Jumat, 06 Mei 2016

[Percikan] Spotty dimuat di majalah Gadis No.13/16-25 Mei 2006


Percikan pertama yang kubuat tahun 2006. Pertama ngirim percikan ke majalah Gadis langsung dimuat seneng banget ^_^. Temanya kucing. Terinspirasi dengan pengalamanku sendiri memelihara kucing.

Spotty
Yustrini


Namaku Arlin. Aku duduk di kelas dua SMU. Belakangan ini aku punya sahabat baru, namanya Spotty. Dia itu sangat manis, lincah, lucu dan menggemaskan. Sejak pertama aku melihatnya aku langsung jatuh hati. Tapi jangan salah sangka karena Spotty itu seekor kucing. Dia bisa dibilang sahabat yang paling baik. Bahkan lebih tahu bagaimana caranya berteman daripada seorang manusia.

Hari itu saat pertama Spotty yang masih kecil datang ke rumahku, ia bermain-main dengan bola milik adik keponakanku yang tertinggal di ruang tamu. Spotty menendang bola dan berlari kesana kemari membuat kehebohan. Sebentar saja ruang tamu yang tadinya bersih dan rapi jadi berubah seperti kapal pecah. 

Mama dan papa dibuatnya pusing tujuh keliling karena semua barang yang ada di sana hancur berantakan. Spotty berlari ke arahku dan meminta perlindunganku saat mama akan memukulnya. Kuakui saat itu Spotty sangat keterlaluan, tapi aku membelanya dengan mengatakan bahwa dia masih kecil dan mama memahami penjelasanku.

Aku memang suka sekali dengan kucing. Namun Spotty berbeda dengan kucing yang lain. Dia punya mata yang indah, tapi terlihat sangat kelaparan. Lalu aku memberinya sepotong roti dan semangkuk susu. Ia senang sekali. Beberapa kali dia berputar-putar mengelilingi aku.

Sejak itu aku memeliharanya. Mukanya lucu sekali. Aku pikir dia bisa mengekspresikan marah dan sedih lewat mimik wajahnya. Bulunya halus berwarna abu-abu dengan belang hitam di seluruh tubuhnya. Ekornya panjang sama dengan kakinya. Ia senang berputar-putar mengelilingi ekornya, tentu saja ia hanya bisa menggigit ujungnya saja.

Nama Spotty itu kudapat dari Adi, cowok yang selama ini menjadi teman dekatku. Kata Spotty artinya belang sesuai dengan bulunya yang berbelang memenuhi seluruh tubuhnya.

Persahabatanku dengan Spotty bukannya tanpa halangan. Maya dan Satrio, kedua kakakku, sering memberi ceramah soal memelihara Spottt. Mereka membencinya. Tak jarang mereka menendang dan menyiksa Spotty saat aku tidak ada. Keadaan itu membuat aku terpaksa membawa Spotty ke sekolah. Orang-orang pastinya beranggapan aku berlebihan menyayangi Spotty. Tapi kalau tidak begitu aku takkan tenang mengikuti pelajaran. Di sekolah kebetulan ada seorang nenek yang membantuku menjaga Spotty. Dia juga punya banyak kucing yang lucu-lucu. Setelah pulang sekolah baru aku mengambilnya.

Oh ya, ada juga yang iri dengan persahabatan kami. Dia adalah Vonny yang juga penyayang binatang. Ia ingin memelihara Spotty di rumahnya meskipun ada lima anak anjing yang baru dipeliharanya. Tentu aku tidak melepas Spotty, karena dia sudah jadi bagian dari hidupku. Selama ini aku sering menghabiskan waktu luangku bersama Spotty. Dia penghibur aku satu-satunya saat aku sedih. Saat di mana tak ada lagi semangat dalam diriku, Spotty-lah yang mbangkitkan aku lagi. Adi juga iri dengan Spotty tapi aku tetap berusaha memberi perhatian yang sama seperti sebelum ada Spotty. Sikap Adi yang mengerti aku, membuat semuanya mudah.

Hari berganti bulan sampai enam bulan kemudian Spotty sedang mengalami masa puber. Hah, puber? Iya. Dia bertemu dengan White, kucing tetangga yang bulunya putih bersih dengan bintik hitam di ujung ekornya. Tingkah mereka lucu sekali. Berkejar-kejaran terus sepanjang hari. Mungkin tepatnya main aku lari kau kejar, aku kejar kamu lari. Mereka juga sering duduk berdua di atas genting dan berjalan-jalan mengelilingi rumah. White sering menginap di rumahku. Ia bahkan seolah mengatakan aku mau bersama Spotty lewat tatapan matanya, saat aku mengusirnya ke luar. Jadi aku biarkan saja mereka bersama.

Belakangan aku jadi cemaskan Spotty. Bukan karena masa pubernya, tapi karena ia mulai sering bermain di pinggir jalan. Tak jarang aku melihatnya sedang melintasi jalan raya depan rumahku. Aku memanggilnya tapi dia tak menggubrisku, lalu White menatapku seakan bilang aku akan melindungi Spotty. Walau begitu aku masih saja cemas, takut kalau Spotty tertabrak kendaraan yang lewat.

Dan kecemasanku itu berlanjut perhatian penuh kepada Spotty. Tak kuhiraukan lagi ejekan dari kedua kakakku, aku tidak mau kehilangan Spotty. Tapi walau sekeras usahaku menjaganya rupanya Tuhan berkehendak lain. Saat aku lengah meninggalkan Spotty sendiri, kecelakaan itu terjadi. Sebuah kendaraan menabraknya dengan cepat. Kejadian tepatnya aku tidak tahu. Waktu itu aku hanya diberitahu tetanggaku bahwa kucingku tertabrak motor. Aku sangat sedih sekali, juga White. Ia mengeong menanyakan Spotty. Aku mengatakan bahwa Spotty tertabrak. Bahkan aku tidak tahu siapa yang menabraknya. Dan Spotty entah dibawa ke mana.

Adi berusaha menghiburku, ia sudah cerita dengan nenek yang biasa menjaga Spotty di sekolahan. Dan nenek itu mau memberiku anak kucing terserah mana yang aku suka. Tapi aku menolaknya karena tak ada uang bisa menggantikan Spotty. Lain halnya dengan White. Dia terus menunggu di rumahku dan bertanya-tanya kapan Spotty kembali. Ah, Spotty, kenapa kamu tidak hati-hati?

* * * *

Baca juga : 


0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke Catatan Yustrini. Silakan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentar spam, iklan dan yang mengandung link hidup akan saya hapus.