Selasa, 25 Oktober 2016

Sebuah Renungan Jangan Biarkan Pertanyaan 'Kapan...?' Mendera Hidupmu

Jangan Biarkan Pertanyaan “Kapan..?” Mendera Hidupmu

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya (Pengkhotbah 3: 1).


Kapan kamu ulang tahun? Kapan kamu mulai sekolah? Kapan kamu les? Kapan kamu lulus? Berbagai pertanyaan itu bisa dengan mudah dijawab. Tetapi akan menjadi sulit ketika pertanyaan kapan itu diakhiri dengan kata 'nikah', 'punya anak', 'punya rumah', 'punya mobil', sampai 'kapan bayar utang?' Karena siapa manusia yang di dunia ini bisa dengan pasti mengetahui kapan tepatnya mereka nikah, punya anak, punya rejeki buat beli mobil, rumah sampai bayar utang.

Haruskah pertanyaan kapan terus mendera kehidupanmu? Sebagian orang mungkin dikaruniai untuk menjawab semua pertanyaan itu dengan mudah. Tapi bagi orang yang sudah lama nggak nikah-nikah seperti yang dialami oleh teman saya, bertanya padanya ‘kapan nikah’ bisa menjadi suatu tekanan di hidupnya.

“Aku percaya Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya,” itu yang selalu ia katakan tiap kali ditanya ‘kapan nikah’. Hmm, jawaban yang bijak bukan?

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. (Amsal 18:21).

Teman saya itu memilih percaya daripada bersedih karena pertanyaan kapan nikah? Sebagai gantinya ia menjalani hari-harinya dengan bekerja, mempersiapkan diri untuk masa depan dan juga menyiapkan diri untuk menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Sehingga pada waktu ia bertemu dengan pasangan hidupnya ia sudah siap lahir dan batin.

Satu lagi teman saya yang sukses dalam dunia usaha. Di awal usahanya berbagai pertanyaan kapan kamu sukses, kapan kamu bisa beli rumah, dan kapan kamu bisa bayar utang, selalu membuatnya cemas. Bukannya terus larut dalam kecemasan, teman saya itu memilih untuk melangkah, tekun meski di tahun-tahun pertama usahanya tak terlihat mendatangkan hasil. Namun, masuk tahun ke lima sudah terbukti ternyata usahanya makin berkembang dan ia bisa bayar utang dan mulai mencicil rumah.

Dari cerita di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa tak perlu kuatir, takut bila kita selalu ditanya ‘kapan’. Sebaliknya dengan terus melangkah maju kita bisa meraih semua yang kita impikan. Dan pada akhirnya kita bisa menjawab pertanyaan itu dengan anggun, semua kan indah pada waktunya.
Sementara itu, saya juga harus segera menjawab pertanyaan orang-orang, 'kapan ke Jogja lagi?'

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.