobrol. Duh, kekompakan satu keluarga harus jadi prioritas juga ya.

4. Ngantuk sampai ketiduran

Kata siapa ibadah online nggak bakal bikin ngantuk? Buktinya ada aja yang ketiduran saat dengarkan kotbah. Jadi untuk menghindari hal ini lebih baik pilih jam ibadah yang bukan jam-jam ngantuk ya.

Pas banget nih, ibadah di televisi jam 5 sore. Di saat semua kerjaan sudah selesai. 

5. Kangen ibadah bareng teman 

Biasa ibadah suka ketemu dengan teman, apalagi teman satu pelayanan. Kangen untuk berdoa bareng, sharing, kadang gathering. Sekarang cuma bisa menyapa lewat WhatsApp atau Vidcal. Pergi ke gereja sekarang jadi hal yang amat dirindukan. 

6. Ketinggalan jam ibadah

Kalo yang satu ini pernah dialami sekali. Waktu itu aku udah siap mau ikut ibadah yang disiarkan di televisi jam 5 sore. Eh, tiba-tiba mati listrik dan hujan deras. Mau ikut live streaming, sinyalnya buruk.

Akhirnya berharap bisa ikut live streaming yang berikutnya. Karena nggak tahu jadwal akhirnya kami ketinggalan ibadah. Bersyukur ada rekaman ibadah jadi masih bisa mendengarkan tema kotbah minggu ini.

Makna Dibalik Pandemi Covid-19 

Selalu ada saja pihak-pihak yang mau menjatuhkan pemerintah termasuk dalam kebijakan ibadah di rumah saja. Ada yang bilang nggak boleh takut sama Corona, takutlah hanya sama Tuhan. Betul banget pernyataan mereka sih.

Tapiii...pakai hikmat juga. Tuhan kasih manusia akal untuk berpikir. Bahkan dalam Bible pun dikatakan, "kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka (Amsal 27:12)".

Sederhananya gini, udah tahu di depan ada lobang besar bukannya menghindar malah nyemplung. Sama aja kan, udah tahu ada peringatan virus berbahaya eh, malah asyik kumpul-kumpul, nggak pakai masker, jalan-jalan ke mana-mana, nggak cuci tangan.

Sejak pandemi Covid-19 merebak, nggak cuma Indonesia aja, yang menerapkan physical distancing tapi negara-negara lain juga. Kebijakan ibadah di rumah juga dilakukan oleh negara lain. Jadi pemerintah nggak melarang kegiatan agama tapi melarang situasi yang menimbulkan kerumunan.

Nah, makna yang aku dapat dari pandemi ini adalah ibadah nggak hanya bisa dilakukan di gedung gereja atau tempat ibadah. Ibadah bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, bahkan tanpa ada orang yang tahu. Tetapi Tuhan tahu sebab Mata Tuhan sedang menjelajah ke seluruh bumi untuk mencari orang yang bersungguh hati di hadapan-Nya.

Jadi nggak apa kok, nggak dilihat teman ke gereja, nggak apa kok, ibadah di rumah aja. Karena ibadahku bukan untuk dilihat orang lain tapi karena butuh Tuhan. Dan di masa sulit seperti ini harus diperbanyak lagi baca Alkitab, banyak doa dan pujian sama Tuhan. Puji Tuhan GBI KA sudah menyediakan bahan-bahan renungan harian dan materi kotbah di gbika.org.

Baca juga:

7 Sisi Positif dan Negatif Saat Dilanda Corona

Kasih, Sukacita dan Pengharapan di Bulan Oktober 


0 Comments