majalah femina

Pembeli Bukanlah Raja

Oleh : Yustrini

Tulisan ini pernah dimuat di Gado-gado Femina no.41 15-21 Oktober 2016.

Pepatah Cina mengatakan, seseorang tanpa wajah tersenyum janganlah membuka toko. Ada juga slogan, bahwa pembeli adalah raja. Artinya, si penjual harus rela melayani si pembeli dengan ramah dan sabar. Tapi itu nggak berlaku di sebuah toko alat-alat perlengkapan rumah tangga di kotaku. Menurutku, penjualnyalah yang jadi raja. Aih!

Saya harus rela bersabar dan mengelus dada saat harus membeli 4 lusin mangkok tanpa melihat atau mengecek barangnya satu persatu yang saya beli. Karena tidak ada acara meneliti barang yang mau dibeli di toko itu. Rupanya si pemilik toko mau semua serba cepat. Cari barangnya, ambil, bawa ke kasir, bayar. Pengemasan pun hanya dilakukan di luar toko setelah barang dibayar oleh pegawai toko lainnya.

“Harganya sudah harga kocokan mbak. Mbak nggak perlu cek barang lagi. Kalau dikocok nggak ada yang bunyi ya berarti aman, nggak ada yang pecah,” ujar si pegawai toko ketika saya ingin membongkar kemasan mangkok yang saya beli.

Jantung saya lebih deg-degan lagi melihat si mas-nya dengan santai mengocok-kocok bungkusan mangkok yang sudah saya bayar tadi. Berbagai pertanyaan atau lebih tepatnya kekhawatiran muncul dalam benak saya, gimana kalau mangkok itu pecah, retak apa masih bisa dikembalikan?

“Trus kalo setelah dibuka di rumah mangkoknya ada yang retak?” tanyaku.

“Maaf, tergantung keberuntungan anda. Barang yang sudah keluar dari toko ini nggak bisa dibalikin lagi meski retak,” sahut si pemilik toko ketus. Rupanya dia nggak mau ribet ada pembeli bongkar-bongkar barang dagangannya.

Ya, sudahlah. Akhirnya saya pasrah sambil terus berdoa sepanjang perjalanan semoga mangkok saya tidak ada yang pecah atau retak. Dan doa saya terkabul. Setelah sampai rumah saya periksa satupersatu mangkoknya tidak ada yang pecah atau retak. Saya pun bernapas lega. Bersyukur tidak jadi rugi.

Itu baru sekelumit pengalaman saya jadi pembeli. Lain lagi di sebuah warung makan dekat rumah saya dulu sebelum pindah ke rumah yang sekarang. Saking galaknya bapak si pemilik warung dan mahalnya makanan yang dijual, saya dan kakak perempuan saya sepakat menyebut warung makan itu dengan julukan ‘Kantin Mahal dan Jahat’ atau disingkat KMJ. Ikut-ikutan novel Lupus.

Bila masuk warung itu jangan harap bisa lama-lama mikir mau makan apa, kalau nggak pengen diberi tatapan sinis dari pemiliknya. Harus cepat dan to the point nggak ada acara ramah tamah dulu, walau kami masih tetangga dekat. Dan yang terpenting jangan salah ngomong. Misalnya mau beli nasi lauk opor ayam, jangan bilang nasi lontong opor. Kalau sampai salah siap-siap aja dapat bonus omelan. Hi, hi, hi.

Suatu hari saya ingin membeli opor ayam kesukaan saya. Karena warung sepi dan tidak ada orang, saya berjingkat masuk ke dalam sambil mengucapkan salam. Bukannya mendapat balasan salam yang baik, saya malah diomeli.

“Heh! Ngapain masuk-masuk?! Nggak sopan!” bapak pemilik warung membentak saya dari belakang. Matanya melotot, kedua tangannya ditaruh dipinggang. Dengan suara bergetar saya berkata mau membeli nasi opor. Setelah semuanya selesai saya langsung berlari pulang. Saking takutnya saya sempat kencing di celana saat itu, ha,ha,ha.

Biar begitu, warung itu merupakan warung favorit saya. Karena masakannya enak dan menunya khas banget. Setiap harinya dipastikan ada menu opor, sambal goreng kentang, oseng mie, oseng tempe cabe ijo yang rasanya beda dengan masakan di tempat lain. Karena bumbunya mantap jadi kalo lagi pengen makan enak saya ke situ bersama kakak saya membeli satu porsi nasi bungkus untuk berdua. Maklum harganya mahal.

Sejak kejadian yang nggak mengenakkan tadi saya jadi sering minta tolong kakak perempuan saya untuk membelikan nasi opor favorit saya. Hasilnya sama saja, malah kakak saya lebih trauma untuk kembali beli di sana. Kalau sudah begitu biasanya sekitar sebulan lagi saya baru mau beli kesana. Alamak!

Sekarang warung itu dikelola oleh anak menantunya, karena pemilik yang pertama sudah meninggal. Menu dan jenis masakan masih sama namun cita rasanya sudah jauh berubah. Pelayanannya juga lebih ramah namun sayang seribu sayang bumbunya kurang berani jadi pembelinya pun tak seramai dulu. Ah, saya jadi kangen sama omelan dan kejudesan pemilik yang dulu. Atau jangan-jangan karena wajah sangar dan galak itu yang bikin masakan jadi enak ya?

Yang jelas dari serangkaian peristiwa di atas membuatku memilih lebih baik menjadi seorang penjual yang ramah dan sabar terhadap pembeli. Bukankah orang sabar disayang Tuhan dan sesama? Intinya bagi saya yang juga seorang penjual sekaligus pembeli lebih memilih pelayanan yang baik dengan harga sedikit lebih mahal ketimbang murah tapi pelayanannya suka bikin hati panas. Namun nggak bisa dipungkiri sih kalau kadang-kadang saya juga suka jutek sama pelanggan yang bawel, tapi masih dalam batas kewajaran kok.
* * * *

Baca Juga: 



4 Komentar

  1. hemm, intinya, jadilah pembeli dan penjual yang membumi ya mbak :)

    BalasHapus
  2. Jd ingat toko grosir tempat belanja ibu saya juga gitu. Ramai karena murah tapi yang punya judesnya ga ketulungan. 😁

    Hebat mba pernah dimuat di femina. 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. He, he kalo sudah laris biasanya gitu. Yang beli kok ya mau balik lagi? Wkwkwk.

      Belum hebat mba, saya masih perlu banyak belajar menulis.

      Trima kasih mba Widya sudah mampir :)

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar yang masuk akan melewati tahap moderasi terlebih dahulu, spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.