Selasa, 11 Oktober 2016

Sahabat Masa Kecil

Sahabat adalah orang yang menemani kita disaat suka dan duka. Ketika sahabat itu pergi maka kita akan merasa seperti ada yang hilang. Namun kenangan terhadapnya akan terus ada sampai kapan pun.


Ini adalah kisahku & sahabat masa kecil.


Dulu, saya tuh anak yang pemalu, suka nangis, penakut dan nggak punya teman karena pendiam banget! Tapi hari yang indah itu tiba ketika saya kelas 4 SD ada anak pindahan dari Jakarta. Anaknya periang, suka senyum(maksudnya ceria ya, bukan senyum-senyum sendiri lho!), baik dan dia suka menemani saya ketika saya sendirian di kelas. Sejak hari itu, hidup saya berubah. Yang biasanya saya cuma bisa diem di kelas, saya jadi suka main, cerita sama dia. Trus, saya jadi punya teman lain kelas. Lebih ceria, lebih semangat, lebih berani. Pokoknya kalo nggak ada dia mungkin saja saya jadi anak yang susah bergaul sampai sekarang. 

Kami sama-sama suka buku. 

Waktu SD, majalah dan buku cerita anakyang kumiliki lumayan banyak, jadi Diana sering main ke rumahku. Selain itu, kami juga suka ke taman bacaan. Baca berjam-jam tanpa bosan. Beli buku bekas di emperan toko juga sering kami lakukan. Menyisihkan uang jajan kami selama satu minggu biar bisa jajan buku.

Mimpi bersambung.

Dia suka bercerita di kelas. Kalo dipikir-pikir sih, masa iya mimpi bisa bersambung tiap malam? Tapi, itu yang diceritakannya sama kami, teman-teman sekelasnya. 
Kalo nggak salah, ceritanya tentang "Power Rangers" ha, ha, ha. Dan anehnya pemeran dalam mimpinya adalah teman-teman sekelas kami termasuk saya dan Diana. 
"Besok lagi ya..." kata Diana ketika bel masuk berbunyi.
"Yah!!!" keluh anak-anak.
Bikin kami nggak sabar ingin dengar ceritanya lagi.

Berjualan

Ide jualan di sekolah bermula dari kesulitannya dalam mengatur uang jajan yang dikirim sebulan sekali sama papa dan mama kandungnya. 
"Nggak cukup buat bayar SPP sama jajan," keluhnya. 
Diana pun berjualan stiker sama asesoris seperti jepet, gantungan kunci, dll. Tapi nggak berlangsung lama karena dia baik sama semua teman-temannya. Banyak diantara kami yang nggak suruh bayar. He, he, he, Diana pun bangkrut dalam hitungan hari. Namun, seperti kata orang barangsiapa menabur ia akan menuai. Diana juga. Dia sering dapat berkat yang banyak. Uang jajan yang tadinya kurang. Jadi cukup karena teman-temannya suka memberinya jajan. Orang tua kami juga sayang dengannya suka memberinya jajan. 


Masa SMP dan SMA

Saat SMP saya sedih karena tidak bisa satu sekolah dengan Diana. Tapi, itu hanya sebentar karena tiap Minggu bila tak ada kegiatan, dia selalu main ke rumah. Kaset dan buku selalu jadi daya tarik kami. Itu yang bikin persahabatan kami erat. 
Saya selalu kagum dengan ketegaran dan keberaniannya. Bisa dibilang dia nggak pernah terlihat sedih. Padahal dia berasal dari keluarga yang retak dan dia tinggal dengan saudara dari mamahnya. Tapi dia tak pernah terlihat sedih malah dia sering menghibur saya ketika dalam kesulitan. 
"Jangan sedih dong! Jangan sedih dong!" itu yang selalu dikatakannya.
Dan dia pandai membantuku melupakan kesedihanku. 

Ada pertemuan ada perpisahan.

Yang paling sedih dari pertemuan pasti diakhiri dengan perpisahan. Itu juga yang menimpa persahabatan kami. Saat kelas 1 SMA, dia pergi ke Jakarta untuk tinggal bersama mamahnya. Saya kehilangan sekali waktu itu. Andai bisa diulang lagi. Mungkin saya akan menawari dia tinggal di rumahku kalo memang dia sudah tidak betah tinggal bersama bibinya. Ya sudahlah. Doaku semoga kami bisa bertemu lagi setelah bertahun-tahun kami berpisah. Makasih buat semuanya, untuk persahabatan yang indah ini. 

Amsal 17:17 (TB) Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. 


0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.